Archive | January 2016

Masa kerusakan ummat

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ اَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرّ مَخَافَةَ اَنْ222 يُدْرِكَنِيْ، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّا كُنَّا فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَ شَرّ فَجَاءَنَا اللهُ بِ?هذَا اْلخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ ه?ذَا اْلخَيْرِ مِنْ شَرّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَ هَلْ بَعْدَ ذ?لِكَ الشَّرّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَ فِيْهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَ مَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِيْ، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَ تُنْكِرُ. قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذ?لِكَ اْلخَيْرِ مِنْ شَرّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ اِلَى اَبْوَابِ جَهَنَّمَ. مَنْ اَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَ يَتَكَلَّمُوْنَ بِاَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِيْ اِنْ اَدْرَكَنِيْ ذ?لِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ اِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَ لَا اِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَ لَوْ اَنْ تَعَضَّ بِاَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَ اَنْتَ عَلَى ذ?لِكَ. البخارى 4: 1?8

Dari Hudzaifah bin Yaman, ia berkata : Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir kalau keburukan itu akan menimpa saya. Saya bertanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di masa jahiliyah dan dalam keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada lagi keburukan ?. Nabi SAW menjawab, Ya. Saya bertanya lagi, Dan apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan ?. Nabi SAW menjawab, Ya. Dan padanya ada asap kelabu (percampuran yang baik dan yang buruk). Saya bertanya, Apa itu yang dimaksud asap ?. Nabi SAW menjawab, Ada suatu kaum yang memakai petunjuk bukan dengan petunjukku, kamu mengenal mereka dan mengingkarinya. Saya bertanya, Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan ?. Nabi SAW menjawab, Ya, yaitu orang-orang yang menyeru ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa yang menyambut seruan mereka (mengikutinya), maka mereka akan melemparkannya ke Jahannam. Saya bertanya lagi, Ya Rasulullah, terangkanlah sifat-sifat mereka kepada kami. Nabi SAW bersabda, Mereka adalah orang-orang dari daging kulit kita sendiri, dan mereka berbicara dengan lisan kita. Saya bertanya lagi. Lalu apa yang engkau perintahkan kepada saya jika saya mendapati yang demikian itu ?. Beliau bersabda, Tetaplah kamu menetapi jamaah muslimin dan imam mereka. Saya bertanya lagi, Jika tidak ada jamaah muslimin dan imam (lalu bagaimana) ?. Beliau bersabda, Tinggalkanlah firqah-firqah itu semuanya, meskipun kamu harus menggigit akar-akar pohon sehingga mati menjemputmu, sedang-kan kamu dalam keadaan demikian itu. [HR. Bukhari juz 4, hal. 178]

.

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: بَادِرُوْا بِاْلاَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ اَحَدُهُمْ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا. الترمذى 3: 330، رقم: 2291، هذا حديث حسن صحيح.

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kalian untuk beramal, dan akan terjadi zaman fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita, seseorang di pagi hari mu’min lalu di sore hari menjadi kafir, di sore hari mu’min dan di pagi hari menjadi kafir, seseorang dari mereka menjual agamanya dengan harta benda dunia”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 330, no. 2291, ia berkata : Ini hadits hasan shahih]

.

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ اَبِيْهِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اَقْبَلَ ذَاتَ يَوْمٍ مِنَ الْعَالِيَةِ حَتَّى اِذَا مَرَّ بِمَسْجِدِ بَنِى مُعَاوِيَةَ دَخَلَ فَرَكَعَ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْنَا مَعَهُ، وَدَعَا رَبَّهُ طَوِيْلُا، ثُمَّ انْصَرَفَ اِلَيْنَا، فَقَالَ ص: سَأَلْتُ رَبّى ثَلَاثًا فَاَعْطَانِىْ ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِىْ وَاحِدَةً. سَأَلْتُ رَبّى اَنْ لَا يُهْلِكَ اُمَّتِى بِالسَّنَةِ فَاَعْطَانِيْهَا، وَسَأَلْتُهُ اَنْ لَا يُهْلِكَ اُمَّتِى بِالْغَرَقِ فَاَعْطَانِيْهَا، وَسَأَلْتُهُ اَنْ لَا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيْهَا. مسلم 4: 2216

Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, bahwasanya pada suatu hari Rasulullah SAW datang dari ‘Aliyah (daerah yang tinggi), sehingga ketika melewati masjidnya Bani Mu’awiyah, beliau masuk masjid, lalu shalat dua reka’at didalamnya, dan kami pun shalat bersama beliau. Kemudian beliau berdo’a kepada Allah dengan do’a yang panjang. Kemudian setelah selesai, beliau menuju kepada kami, lalu beliau bersabda, “Aku memohon kepada Tuhanku tiga hal, lalu Dia mengabulkan yang dua hal, dan yang satu tidak dikabulkan. Aku memohon kepada Tuhanku agar ummatku tidak dibinasakan (secara menyeluruh) dengan tahun paceklik (kemarau panjang), maka Dia mengabulkannya. Dan aku memohon kepada-Nya agar ummatku tidak dibinasakan dengan banjir yang menenggelamkan, maka Dia pun mengabulkannya. Dan aku memohon kepada-Nya agar tidak terjadi peperangan diantara mereka, tetapi Dia tidak mengabulkannya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2216]

.

عَنْ اَبِيْ مُوْسَى قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ اَيَّامًا يُرْفَعُ فِيْهَا العِلْمُ وَيَكْثُرُ فِيْهَا الهَرْجُ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا الهَرْجُ؟ قَالَ: القَتْلُ. الترمذى 3: 331، رقم: 2296، هذا حديث صحيح.

Dari Abu Musa, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang padanya dicabut ilmu (agama) dan banyak terjadi Al-Haraj”. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Al-Haraj itu ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Pembunuhan”. [HR. Tirmidzi  juz 3, hal. 331, no. 2296, ia berkata : Ini hadits hasan shahih]

.

سًيًأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ مَا يَبْقَى مِنَ اْلقُرْا?نِ اِلَّا رَسْمُهُ وَلَا مِنَ اْلاِسْلَامِ اِلَّا اسْمُهُ يَتَسَمَّوْنَ بِهِ وَهُمْ اَبْعَدُ النَّاسِ مِنْهُ مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُد?ى فُقَهَاءُ ذ?لِكَ الزَّمَانِ شَرُّ فُقَهَاءِ تَحْتَ ظِلّ السَّمَاءِ مِنْهُمْ خَرَجَتِ الْفِتْنَةُ وَاِلَيْهِمْ تَعُوْدُ. الحاكم في تاريخه – عن ابن عمر، الديلمي عن معاذ، كنز العمال 11: 80، رقم: 31132

Akan datang pada manusia suatu zaman dimana Al-Qur’an tinggal tulisannya, Islam tinggal namanya, orang-orang menamakan diri dengannya (dengan Islam) padahal mereka sejauh-jauh manusia darinya. Masjid-masjidnya ramai, tetapi kosong (jauh) dari petunjuk. Para fuqohaa’ pada zaman itu adalah seburuk-buruk fuqohaa’ di bawah bayang-bayang langit, dari mereka keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu kembali”. [HR. Al-Hakim dalam Tarikhnya, dari Ibnu ‘Umar, dan Ad-Dailami dari Mu’adz. Kanzul ‘Umaal juz 11, hal. 80, no. 31132]

.

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تَفَرَّقَتِ اليَهُودُ عَلَى اِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً اَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى مِثْلُ ذ?لِكَ، وَتَفْتَرِقُ اُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. الترمذى 4: 134، رقم: 2??8، حديث ابى هريرة حديث حسن صحيح

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan, kaum Nashrani pun seperti itu, dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan”. [HR. Tirmidzi juz 4, 134, no.2778. ia berkata : Hadits hasan shahih]

.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى اُمَّتِيْ مَا اَتَى عَلَى بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى اِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ اَتَى اُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي اُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذ?لِكَ، وَاِنَّ بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ اُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ اِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا اَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِي. الترمذى 4: 135، رقم: 2??9، هذا حديث حسن غريب مفسر

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh akan datang pada ummatku sebagaimana yang datang pada Bani Israil, setapak demi setapak, sehingga jika ada di kalangan mereka orang yang mengumpuli ibunya dengan terang-terangan, tentu ada pula di kalangan ummatku yang berbuat seperti itu. Dan sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan”. Ada shahabat yang bertanya, “Siapa itu ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Yaitu golongan yang aku dan para shahabatku ada padanya”. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 135, no. 2779. Ini hadits hasan gharib mufassar]

.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى اِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ.  وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، فَاِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ. وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ اُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ.  قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: اَلْجَمَاعَةُ. ابن ماجه 2: 1322، رقم: 3992.

