Archive | March 2016

JANGAN FITNAH ORANG BERIMAN, KAMU CELAKA!!!

JANGAN FITNAH ORANG BERIMAN

4dfa9-dsc00015Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (١٠) إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (١١

10. Sungguh, orang-orang yang memfitnah (mendatangkan cobaan) terhadap orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat maka mereka akan mendapatkan azab Jahanam dan azab (neraka) yang membakar. 11. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung. Surat Al Buruj Ayat 10-11

.

Jangan kalian membuat fitnah untuk saudara kita muslim, celaka kamu. Maka berhati-hatilah sebelum menyesal. Periksa sebelum percaya. Teliti sebelum bertindak. Allah Sub-hanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat: 6)

.

9b63e-dsc00093FITNAHMU ADALAH ADZABMU

Jika saudaramu yang kau fitnah itu celaka atau hilang nyawanya atau hancur harga diri dan kehormatannya maka kamu diadzab Allah di dunia dan akhirat. Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيم

“Yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 11)

Dan Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيد

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18).

.

Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58).

.

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ. (متفق عليه)

“Tidak masuk Surga orang yang suka mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaihi).

.

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa orang yang suka mengadu domba tidak akan masuk Surga. Jika ia tidak masuk Surga maka tidak ada tempat lain baginya di akhirat kecuali Neraka, sebab di akhirat kelak hanya ada Surga dan Neraka saja. Maka jika dia ditetapkan tidak masuk Surga berarti tempatnya adalah Neraka.

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِشَرَارِكُمْ؟ قَالُوْا: بَلَى، قَالَ: الْمَشَّاؤُوْنَ بِالنَّمِيْمَةِ، الْمُفْسِدُوْنَ بَيْنَ اْلأَحِبَّةِ، الْبَاغُوْنَ لِلْبَرَّاءِ الْعَيْبَ.

“Maukah aku beritakan kepada kalian tentang orang-orang yang jahat di antara kalian?” Para sahabat menjawab: “Tentu”. Beliau bersabda: “Orang-orang yang ke sana dan ke mari menghamburkan fitnah, orang-orang yang merusak hubungan antar orang yang berkasih sayang, dan orang-orang yang mencari aib pada diri orang-orang yang baik.”

.

Mari kita renungkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ini:

مَنْ أَشَاعَ عَلَى مُسْلِمٍ كَلِمَةً يُشِيْنُهُ بِهَا بِغَيْرِ حَقٍّ، شَانَهُ اللهُ بِهَا فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa menyiarkan berita buruk seorang Muslim untuk memburukkannya dengan berita itu secara tidak haq, maka dengan itu Allah akan memburukkannya di dalam api Neraka pada hari Kiamat.”

Itulah ganjaran yang ia terima di hari Kiamat dan sebelum itu ia akan menerima siksaan di alam kubur. Disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ، بَلَى إِنَّهُ كَبِيْرٌ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ.

“Sesungguhnya kedua penghuni kubur itu sedang disiksa, keduanya tidak disiksa karena dosa besar, namun sesungguhnya itu adalah dosa besar, salah satu di antara keduanya disiksa karena ia berjalan kesana dan kemari menebar fitnah, sedangkan yang kedua disiksa karena tidak sempurna bersuci saat buang air kecil”.

.

AWAS DOA ORANG TERDZALIMI
Ketika Rasulullah SAW mengutus sahabatnya Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman untuk berdakwah di sana, Beliau memberikan beberapa pesan penting dalam mengajak manusia kepada Islam. Dalam hadits ini beliau berpesan kepada Mu’adz agar waspada dan takut akan doa orang yang terzalimi, kerana doa orang yang terzalimi tidak akan tertolak.

.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ
مُعَاذاً إِلَى الْيَمَنِ وَقَال لَهُ : “اِتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, Nabi SAW telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan Beliau berkata kepadanya: “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, karena doa tersebut tidak ada hijab di antara dia dengan Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
.
Jangan dzalim! Ingat, jangan mendzalimi. Kalau mukmin yang kamu dzalimi itu berdoa agar matamu buta maka matamu akan buta. Jika dia pun berdoa agar tukang fitnahnya celaka maka kamu pun akan celaka. Segera bertaubat sebelum terlambat. Segera minta keridhaannya sebelum adzab Allah menimpa anda.
Advertisements

WANITA LEBIH BANYAK DI NERAKA

b0014-11898671_10203349185290377_3118988352833501263_nSEBAGIAN ANAK ISTRI ADALAH MUSUH

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdulhalim bin Abdussalam bin Taimiyyah rahimahullah ditanya:  “Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ 

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya dari istri-istri kalian dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian dari mereka.” (QS. Ath Thaghabun [64]: 14)

.

