Archive | August 2014

PEMBANGUNAN MASJID AS-SUNNAH BUNTOK DILANJUTKAN

Bulan ramadhan 1435 hijriyah yang mengisi Juni-Juli 2014 sudah berlalu. Konstelasi politik akibat Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tahun 2014 pun berakhirlah sudah. Dengan demikian secara manusiawi tidak ada lagi hambatan psikologis untuk memulai pembangunan lanjutan masjid As-Sunnah Buntok.
 
 
Dalam lima hari terakhir lingkungan masjid As-Sunnah di Jalan Pembangunan RT 35 Hilir Sper Buntok sudah disesaki berbagai material bangunan seperti papan, kayu bulat, pasir, kerikil dan bahan bangunan lainnya. Artinya geliat pembangunan ruang utama masjid As-Sunnah Buntok sudah mulai dilaksanakan.
 
Pembangunan ruang utama masjid As-Sunnah Buntok ditaksir mencapai Rp 400 juta dan sekitar Rp 100 juta lainnya dianggarkan untuk pembangunan fasilitas wudhu, kamar kecil dan kamar mandi. Disamping itu keperluan lain yang diurus oleh Panitia Pembangunan adalah administrasi aset.
 
 
Berbeda dari tahapan pembangunan sebelumnya, pembangunan ruang utama ini dibangun oleh kontraktor dan dibawah pengawasan konsultan teknis secara langsung sehingga Panitia Pembangunan Masjid hanya menerima hasil pekerjaan yang diperkirakan akan selesai tepat waktu dalam bulan Desember 2014.
 
 
Insya Allah proses pembangunan ini tidak mengganggu peribadatan karena sholat lima waktu dilaksanakan seperti biasanya di ruang bawah / bunker masjid.

Larangan Membangun Kubur

dsc00155oleh Abu Al-Jauzaa
 

Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu berkata :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kubur untuk dikapur, diduduki dan dibangun sesuatu di atasnya”.

 

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 970, Abu Daawud no. 3225, At-Tirmidziy no. 1052, An-Nasaa’iy no. 2027-2028 dan dalam Al-Kubraa 2/463 no. 2166, ‘Abdurrazzaaq 3/504 no. 6488, Ahmad 3/295, ‘Abd bin Humaid 2/161 no. 1073, Ibnu Maajah no. 1562, Ibnu Hibbaan no. 3163-3165, Al-Haakim 1/370, Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj ‘alaa Shahiih Muslim no. 2173-2174, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 3/410 & 4/4, Ath-Thayaalisiy 3/341 no. 1905, Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin 3/191 no. 2057 dan dalam Al-Ausath 6/121 no. 5983 & 8/207 8413, Abu Bakr Asy-Syaafi’iy dalam Al-Fawaaaid no. 860, Abu Bakr Al-‘Anbariy dalam Hadiits-nya no. 68, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/515-516 no. 2945-2946, dan yang lainnya.

Asal dari larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan keharaman sebagaimana telah dimaklumi dalam ilmu ushul fiqh. Bahkan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu – nenek moyang para habaaib – adalah salah seorang shahabat yang sangat bersemangat melaksanakan perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut sebagaimana terdapat dalam riwayat :

عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ، قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: ” أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ، وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ “

Dari Abul-Hayyaaj Al-Asadiy, ia berkata: ‘Aliy bin Abi Thaalib pernah berkata kepadaku: “Maukah engkau aku utus sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengutusku? Hendaklah engkau tidak meninggalkan gambar-gambar kecuali engkau hapus dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan yang ditinggikan kecuali kamu ratakan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 969, Abu Daawud no. 3218, At-Tirmidziy no. 1049, An-Nasaa’iy no. 2031, dan yang lainnya].

Larangan membangun kubur ini kemudian diteruskan oleh para ulama madzhab.

Madzhab Syaafi’iyyah, maka Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata :

وأحب أن لا يبنى ولا يجصص فإن ذلك يشبه الزينة والخيلاء وليس الموت موضع واحد منهما ولم أر قبور المهاجرين والانصار مجصصة …… وقد رأيت من الولاة من يهدم بمكة ما يبنى فيها فلم أر الفقهاء يعيبون ذلك

“Dan aku senang jika kubur tidak dibangun dan tidak dikapur/disemen, karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan. Orang yang mati bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan aku pun tidak pernah melihat kubur orang-orang Muhaajiriin dan Anshaar dikapur….. Dan aku telah melihat sebagian penguasa meruntuhkan bangunan yang dibangunan di atas kubur di Makkah, dan aku tidak melihat para fuqahaa’ mencela perbuatan tersebut” [Al-Umm, 1/316 – via Syamilah].

An-Nawawiy rahimahullah ketika mengomentari riwayat ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu di atas berkata :

فيه أن السنة أن القبر لا يرفع على الأرض رفعاً كثيراً ولا يسنم بل يرفع نحو شبر ويسطح وهذا مذهب الشافعي ومن وافقه،

“Pada hadits tersebut terdapat keterangan bahwa yang disunnahkan kubur tidak terlalu ditinggikan di atas permukaan tanah dan tidak dibentuk seperti punuk onta, akan tetapi hanya ditinggikan seukuran sejengkal dan meratakannya. Ini adalah madzhab Asy-Syaafi’iy dan orang-orang yang sepakat dengan beliau” [Syarh An-Nawawiy ‘alaa Shahih Muslim, 3/36].

