Archive | May 2016

Dua cara menentukan awal Ramadhan

DSC00002NASIHAT MUI

fatwa-mui-2-2004

.

NASIHAT

Syariat telah menetapkan untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan itu dengan 2 cara:

  1. Ru’yatul hilal (melihat hilal dengan mata). Hilal adalah fase paling awal dari kemunculan bulan. Oleh karena itu hilal berupa garis tipis yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun para ulama membolehkan menggunakan teropong atau alat bantu lainnya untuk membantu melihat keberadaan hilal.
  2. Jika hilal tidak nampak, bulan sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.

 

Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

صوموا لرؤيَتِهِ وأفطِروا لرؤيتِهِ ، فإنْ غبِّيَ عليكم فأكملوا عدةَ شعبانَ ثلاثينَ

Berpuasalah karena melihatnya (hilal), berbukalah karena melihatnya (hilal), jika penglihatan kalian terhalang maka sempurnakan bulan Sya’ban jadi 30 hari” (HR. Bukhari 1909, Muslim 1081)

 

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

لا تصوموا حتى تروه، ولا تفطروا حتى تروه

Janganlah berpuasa sampai engkau melihat hilal, janganlah berlebaran hingga engkau melihat hilal” (HR. Muslim 1080)

Para ulama telah ber-ijma‘ bahwa dua metode ini lah yang dipakai, dan mereka tidak pernah memperselisihkan lagi. Atau dengan kata lain, ini bukanlah perkara khilafiyah di kalangan para ulama, walaupun banyak disangka sebagai perkara khilafiyah oleh orang-orang awam. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab beliau, Fathul Baari (4/123), mengatakan:

وقال ابن الصباغ أما بالحساب فلا يلزمه بلا خلاف بين أصحابنا قلت ونقل بن المنذر قبله الإجماع على ذلك فقال في الأشراف صوم يوم الثلاثين من شعبان إذا لم ير الهلال مع الصحو لا يجب بإجماع الأمة

“Ibnu As Sabbagh berkata: ‘Adapun metode hisab, tidak ada ulama mazhab kami (Maliki) yang membolehkannya tanpa adanya perselisihan‘. Sebelum beliau, juga telah dinukil dari Ibnul Mundzir dalam Al Asyraf: ‘Puasa di hari ketiga puluh bulan Sya’ban tidaklah wajib jika hilal belum terlihat ketika cuaca cerah, menurut ijma para ulama‘”

Syaikh Abdul ‘Aziz Ar Rays hafizhahullah menyatakan: “Orang-orang membuat metode baru dalam masalah ini, yang tidak diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu menjadikan hisab falaki (perhitungan astronomis) sebagai acuan untuk menentukan awal bulan Ramadhan.

Penggunaan metode ini dalam hal menentukan 1 Ramadhan adalah metode yang baru yang bid’ah dan haram hukumnya, disebabkan beberapa hal di bawah ini:

Pertama, metode ini bertentangan dengan banyak nash yang membahas tentang cara menentukan masuknya Ramadhan, yaitu dengan salah satu dari dua cara di atas

Kedua, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, para sahabat beliau dan para tabi’in, tidak pernah menggunakan metode ini padahal ilmu hisab falaki sudah ada di masa mereka. Kaidah mengatakan, setiap sarana yang mampu dimanfaatkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam namun mereka tidak memanfaatkannya, maka hukum memanfaatkan sarana tersebut di zaman ini adalah bid’ah. Sebagaimana sudah dijelaskan oleh Syaikhul Islam di kitabnya, Iqtidha Shiratil Mustaqim.

Ketiga, para ulama telah ber-ijma‘ untuk tidak menggunakan metode hisab falaki dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Sebagaimana yang dikatakan Ibnul Mundzir dan Ibnu As Sabbagh yang disebut oleh Ibnu Hajar di atas, juga Ibnu ‘Abdil Barr, Abul Walid Al Baaji dan Ibnu Taimiyah” (dikutip dari http://www.al-sunna.net/articles/file.php?id=5904).

Oleh karena itu dalil sudah shahih dan jelas, ulama pun sudah ijma‘, maka hendaknya dalam masalah ini kita singkirkan fanatisme kelompok dan opini-opini dan pasrah untuk menerima dalil.