Dari ‘Auf bin Maalik, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan,yang satu masuk surga dan yang 70 masuk neraka. Kaum Nashrani terpecah menjadi 72 golongan, yang 71 masuk neraka dan yang satu masuk surga. Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang satu di surga dan yang 72 di neraka”. Ada shahabat yang bertanya, “Ya Rasulullah, siapa mereka itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Al-Jama’ah”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1332, no. 3992, di dalam sanadnya ada perawi bernama Roosyid bin Sa’ad, ia ada pembicaraan]

Mufti Besar Arab Saudi Sebut Perayaan Maulid Nabi Bidah

 

Arab News

Mufti Besar Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz Al-Asheikh.

Ahad, 04 Januari 2015, 09:06 WIB

.
Red: Erik Purnama Putra
.
REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH — Mufti Besar Arab Saudi, Abdul Aziz Al-Asheikh membuat fatwa kontroversial. Dia memperingatkan terhadap kaum Muslim yang merayakan ulang tahun Nabi Muhammad Saw, sebagai bentuk praktik tahayul yang secara ilegal ditambahkan ke dalam ritual agama.
.
“Ini adalah bidah (inovasi agama yang berdosa) yang merayap ke Islam setelah tiga abad pertama ketika para sahabat dan penerus dari para sahabat hidup,” katanya dalam kutbah Jumat di Masjid Imam Turki bin Abdullah di Riyadh sebagaimana dilansir Arab News, Ahad (4/1).
.
Sebaliknya, ia memperingatkan umat Islam untuk wajib mengikuti ajaran Rasulullah sebagaimana tercantum dalam Sunnah. Asheikh mengatakan bahwa mereka yang mendorong orang lain untuk merayakan Maulid Nabi adalah jahat dan korup.
.
“Cinta sejati Rasulullah diwujudkan dengan mengikuti jejaknya dan mendukung sunnahnya … itu adalah bagaimana cinta untuk Nabi (saw) dinyatakan.”
.
Dia mengatakan, Allah Swt telah menyatakan, “Katakanlah: ‘Jika Anda mencintai Allah, ikutilah aku: Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'”.
.
Dia pun memperingatkan, seorang Muslim memiliki kewajiban untuk percaya pada Nabi Muhammad, yang dikirim sebagai panduan untuk seluruh alam semesta. Karena itu, menjadi tugas umat Islam untuk mencintai dan menghormati nabi terakhir tersebuit. Mereka, pesan Asheikh, juga harus membelanya terhadap orang-orang yang salah menafsirkan ajaran-ajarannya, para ateis yang menyangkal Beliau, dan mereka yang menyalah gunakan atau mengejek Beliau.  “Ini adalah tugas umat Islam yang benar-benar mencintai Nabi (saw),” kata ketua Dewan Ulama Senior Arab Saudi itu.