Di tempat lain ia berkata :

وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ

“Nash-nash dari Asy-Syaafi’iy dan para shahabatnya telah sepakat tentang dibencinya membangun masjid di atas kubur. Sama saja, apakah si mayit masyhur dengan keshalihannya ataupun tidak berdasarkan keumuman hadits-haditsnya” [Al-Majmuu’, 5/316].

Adapun madzhab Hanafiyyah, berikut perkataan Muhammad bin Al-Hasan rahimahullah :

أَخْبَرَنَا أَبُو حَنِيفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَيْخٌ لَنَا يَرْفَعُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ تَرْبِيعِ الْقُبُورِ، وَتَجْصِيصِهَا “. قَالَ مُحَمَّدٌ: وَبِهِ نَأْخُذُ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Haniifah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami seorang syaikh kami yang memarfu’kan riwayat sampai pada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau melarang untuk membangun dan mengapur/menyemen kubur. Muhammad (bin Al-Hasan) berkata : Dengannya kami berpendapat, dan ia juga merupakan pendapat Abu Haniifah” [Al-Aatsaar no. 257].

Juga Ibnu ‘Aabidiin Al-Hanafiy rahimahullah yang berkata :

وَأَمَّا الْبِنَاءُ عَلَيْهِ فَلَمْ أَرَ مَنْ اخْتَارَ جَوَازَهُ…. وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ : يُكْرَهُ أَنْ يَبْنِيَ عَلَيْهِ بِنَاءً مِنْ بَيْتٍ أَوْ قُبَّةٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

“Adapun membangun di atas kubur, maka aku tidak melihat ada ulama yang memilih pendapat membolehkannya….. Dan dari Abu Haniifah: Dibenci membangun bangunan di atas kubur, baik berupa rumah, kubah, atau yang lainnya” [Raddul-Mukhtaar, 6/380 – via Syamilah].

Madzhab Maalikiyyah, maka Maalik bin Anas rahimahullah berkata :

أَكْرَهُ تَجْصِيصَ الْقُبُورِ وَالْبِنَاءَ عَلَيْهَا

“Aku membenci mengapur/menyemen kubur dan bangunan yang ada di atasnya” [Al-Mudawwanah, 1/189].

Juga Al-Qurthubiy rahimahullah yang berkata :

فاتخاذ المساجد على القبور والصلاة فيها والبناء عليها، إلى غير ذلك مما تضمنته السنة من النهي عنه ممنوع لا يجوز

“Membangun masjid-masjid di atas kubur, shalat di atasnya, membangun bangunan di atasnya, dan yang lainnya termasuk larangan dari sunnah, tidak diperbolehkan” [Tafsiir Al-Qurthubiy, 10-379].

Madzhab Hanaabilah, maka Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata:

ويكره البناء على القبر وتجصيصه والكتابة عليه لما روى مسلم في صحيحه قال : [ نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يجصص القبر وأن يبنى عليه وأن يقعد عليه ] – زاد الترمذي – [ وأن يكتب عليه ] وقال : هذا حديث حسن صحيح ولأن ذلك من زينة الدنيا فلا حاجة بالميت إليه

“Dan dibenci bangunan yang ada di atas kubur, mengkapurnya, dan menulis tulisan di atasnya, berdasarkan riwayat Muslim dalam Shahiih-nya: ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kubur untuk dikapur, diduduki, dan dibangun sesuatu di atasnya’. At-Tirmidziy menambahkan : ‘Dan menulis di atasnya’, dan ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’. Karena itu semua merupakan perhiasan dunia yang tidak diperlukan oleh si mayit” [Al-Mughniy, 2/382].

Juga Al-Bahuutiy Al-Hanbaliy rahimahullah yang berkata :

ويحرم اتخاذ المسجد عليها أي: القبور وبينها لحديث أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لعن الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد. متفق عليه 

“Dan diharamkan menjadikan masjid di atas kubur, dan membangunnya berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid-masjid’. Muttafaqun ‘alaih” [Kasysyaaful-Qinaa’, 3/774].

Juga Al-Mardawiy rahimahullah yang berkata :

وَأَمَّا الْبِنَاءُ عَلَيْهِ : فَمَكْرُوهٌ ، عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ ، سَوَاءٌ لَاصَقَ الْبِنَاءُ الْأَرْضَ أَمْ لَا ، وَعَلَيْهِ أَكْثَرُ الْأَصْحَابِ قَالَ فِي الْفُرُوعِ : أَطْلَقَهُ أَحْمَدُ ، وَالْأَصْحَابُ

“Adapun bangunan di atas kubur, hukumnya makruh berdasarkan pendapat yang shahih dari madzhab (Hanaabilah), sama saja, apakah bangunan itu menempel tanah ataukah tidak. Pendapat itulah yang dipegang kebanyakan shahabat Ahmad. Dalam kitab Al-Furuu’ dinyatakan: Ahmad dan shahabat-shahabatnya memutlakkan (kemakruhan)-nya” [Al-Inshaaf, 2/549].