Apakah lafadz “min” dalam ayat ini untuk menunjukkan sebagian sehingga musuh itu hanya sebagian dari mereka saja, atau “min” dalam ayat ini untuk “ziyadah” (tambahan) saja sehingga maknanya adalah seluruh istri dan seluruh anak adalah musuh?”

.

e1b4c-11855398_906225222783319_777111758_nSyaikhul Islam rahimahullah menjawab:  Alhamdulillah. Yang benar, “min” dalam ayat ini menunjukkan sebagian dengan kesepakatan manusia. Maka maknanya adalah, sebagian istri dan anak ada yang menjadi musuh. Tidak semua istri dan anak menjadi musuh. Bukan itu yang ditunjukkan oleh lafadz ini. Ini makna yang batil. Allah berfirman tentang Ibadurrrahman, mereka berkata,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Ya Tuhan kami, karuniakan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami).” (QS. Al Furqan [25]: 74)

.

Mereka meminta kepada Allah agar Allah mengaruniakan kepada mereka istri-istri dan anak-anak yang menjadi penyenang hari mereka. Jika semua istri dan anak adalah musuh maka tidak akan ada yang menjadi penyenang hati. Karena musuh tidak mungkin menjadi penyenang hati, akan tetapi sesuatu yang dibenci hati. Sebagaimana diketahui bahwa Ismail dan Ishaq, kedua anak Ibrahim, atau seperti Yahya anak Zakaria dan yang seperti mereka bukanlah musuh.

.

ulama21KARENA WANITA KUFUR NIKMAT

Alhamdulillah, telah sah pernyataan dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bahwa para wanita itu lebih banyak sebagai penghuni neraka. “Dari Imran bin Husain radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء (رواه البخاري 3241 ومسلم 2737)

 “Diperlihatkan kepadaku surga, dan aku saksikan kebanyakan penghuninya fakir miskin. Dan diperlihatkan kepadaku neraka dan aku saksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. Bukhari, 3241 dan Muslim, 2737)

.

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam pun ditanya tentang hal itu, beliau menjelaskan dalam riwayat Abdullah bin Abbas RA, dia berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

  َأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ ،  قَالُوا :  بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ :  بِكُفْرِهِنَّ ،  قِيلَ : يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ ، قَالَ :  يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ  (رواه البخاري، رقم 1052) .

 “Saya diperlihatkan neraka. Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti hari ini yang sangat mengerikan. Dan saya melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya: “Kenapa wahai Rasulallah?” Beliau SAW bersabda: “Karena kekufurannya.” Lalu ada yang berkata: “Apakah kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Kufur kepada suaminya dan mengingkari kebaikannya. Jika kamu (suami) berbuat baik kepada salah seorang wanita (istri) sepanjang tahun, kemudian dia melihat (sedikit) kejelekanmu maka dia akan mengatakan: “Saya tidak melihat kebaikan sedikitpun dari kamu.” (HR. Bukhari, no. 1052)

.

DOSA-DOSA WANITA

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam keluar waktu hari raya Idul Adha atau Idul Fitri dan melewati para wanita, beliau SAW bersabda: “Wahai para wanita, keluarkanlah shadaqah karena saya diperlihatkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah kalian. Mereka bertanya: “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Kalian sering mengumpat dan mengingkari pasangan. Saya tidak melihat (manusia) yang kurang akal dan agamanya dari kalangan kalian semua dibandingkan seorang laki-laki yang cerdas.” Mereka bertanya: “Apa kekurangan agama kami dan akal kami wahai Rasulullah?’  Beliau menjawab: “Bukankah persaksian seorang wanita itu separuh dari persaksian laki-laki.” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau melanjutkan: “Itulah kekurangan akal kalian”. “Bukankah kalau wanita sedang haid maka tidak shalat dan tidak berpuasa?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau mengatakan: “Itulah kekurangan agama kalian.” (HR. Bukhari, no. 304)

.

