Archive | February 2015

KAJIAN BA’DA MAGHRIB “SYARAT LA ILAHA ILLALLAH” OLEH USTADZ MARDHATILLAH

Syarat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (La Ilaha Illallah) terhimpun dalam bait syair dibawah ini:

.

عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ مَعَ

مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ وَالْقَبُوْلِ لَهَا

.

Ilmu, yakin dan ikhlas berikut kejujuranmu bersama.
Cinta, ketundukan dan kepasrahan menerimanya.
.
Syarat pertama: Mengilmui makna kalimat Laa Ilaha illallah
Maknanya adalah mengilmui dan mewujudkan di dalam amal karena tidak cukup hanya mengilmui maknanya lalu tidak mengamalkannya. Bukankah orang kafir Quraisy di masa silam lebih mengetahui maknanya dibanding kaum muslimin di masa sekarang? Namun pengetahuan mereka tentang kalimat yang agung ini tidak menjadikan mereka beriman disebabkan mereka tidak mau mengamalkan apa yang mereka ketahui. Hal tersebut nampak ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru mereka agar mengucapkan Laa Ilaha illallah, mereka menyangkal:
.

أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

.
“Apakah dia (Rasulullah) akan menjadikan tuhan-tuhan menjadi hanya satu tuhan saja? Sesungguhnya ini perkara yang sangat mengherankan.” (QS Shad: 5)
.
Tentang syarat ini telah disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
.

إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

.
“Kecuali bagi orang yang mempersaksikan kebenaran dan mereka mengetahuinya.” (QS Az-Zukhruf: 86)
.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

.
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah.” (QS Muhammad: 19)
.
Diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

.
“Barangsiapa yang meninggal dan dia mengetahui kalimat La ilaha illallah akan masuk ke dalam surga .”
Syarat kedua: Yakin terhadap makna yang dikandungnya.
Keyakinan yang akan menghilangkan keraguan pada diri seorang muslim. Artinya, yang mengucapkannya meyakini kebenaran, kandungan, dan konsekuensi kalimat tersebut, dengan keyakinan yang pasti dan bukan dengan zhan (praduga) belaka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ

.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu padanya dan mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa-jiwa mereka, merekalah orang-orang yang jujur.” (QS Al-Hujurat: 15)
.
Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyaratkan kejujuran iman orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tidak ada keraguan padanya. Karena ragu dalam keimanan merupakan sifatnya orang-orang munafiq.
.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.

 مَنْ لَقِيْتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

.
“Barang siapa yang engkau jumpai di belakang tembok ini, yang mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah, dengan penuh keyakinan dalam hati maka berikanlah kabar gembira dengan surga .”
.
Syarat Ketiga: Ikhlas
Keikhlasan yang akan memadamkan segala gejolak kesyirikan, kemunafikan, riya’ dan sum’ah (ingin populer). Karena ikhlas dalam pandangan agama adalah membersihkan amalan dengan niat yang baik dari segala noda-noda kesyirikan.
.

 فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ

.

“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.” (Az-Zumar: 2)
.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
.

 أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

.
“Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Lailahaillallah dengan penuh keikhlasan dari hatinya.”
.
Dari ‘Itban bin Malik ia berkata: Telah bersabda Rasulullah:

.

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلىَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

.
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang megucapkan Lailahaillallah semata-mata mencari wajah Allah.”
.
Syarat Keempat: Jujur
Kejujuran yang akan menghilangkan sifat dusta. Artinya, orang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha illallah harus dibenarkan oleh hatinya, karena jika dia mengucapkannya dengan lisan lalu hatinya tidak membenarkan apa yang diucapkan maka dia adalah orang munafiq dan pendusta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
.

ألم, أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُوْلُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ

.
“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengucapkan kami beriman lalu tidak diuji. Dan sungguh Kami telah menguji orangorang sebelum mereka, agar Allah benarbenar mengetahui siapa di antara mereka yang jujur dan siapa yang berdusta.” (QS Al-’Ankabut: 1-2)
.
Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.

 مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلىَ النَّارِ

 .
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah rasul Allah dengan penuh kejujuran dalam hatinya, melainkan Allah akan mengharamkan neraka atasnya.”
.
Syarat Kelima: Cinta
Artinya cinta terhadap kalimat yang besar ini dengan segala konsekuensinya dan mencintai pula orang yang mengamalkan maknanya beserta syarat-syaratnya, juga membenci para penentangnya.
.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا للهِ

.
“Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (di mana) mereka cinta kepadanya sebagaimana cintanya kepada Allah, sedangkan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS Al-Baqarah: 165)
.
Orang yang bertauhid akan mencintai Allah dengan kecintaan yang murni. Sebaliknya, orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala namun bersamaan dengan itu juga mencintai selain Allah sebagaimana cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentu hal ini akan menafikan ketauhidannya.
.
Syarat Keenam: Ketundukan
Ketundukan dan pasrah diri dalam melaksanakan segala konsekuensi kalimat tersebut dengan cara menolak semua jenis kesyirikan yang akan membatalkan ketauhidan.
.

 وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

.

“Dan barangsiapa yang memasrahkan wajahnya kepada Allah dan dia dalam berbuat baik, maka sugguh dia telah berpegang dengan tali yang kokoh.” (QS Luqman: 22)
.
Syarat Ketujuh: Menerima
Artinya menerima kalimat tersebut dan kandungannya, dengan lisan dan hatinya, beserta segala konsekuensinya dengan menghilangkan sikap penolakan apa yang dituntut oleh kalimat tauhid tersebut.
.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ

.

“Sesungguhnya mereka jika diserukan untuk mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah mereka menyombongkan diri. Dan mereka seraya berkata: Bagaimana kami akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena (seruan) seorang yang gila.” (QS Ash-Shaffat: 35-36)
.
Demikianlah gambaran kecil tentang syarat kalimat tauhid yang merupakan intisari dakwah para nabi dan karenanya diturunkan kitab-kitab. Maka jika kita menginginkan kekokohan dalam agama, sempurnakanlah pondasi bangunan Islam tersebut. Demikianlah makna ucapan Ibnu Rajab Al-Hambali.
.
Wallahu a’lam.
.
CATATAN
[lihat ‘Aqidah Tauhid hal. 53-57 karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan, Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid hal. 28-33 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Yamani, Laa Ilaha illallah Ma’naha wa Makanaha wa Muqtadhaha hal. 14-15, karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan, Tuhfatul Murid Syarh Al-Qaulil Mufid hal. 2, karya Nu’man Al-Watr]
.
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah
Advertisements

SARI KHUTBAH JUM’AT 27 FEBRUARI 2015 “KALIMAH THOYYIBAH” OLEH USTADZ MARDHATILLAH

DSC00572إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

.يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

 .يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 .أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ.

.

Mayoritas kaum muslimin sekarang yang telah bersyahadat Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah), tidak memahami makna Laa Ilaaha Illallah dengan baik. Bahkan barangkali memahami maknanya dengan pemahaman yang terbalik sama sekali. Syaikh al-Albani memberikan suatu contoh: Sebagian di antara mereka (Dia adalah Syaikh Muhammad Al-Hasyimi, salah seorang tokoh shufi dari thariqah Asy-Syadziliyyah di Suriah kira-kira 50 tahun yang lalu) menulis suatu risalah tentang makna Laa Ilaaha Illallah dan menafsirkannya dengan “Tidak ada Rabb (pencipta dan pengatur) kecuali Allah”!!” 

.

Orang-orang musyrik pun memahami makna seperti itu, tetapi keimanan mereka terhadap makna tersebut tidaklah bermanfaat bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

.

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab : ‘Allah’. [QS Luqman : 25].

.

