Archive | July 2014

Bagaimana Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri

 
08980-dsc00003Sudah kebiasaan dari ummat Islam di Indonesia tatkala menjelang atau pada hari raya Idul Fitri senantiasa mengucapkan selamat hari raya. Maka adakah hal itu disebutkan dalam syariat Islam? Atau adakah ucapan yang selama ini masyhur di masyarakat yakni “Minal Aidin wal Faizin” itu syar’i?

 
Telah datang kabar dari para sahabat radhiyallahu’anhum bahwasa mereka juga  mengucapkan selamat di hari raya dengan ucapan, تقبل الله منا ومنكمTaqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian).
.
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para sahabat Nabi shalallahu’alaihi wasallam mengucapkan ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’ ketika saling bertemu di hari Idul Fitri.”  Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata tentang riwayat ini, “Sanadnya hasan.”  Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak mengapa hukumnya bila seseorang mengucapkan kepada saudaranya saat Idul Fitri, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’.” Demikian yang dinukil Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni.
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya, “Apa hukum mengucapkan selamat di hari raya sebagai mana banyak diucapkan oleh orang-orang? Seperti ‘indaka mubarak (semoga engkau memperoleh barakah dihari Idul Fitri) dan ucapan yang senada. Apakah hal ini memiliki dasar hukum syariat ataukah tidak? Jika memiliki dasar hukum syariat bagaimana seharusnya ucapan yang benar?” Beliau rahimahullah menjawab, “Adapun hukum tahniah (ucapan selamat) dihari raya yang diucapkan satu dengan yang lainnya ketika selesai shalat ied seperti
تقبل الله منا ومنكم
Taqabbalallahu minna waminkum” (Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu) dan yang semisalnya, telah diriwayatkan dari sebagian sahabat bahwasanya mereka melakukannya dan para imam memberi keringanan perbuatan ini seperti Imam Ahmad dan yang lainnya. Akan tetapi Imam Ahmad berkata, “Aku tidak akan memulai mengucapkan selamat kepada siapa pun. Namun jika ada orang yang memberi selamat kepadaku akan kujawab. Karena menjawab penghormatan adalah wajib. Adapun memulai mengucapkan selamat kepada orang lain maka bukanlah bagian dari sunnah yang dianjurkan dan bukan pula sesuatu yang dilarang dalam syariat. Barangsiapa yang melakukannya maka ia memiliki qudwah (teladan) dan orang yang meninggalkan pun juga memiliki qudwah. Wallahu a’lam. (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/228)

SELAMAT IDUL FITRI 1435 Hijriyah

Kami Jamaah Masjid As-Sunnah Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah mengucapkan تقبل الله منا ومنكمsemoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian). Selamat Idul Fitri 1435 Hijriyah, mohon maaf lahir dan batin.
 
Semoga kiranya semua amal ibadah kita termasuk amal ramadhan diterima oleh Allah Subhanahu wa Taala dan terampuni segala salah, khilaf dan dosa-dosa kita, amin.
 

 

Sekian dan terima kasih. 
 
Atas nama Jamaah As-Sunnah Buntok
 
 
Syamsuddin Rudiannoor
 

PENERIMAAN ZAKAT, INFAK DAN SHADAQAH SAMPAI 25 RAMADHAN 1435

Keadaan penerimaan zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) yang dikelola oleh Pengurus ZIS Masjid As-Sunnah Buntok untuk bulan Ramadhan 1435 Hijriyah, keadaan per 23 Juli 2014 untuk zakat fitri adalah 55 orang dengan jumlah beras 152,5 kg. 
.
Dari jumlah tersebut sebagian telah disalurkan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan keadaan mendesak  si penerima. Adapun sebagian besar akan disalurkan menjelang tibanya Idul Fitri sesuai dengan jadual penyampaian yang telah disusun oleh pengurus. 
.
Apabila melihat keadaan penerimaan dan penyaluran zakat fitri tahun sebelumnya yang mencapai 400 kg maka zakat fitri tahun ini pun kelihatannya akan mencapai angka tersebut mengingat sebagian besar jamaah sudah memberitahukan akan menyampaikan zakat fitri mereka antara 3 sampai 1 hari menjelang Idul Fitri.
.
Tampaknya administrasi ZIS tahun ini ditangani dengan lebih baik mengingat telah dilakukan pencatatan penerimaan, penyaluran dan pertanggung-jawaban secara tata administrasi yang rapi.
 