Mengikuti Ulil Amri dalam penentuan awal Ramadhan

Islam adalah agama yang mengajarkan untuk bersatu dan tidak berpecah belah, maka Islam pun memerintahkan untuk taat pada pemerintah selama mereka Muslim dan bukan dalam perkara maksiat. Demikian juga dalam penentuan awal Ramadhan, dengan taat pada keputusan pemerintah, akan dicapai persatuan dalam hal ini. Dan sikap inilah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Hari puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih‘” (HR. Tirmidzi 632, Syaikh Al Albani berkata: “Sanad hadits ini jayyid” dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 1/440).

Dalam lafadz yang lain:

صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ , وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

Kalian berpuasa ketika kalian semuanya berpuasa, dan kalian berbuka ketika kalian semua berbuka

At Tirmidzi setelah membawakan hadits ini ia berkata: “Hadits ini hasan gharib, sebagian ulama menafsirkan hadits ini, mereka berkata bahwa maknanya adalah puasa dan berlebaran itu bersama Al Jama’ah dan mayoritas manusia”.

As Sindi menjelaskan, “Nampak dari hadits ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masing-masing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan imam (pemerintah) dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada imam dan al jama’ah dalam urusan ini. Dari hadits ini juga, jika seseorang melihat hilal namun imam menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti al jama’ah” (Hasyiah As Sindi, 1/509).

Hal ini juga sebagaimana yang dipraktekan di zaman Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dimana beliau berlaku sebagai kepala pemerintah. Sahabat Ibnu Umar radhiallahu’anhu berkata:

تَرَائِى النَّاسُ الْهِلَالَ، فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ، وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

Orang-orang melihat hilal, maka aku kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa aku melihatnya. Lalu beliau memerintahkan orang-orang untuk berpuasa” (HR. Abu Daud no. 2342, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

 

Hadits Ibnu Umar di atas menunjukkan bahwa urusan penetapan puasa diserahkan kepada pemerintah bukan diserahkan kepada masing-masing individu atau kelompok masyarakat.

Hal ini juga dalam rangka mengikuti firman Allah Ta’ala :

أطِيعُوا الله وأطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولى الأمْرِ مِنْكُمْ

Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta ulil amri kalian” (QS. An Nisa: 59)

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

اسمعوا وأطيعوا فإنما عليكم ما حملتم وعليهم ما حملوا

Dengar dan taatlah (kepada penguasa). Karena yang jadi tanggungan kalian adalah yang wajib bagi kalian, dan yang jadi tanggungan mereka ada yang wajib bagi mereka” (HR. Muslim 1846)

Oleh karena itu hendaknya demikian yang kita amalkan, yaitu taat pada keputusan pemerintah dalam penentuan awal bulan Ramadhan. Walhamdulillah, negeri kita penguasanya Muslim dan juga selalu menggunakan ru’yatul hilal dalam menentukan awal Ramadhan. Dengan demikian amalan kita sesuai dengan dalil-dalil syar’i dan juga terwujudlah persatuan ummat. Utamakanlah persatuan ummat daripada pendapat-pendapat individu dan golongan.

Demikian bahasan yang singkat ini, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua sehingga bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang mendapatkan ridha-Nya.

Wabillahit Taufiq Wa Sadaad..

Penulis: Yulian Purnama

 

https://muslimah.or.id/6104-saudariku-inilah-cara-menentukan-awal-bulan-ramadhan.html

 

Advertisements

APAKAH KAMU MENGIRA BISA MASUK SYURGA HANYA DENGAN NGOMONG DOANG..?

ALLAH BERTANYA KEPADA ANDA

Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah 214:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.”(QS Al Baqarah 214)

.

Ayat ini menunjukkan bahwa syurga itu terlalu mahal sangat karena orang-orang yang masuk syurga harus ditimpa dulu berbagai fitnah, musibah, kesengsaraan, guncangan kehidupan dan malapetaka(?) Bahkan ayat ini menunjukkan adanya rintihan : “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”

.

Pada ayat lain ‘Allah menyindir’ dengan lebih menukik: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2) dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.(3)”(Qs. Al-Ankabut: 2-3).

.