Madzhab Dhaahiriyyah, maka Ibnu Hazm rahimahullah berkata :

مَسْأَلَةٌ: وَلاَ يَحِلُّ أَنْ يُبْنَى الْقَبْرُ, وَلاَ أَنْ يُجَصَّصَ, وَلاَ أَنْ يُزَادَ عَلَى تُرَابِهِ شَيْءٌ, وَيُهْدَمُ كُلُّ ذَلِكَ

“Permasalahan: Dan tidak dihalalkan kubur untuk dibangun, dikapur/disemen, dan ditambahi sesuatu pada tanahnya. Dan semuanya itu (bangunan, semenan, dan tanah tambahan) mesti dirobohkan” [Al-Muhallaa, 5/133].

Tepatkah kemudian jika ada orang yang mengatakan larangan membangun kubur merupakan buatan orang-orang Wahabiy? Atau, mungkin mulai sekarang orang tersebut harus menyangka bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aliy bin Abi Thaalib, Abu Haniifah, Maalik bin Anas, Asy-Syaafi’iy, dan Ahmad bin Hanbal rahimahumullah telah ‘bermadzhab’ dengan madzhabnya orang-orang Wahabiy? (tentu saja tidak demikian, karena orang-orang Wahabiy justru bermadzhab dengan madzhab mereka)….. Sungguh bahagia orang-orang Wahabiy itu…..

JANGAN BERDUSTA

DSC00063Bertaburan di dunia maya ini berita dan kabar simpang siur. Tidak tertutup kemungkinan kontennya dusta dan kebohongan. Tidakkah Allah SWT telah memerintahkan agar kita jangan berdusta?

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ قُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَ يَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَ مَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَه فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. الاحزاب:70-71

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [QS. Al-Ahzab : 70 – 71]

ياَيُّهَا الَّذَيْنَ امَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لاَ تَفْعَلُوْنَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لاَ تَفْعَلُوْنَ. الصف:2-3

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. [QS. Ash-Shaff : 2 – 3]

وَ مَنْ يَّكْسِبْ خَطِيْئَةً اَوْ اِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِه بَرِيْئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَّ اِثْمًا مُّبِيْنًا. النساء:112

Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. [QS. An-Nisaa’ : 112]

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوْآ اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ. الحجرات:6

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu mushibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [QS. Al-Hujuraat : 6]

اِنَّ الَّذِيْنَ جَآءُوْا بِاْلاِفْكِ عُصْبَةٌ مّنْكُمْ، لاَ تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْ، بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ، لِكُلّ امْرِئٍ مّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ اْلاِثْمِ، وَ الَّذِيْ تَوَلّى كِبْرَه مِنْهُمْ لَه عَذَابٌ عَظِيْمٌ(11) لَوْلاَ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ اْلمُؤْمِنُوْنَ وَ اْلمُؤْمِنَاتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَ قَالُوْا هذَا اِفْكٌ مُّبِيْنٌ(12) لَوْلاَ جَآءُوْا عَلَيْهِ بِاَرْبَعَةِ شُهَدَآءَ، فَاِذْ لَمْ يَاْتُوْا بِالشُّهَدَآءِ فَاُولئِكَ عِنْدَ اللهِ هُمُ اْلكَاذِبُوْنَ(13) وَ لَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُه فِى الدُّنْيَا وَ اْلاخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِيْ مَآ اَفَضْتُمْ فِيْهِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ(14) اِذْ تَلَقَّوْنَه بِاَلْسِنَتِكُمْ وَ تَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِه عِلْمٌ وَ تَحْسَبُوْنَه هَيّنًا وَ هُوَ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ(15) وَ لَوْلاَ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ قُلْتُمْ مَّا يَكُوْنُ لَنَا اَنْ نَّتَكَلَّمَ بِهذَا، سُبْحَانَكَ هذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ(16) يَعِظُكُمُ اللهُ اَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِه اَبَدًا اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ(17) وَ يُبَيّنُ اللهُ لَكُمُ اْلايتِ، وَ اللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ(18) اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ اْلفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ امَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ فِى الدُّنْيَا وَ اْلاخِرَةِ، وَ اللهُ يَعْلَمُ وَ اَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ(19) وَ لَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُه وَ اَنَّ اللهَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ(20) النور:11-20

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar. (11) 

Mengapa diwaktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. (12)

Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu ? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. (13)

Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa adzab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14)

(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (15)

Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”. (16)

Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, (17) 

dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (18)

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. (19)

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa adzab yang besar). (20) [QS. An-Nuur : 11-20]

 

Hadits-hadits Nabi SAW juga mewanti-wanti agar kita jangan berdusta, apa pun bentuk, moda dan metodanya:

عَنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ فَاِنَّ الصّدْقَ يَهْدِى اِلىَ اْلبِرّ وَ اِنَّ اْلبِرَّ يَهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَتَحَرَّى الصّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدّيْقًا. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَ يَتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا. مسلم 4: 2013

Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan sesungguhnya durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013]

عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصّدّيْقِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلبِرّ وَ هُمَا فِى اْلجَنَّةِ. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلفُجُوْرِ وَ هُمَا فِى النَّارِ. ابن حبان فى صحيحه، فى الترغيب و الترهيب 3: 591

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 591]

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِضْمَنُوْا لىِ سِتًّا مِنْ اَنْفُسِكُمْ، اَضْمَنْ لَكُمُ اْلجَنَّةَ. اُصْدُقُوْا اِذَا حَدَّثْتُمْ، وَ اَوْفُوْا اِذَا وَعَدْتُمْ، وَ اَدُّوْا اِذَا ائْتُمِنْتُمْ، وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ، وَ غُضُّوْا اَبْصَارَكُمْ، وَ كُفُّوْا اَيْدِيَكُمْ. احمد و ابن ابى الدنيا و ابن حبان فى صحيحه و الحاكم و البيهقى، فى الترغيب و الترهيب 3: 587