 

UCAPAN TERIMA KASIH

95b2b-dsc00020Hari ini Rabu tanggal 23 Juli 2014 Jamaah As-Sunnah Buntok dalam suasana ramadhan hari ke-25  menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada berbagai fihak.

Pertama, terima kasih kepada Allah Ta’ala karena masih memberikan kesempatan untuk beribadah harian dan ramadhan di masjid As-Sunnah Buntok dalam suasana yang damai.

DSC00112Kedua, terima kasih kepada jamaah yang selama ini telah ikut berjamaah memakmurkan masjid As-Sunnah Buntok dengan berbagai rangkaian ibadah, baik shalat lima waktu, qiyamu ramadhan, i’tikaf, zakat, infak, sedekah, fardhu kifayah, kurban dan pelaksanaan ritual lainnya.

Ketiga, terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Selatan dan DPRD Kabupaten Barito Selatan yang telah berkenan membagi anggaran untuk Jamaah As-Sunnah Buntok berupa dana pembangunan masjid. Dana tersebut telah diterima utuh oleh Panitia Pembangunan Masjid As-Sunnah Buntok beberapa waktu lalu dalam Safari Ramadhan Bupati Barito Selatan.

dsc00507Keempat, terima kasih kembali kepada Pemerintah Daerah kabupaten Barito Selatan melalui Dinas Pertamanan dan Tata Kota karena saat ini sedang membantu pembangunan jalan di Pemakaman Umum Jamaah As-Sunnah di desa Sababilah.

DSC00014Dengan tulus ikhlas kami sampai ucapan terima kasih ini karena berterima kasih kepada manusia berarti juga berterima kasih kepada Allah Azza wa Jalla. Kiranya Allah Yang Maha Kuasa yang akan melipat-gandakan pahala dan kebaikan dari amal yang telah diberikan, amin.

 

JALAN PEDANG

 

indexPEDANG NABI

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar rahimahumullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتىَّ يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِيْ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصِّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Aku diutus menjelang hari kebangkitan dengan pedang supaya hanya Allah semata yang diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Rezekiku diletakkan dibawah naungan pedangku. Kerendahan dan kehinaan ditetapkan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku. Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian dari mereka.”
 
Hadits tersebut dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (no. 5114, 5115, 5667), al-Khatib dalam al-Faqih wal Mutafaqqih (2/73), dan Ibnu Asakir (1/19/96) dari jalan Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari Hassan bin ‘Athiyyah dari Abu Munib al-Jarasyi.
 
Inilah diantara hadits yang di-bombastis-kan orang bahwa Islam itu agama perang, teroris, haus darah dan penuh kebencian. Islam itu bukan agama rahmat dan kasih sayang. Oleh karena itu, serangan dan penjajahan oleh bangsa Barat, Timur, Utara atau Selatan atas Pelestina, Rohingya, Suriah, Afghanistan, Irak atau dimanapun ada ummat Islamnya.., itu adalah tindakan bagus karena dianggap pre-emptive. Walau bagai manapun dibuatkan pembelaan demi nama baik Islam, toh tetap saja ayat “Walan tardho ankal Yahud walan Nashoro…”, tidak bisa dibantah. Intinya…, non Muslim memang sudah tabiat dasarnya membenci dan anti Islam.
 
Tapi tahukah anda bahwa hadits itu merupakan satu petunjuk dari benarnya kerasulan Muhammad SAW? 
 
Injil Matius 10 : (34) “Djanganlah kamu sangkakan Aku datang membawa keamanan di atas bumi ini. Bukannja Aku membawa keamanan, melainkan membawa PEDANG.(Luk 12: 51-53).  (35) karena Aku datang mentjeraikan orang dengan bapanja, dan anak jg perempuan dengan ibunja dan menantu jg perempuan dengan mak-mertuanja. (36) dan orang jg serumahnya masing-masing akan mendjadi seterunja”. (Injil Lembaga Alkitab Indonesia)
 
Coba perhatikan, dimana ajaran KASIH dari ayat suci di atas? Tapi dibalik dan dibolak-baliknya itu semua…, ternyata dari keduanya ada PEDANG. Inilah bukti yang harus kita fahami dan maknai.
 