Dan dari Jabir bin Abdullah radhialalhu’anhuma berkata, Saya menyaksikan shalat Ied bersama Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa azan dan iqamah. Kemudian berdiri bersandar kepada Bilal, dan memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan menganjurkan kepada ketaatan kepada-Nya  dan menasehati manusia serta mengingatkannya. Kemudian beliau berjalan mendatangi para wanita, dan memberikan nasehat kepada mereka dan mengingatkannya. Beliau bersabda: “Bersedeqahlah kalian para wanita, karena kebanyakan kalian menjadi bara api neraka Jahanam.” Maka ada wanita bangsawan dan kedua pipinya berwarna berdiri bertanya: “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau SAW menjawab: “Karena kalian (para istri) sering sekali mengadu dan kufur kepada suami.’ Berkata (Jabir): “Maka para wanita mulai bersodaqah dan melemparkan gelang, giwang dan cincin mereka ke pakaian Bilal.” (HR. Muslim, no. 885)

DAHSATNYA DOA ORANG TERFITNAH DAN TERANIAYA

 

PROLOG
Jika doa orang kafir yang teraniaya pun mustajab, apatah lagi jika yang terzalimi itu adalah seorang muslim yang taat?! Pasti keampuhannya lebih mujarab.
.
Orang-orang yang teraniaya tidak perlu berputus asa menghadapi keperkasaan dan kekuatan penganiayanya. Mereka dijanjikan Allah untuk mendapat pembelaan, perlindungan, dan pertolongan. Cara memperoleh jaminan tersebut adalah dengan selalu berdo’a kepada Allah agar para penganiaya mendapat adzab dan siksa dari Allah sehingga mereka tidak merajalela berbuat kezhaliman di masyarakat. Karena itu, mereka seharusnya tidak meremehkan senjata do’a sebagai sarana melawan kezhaliman para zhalimin, karena permohonan mereka dikabulkan Allah. Sebaliknya, orang-orang yang suka menganiaya seharusnya takut dan berhati-hati menghadapi orang-orang yang teraniaya, karena orang-orang yang teraniaya pasti dibela Allah. Permohonan apa saja untuk penganiayanya akan dikabulkan oleh Allah.
.
SABDA RASUL SAW
Rasulullah SAW bersabda :
.
“ثَلاَثَةٌ لاَ تُرُدُّ دَعْوَتُهُمْ : اَلصَّائِمُ حِيْنَ يُفْطِرُ، وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَامِ، وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ، وَيَقُوْلُ لَهَا الرَّبُّ : وَعِزَّتِيْ وَجَلاَلِيْ َلأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ”.

.

“Ada tiga orang yang doanya tidak akan tertolak: “Orang yang berpuasa hingga dia berbuka, pemimpin yang adil dan doa orang yang terdzalimi. Allah akan angkat doa-doa tersebut di atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit, kemudian Allah berfirman : “Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku pasti akan menolong kamu walau pun setelah melalui suatu masa“. H.R. Ahmad.
.
Ketika Rasulullah SAW mengutus sahabatnya Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman untuk berdakwah di sana, Beliau memberikan beberapa pesan penting dalam mengajak manusia kepada Islam. Dalam hadits ini beliau berpesan kepada Mu’adz agar waspada dan takut akan doa orang yang terzalimi, kerana doa orang yang terzalimi tidak akan tertolak.
.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ
مُعَاذاً إِلَى الْيَمَنِ وَقَال لَهُ : “اِتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, Nabi SAW telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan Beliau berkata kepadanya: “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, karena doa tersebut tidak ada hijab di antara dia dengan Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

.

DOA NABI MUSA
Nabi Musa AS juga berdoa kepada Allah SWT sehingga terjadilah kehancuran dan kebinasaan Fir’aun dan para pengikutnya :
.
“رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلأَهُ زِيْنَةً وَأَمْوَالاً فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُواْ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ

.