Orang-orang musyrik beriman bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, tetapi mereka menjadikan tandingan-tandingan bersama Allah dan sekutu-sekutu dalam beribadah kepada-Nya. Mereka beriman bahwa Rabb (pengatur dan pencipta) adalah satu (esa), tetapi mereka meyakini bahwa sesembahan itu banyak. Oleh karena itu Allah membantah keyakinan ini yang disebut dengan ibadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada Allah melalui firman-Nya, yang artinya :

.

“Dan orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’”.
[Az-Zumar : 3] .

Kaum musyrikin dahulu mengetahui bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah mengharuskannya untuk berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, menafsirkan kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah ini dengan: “Tidak ada Rabb (pencipta dan pengatur) kecuali Allah”. Padahal apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan dia beribadah kepada selain Allah disamping beribadah kepada Allah, maka dia dan orang-orang musyrik adalah sama secara aqidah, meskipun secara lahiriah adalah Islam, karena dia mengucapkan lafazh Laa Ilaaha Illallah, sehingga dengan ungkapan ini dia adalah seorang muslim secara lafazh dan secara lahir. Dan inilah termasuk kewajiban kita semua sebagai da’i Islam untuk menda’wahkan tauhid dan menegakkan hujjah kepada orang-orang yang tidak mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah dimana mereka terjerumus kepada apa-apa yang menyalahi Laa Ilaaha Illallah.

.

Berbeda dengan orang-orang musyrik, karena enggan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah sehingga dia bukanlah seorang muslim secara lahir maupun batin. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, mereka orang-orang muslim, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

.

“Apabila mereka mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah), maka kehormatan dan harta mereka terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka atas Allah Subhanahu wa Ta’ala”.  [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (25) dan pada tempat lainnya, dan Muslim (22), dan selainnya dari hadits Ibnu Umar RA] .

.

Oleh karena itu: Sesungguhnya kenyataan mayoritas kaum muslimin sekarang ini adalah lebih buruk daripada keadaan orang Arab secara umum pada masa jahiliyah yang pertama, dari sisi kesalah-pahaman terhadap makna kalimat tahyyibah ini, karena orang-orang musyrik Arab dahulu memahami makna Laa Ilaaha Illallah, tetapi mereka tidak mengimaninya. Sedangkan mayoritas kaum muslimin sekarang ini mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka yakini, mereka mengucapkan: ‘Laa Ilaaha Illallah’ tetapi mereka tidak mengimani dengan sebenar maknanya. Oleh karena itu, kewajiban pertama atas da’i kaum muslimin yang sebenarnya adalah menyeru seputar kalimat tauhid ini dan menjelaskan maknanya secara ringkas. Kemudian dengan merinci konsekuensi-kosekuensi kalimat thayyibah ini dengan mengikhlaskan ibadah dan semua macamnya untuk Allah, karena ketika Allah Azza wa Jalla menceritakan perkataan kaum musyrikin, yang artinya :

.

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”  [QS Az-Zumar : 3]

.

Budi Waseso: Polisi Boleh Pakai KTP Palsu

Bela Budi Gunawan, Budi Waseso: Polisi Boleh Pakai KTP Palsu

Bela Budi Gunawan, Budi Waseso: Polisi Boleh Pakai KTP Palsu

Komjen Budi Gunawan (depan) mengikuti Rapat Paripurna DPR di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 15 Januari 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

.

TEMPO.CO, Jakarta – Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI Komisaris Jenderal Budi Waseso tak mempersoalkan perihal Komisaris Jenderal Budi Gunawan yang memiliki dua Kartu Tanda Penduduk. Menurut dia, polisi dalam menjalankan tugas untuk kepentingan penyelidikan maupun penyidikan hampir pasti menggunakan identitas palsu.

“Kan itu diduga. Dia bisa saja punya beberapa alamat. Kami maunya terbuka, terus konotasi seolah-olah saya membela ini,” ujar Budi di Ruang Rapat Utama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Ahad, 22 Februari 2015. Budi mengatakan atasannya dulu di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri tersebut mempunyai dua KTP dengan identitas dan alamat asli. “Kalau Pak BG itu kan ada yang Gunawan dan Budi G., semua itu kalau saya lihat fotonya beliau, namanya juga nama beliau.”