Dari ‘Ubadah bin Shamit RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara dari dirimu, niscaya aku menjamin surga bagimu : 1. Jujurlah apabila kamu berbicara, 2. Sempurnakanlah (janjimu) apabila kamu berjanji, 3. Tunaikanlah apabila kamu diberi amanat, 4. Jagalah kemaluanmu, 5. Tundukkanlah pandanganmu (dari ma’shiyat) dan 6. Tahanlah tanganmu (dari hal yang tidak baik)”. [HR. Ahmad, Ibnu Abid-Dunya, Ibnu Hibban di dalam shahihnya, Hakim dan Baihaqi, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 587]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ لاَ يُزَكّيْهِمْ (قَالَ اَبُوْ مُعَاوِيَةَ: وَ لاَ يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ) وَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ: شَيْخٌ زَانٍ وَ مَلِكٌ كَذَّابٌ وَ عَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ. مسلم 1: 102

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka pada hari qiyamat, dan Dia tidak mensucikannya, (perawi Abu Mu’awiyah berkata, “Dan Allah tidak mau melihat mereka”), dan bagi mereka siksa yang pedih. Yaitu : 1. orang tua yang berzina, 2. raja (penguasa) yang banyak berdusta, dan 3. orang miskin yang sombong”. [HR. Muslim juz 1, hal. 102]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ وَ اِنْ صَامَ وَ صَلَّى وَ حَجَّ وَ اعْتَمَرَ، وَ قَالَ اِنّى مُسْلِمٌ. اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَ اِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ وَ اِذَا ائْتُمِنَ خَانَ. ابو يعلى، فى الترغيب و الترهيب 3: 594

Dari Anas bin Malik RA ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang apabila tiga perkara itu ada padanya maka ia adalah orang munafiq, meskipun ia puasa, shalat, hajji, umrah dan mengatakan, “Sesungguhnya saya orang Islam”, yaitu : 1. Apabila berbicara ia berdusta, 2. Apabila berjanji menyelisihi dan 3. Apabila diberi amanat ia khianat”. [HR. Abu Ya’la, dalam Taghib wat Tarhib juz 3, hal. 594]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَرْبَعٌ مَنْ كُـنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَ مَنْ كَانَ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةُ النّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا. اِذَا ائْتُمِنَ خَانَ، وَ اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ اِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَ اِذَا خَاصَمَ فَجَرَ. البخارى و مسلم و ابو داود و الترمذى و النسائى، فى الترغيب و الترهيب 3: 593

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash RA, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Ada empat perkara barangsiapa yang empat perkara itu ada padanya maka ia adalah orang munafiq yang sebenarnya. Dan barangsiapa ada padanya satu bagian dari yang empat perkata itu berarti ada padanya satu bagian dari kemunafiqan sehingga ia meninggalkannya, yaitu: 1. Apabila diberi amanat ia khianat, 2. Apabila berbicara ia berdusta, 3. Apabila berjanji menyelisihi dan 4. Apabila bertengkar ia curang”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai, dalam Taghib wat Tarhib juz 3, hal. 593]

عَنِ اْلحَسَنِ بْنِ عَلِيّ رض قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص: دَعْ مَا يُرِيْبُكَ اِلىَ مَا لاَ يُرِيْبُكَ. فَاِنَّ الصّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَ اْلكَذِبَ رَيْبَةٌ. الترمذى و قال حديث حسن صحيح، فى الترغيب و الترهيب 3: 598

Dari Hasan bin Ali RA ia berkata : Saya hafal dari Rasulullah SAW (beliau bersabda), “Tinggalkan apa-apa yang meragukanmu (berpindahlah) kepada apa-apa yang tidak meragukanmu, karena jujur itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keraguan”. [HR. Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 598]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يُؤْمِنُ اْلعَبْدُ اْلاِيْمَانَ كُـلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ اْلكَذِبَ فِى اْلمَزَاحَةِ وَ اْلمِرَاءِ وَ اِنْ كَانَ صَادِقًا. احمد و الطبرانى، فى الترغيب و الترهيب 3: 594

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman seorang hamba dengan iman sepenuhnya sehingga ia meninggalkan berdusta dalam bergurau dan (meninggalkan) berbantah meskipun ia benar”. [HR. Ahmad dan Thabrani, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 594]

عَنْ اَبِى اُمَامَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِى وَسَطِ اْلجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ اْلكَذِبَ وَ اِنْ كَانَ مَازِحًا. البيهقى بإسناد حسن، فى الترغيب و الترهيب 3: 589

Dari Abu Umamah RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Saya menjamin dengan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bergurau”. [HR. Baihaqi dengan sanad Hasan, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 589]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنَّهُ قَالَ: مَنْ قَالَ لِصَبِيّ تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ، فَهِيَ كَذْبَةٌ. احمد و ابن ابى الدنيا، فى الترغيب و الترهيب 3: 598

Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW sesungguhnya beliau bersabda, “Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kesinilah ! saya beri”. Kemudian ia tidak memberinya, maka yang demikian itu adalah perbuatan dusta”. [HR. Ahmad dan Ibnu Abid Dunya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 598]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَامِرٍ رض قَالَ: دَعَتْنِى اُمّى يَوْمًا. وَ رَسُوْلُ اللهِ ص قَاعِدٌ فِى بَيْتِنَا. فَقَالَتْ: هَا تَعاَلَ اُعْطِكَ، فَقَالَ لهَاَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا اَرَدْتِ اَنْ تُعْطِيْهِ، قَالَتْ: اَرَدْتُ اَنْ اُعْطِيَهُ تَمْرًا، فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص اَمَا اِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِيْهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كَذْبَةٌ. ابو داود و البيهقى، فى الترغيب و الترهيب 3: 598

Dari Abdullah bin ‘Amir RA ia berkata : Pada suatu hari ibu saya memanggil saya, pada waktu itu Rasulullah SAW sedang duduk di rumah kami. Ibu saya berkata, “Kesinilah ! kamu saya beri”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah betul engkau akan memberinya ?”. Ibu saya berkata, “Saya akan memberinya korma”. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada ibu saya, “Ketahuilah, sesungguhnya jika kamu tidak memberi sesuatu kepadanya niscaya kamu dicatat dusta”. [HR. Abu Dawud dan Baihaqi, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 598]

HANYA ALLAH PEMBERI HIDAYAH

FIQH MENDIDIK ANAK
Telah disampaikan bahwa mulai Jum’at malam tanggal 8 Agustus 2014 di masjid As-Sunnah Buntok dilaksanakan kajian ba’da Magrib dengan tema “Fiqih Mendidik Anak”. Kajian disampaikan oleh al ustadz Sunardi dan diikuti oleh jamaah magrib – isya masjid As- Sunnah Buntok. Kegiatan ini berlangsung sampai akhir Agustus 2014 karena pemateri kembali melanjutkan pendidikannya pada program S-2 di kota Surakarta, Jawa Tengah.
 
bb057-dsc00002Proses tarbiyah bukanlah persoalan sepele. Telah tetap dari ayat Al Qur’an dan hadits Nabi SAW bahwa beliau rasulullah tidak bisa memberikan hidayah kepada orang paling beliau cintai. Paman beliau Abu Thalib ternyata meninggal didalam kekufuran meskipun Nabi SAW sangat ingin menyelamatkannya. Itulah kenapa kita harus banyak berusaha, berdoa dan bertawakal karena hidayah itu hanyalah hak prerogatif Allah semata.
 
 
KISAH PARA NABI
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya….” (at-Tahrim: 10)
 
Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah itu memang milik Allah saja. Nabi Nuh dan Luth adalah dua utusan Allah yang berdakwah dikalangan kaumnya. Mereka langsung dibawah bimbingan wahyu dan mukjizat dari Allah. Tetapi ternyata para Nabi pun tidak bisa memberikan hidayah terhadap orang-orang mereka cintai.
 

Azab Allah berupa banjir besar yang menenggelamkan apa saja yang ada di muka bumi telah menghukum kaum Nuh. Nabi Nuh melihat putranya yang ingkar kepada ajarannya untuk naik ke atas perahu. Namun ajakan Nabi Nuh kepada putranya ditolak dan dia memilih mencari dataran yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. AKhirnya putra Nuh itu pun mati ditenggelamkan Allah.

 

tangis muslimKisah Nabi Luth juga tidak jauh berbeda. Kaum Nabi Luth yang dikenal dengan kaum Sodom dan Gomorah adalah kisah yang sangat populer. Dakwah Nabi Luth pada kaumnya untuk menyembah Allah dan menjauhi kemaksiatan pada akhirnya tidak banyak berhasil. Allah akhirnya menurunkan laknat dan azab pada kaum homoseksual ini dengan hujan batu. Allah menyelamatkan nabi Luth dan pengikutnya kecuali istri Nabi Luth sendiri yang ingkar pada ajaran Nabi Luth.

 

Nabi Ya’kub menikahi dua puteri pamannya, Laban, yang bernama Layya (Lea) dan Rahil (Rachel). Dari Layya Nabi Ya’kub memperoleh anak-anak: Rubail (Ruben), Syam’un (Simeon), Lawi (Lewi), Yahudza (Yahuda, dari nama inilah diambil nama Yahudi), Yasakhir, Zabilun dan Dina (satu-satunya perempuan). Dari Rahil Nabi Ya’kub memperoleh dua putera: Yusuf dan Bunyamin. Nabi Ya’kub lebih mengasihi Yusuf dan Bunyamin karena Rahil meninggal dunia setelah melahirkan Bunyamin. Masalahnya terletak pada sifat iri dan dengki putra Nabi Ya’kub yang tua-tua dari istri Layya sehingga mereka mencelakai Yusuf dengan membuangnya ke sebuah sumur kering dan berkata kepada ayahnya kalau Yusuf diterkam bianatang buas dengan membawa bukti baju Yusuf yang diolesi darah kambing, dengan tujuan untuk merebut cinta dan perhatian nabi Ya’kub. Nabi Ya’kub sangat sedih atas perbuatan mereka.