PERANG
Perang dalam perspektif Islam memiliki tujuan dan cita-cita mulia, antara lain:
1. Membebaskan manusia dari peribadahan kepada makhluk menuju peribadahan kepada Allah Subhanahuwata’ala, Dzat yang menciptakan dan memberikan rezeki. Allah berfirman,
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dans upaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (al- Anfal: 39)
 
2. Menghapuskan kezaliman dan mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya. Allah berfirman,
 
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
 
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuasa menolong mereka.” (al-Hajj: 39)
 
 
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ
 
(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, selain karena mereka berkata,‘Rabb kami hanyalah Allah’.” (al-Hajj: 40)
 
 
3. Menghinakan orang-orang kafir, menghukum dan melemahkan mereka. Allah berfirman,
 
قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu. Allah akan menghinakan mereka, menolong kamu dari mereka dan melegakan hati orang-orang yang beriman serta Allah akan menghilangkan panas hati orang orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.” (at-Taubah: 14-15) (al-Mulakhas Fiqhi, al-Fauzan, 1/379—380
 
Dengan demikian, wajib bagi kaum muslimin untuk ikut berperang membela saudara-saudaranya yang diperangi dimana saja mereka berada di bumi ini.

Berpegang Teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dimasa kerusakan ummat

DSC00064Firman Allah SWT :

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ اِذَا اهْتَدَيْتُمْ، اِلَى اللهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ. المائدة: 105

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [QS. Al-Maaidah : 105]

 

Hadits Rasulullah SAW :

عَنْ اَبِى اُمَيَّةَ الشَّعْبَانِىّ قَالَ: اَتَيْتُ اَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِىَّ فَقُلْتُ لَهُ كَيْفَ تَصْنَعُ فِى هذِهِ اْلآيَةِ قَالَ: اَيَّةُ آيَةٍ؟ قُلْتُ: قَوْلُهُ: ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْ، لاَ يَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ اِذَا اهْتَدَيْتُمْ. قَالَ: اَمَا وَ اللهِ، لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيْرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُوْلَ اللهِ ص، قَالَ: بَلِ ائْتَمِرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَ تَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى اِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَ هَوًى مُتَّبَعًا وَ دُنْيَا مُؤْثَرَةً وَ اِعْجَابَ كُلّ ذِى رَأْىٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَ دَعِ الْعَوَامَّ فَاِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ اَيَّامًا الصَّبْرُ فِيْهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيْهِنَّ مِثْلُ اَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلاً يَعْمَلُوْنَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ. قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ: وَزَادَنِى غَيْرُ عُتْبَةَ، قِيلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَجْرُ خَمْسِيْنَ رَجُلاً مِنَّا اَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ: لاَ، بَلْ اَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. الترمذى 4: 323، رقم: 5051

Dari Abu Umayyah Asy-Syabaniy, ia berkata: Saya pernah bertanya kepada Abu Tsalabah Al-Khusyaniy, aku bertanya, Hai Abu Tsalabah, bagaimana pendapatmu tentang ayat ini ?”. Abu Tsa’labah balik bertanya, “Ayat yang mana ?”. Aku berkata, “Yaitu firman Allah Ta’aalaa “Yaa ayyuhalladziina aamanuu alaikum anfusakum laa yadlurrukum man dlolla idzahtadaitum” Al-Maaidah : 105. Abu Tsa’labah berkata, Demi Allah, sungguh kamu menanyakan sesuatu yang aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, Tetapi hendaklah kalian amar maruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat kebakhilan dithaati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah mewarnai, dan orang bangga dengan pendapatnya, maka wajib atasmu (yakni menjaga dirimu), tinggalkanlah keumuman orang, karena akan datang di belakang kalian hari-hari yang shabar pada waktu itu seperti orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan (amar maruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari itu akan mendapat pahala lima puluh orang yang beramal seperti kalian. ‘Abdullah bin Mubarak berkata : Dan menambahkan kepadaku selain ‘Uqbah, ada yang bertanya, Ya Rasulullah, apakah pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka ?. Beliau menjawab, Pahala lima puluh orang dari kalian. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 323, no. 5051]