Pada sepanjang sejarah Islam, kita selalu menemukan bahwa ujian adalah faktor penting dalam membuktikan keimanan seseorang. Bagaimana mungkin ia akan mendapat surga, bila tidak beriman. Bagaimana mungkin dianggap beriman, jika tidak ada pembuktian. Maka ujian dalam berbagai macam jenisnya, menjadi semacam ‘alat ukur’ untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang.

.

Ujian, “sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu”.

Suatu saat, sahabat yang bernama Khabbāb bin al-Arat (yang mendapat penyiksaan angat keji dari orang-orang kafir Qurays) mendatangi Rasulullah, seraya bertanya: “Mengapa engkau tidak memohon pertolongan (Allah) untuk kita?  Mengapa anda tidak berdoa untuk kebaikan kita?”. Rasul pun menjawab, ‘Sesungguhnya ada orang sebelum kalian yang digergaji hingga terbelah dua. Namun, itu tidak memalingkannya dari agama. Ia juga disisir dengan sisir besi sehingga membuat daging dan tulangnya terkelupas, tapi yang demikian itu tidak memalingkannya dari agama’. Kemudian belia melanjutkan, Demi Allah Allah pasti akan menyempurnakan perkara ini(agama Islam). Hingga (ada) pengendara berjalan dari Shan`a(Yaman) ke Hadhra Maaut(dengan aman) ia tidak takut, melainkan pada Allah, serta tidak khawatir kambing diterkam serigala. Tetapi kamu terburu-buru (Hr. Bukhari, Abu Daud dan Nasa`i).[Baca: Tafsīr al-Qur`ān al-`Aḍīm, Ibnu Katsir, 1/571)

.

Orang yang beriman pasti diuji sebagaimana umat-umat terdahulu. Allah berfirman: “Mereka ditimpa oleh al-ba`sā`(menurut Ibnu Mas`ud: Kefaqiran) dan al-arrā`(menurut Ibnu Abbas: sakit), serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan.). Namun, salah satu virus mematikan yang dapat menggagalkan orang dalam menjalani ujian ialah sifat terburu-buru dan tidak sabar. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah kepada Khabbāb bin al-Arat. Dalam kondisi yang sangat mencekam, di mana kaum Muslimin sudah berada pada titik puncak pengorbanan, barulah pertolongan Allah hadir. Allah berfirman: “Sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.”. Dekatnya pertolongan, atau lulusnya seorang hamba menjalani ujian, ialah ketika dia sudah berusaha secara maksimal dalam menjalani ujian. Pada perang Ahzab, kaum Muslimin sudah mengerahkan segenap jerih payahnya. Secara materil, mereka jauh dibandingkan orang-orang kafir. Namun, pada akhirnya mereka ditolong Allah ta`ala.

.

Bagi kita –umat Islam. Khususnya di Indonesia- seyognyanya bercermin pada ayat ini. Ternyata, mengaku islam dan iman saja tidak cukup untuk mendapat ‘tiket surga’. Jadi, jangan terlalu PD (percaya diri) dengan keislaman dan keimanan kita, sebelum benar-benar dibuktikan dengan perjuangan dan pengorbanan. Sebagai penutup ada baiknya kita simak firman Allah subhanahu wata`ala: “dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.”(Qs. Az-Zuhruf: 72).

.

KAMU TERLALU CINTA DUNIA, NERAKA UNTUK MU

Siapa pun yang lebih mengutamakan kehidupan dunia (pekerjaan, pangkat, jabatan, kekuasaan, kedudukan) maka pasti masuk neraka. Allah berfirman dalam surah Hud 15-16:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ

Barang siapa yang lebih menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka  balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan di dunia itu mereka tidak akan dirugikan.

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa pun di akhirat nanti kecuali neraka, lenyap apa saja hasil yang telah mereka usahakan di dunia dan tidak diterima (sia-sia) amal yang telah mereka kerjakan.

MUKMIN PASTI TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA

 

b5c56-images4MUKMIN PASTI TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA

.

اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْآ اِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِه لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَ اَطَعْنَا، وَ اُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ. النور: 51

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [QS. An-Nuur : 51]

.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلاَ مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللهُ وَ رَسُوْلُه اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ، وَ مَنْ يَّعْصِ اللهَ وَ رَسُوْلَه فَقَدْ ضَلَّ ضَللاً مُّبِيْنًا. الاحزاب: 36

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [QS. Al-Ahzaab : 36]

.