 

Nabi Ibrahim yang telah berkeluarga dengan Sarah belum juga dikaruniai keturunan. Atas saran Sarah kemudian Nabi Ibrahim menikahi Hajar yang kemudian memiliki anak bernama Ismail. Sedangkan dengan Sarah pun akhirnya dikarunia putra yang diberi nama Ishaq. Masalahnya timbul ketika Sarah begitu cemburu terhadap Hajar sehingga akhirnya mengusir hajar dari rumahnya. Nabi Ibrahim pun membawa Hajar dan Ismail hijrah ke jazirah Arab yang tandus dan meninggalkannya di sana. Suatu ketika Nabi Ibrahim ingat dengan nazarnya untuk memberikan apa saja yang Allah inginkan jika beliau dikaruniai putra. Allah menguji Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra yang dikasihinya sebagai tebusan atas nazar tersebut. Sungguh ujian yang sangat berat, namun Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail dapat melaluinya dengan baik.

 

ulama21Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan bangsawan suku Qurais. Paman-pamannya adalah tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Para paman nabi Muhammad SAW yaitu: Haris, Abu Thalib (Abdu Manaf), Zubair, Hamzah, Abu Lahab (Abdul Uzza), Ghaidaq, Muqawwam, Dhirar, `Abbas, Qusam, Abdul Ka`bah dan Hajal (Mughirah). Namun hanya Abbas dan Hamzah saja yang beriman dan menjadi pengikut Nabi Muhammad. Justru yang membuat Nabi Muhammad sangat bersedih adalah pamannya Abu Thalib (ayah dari Ali bin Abi Tahlib ra) yang telah membesarkan, mendidik dan melindungi Nabi Muhammad, akhir hayatnya tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan meninggal di hadapan beliau dalam keadaan kafir.

 

ANAK DAN ISTRI ADALAH FITNAH

Ujian terberat yang dirasakan oleh orang beriman justru dari keluarga sendiri. Hal ini karena anak dan istri memiliki ikatan emosional yang kuat dengan diri kita. Allah memperingatkan kita dengan beberapa firman-Nya.

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 64:14)

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah (cobaan) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. ” (QS 8:28)

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS 63:9)

 

Ayat-ayat tersebut sangat jelas menggambarkan bahwa anak, istri dan harta akan menjadi bagian dari ujian yang diberikan oleh Allah untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah atau sebaliknya kita semakin jauh dari Allah.

KAJIAN BA’DA MAGHRIB TENTANG FIQIH MENDIDIK ANAK

c3fd3-dsc00005Ba’da aktivitas ramadhan dan Idul Fitri 1435 Hijriyah, mulai Jum’at malam tanggal 8 Agustus 2014 masjid As-Sunnah Buntok kembali berkegiatan tarbiyah. Kegiatan dimaksud adalah kajian ba’da Magrib dengan tema “Fiqih Mendidik Anak”.

 

Kajian disampaikan oleh al ustadz Sunardi dan diikuti oleh jamaah magrib – isya masjid As- Sunnah Buntok. Kegiatan ini untuk sementara hanya berlangsung sampai akhir Agustus 2014 karena pemateri akan kembali melanjutkan pendidikannya pada program S-2 di kota Surakarta, Jawa Tengah.

bb057-dsc00002Bagi yang berkesempatan dan bisa meluangkan waktunya dapat mengikuti kegiatan ini setiap hari sampai akhir Agustus 2014. Disamping bersifat ceramah juga diadakan sesi tanya-jawab dan diskusi.

KH HASYIM ASY’ARY TOLAK BEDUK, MAULID, TAHLILAN & WIRID KEJADUGAN

Sabtu, 07 Juli 2012

 