“ … Ya Tuhan kami, engkau telah memberikan kepada Fir’aun dan para pegawai kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, semua ini mengakibatkan mereka menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mereka tidak akan beriman dan kembali kepada jalan yang benar sebelum melihat siksaan-Mu yang pedih.” (Q.S. Yunus/10 : 88)
.
KHATIMAH
Satu kisah menarik diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang konflik antara Sa’id Ibn Zaid Ibn ‘Amr Ibn Nufail dan Arwa binti ‘Aus. Sa’id ditentang dan dilaporkan oleh Arwa binti ‘Aus kepada Marwan Ibn al Hakam. Wanita itu menuduhnya mengambil sebagian dari tanahnya. Sa’id pun berkata, “Apakah aku mengambil sebagian dari tanah miliknya setelah aku mendengar ucapan dari Rasulullah SAW?”
.
Marwan bertanya, “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah SAW?”
.
Ia menjawab, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zalim maka Allah akan mengalungkan ke lehernya tujuh lapis bumi.'”
.
Maka, Marwan berkata, “Aku tidak akan memintamu bukti-bukti setelah ini.” 
.
Lalu Sa’id berkata, “Ya Allah, jika perempuan ini berbohong maka butakan matanya dan matikan dia di tanahnya.”  
.
Sehingga, Urwah berkata, “Wanita itu tidak meninggal dunia sehingga matanya menjadi buta dan ketika ia berjalan di tanahnya, tiba-tiba ia terjatuh dan masuk terperosok lubang dan meninggal.” (HR Bukhari Muslim).
.
Dalam riwayat lain dengan makna yang sama, Muhammad Ibn Zaid melihat wanita tersebut dalam keadaan buta dan sedang meraba-raba dinding seraya berkata, “Aku tertimpa doanya Sa’id!”. Dan sesungguhnya ia melewati sumur di rumah yang ia pertentangkan kemudian ia terjatuh ke dalam sumur dan itu menjadi kuburnya.” (HR Muslim).
.
Kisah ini menunjukkan betapa buruk dan bahayanya dosa menuduh atau memfitnah, sekaligus memberi peringatan kepada kita bahwa perangai ini termasuk perbuatan jahat (zalim) yang semestinya ditinggalkan. Di sisi lain, kisah tersebut memberi hikmah yang sangat penting bahwa tangisan dan rintihan doa orang yang dizalimi dan difitnah hendaklah ditakuti karena didengar dan dikabulkan Allah. 
.
Reff:

http://susidahsyatnyadoaorangterdzolimi.blogspot.co.id/2015/02/dahsyatnya-doa-orang-yang-terdzolimi.html

ALHAMDULILLAH KITA DIFITNAH

DSC00165ALHAMDULILLAH KITA DIFITNAH

Memfitnah berarti menebar tuduhan kepada orang lain dengan fakta palsu atau dusta secara sengaja. Tujuannya untuk memberikan stigma negatif sehingga wibawa dan reputasi orang yang menjadi sasaran fitnah tersebut jatuh, apakah di hadapan orang tertentu ataupun di mata publik.
.
Bentuk dan motif fitnah ini bisa macam-macam. Misalnya, bentuk fitnah yang dikenal dengan istilah play victim, yaitu melukai diri atau merusak reputasinya sendiri dengan motif mencari simpati, keserakahan, kekuasaan, dan lain sebagainya. Dan pada saat yang sama, ia pun harus melemparkan tuduhan bahwa pihak lawanlah yang melakukannya.

.

0b15a-dsc00030DOA FITNAH DAN AKIBATNYA

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang konflik antara Sa’id Ibn Zaid Ibn ‘Amr Ibn Nufail dan Arwa binti ‘Aus. Sa’id ditentang dan dilaporkan oleh Arwa binti ‘Aus kepada Marwan Ibn al Hakam. Wanita itu menuduhnya mengambil sebagian tanahnya. Sa’id pun berkata, “Apakah aku mengambil sebagian dari tanah miliknya setelah aku mendengar ucapan dari Rasulullah SAW?”
.
Marwan bertanya, “Apa yang Anda dengar dari Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zalim maka Allah akan mengalungkan ke lehernya tujuh lapis bumi.'”
.
Maka, Marwan berkata, “Aku tidak akan memintamu bukti-bukti setelah ini.” Lalu Sa’id berkata, “Ya Allah, jika perempuan ini bohong maka butakanlah matanya dan matikan dia di tanahnya.”  Sehingga, Urwah berkata, “Wanita itu tidak meninggal dunia sehingga matanya menjadi buta dan ketika ia berjalan di tanahnya, tiba-tiba ia terjatuh dan masuk terperosok lubang dan meninggal.” (HR Bukhari Muslim).
.
Dalam riwayat lain dengan makna yang sama, Muhammad Ibn Zaid melihat wanita tersebut dalam keadaan buta dan sedang meraba-raba dinding seraya berkata, “Aku tertimpa doanya Sa’id, dan sesungguhnya ia melewati sumur di rumah yang ia pertentangkan kemudian ia terjatuh ke dalam sumur dan itu menjadi kuburnya.” (HR Muslim).