عَنْ اَبِى اُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيّ، قَالَ: سَأَلْتُ اَبَا ثَعْلَبَةَ اْلخُشَنِيَّ فَقُلْتُ: يَا اَبَا ثَعْلَبَةَ، كَيْفَ تَقُوْلُ فِى هذِهِ اْلايَةِ عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْ. قَالَ: اَمَا وَ اللهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيْرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُوْلَ اللهِ ص فَقَالَ: بَلْ اِئْتَمِرُوْا بِاْلمَعْرُوْفِ وَ تَنَاهَوْا عَنِ اْلمُنْكَرِ حَتَّى اِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَ هَوًى مُتَّبَعًا وَ دُنْيَا مُؤْثَرَةً فَاِعْجَابَ كُلّ ذِى رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ يَعْنِى بِنَفْسِكَ وَ دَعْ عَنْكَ اْلعَوَامَّ، فَاِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ اَيَّامَ الصَّبْرِ. الصَّبْرُ فِيْهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى اْلجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيْهِمْ مِثْلُ اَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلاً يَعْمَلُوْنَ مِثْلَ عَمَلِهِ. وَ زَادَانِى غَيْرُهُ. يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْهُمْ؟ قَالَ: اَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. ابو داود 4: 123

Dari Abu Umayyah Asy-Syabaniy, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Abu Tsalabah, aku bertanya, Hai Abu Tsalabah, bagaimana pendapatmu tentang ayat alaikum anfusakum ? Al-Maaidah : 105. Ia berkata, Demi Allah, sungguh kamu menanyakan sesuatu yang aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, Tetapi hendaklah kalian amar maruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat kebakhilan dithaati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah mewarnai, dan orang bangga dengan pendapatnya, maka wajib atasmu (yakni menjaga dirimu), tinggalkanlah keumuman orang, karena akan datang di belakang kalian hari-hari keshabaran. Shabar pada waktu itu seperti orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan (amar maruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari itu akan mendapat pahala lima puluh orang yang beramal seperti dia. Perawi berkata : Dan menambahkan kepadaku selain dia, ia berkata, Ya Rasulullah, apakah pahala lima puluh orang dari mereka ?. Beliau menjawab, Pahala lima puluh orang dari kalian. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 123]

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ اَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرّ مَخَافَةَ اَنْ يُدْرِكَنِيْ، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّا كُنَّا فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَ شَرّ فَجَاءَنَا اللهُ بِهذَا اْلخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ هذَا اْلخَيْرِ مِنْ شَرّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَ هَلْ بَعْدَ ذلِكَ الشَّرّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَ فِيْهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَ مَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِيْ، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَ تُنْكِرُ. قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذلِكَ اْلخَيْرِ مِنْ شَرّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ اِلَى اَبْوَابِ جَهَنَّمَ. مَنْ اَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَ يَتَكَلَّمُوْنَ بِاَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِيْ اِنْ اَدْرَكَنِيْ ذلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ اِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَ لاَ اِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَ لَوْ اَنْ تَعَضَّ بِاَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ اْلمَوْتُ وَ اَنْتَ عَلَى ذلِكَ. البخارى 4: 178

Dari Hudzaifah bin Yaman, ia berkata : Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir kalau keburukan itu akan menimpa saya. Saya bertanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di masa jahiliyah dan dalam keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada lagi keburukan ?. Nabi SAW menjawab, Ya. Saya bertanya lagi, Dan apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan ?. Nabi SAW menjawab, Ya. Dan padanya ada asap kelabu (percampuran yang baik dan yang buruk). Saya bertanya, Apa itu yang dimaksud asap ?. Nabi SAW menjawab, Ada suatu kaum yang memakai petunjuk bukan dengan petunjukku, kamu mengenal mereka dan mengingkarinya. Saya bertanya, Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan ?. Nabi SAW menjawab, Ya, yaitu orang-orang yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa yang menyambut seruan mereka (mengikutinya), maka mereka akan melemparkannya ke Jahannam. Saya bertanya lagi, Ya Rasulullah, terangkanlah sifat-sifat mereka kepada kami. Nabi SAW bersabda, Mereka adalah orang-orang dari daging kulit kita sendiri, dan mereka berbicara dengan lisan kita. Saya bertanya lagi. Lalu apa yang engkau perintahkan kepada saya jika saya mendapati yang demikian itu ?. Beliau bersabda, Tetaplah kamu menetapi jamaah muslimin dan imam mereka. Saya bertanya lagi, Jika tidak ada jamaah muslimin dan imam (lalu bagaimana) ?. Beliau bersabda, Tinggalkanlah firqah-firqah itu semuanya, meskipun kamu harus menggigit akar-akar pohon sehingga mati menjemputmu, sedangkan kamu dalam keadaan demikian itu. [HR. Bukhari juz 4, hal. 178]