1- Beliau mengharamkan beduk berada di daerah Jombang saat itu. Beliau menganggap beduk adalah bid’ah dan Jombang sebagai daerah kekuasaannya secara hukum islam. Pendapat ini sering dipertentangkan dengan pendapat Kiai pesantren Mas Kumambang Gresik yang mempunyai pendapat lain tentang beduk. Sehingga diceritakan bahwa Kiai pesantren Mas Kumambang pernah menyuruh seluruh masjid di daerahnya untuk menurunkan dan tidak memukul beduk saat Yai Hasyim Asy’ari ingin berkunjung ke pesantrennya, demi menghormati pendapat Hasyim Asy’ary.
.
Polemik mereka berdua dikabarkan berlangsung secara tulis menulis saling menguatkan dan mengkritik pendapat yang lain. Kabarnya pesantren Mas Kumambang masih mempunyai naskah polemik itu. Tetapi karena Pesantren Mas Kumambang sekarang beralih menjadi pesantren beraliran mirip Wahabi atau muhammadiyah, atau bisa kita sebut puritan, maka naskah itu tidak dicetak atau bahkan terkucilkan karena keberadaan Mas Kumambang yang di Jawa Timur di mana NU berjaya secara akademis dan jumlah. 
.
Kabar sebab keberbelokan pesantren Mas Kumambang dari NU atau aliran yang tidak membid’ahkan beduk dan semacamnya adalah karena anak dari Kiai yang berpolemik dengan Hasyim Asy’ari itu belajar di Aceh dan bertemu dengan kaum padri. Tetapi dimungkinkan juga karena dia tertatrik dengan polemik yang terjadi antara Ayahnya dan Hasyim Asy’ari tersebut.
.
2- Hasyim Asy’ari terkenal pernah mendatangi pesantren-pesantren di daerah Jawa Timur bagian selatan seperti Kediri – termasuk Lirboyo dll -, Nganjuk dll untuk marah atau menyalahkan kebiasaan pesantren yang dianggapnya perbuatan munkar, meski cerita yang saya dapat kadang kedatangan Hasyim Asy’ary dengan tujuan itu kadang dibuat bahan ketawaan menurut saya. Seperti yang terjadi di pesantren Lirboyo, ketika Hasyim Asy’ary marah-marah karena di acara akhir tahun yang biasa dilakukan ada sebuah acara – mungkin kumpulnya perempuan laki-laki atau pencak atau sepak bola – yang dianggapnya munkar. Kabarnya dia sempat memukuli para santri dengan tongkatnya. Meskipun para santri menghentikan acara itu, tetapi setelah Hasyim Asy’ary tenang dan dibawa masuk rumah/ndalem oleh pengasuh dan tidak mendengar atau melihat tempat acara itu, Kiai Lirboyo keluar dan bilang kepada santri-santrinya: silahkan diteruskan acaranya, Yai Hasyim sudah tidak melihat.
.
3- Mungkin karena ajakan untuk merubah kebiasaan/adat pesantren dan masyarakat itu tidak berhasil secara power (tangan dalam bahasa hadis), maka Hasyim menulis buku yang berjudul Munkaroot al-Mawaalid. Disitu dia menjelaskan bahwa hal yang mendorongnya adalah kejadian di masyarakat dan pesantren yang menurutnya perlu diluruskan. Diantara hal yang dia sebut di buku itu adalah: pencak silat, sepak bola, dan tradisi maulidan yang dianggapnya tidak bisa lepas dengan kemunkaran-kemunkaran seperti percampuran laki-perempuan bukan muhrim dll. Sehingga untuk menjaga hal itu, dengan memakai kaidah fikih sad al-zarii’ah, beliau melarang maulidan. Meskipun para Kiai pesantren saat ini/selanjutnya menafsiri bahwa maulidan boleh tetap ada asalkan bersih dari kemunkaran, tapi menurut saya perlu diperjelas lagi alasan lain yang dituturkan oleh Hasyim asy’ari yang mungkin identik dengan maulidan yang berjalan di Indonesia atau Jawa khususnya. Hasyim Asy’ary pelaku amar ma’ruf nahy munkar secara power, yakni padri, puritan, dan dekat dengan Muhammadiyah daripada dengan NU.
.
4- Hasyim Asy’ary berwasiat melarang hari kematiannya untuk diperingati dengan acara yang biasa disebut haul. Sampai saat ini tidak ada kalangan NU yang mencoba mengadakan acara haul atas kematian Hasyim Asy’ary. Mungkin ada kelompok kecil, tapi tidak sebesar namanya sebagai pendiri NU kalau dibandingkan pesantren lain yang mengadakan haul Kiai pendiri pesantren itu secara rutin tiap tahun dan mendatangkan banyak pendatang, bahkan puluhan ribu di beberapa pesantren besar NU. Alasan yang diungkapkan oleh penerus NU adalah karena Hasyim Asy’ary tidak mau dikultuskan, jadi kalau pengkultusan tidak terjadi, haul tetap boleh berjalan atas kematian Kiai lain. Tetapi bukankah alasan kultus itu yang menjadikan haul menjadi bid’ah atau bahkan dilarang oleh kalangan Muhammadiyah atau puritan? Dan bukankah pengkultusan itu terwujudkan dengan adanya haul itu? Jadi haul dan pengkultusan adalah identik. Hasyim Asy’ary seide dengan wahabisme/muhammadiyah/puritanisme.
.
5- Hasyim Asy’ari melarang tarekat masuk di pesantren yang dia asuh. Meskipun penerusnya ada yang memasukkannya. Dan meskipun alasan yang diterima oleh santri Tebuireng sekarang adalah karena agar para santri fokus dalam belajar. Tetapi muridnya yang ada di pesantren Langitan, Yai Ahmad Marzuqi Zahid, juga melarang santrinya untuk melakukan wirid-wirid kejadugan. Pertanyaannya sekali lagi, apakah yang dimaksud Hasyim adalah bahwa tarekat itu identik dengan gangguan? Kelihatannya iya, karena itu dia melarangnya, tidak berusaha memilahnya. Dan santrinya yang berada di Senori Tuban, Mbah Fadhol adalah penolak secara jelas rajah-rajah atau jimat atau doa-doa yang tidak dikenal dalam hadits. Bahkan memusyrikkannya apabila rajah-rajah itu tidak dikenal artinya (bisa dibaca dalam bukunya thib an-nabawy dan dur al-fariid).
.
6- Hasyim Asy’ary memasukkan ilmu-ilmu yang dikenal non-agama seperti bahasa dll di pesantrennya, bahkan dia memanggil guru dari luar pesantren untuk mengajari anak-anak dan santrinya. Penyatuan ilmu agama dan modern yang dicita-citakan Muhammadiyah telah dia jalankan, bahkan pada keluarganya. Kita mengetahui bahwa anak-anak Hasyim Asy’ari hanya mendapat pendidikan agama di rumahnya sendiri dari Hasyim dan guru pesantren lain. Dalam pendidikan formal, anak-anak Hasyim Asy’ari tidak ada yang mengenyam pendidikan pesantren secara formal dan tuntas. Anak terakhirnya, Gus Ud misalnya adalah seorang tentara yang dianggap tidak becus mengurus pesantren sebagai seorang Kiai NU yang bisa ngaji kitab kuning. Begitu juga anak Hasyim Asy’ary yang lain, tidak ada yang pernah mengasuh pesantren. Tujuan Muhammadiyah untuk menggabungkan ilmu modern dan agama itu dijalankan dengan patuh oleh Hasyim Asy’ary. Begitu juga pendekatan Ahmad Dahlan untuk tidak mendirikan pesantren, tetapi membawa pelajaran pesantren ke sekolah atau perguruan tinggi umum. Sebagaimana kita tahu, pesantren dua pendiri NU, Hasyim Asy’ary dan Wahab Hasbullah saat ini dikenal sebagai pesantren modern yang mempunyai sistem kelas dan pelajaran umum/non-agama berdasarkan departemen agama atau pendidikan. Sehingga santri-santrinya berusia belasan dan kurang mendalam dalam kajian agama apabila dibandingkan pesantren-pesantren yang sekarang dikenal sebagai kantong-kantong NU.
.
7- Hasyim Asy’ary adalah pelaku demonstrasi untuk membantu teman-teman islam seperjuangannya yang ada di negara lain ketika mereka ditekan di negaranya. Ini adalah lebih sesuai dengan kultur kalangan haroky, seperti PKS dibanding dengan NU yang kita kenal sekarang yang cenderung apatis dan tidak teroganisir. Apakah anda pernah melihat Kiai NU sekarang yang melakukan demo turun ke jalan bersama santrinya untuk membantu gerakan islam di begara lain? Belum ada dan mungkin tidak akan!!. Dan itu sangat bukan Hasyim Asy’ary!!
.
8- Mbah Fadhol santri Hasyim Asy’ary dalam bukunya dur al-fariid mengatakan bahwa NU sekarang (beliau meninggal tahun 1992/4?) telah berubah dari NU pertama yang menyuruh kaum wanita untuk menutup wajahnya dengan cadar. Bahkan Mbah Fadhol mengungkapkan lima (5) alasan kenapa tahlilan yang sudah menjadi tradisi NU itu tidak sesuai dengan ajaran NU. Dan Mbah Fadhol juga menyebutkan beberapa hal yang sudah menjadi tradisi NU saat ini sebagai bid’ah. Kita bisa melihat juga santri Hasyim Asyary di Manyar Gresik yang terkenal sangat kolot, membid’ahkan foto, TV, dll, juga menyuruh istrinya bercadar.