.

Ref: http://dedenheryana.heck.in/alhamdulillah-aku-difitnah.xhtml
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/15/11/18/nxzcww313-doa-korban-fitnah

Anak Kecil Mengumandangkan Azan?


Ulama berselisih pendapat tentang azan yang dikumandangkan oleh anak-anak. Ada yang berpendapat boleh, karena azan termasuk zikir sehingga tidak disyaratkan akil baligh. Namun pendapat lain mengatakan bahwa azan oleh anak kecil tidak sah karena ucapannya belum dapat dipercaya dan belum dapat dijadikan sebagai pegangan.
.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang paling tepat adalah bahwa adzan yang hukumnya jika telah dikumandangkan berarti kewajiban telah gugur bagi penduduk di suatu kampung (tempat) dan yang dipegangi sebagai tanda masuknya waktu shalat dan dimulainya puasa, tidak boleh dilakukan oleh anak kecil berdasarkan kesepakatan ulama.”

.
DSC00016Dengan demikian, kewajiban tetap menjadi tanggungan dan adzan yang dikumandangkan anak tersebut tidak bisa dijadikan acuan untuk waktu shalat maupun puasa. Adapun azan yang sifatnya sunnah muakkad, seperti di masjid-masjid yang ada di kota-kota besar dan seumpamanya, maka dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang benar adalah boleh (sah) karena ketersediaan sarana informasi tentang masuknya waktu azan yang memadai (sekarang ini), sehingga hal itu bisa menjadi saksi (justifikasi) bagi azan yang dilakukan anak tersebut. Allahu a’lam.
.
DSC00020Sumber: Ensiklopedi Anak, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi, Darrus Sunnah.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi http://www.konsultasisyariah.com)

KEUTAMAAN MENJADI ORANG BERTAQWA

Sari Khutbah Jum’at 25 Maret 2016 di Masjid Al-Syarikah Polsek Dusun Selatan di Buntok

.
Oleh Ustadz Mardhatillah (Amuntai)
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
.
Maka berbekallah kalian dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)

.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan dalam firman-Nya,

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ
Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Rabb mereka (disediakan) surga yang penuh dengan kenikmatan.” (Al-Qalam: 34)
.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 4)
.

Di samping itu, orang yang bertakwa juga akan dikaruniai rasa aman dan kebahagiaan di saat sebagian orang ditimpa rasa takut dan kesedihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
.
أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ {63} لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ
.
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.” (Yunus: 62-64)
.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيِغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
.
Wahai orang-orang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepada kalian furqan dan Allah akan menghilangkan diri-diri kalian dari kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni kalian dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

ORANG ALIM LEBIH MEMBUTUHKAN ILMU DARI ORANG BODOH

DSC00010KATA KUNCI DARI KAJIAN JUM’AT BA’DA MAGHRIB 18 MARET 2016 DI MASJID “AL-SYARIKAH” POLSEK DUSUN SELATAN DI BUNTOK BERSAMA USTADZ KAUTSAR

.

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.“  (QS. Al-Mujadilah : 11)

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menumpuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan menudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

 

.

يَـأَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوا إِذَاقِيْـلَ لَكُمْ تَفَـسَّحُوْافِيْ الْمَجَلِسِ فَافْـسَحُوا يَفْـسَحِ اللهُ لَكُمْۖ وَإِذَا قِيْـلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍۗ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبْيْرٌ ۝

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (Qs. Al-Mujadilah: 11)

.

DSC00009Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَـذَا الْكِـتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ .

“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 817) dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu’anhu]

.

Dalil di atas dengan menegaskan bahwa orang yang berilmu dan mengamalkannya maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.

.

Allah ‘Azza wa Jalla menolak persamaan antara orang-orang yang memiliki ilmu dengan orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Sebagaimana Dia menolak persamaan antara para penghuni Surga dengan para penghuni Neraka. Allah berfirman,

قُـلْ هَـلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُونَۗ … ۝

Artinya: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az-Zumar: 9)