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لَتَتْبَعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبّ تَبِعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، آلْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟ البخارى 8: 151

Dari Abu Said Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, Sungguh kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya. Kami (shahabat) bertanya, Ya Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ?. Beliau bersabda, Lalu, siapa lagi ?. [HR. Bukhari juz 8, hal. 151]

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَتَتْبَعُنَّ سُنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا فِى جُحْرِ ضَبّ َلاتَّبَعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، آلْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟ مسلم 4: 2054

Dari Abu Said Al-Khudriy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sungguh kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya. Kami (shahabat) bertanya, Ya Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ?. Beliau bersabda, Lalu, siapa lagi ?. [HR. Muslim juz 4, hal. 2054]

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ اُمَّتِى ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقّ. لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ اَمْرُ اللهِ وَ هُمْ كَذلِكَ. مسلم 3: 1523، رقم: 170

Dari Tsauban, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Akan selalu ada segolongan dari ummatku yang menampakkan kebenaran. Tidak akan memudlaratkan kepada mereka orang yang menentangnya, sehingga Allah mendatangkan perintah-Nya, sedangkan mereka tetap demikian itu. [HR. Muslim juz 3, hal. 1523, no. 170]

عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ اُمَّتِى قَائِمَةً بِاَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ اَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ اَمْرُ اللهِ وَ هُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلَى النَّاسِ. مسلم 3: 1524، رقم: 174

Dari Muawiyah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Selalu ada segolongan dari ummatku yang menegakkan perintah Allah, tidak akan memudlaratkan kepada mereka orang yang menentangnya atau menyelisihinya, sehingga datang keputusan Allah dan mereka tetap ada di tengah-tengah manusia. [HR. Muslim juz 3, hal. 1524, no. 174]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. الترمذى 4: 129

Dari Abdullah bin Masud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing sebagaimana semula, maka berbahagialah orang-orang yang asing. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 129, no. 2764]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: بَدَأَ اْلاِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. مسلم 1: 130

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing sebagaimana semula asing. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing. [HR Muslim juz 1, hal. 130]

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَا اْلغُرَبَاءُ؟ قَالَ: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ. الطبرانى فى الكبير 6: 164، رقم: 5867

Dari Sahl bin Sad As-Saaidiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Islam itu bermula asing, dan akan kembali asing, maka berbahagialah orang-orang yang asing. Para shahabat bertanya, Siapakah orang yang asing itu ya Rasulullah ?. Beliau bersabda, Yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika manusia dalam keadaan rusak. [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 6, hal. 164, no. 5867]

I’TIKAF

DSC00024I’tikaf secara bahasa artinya mendiami suatu tempat, sedangkan secara syar’i artinya menetap di masjid untuk melakukan ibadah. Orang yang beri’tikaf disebut mu’takif.

I’tikaf disunahkan untuk dilakukan pada bulan Ramadhan sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra sebagai berikut:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَعْتَكِفُ فِى كُلّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ اَيَّامٍ. فَلَمَّا كَانَ اْلعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيْهِ اعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Adalah Nabi SAW beri’tikaf pada setiap Ramadlan selama sepuluh hari. Maka ketika pada tahun dimana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”. [HR. Bukhari]

Sedangkan I’tikaf yang paling utama adalah pada akhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits-hadits sbb:

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشْرَ اْلاَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى، ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ بَعْدَهُ. البخارى و مسلم

Dari ‘Aisyah RA, bahwasanya Nabi SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan sehingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sesudahnya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَعْتَكِفُ اْلعَشْرَ اْلاَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ. البخارى و مسلم