فَلاَ وَرَبّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتّى يُحَكّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِيْ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مّمَّا قَضَيْتَ وَ يُسَلّمُوْا تَسْلِيْمًا. النساء: 65

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [QS. An-Nisaa’ : 65]

.

MUKMIN PASTI BAHAGIA

وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ الرَّسُوْلَ فَاُولئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مّنَ النَّبِيّنَ وَ الصّدّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَآءِ وَ الصّلِحِيْنَ، وَ حَسُنَ اُولئِكَ رَفِيْقًا. النساء: 69

Dan barangsiapa yang mentha’ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’kmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS. An-Nisaa’ : 69]

.

وَ مَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَه وَ يَخْشَ اللهَ وَ يَتَّقْهِ فَاُولئِكَ هُمُ الْفَآئِزُوْنَ. النور: 52

Dan barangsiapa yang tha’at kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. [QS. An-Nuur : 52]

وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَه فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. الاحزاب: 71

Dan barangsiapa mentha’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [QS. Al-Ahzaab : 71]
.

وَ مَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَه يُدْخِلْهُ جَنّتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْـهرُ خلِدِيْنَ فِيْهَا، وَذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ(13) وَمَنْ يَّعْصِ اللهَ وَ رَسُوْلَه وَ يَتَعَدَّ حُدُوْدَه يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيْهَا، وَ لَه عَذَابٌ مُّهِيْنٌ(14) النساء: 13-14

Barangsiapa tha’at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (13)  Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (14) [QS. An-Nisaa’ : 13-14]

Ketua MUI: PDIP adalah Musuh Islam & Musuh Umat Islam!

Posted by KabarNet pada 01/06/2014

Jakarta – KabarNet: Tindakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menginstruksikan kader-kadernya memata-matai para khatib Jumat untuk memantau kemungkinan adanya “kampanye hitam” di dalam masjid menuai gelombang kecaman dari berbagai pihak.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Ridwan melontarkan pernyataan keras sebagai respon atas tindakan PDIP tersebut. “Dan umat supaya sadar bahwa partai yang memata-matai khatib (PDIP, red.) adalah musuh Islam dan musuh umat Islam,” tegas Kiai Cholil seperti dikutip Suara Islam Online, Jumat (30/5/2014).

Pernyataan Ketua MUI, Kiai Cholil Ridwan tersebut meski tak secara eksplisit menyebut ‘PDIP’, namun dari konteks kasus yang sedang dikomentarinya menjadi jelas bagi siapapun bahwa yang dimaksud dalam kalimat “partai yang memata-matai khatib adalah musuh Islam dan musuh umat Islam” adalah PDIP. Karena saat ini tak ada partai selain PDIP yang memerintahkan kader-kadernya untuk memata-matai para khatib.

Ketua MUI Pusat, KH Cholil Ridwan

Sikap PDIP yang mau menjalankan aksi intelijen terhadap masjid-masjid tersebut dinilai Kiai Cholil sebagai warisan orde lama dan orde baru untuk mengembalikan Indonesia ke era otoriter, dimana saat itu khatib di masjid selalu diawasi dan bahkan harus mendapat persetujuan pihak keamanan. Ia menegaskan, bahwa kelompok yang memata-matai khatib adalah musuh Islam.

Ia menghimbau agar umat Islam tidak memilih calon presiden dari partai yang memusuhi umat Islam. “Oleh karena itu jangan pilih capresnya (Jokowi, red.). Pilihlah capres yang didukung oleh empat partai Islam,” pesan Kiai Cholil.

.

Ketua MUI, KH Amidhan Saberah

Dari lembaga yang sama, Ketua MUI, KH Amidhan Saberah mengatakan, aksi mata-mata dan pengawasan yang dilakukan oleh kader-kader PDIP terhadap para khatib di masjid, sebagai tindakan yang sangat melukai perasaan umat Islam. “Pengawasan itu sangat melukai umat Islam, sejak kapan mereka menjadi polisi agama?” kata Amidhan di Jakarta, Jumat (30/5/2014).

Jika polisi agama, sambung dia, wajar jika adanya pengawasan terhadap masjid. “Sama seperti zaman penjajahan, bicara politik langsung dilaporkan ke polisi.”