Berdasarkan penelusuran majalah Tempo edisi 25 Januari 2015, Budi Gunawan menggunakan dua alamat untuk membuat sejmlah dokumen penting. Pertama, alamat di Jalan Duren Tiga Selatan VII Nomor 17A, RT 10/RW 02, Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Alamat tersebut dipakai seseorang bernama “Gunawan” seperti tercantum dalam KTP serta dipakai untuk membuka rekening di BCA dan BNI cabang Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada 5 September 2008. Foto yang tercantum dalam KTP itu adalah wajah Budi Gunawan.

Meski tak mencantumkan pekerjaannya, Gunawan menyetor masing-masing Rp 5 miliar ke dalam dua rekening baru itu. Asal dana berasal dari Gunawan yang lain: Budi Gunawan, yang ketika itu menjabat Kepala Kepolisian Daerah Jambi dan berpangkat brigadir jenderal.

Foto Gunawan di kartu tanda penduduk itu adalah foto Budi Gunawan. Alamat pertama ini ternyata berbeda dengan alamat Budi Gunawan saat ia membuat Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara tanggal 19 Agustus 2008. Ketika itu, Budi Gunawan adalah Kepala Kepolisian Daerah Jambi. LHKPN merupakan dokumen resmi negara.

Dalam LHKPN yang salinannya didapat Tempo, Budi mencantumkan alamat Jalan Duren Tiga Barat VI Nomor 21 RT 05/RW 02, Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Dalam LHKPN ini Budi Gunawan juga mencantumkan alamat kantor di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 45, Kota Jambi, Jambi.

Budi tak mempersoalkan dua KTP Budi Gunawan mencantumkan alamat yang berbeda. Sebab, kedua alamat tersebut memang ada. Menurut Budi, tindakan Budi Gunawan sangat berbeda dengan dugaan pemalsuan dokumen yang dituduhkan kepada Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad. Abraham, kata dia, mengubah identitas seseorang yakni Feriyani Lim sehingga bisa ke luar negeri.

Abraham diduga memasukkan Feriyani ke dalam Kartu Keluarganya. KTP Feriyani ini lalu digunakan untuk membuat paspor. Abraham akhirnya ditetapkan sebagai tersangka Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat pada 9 Februari 2015.

Menurut dia, Budi Gunawan mempunyai kos-kosan sehingga membuka rekening baru untuk memudahkan pembayaran. “Kalau Pak AS ada akibatnya. Kalau seperti Pak BG tadi, apa akibatnya? Kan tidak ada,” kata Budi.

LINDA TRIANITA

kopy paste dari http://www.tempo.co/read/news/2015/02/22/078644371/Bela-Budi-Gunawan-Budi-Waseso-Polisi-Boleh-Pakai-KTP-Palsu

MENGAMBIL HIKMAH KONFLIK POLRI VS KPK: HAKIM SARPIN SAJA MUSLIM JUGA …

6bdb3-terpidanaInilah fakta dunia hukum di Indonesia. Calon Kapolri yang diperkarakan oleh KPK, Budi Gunawan, sebagai muslim mengaku pasrah apapun keputusan Presiden soal posisi nomor satu di Polri.  “Jabatan Kapolri bukan diatas segala-galanya. Karena jabatan itu dalam agama saya adalah amanah, setiap saat bisa diambil kapan saja. Kami tidak berandai-andai, apapun yang beliau (Jokowi) putuskan kami siap,” ujar Budi. (http://fokus.news.viva.co.id/news/read/590851-bencana-hukum-paska-putusan-praperadilan-budi-gunawan/3).

.