Dari Ibnu ‘Umar RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan”. [HR. Bukhari dan Muslim]

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا دَخَلَ اْلعَشْرُ اَحْيَا اللَّيْلَ وَ اَيْقَظَ اَهْلَهُ وَ شَدَّ اْلمِئْزَرَ. البخارى و مسلم

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW apabila memasuki malam-malam sepuluh (akhir Ramadlan) beliau menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh beribadah)”. [HR. Bukhari dan Muslim]

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَعْتَكِفُ اْلعَشْرَ اْلاَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَلَمْ يَعْتَكِفْ عَامًا. فَلَمَّا كَانَ فِى اْلعَامِ اْلمُقْبِلِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ. احمد و الترمذى و صححه، فى نيل الاوطار 4: 295

Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi SAW biasa itikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadlan, dan beliau pernah satu tahun tidak beritikaf padanya.. Kemudian tahun berikutnya beliau beritikaf selama dua puluh hari. [HR, Ahmad dan Tirmdzi dan ia menshahihkannya, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 295]

I’tikaf harus dilakukan di masjid berdasar firman Allah swt sbb:

وَ لاَ تُبَاشِرُوْهُنَّ وَ اَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي اْلمَسَاجِدِ، تِلْكَ حُدُوْدُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوْهَا البقرة: 187

janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu), sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” [QS. Al-Baqarah: 187]

Jumhur ulama berpendapat boleh beri’tikaf di semua masjid berdasarkan keumuman ayat; fil masajid (di masjid-masjid). Yang dimaksud masjid adalah masjid yang didalamnya ditegakkan sholat jamaah lima waktu.

Wanita juga disyariatkan untuk beri’tikaf berdasarkan hadits sbb:

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَعْتَكِفُ فِى كُلّ رَمَضَانَ وَ اِذَا صَلَّى اْلغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيْهِ قَالَ: فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ اَنْ تَعْتَكِفَ فَاَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيْهِ قُبَّةً فَسَمِعَتْ بِهَا حَفْصَةُ فَضَرَبَتْ قُبَّةَ وَ سَمِعَتْ زَيْنَبُ بِهَا فَضَرَبَت قُبَّةً اُخْرَى. فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ ص مِنَ اْلغَدِ اَبْصَرَ اَرْبَعَ قِبَابٍ فَقَالَ: مَا هذَا؟ فَاُخْبِرَ خَبَرَهُنَّ فَقَالَ: مَا حَمَلَهُنَّ عَلَى هذَا آلْبِرُّ اِنْزَعُوْهَا فَلاَ اُرَاهَا فَنُزِعَتْ فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِى رَمَضَانَ حَتَّى اعْتَكَفَ فِى اخِرِ اْلعَشْرِ مِنْ شَوَّالٍ. البخارى 2: 259

Dari Aisyah RA, ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW beritikaf pada setiap bulan Ramadlan. Setelah shalat Shubuh beliau masuk ke tempat itikafnya. (Perawi) berkata : Lalu Aisyah minta ijin kepada beliau untuk beritikaf, maka beliau mengijinkannya. Kemudian Aisyah membuat kemah. Kemudian Hafshah mendengar hal itu, lalu ia pun membuat kemah. Kemudian Zainab juga mendengar hal itu, maka iapun membuat kemah. Setelah Rasulullah SAW selesai shalat Shubuh, maka beliau melihat ada empat kemah, lalu beliau bertanya, Ada apa ini ?. Lalu beliau diberitahu bahwa itu adalah kemah-kemah istri-istri beliau. Lalu beliau bertanya, Apa yang mendorong mereka berbuat demikian ? Apakah yang demikian itu kebaikan ? Bongkarlah kemah-kemah itu, karena aku melihatnya bukanlah kebaikan. Lalu kemah-kemah itu dibongkar, dan beliau tidak jadi beritikaf Ramadlan (tahun itu), sehingga beliau beritikaf pada sepuluh hari akhir di bulan Syawwal. [HR. Bukhari juz 2, hal. 259]

 

Keterangan :

Di dalam riwayat lain disebutkan “sehingga beri’tikaf sepuluh hari yang awwal di bulan Syawwal”. Di dalam riwayat yang lain lagi disebutkan, “Sehingga beliau beri’tikaf sepuluh hari di bulan Syawwal”, walloohu a’lam.