Menurut Amidhan, hal biasa kalau soal bicara politik di masjid, yang tidak boleh adalah kampanye mengajak salah satu pasangan capres dan cawapres. “Mengapa pengawasan hanya dilakukan di masjid, sedangkan gereja, pura, vihara dan lainnya tidak?” kata dia lagi.

Kiai Amidhan menambahkan, tidak adil jika umat Islam mendapat perlakuan seperti itu. Lagi pula, para khatib yang memberi khutbah di masjid sudah sangat tahu mengenai batasan untuk tidak berkampanye.

Berita tentang sikap PDIP yang terkesan sangat tidak bersahabat dengan umat Islam ini bermula dari pernyataan Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai PDIP Jakarta Timur, William Yani, yang menginstruksikan kader-kader partai dan pendukung Jokowi untuk memantau atau memata-matai para khatib saat menyampaikan khutbah Jum’at.

Lewat akun resmi berita PDIP di twitter @news_pdip, pada Kamis, (29/5/2014), William Yani yang juga anggota DPRD DKI Jakarta ini menginstruksikan kepada kader dan pendukung Jokowi pada saat Sholat Jum’at untuk memantau para penceramah.

Tidak hanya itu, William Yani yang seorang Kristiani ini meminta para pendukung Jokowi membawa alat perekam saat ceramah sholat Jum’at berlangsung.

Sikap PDIP yang mau menjalankan aksi intelijen terhadap masjid-masjid tersebut dianggap mengembalikan Indonesia di era otoriter, dimana saat itu khotib di masjid selalu diawasi dan bahkan harus mendapat persetujuan pihak keamanan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Saleh Daulay mengatakan, tindakan pengawasan masjid ini akan menimbulkan kesan adanya fregmentasi sosial di tengah-tengah masyarakat. “Selain itu, bisa juga menimbulkan kesan seolah-olah para khatib selama ini dijadikan sebagai agen politik dari suatu kepentingan politik tertentu. Padahal, fungsi masjid adalah tempat suci dimana orang berupaya mendekatkan diri pada sang pencipta. Saya khawatir, ini bisa dilihat masyarakat sebagai upaya pengembalian rezim otoriter dengan masuknya intervensi ke rumah-rumah ibadah” kata Saleh di Jakarta, Jumat (30/5/2014).

Anggota Tim Sukses Jokowi-JK Eva Kusuma Sundari tidak menampik itu. Politisi liberal itu mengatakan, memang kader-kader PDIP yang muslim diminta untuk melakukan aksi intelijen terhadap masjid-masjid.

Pihaknya melakukan pengawasan terhadap masjid-masjid, karena dikhawatirkan menjadi tempat terjadinya kampanye hitam. “Karena memang serangan kepada Jokowi-JK di masjid-masjid sangat intensif,” kata Eva seperti dikutip RMOL, Jumat (30/5/2014). [KbrNet/Suara-Islam/RMOL/adl]

JAGA DIRI DENGAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

This slideshow requires JavaScript.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٠٥ –
Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri-dirimu; orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa saja yang telah kamu kerjakan. (QS Al Maidah 105)
.
Tarmidzi telah merawikan dari Abi Umayyah Asy Syaibani, dia berkata: “Saya pernah bertanya kepada Abi Tsa’labah al-Khusyani :”Bagaimana sikapmu terhadap ayat ini?” Dia bertanya: “Ayat yang mana?” Aku jawab: yaitu ayat: “Wahai orang yang beriman! Jagalah dirimu, tidaklah akan memberi mudharat kepada kamu orang yang sesat, asal engkau telah mendapat petunjuk”. Dia menjawab :”Sungguh demi Allah! Hal ini telah pernah saya tanyakan kepada orang yang lebih mengerti akan maksudnya, yaitu Rasulullah SAW sendiri, beliau telah menjawabnya!”
.