Jelas Pak Budi menyatakan bahwa dalam agamanya jabatan adalah amanah. Ini jelas Islam dan beliau muslim. Difihak yang memperkarakan (KPK), Abraham Samad, Bambang Widjoyanto dan seterusnya, juga tidak kalah memakai Islam dan kosakata Islam karena mereka memang muslim. Sampai-sampai mereka dituduh ISIS oleh fihak-fihak tertentu. Malah hakim yang mengadili perkara ini, Sarpin Rizaldi, juga muslim dan tegas mengaku bertanggung jawab kepada Allah atas keputusannya. “Hasil putusan saya itu, saya pertanggungjawabkan kepada Tuhan, jadi saya tidak peduli apa yang dikatakan orang,” tuturnya Sarpin. (http://www.tribunnews.com/nasional/2015/02/25/sarpin-saya-bertanggungjawab-kepada-tuhan).

.

Hakim Sarpin Rizaldi memimpin sidang praperadilan Budi Gunawan kepada KPK di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (2/2).Masalahnya adalah, bisakah muslim menerima amanah (jabatan) dengan sumpah menurut Islam tapi menjalankan din selain Islam? Bisakah muslim diatas jabatan yang tidak Islami bersumpah menurut Islam untuk menjalankan hukum selain Islam? Akhirnya, bisakah hakim Muslim mengadili manusia menurut hukum selain Islam?

.

Pertama, Allah ta’ala berfirman :

.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

.

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian yang diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Maidah 49].

.

Kedua, Seluruh muslim wajib berhukum kepada syari’at Allah dengan ridha dan taslim. Allah ta’ala berfirman :

.

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

.

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya” [QS. An-Nisa’ 65].

.

Tapi buktinya apa? Taqwa hanyalah perkataan semu belaka. Taqwa hanyalah tulisan diatas Surat Pernyataan yang ditanda-tangani di atas materai. Iman hanyalah formalitas hampa. Islam hanyalah nama agama yang harus diisi di kolom KTP dan identitas lainnya. Tidak lebih! Maka Allah Ta’ala berfirman menunjukkan keheranan-Nya:

.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

.

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?. Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir kepada thaghut itu…” (QS An Nisaa’  60)

.

Akhir kalam, marilah kita bertaubat atas dosa-dosa kita yang bertumpuk-tumpuk selama ini.

MASJID AS-SUNNAH MENGUNDANG PARTISIPASI UNTUK PEMASANGAN KERAMIK DINDING

DSC00079Panitia pembangunan masjid mengundang jamaah dan masyarakat yang berkeinginan membantu pemasangan keramik untuk dinding luar dan dalam Masjid As-Sunnah Buntok, dengan penjelasan sebagai berikut:

A. Luas Dinding Luar dan Dalam 903 M2

B. Keramik yang dipakai adalah marmar dari Tulung Agung, Provinsi Jawa Timur.

.

DSC00559C. Rincian harga :

– Biaya angkut dan biaya pasang = 903 M2 X 450.000,- = Rp. 406.350.000,-

– Semen dan pasir = 903 M2 X Rp. 50.000,- = Rp. 45.150.000,-

D. Jumlah dana keseluruhan yang diperlukan  = Rp. 451.500.000,-

E. Berdasarkan perhitungan dimaksud maka harga per meter ditawarkan Rp. 500.000,-.

.

DSC00081

Bagi yang ingin mengetahui detail perhitungan atau berpartisipasi bisa menghubungi:

ABDUL WAHAB, Bendahara Panitia, kontak / SMS 0812 5009 6805.

Haji Rismato, Wakil Ketua, kontak / SMS 0812 3094 348

Haji Jhon Kennedy (Koordinator Pembangunan)

.

DSC00092Panitia juga memiliki rekening perbankan bagi simpatisan yang ingin berpartisipasi melalui transfer, dengan rincian: BNI Cabang Buntok, nomor 035 164 9658 atas nama Panitia Pembangunan Masjid As-Sunnah Buntok.