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص اِعْتَكَفَ وَ مَعَهُ بَعْضُ نِسَائِهِ وَ هِيَ مُسْتَحَاضَةٌ تَرَى الدَّمَ، فَرُبَّمَا وَضَعَتِ الطَشْتَ تَحْتَهَا مِنَ الدَّمِ. البخارى فى يل الاوطار 4: 301

Dari Aisyah bahwasanya Nabi SAW beritikaf, dan beritikaf pula sebagian dari istri-istri beliau, padahal pada waktu itu ia sedang istihadhah, ia melihat darah. Kadangkala ia meletakkan bejana di bawahnya karena darah istihadhah itu. [HR. Bukhari, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 301].

 

Wanita yang beri’tikaf dimasjid harus seijin suaminya dan menjaga dirinya sehingga tidak menimbulkan fitnah dengan menutup auratnya dan tidak memakai wangi-wangian.

I’tikaf dapat menjadi batal jika melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Keluar dari tempat I’tikaf dengan tanpa udzur syar’I atau bukan untuk keperluan yang mendesak. Udzur syar’I dan keperluan mendesak yang dapat dilakukan oleh orang yang I’tikaf sehingga boleh keluar masjid antara lain : makan, minum, buang hajat, mandi junub atau wudlu yang tidak dapat dilakukannya kecuali keluar dari masjid.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اَلسُّنَّةُ عَلَى اْلمُعْتَكِفِ اَنْ لاَ يَعُوْدَ مَرِيْضًا وَ لاَ يَشْهَدَ جَنَازَةً وَ لاَ يَمَسَّ امْرَأَةً وَ لاَ يُبَاشِرَهَا، وَ لاَ يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ اِلاَّ لِمَا لاَ بُدَّ مِنْهُ. ابو داود، فى نيل الاوطار 4: 298

Dari Aisyah, ia berkata, Menurut sunnah, bahwa orang itikaf itu tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat, tidak menyentuh wanita, tidak mengumpulinya, dan tidak keluar (dari tempat itikaf) untuk sesuatu keperluan, kecuali sesuatu yang ia harus melakukannya. [HR. Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 298]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا كَانَتْ تُرَجّلُ النَّبِيَّ ص وَ هِيَ حَائِضٌ، وَ هُوَ مُعْتَكِفٌ فِى اْلمَسْجِدِ. وَ هِيَ فِى حُجْرَتِهَا يُنَاوِلُهَا رَأْسَهُ. وَ كَانَ لاَ يَدْخُلُ اْلبَيْتَ اِلاَّ لِحَاجَةِ اْلاِنْسَانِ اِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا. متفق عليه، فى نيل الاوطار 4: 297

Dari Aisyah, bahwasanya ia pernah menyisir (rambut) Nabi SAW, padahal ia sedang haidl, dan Nabi SAW sedang itikaf di masjid. Pada waktu itu Aisyah di dalam kamarnya, dan Nabi SAW menjulurkan kepalanya ke kamar Aisyah. Dan adalah Nabi SAW apabila sedang Itikaf, beliau tidak pernah masuk ke rumah kecuali kalau untuk menunaikan hajat. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 297]

  1. Melakukan hubungan intim dengan istrinya pada saat I’tikaf, hal ini membatalkan I’tikaf berdasarkan QS Al Baqarah 187,

وَ لاَ تُبَاشِرُوْهُنَّ وَ اَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي اْلمَسَاجِدِ، تِلْكَ حُدُوْدُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوْهَا البقرة: 187

janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu), sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” [QS. Al-Baqarah: 187]

Orang yang beri’tikaf hendaknya mengisi waktunya dengan melakukan ketaatan kepada Allah swt, seperti shalat, berdzikir, istighfar, berdoa, membaca dan mempelajari Al Qur’an dan lain-lainnya,

 

Rujukan :

  1. Al Qur’an dan terjemahannya, Depag RI
  2. Bundel Brosur Ahad Pagi tahun 2010, MTA Surakarta
  3. Shahih Fiqih Sunnah Jilid 3, Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim, Pustaka Tazkia, Jakarta, 2003

 http://ahmadsudardi.blogspot.com/search/label/I%E2%80%99TIKAF