Amar ma’ruf nahi munkar adalah masalah yang sangat besar dan agung, merupakan inti syariat para Nabi secara umum. Amar ma’ruf nahi munkar adalah tonggak agama dan inti dari semua syariat Islam. Kalau ada perkara munkar yang dibiarkan padahal ada kemampuan untuk mencegahnya, niscaya adzab Allah akan merata dan mengenai semuanya baik orang shalih maupun orang thalih. Maka sudah menjadi suatu keharusan bagi setiap Muslim yang ingin mendapatkan ridha dari Allah untuk betul-betul memperhatikan masalah yang besar ini.

a6c9d-musangKarena beratnya kondisi itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menggambarkan kondisi tersebut:

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

.

Karena beratnya kondisi itu, maka beliau pun mengabarkan kepada kita terkait besarnya balasan yang akan diterima oleh orang yang berpegang teguh terhadap dien ini di tengah badai fitnah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab al-Fitan wal Malahim, saat menafsirkan ayat di atas (Al-Ma’idah: 105) Rasulullah saw bersabda, “Bahkan perintahkanlah oleh kamu sekalian untuk berbuat amar ma’ruf nahi mungkar. Sehingga, jika engkau telah melihat manusia mentaati sifat kikir, hawa nafsu telah liar diumbar, dunia diutamakan, dan setiap orang yang mempunyai pendapat (pemikiran) telah bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah kalian menjaga diri kalian sendiri dan meninggalkan orang-orang bodoh, karena sungguh setelah itu akan ada hari-hari (yang sulit dan berat)(sehingga karena sulit dan beratnya) orang yang sabar (di dalam memegang kesepakatan atas kebenaran) ibarat menggenggam bara api. Orang yang beramal (pada zaman itu, mendapatkan pahala) seperti pahala lima puluh kalinya orang yang beramal di antara kamu sekalian.” Dalam riwayat lain ada tambahan

AL QUR’AN KITAB YANG MEMBUAT SESAK DADA MANUSIA

AL KITAB YANG MEMBUAT SESAK DADA MANUSIA

Allah berfirman dalam surah Al A’raf 1 – 4 :

1.  المص 
Alif, Laam Miim Shaad.
.
2. كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ 
Inilah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah sempit dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.
.
3. اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ 
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).
.
4. وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ 
Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari.
.
Ayat ini merupakan peringatan kepada Nabi Muhammad SAW dan ummat Islam seluruhnya agar jangan menjadi gerah dan sesak hati dengan petunjuk Allah (Al Qur’an).  Justru.., Al Qur’an harus menjadi rahmat, obat dan dasar muslim dalam beribadah, beraktivitas dan berdakwah. Hanya kepemimpinan Allah saja pemimpin yang haq. Hanya dengan petunjuk Muhammad saja jalan keselamatan bisa diketahui, dititi dan dilalui dengan selamat. Jadilah kita mukmin yang sejati, jangan menjadi munafik. Jangan sampai kita hancur akibat murka Allah.
.
WASPADAI KAUM MUNAFIK
Wahai muslim, awaslah dengan tindak-tanduk dan sepak terjang kaum munafikin karena mereka adalah musuhmu yang paling berat. Mereka menampakkan dirinya mukmin tetapi sebenarnya mereka adalah kafir. Mereka sangat pandai berkamuflase. Mereka musang berbulu ayam. Serigala berbulu domba. Merekalah musuh yang mengaku kawan. Allah berfirman dalam surah Al Munafiqun 1 – 4 :
.
(1). إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ الَّهِ ۗوَالَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَالَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui (bersyahadat) bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.
.

(2). اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ الَّهِ ۚإِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Mereka itu menjadikan sumpah (syahadat) mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.
.

(3). ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.
.

(4). ۞ وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖوَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖكَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖيَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚهُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚقَاتَلَهُمُ الَّهُ ۖأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

KHUTBAH JUM’AT 6 MEI 2016 : SEMUA MANUSIA MENDATANGI NERAKA

  Kita-Pasti-Akan-Mendatanginyaوَ إِنْ مِنْكُمْ إِلاَّ وارِدُها كانَ عَلى‏

 رَبِّكَ حَتْماً مَقْضِيًّا

(71) Dan tidak ada pengecualian di antara kamu, semuanya akan mendatangi neraka. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang telah ditentukan.

.

 ثُمَّ نُنَجِّي الَّذينَ اتَّقَوْا وَ نَذَرُ الظَّالِمينَ فيها جِثِيًّا َ

(72) Kemudian akan Kami se­lamatkan orang-orang yang ber­takwa dan Kami biarkan orang-orang yang zalim di dalamnya dalam keadaan berlutut.