Kerudung dalam Tradisi Yahudi & Kristen

 
Hj Irena Handono, Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center .

Menarik sekali statemen Menteri Dalam Negeri Italia Giulliano Amato beberapa waktu lalu menjawab tuntutan dari kelompok ekstrim sekuler di Italia yang menginginkan agar dikeluarkannya larangan berkerudung bagi Muslimah di Italia. Ia mengatakan demikian, “Ketika Bunda Maria senantiasa memakai kerudung lalu bagaimana bisa kalian berharap dari saya untuk menentang kerudung kaum Muslimah?”
.
Dan Amato menambahkan, “Bunda Maria adalah ibu dari nabi kita Isa al-Masih dan senantiasa memakai kerudung. Bila demikian kenyataannya, bagaimana mungkin saya menyetujui pelarangan kerudung di negara ini.”
.
Wanita memakai busana longgar panjang dari leher hingga kaki dan memakai kerudung penutup kepala adalah suatu keumuman dari zaman ke zaman sebelum Rasulullah.  Ini terbukti dan dalam Bibel pun ada anjuran tegas mengenai kerudung. Dan kali ini kita akan bahas satu-persatu bagaimana pandangan kedua agama tersebut (Yahudi & Kristen) memandang kerudung (penutup kepala).
.
Kerudung dalam Tradisi Yahudi
Seorang pemuka agama Yahudi, Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Dalam bukunya tersebut ia mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: “Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut istrinya terlihat,” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan.”
.

Hukum Yahudi melarang seorang Rabbi untuk memberikan berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap “telanjang”. Dr Brayer juga mengatakan bahwa “Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut.”
.
Kerudung juga menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya. Kerudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S. W. Schneider, 1984, hal 237). 

.
Wanita-wanita Yahudi di Eropa menggunakan kerudung sampai abad ke 19 hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Dewasa ini wanita-wanita Yahudi yang shalih tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239).
.
Kerudung dalam Tradisi Kristen
Hingga saat ini para Biarawati Katolik menutup kepalanya secara keseluruhan. Di Indonesia sebelum tahun 80-an pakaian biarawati adalah jilbab, pakaian panjang longgar dari leher hingga menutup kaki serta berkerudung yang menutup leher dan dada (masih ingat telenovela Brazil, Dolcemaria). Namun era 80-an ke atas, jubah biarawati berubah menjadi pakaian panjang hanya sampai betis. Kerudung panjang menutup dada berubah menjadi kerudung hanya penutup rambut dan leher terbuka.
.
Padahal menutup kepala atau berkerudung adalah sebuah tuntunan dalam Bibel yang sudah ada sejak zaman sebelum Nabi Muhammad SAW. 
.
I Korintus 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
.
I Korintus  11:13 Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?
.
Bukan hanya itu, pernyataan St. Paul (atau Paulus) yang lain tentang kerudung adalah pada I Korintus 11:3-10. St Tertulian di dalam risalahnya “On The Veiling Of Virgins” menulis: “Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu.”
.
Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272).[] 
 

Jumat, 06 Juli 2012