MENGAMBIL HIKMAH KONFLIK POLRI VS KPK: MEREKA MUSLIM TAPI …

hukum1Menyimak viva.co.id dalam http://fokus.news.viva.co.id/news/read/590851-bencana-hukum-paska-putusan-praperadilan-budi-gunawan/3, Selasa 17 Februari 2015 | 02:06 WIB, “Bencana Hukum Paska Putusan Praperadilan Budi Gunawan” oleh Dedy Priatmojo, Aries Setiawan, Agus Rahmat, Taufik Rahadian, dengan tegas mengindikasikan bahwa pergulatan politik dan hukum yang sedang terjadi merupakan konflik sesama muslim. Bahkan mereka lugas mengaku Islam, mengaku bertaqwa dan memakai istilah yang merupakan khas ciri Islam.

.
Bencana Hukum Paska Putusan Praperadilan Budi Gunawan
Komjen Budi Gunawan usai menjalani fit and proper test di Gedung DPR (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

.

Komjen Polisi Budi Gunawan mengklaim putusan praperadilan atas kasusnya yang dimenangkan di Pengadilan akan dijadikan instrumen utama Presiden Jokowi dalam mengambil keputusan calon Kapolri. Dia mengaku pasrah apapun keputusan Presiden nantinya soal posisi orang nomor satu di Polri.  “Jabatan Kapolri bukan diatas segala-galanya. Karena jabatan itu dalam agama saya adalah amanah, setiap saat bisa diambil kapan saja. Kami tidak berandai-andai, apapun yang beliau (Jokowi) putuskan kami siap,” ujar Budi.

.

Sangat jelas Pak Budi Gunawan menyatakan bahwa dalam agamanya jabatan adalah amanah. Ini jelas istilah Islam dan beliau muslim. Yang jadi masalah, bisakah seorang muslim menerima amanah (jabatan) dengan sumpah menurut Islam tapi menjalankan hukum selain Islam? Keheranan inilah yang ditegaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?. Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir kepada thaghut itu…” (QS An Nisaa’  60)

.

Dalam ayat tersebut tersirat keheranan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena ada orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an dan mengatakan bahwa Al Qur’an adalah kitab suci serta pedoman hidupnya akan tetapi mereka malah merujuk kepada hukum thaghut? Hukum thaghut bukanlah hukum Allah, sedangkan Allah memerintahkan untuk menjauhi thaghut. Dan thaghut paling besar di antara thaghut-thaghut zaman sekarang adalah thaghut hukum dan perundang-undangan berikut para pembuat hukum dan pemutus hukum yang berpedoman dengannya.

.

hukumDan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik (hukumnya) daripada Allah bagi orang-orang yang yakin ?”  (QS. Al Maaidah 50)

.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah dien yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Yusuf [12]: 40)

.

Akhirnya.., semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang sangat banyak luar biasa ini, amin.

PENAWARAN PEMASANGAN KERAMIK DINDING MASJID AS-SUNNAH BUNTOK

Permulaan peribadatan di ruang utama (atas) Masjid As-Sunnah Buntok ditandai dengan Shalat Jum’at dengan Khatib Haji Rismato bin Sarbit. Hari Jum’at tanggal 30 Januari 2015 tersebut bertepatan dengan 9 Rabiul Akhir 1436 H.
.
Sampai Jum’at keempat hari ini (20 Februari 2015), kondisi fisik bangunan belum selesai seratus persen. Oleh karena itu Panitia mulai merancang pemasangan keramik dinding dengan cara menawarkan kepada jamaah sebagai berikut:
.
Ukuran keramik 46 X 60 Cm seharga         Rp. 400.000,-/ M2
Pasir dan semen                                        Rp.  50.000,-/ M2
Upah angkut dari Tulung Agung + pasang Rp.  50.000,-
.
Berdasarkan perhitungan kasar dimaksud maka harga per meter ditawarkan Rp. 500.000,-. Bagi yang ingin mengertahui detail perhitungan atau berpartisipasi bisa menghubungi: ABDUL WAHAB, kontak/SMS 0812 5009 6805.

.
Atas perhatian diucapkan terima kasih.