.

Artinya semua orang, tidak terkecuali, mesti mendatangi neraka. Baik dia orang yang berbuat kebajikan kala di dunia ataupun dia orang jahat, semuanya mendatangi neraka. Keputusan Allah ini tidak dapat dirobah lagi

.

Imam Ahmad bin Hanbal mengeluarkan riwayat dari ,Sulaiman bin Harb, dari Abu Sumiyah, beliau berkata: “Kami berselisih fikiran tentang arti al-wurud. Setengah di antara kami berpendapat bahwa orang Mu’min tidaklah akan turut mendatangi ke dalam neraka itu. Tetapi setengah lagi berpendapat: “Semua masuk, kemu­dian dibebaskan Allah orang-orang yang bertakwa.”

.

Lalu saya datangi Jabir bin Abdullah (sahabat Nabi s.a.w.), lalu saya sampaikan kepadanya bahwa kami telah berselisih tentang arti mendatangi neraka sedemikian rupa. Lalu beliau (Jabir bin Abdullah) berkata: “Semua akan mendatanginya.”

.

jembatan-sirotol-mustaqim-1Dan berkata pula Sulaiman bin Murrah: “Semua akan masuk ke dalam­nya.” Sambil berkata begitu beliau menutup kedua telinganya dan berkata: “Diamlah, benar-benarlah aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

“Tidak ada yang tertinggal, (tanpa pengecualian) baik dia orang yang berbuat baik ataupun orang yang durjana, semuanya masuk ke dalam neraka. Tetapi neraka akan menjadi sejuk dan selamat bagi orang beriman sebagai mana Ibrahim selamat dari api. Kemudian Allah akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiar­kan orang-orang yang zalim ditinggal di dalam neraka dalam keadaan berlutut. “

.

Menurut riwayat Abdurrazzaq yang diterimanya dari Ibnu Uyainah, yang diterimanya dari Ismail bin Abu Khalid, dari Qais bin Abu Hazm: “Pada suatu hari Abdullah bin Rawahah meletakkan kepalanya di atas haribaan isterinya lalu menangislah dia. Makaikut menangis pula isterinya. Lalu dia bertanya kepada isterinya: “Mengapa engkau ikut menangis pula?” Isterinya menjawab: “Aku lihat engkau menangis maka aku pun menangis pula.” Lalu Abdullah bin Rawahah memberikan keterangan: “Saya teringat firman Allah : “Tidak ada seorang pun dikecualikan diantara kamu, melainkan akan mendatangi neraka.” Maka ketika nanti aku mendatanginya, aku tidaklah apakah bila telah datang ke sana saya akan bisa keluar atau tidak?!”

.

Menurut riwayat Abdullah bin Rawahah sahabat Nabi dari orang Anshar yang pada waktu itu sedang sakit. Beliau ini terkenal karena keberaniannya dan termasuk tiga Pahlawan Islam yang tewas berturut-turut di peperangan Mu’tah pada bulan Jumadil Ula tahun kedelapan. Yang tewas terlebih dahulu ialah Ja’far bin Abu Thalib, sesudah itu Zaid bin Haritsah, dan yang terakhir Abdullah bin Rawahah ini.

.

Al-Hasan bin `Arafah, menerima riwayat dari Marwan bin Mu’awiyah, dari Bakkar bin Abu Marwan, dari Khalid bin Ma’dan. Katanya: “Setelah ahli syurga masuk kedalam syurga, dia berkata: “Bukankah Tuhan kita telah menjanjikan bahwa kita mesti mendatangi neraka?” Lalu datang jawaban: “Kamu telah melaluinya, tetapi neraka sedang tidak menyala untuk kamu.”

.

Dirawikan pula oleh Imam Ahmad hadits dari Abullah bin Mas’ud, Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Akan mendatanginya sekalian manusia. Kemudian akan dikeluarkan mereka dari dalamnya menurut amalannya (masing-masing).”

.

Ref:  http://kongaji.tripod.com/myfile/Surat_maryam-ayat-71-72.htm

.

Disampaikan khatib Syamsuddin Rudiannoor di Masjid Al-Syarikah Polsek Dusun Selatan di Buntok