Gunakan Karpet Shalat untuk Pentas Tari, Kemenag DKI Jakarta Tuai Protes

Senin, 24 Rabiul Awwal 1437 H / 4 Januari 2016.KIBLAT.NET, Jakarta – Kemenag DKI Jakarta mendapat sorotan tajam dari sejumlah tokoh agama usai menggelar acara Hari Amal Bakti (HAB) ke-70. Pasalnya, karpet bermotif sajadah yang biasa digunakan untuk shalat menjadi alas pijakan arena pentas tari dalam acara yang digelar Ahad (03/01) kemarin.
.
Adalah KH Cholil Nafis, Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah, yang pertama kali mengungkap hal itu melalui media sosial Twitter. Dalam kicauannya Senin (04/12) pagi, dia meminta dilakukan pengecekan digunakannya karpet shalat untuk arena tari.
.
“Salam. tolong dicek dan kalau benar ditegur. Karpet shalat dibuat tarian di HAB Kemenag DKI,” cuit Cholil lewat akun @cholilnafis.
.
Dalam kicauannya, Cholil menyebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dengan akun @lukmansaifuddin. Selain itu dia juga memention akun @Gus_Sholah milik Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, KH Sholahudin Wahid atau Gus Sholah.
.
Pernyataan KH Cholil Nafis tersebut langsung ditanggapi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menjawab tweet Cholil, Menteri Lukman mengaku telah mengklarfikasi dan memberikan teguran terkait penggunaan karpet shalat untuk ajang pentas tari.
.
“Ya, saya telah mengklarifikasi dan menegurnya,” cuit Lukman lewat akun @lukmansaifuddin.
.
“Selaku Menag, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kekhilafan tersebut,” imbuhnya.
.
Tanggapan Menteri Lukman tersebut mendapatkan apresiasi dari KH Cholil Nafis. Dia pun mengingatkan agar hal seperti itu menjadi perhatian. “Terima kasih Pak Menag. Mudah-mudahan jadi perhatian pada acara berikutnya,” ujar Cholil.
.
Hari Amal Bakti (HAB) digelar dalam rangka memperingati hari lahirnya Kementerian Agama, yang jatuh pada tanggal 3 Januari. Dibentuk pertama kali tahun 1946, Kementerian Agama saat ini telah berusia 70 tahun.
.
Reporter : Imam S.
Editor: Fajar Shadiq

BELAJAR TOLERANSI 2 (Ketum MUI Din Syamsuddin: Umat Islam Boleh Ucapkan Selamat Natal)

Ketum MUI Din Syamsuddin: Umat Islam Boleh Ucapkan Selamat Natal

Jakarta –
Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menyampaikan bahwa umat Islam boleh mengucapkan selamat natal. Alasannya, semua itu dilakukan sebatas saling menghormati.
.
“Menurut hemat saya kalau sekedar konteksnya kultural budaya pertetanggaan maka itu dapat dilakukan dengan tetap berkeyakinan tak pengaruhi aqidah,” jelas Din di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (23/12/2014).
.
Din juga menyampaikan, ucapan selamat itu dilakukan sesuai keperluan. Bila tak perlu jangan dilakukan.
.
“Islam tak sesempit itu. Islam tidak sepicik itu. Dalam konteks kultural itu rahmatan lil alamin. Bahwa kita menyebutkan selamatlah kita ucapkan selamat natal,” urai dia.
.
“Ketika Idul fitri hampir semua ucapkan selamat kepada saya. Maka ketika ada hari besar mereka, saya harus membalas. Ketika kawan-kawan Hindu merayakan Nyepi kan secara etis mengucapkan. Kalau Idul fitri saya dapat selamat dari Vatican. Saya sudah biasa sebagai tokoh agama. Kebetulan ini bukan masalah ibadah‎,” tutur dia.
(bpn/ndr)

BELAJAR TOLERANSI (Din: Muhammadiyah Keberatan Fatwa Sesat Syiah)

Jumat, 7 September 2012 | 09:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengurus Pusat Muhammadiyah menegaskan keberatannya atas fatwa sesat Syiah yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mengatakan, fatwa tersebut justru akan memicu tindakan intoleransi yang tidak sesuai dengan semangat Islam.
.
“Atas dasar apa MUI Jatim mengeluarkan fatwa itu? Baik Sunni maupun Syiah adalah sama-sama Muslim karena masih berada di lingkaran syahadat. Menurut kami, yang mempercayai syahadat itu otomatis Islam, apa pun mazhabnya,” ujar Din, di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (6/9/2012) malam.
.
Menurutnya, baik Syiah maupun Sunni pasti mempunyai keunggulan dan kekurangan. Kedua hal itu, lanjutnya, harus disikapi dengan mengedepankan rasa saling menghargai dan toleransi satu sama lain. Kemunculan dua mazhab itu, kata Din, setelah Nabi Muhammad SAW sehingga dapat dipandang sebagai pandangan kritis dalam memaknai Islam. Oleh karena itu, menurutnya, hal itu tidak perlu dipertentangkan.
.
“Hal yang perlu diingat adalah bagimu pendapatmu dan bagiku pendapatku, mari kita bertoleransi,” kata Din.
.
.
Sebelumnya, MUI Jatim tetap pada pendirian tidak akan mencabut fatwa sesat Syiah dengan nomor keputusan 01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah di Indonesia. Alasannya, fatwa itu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang ajaran Syiah. MUI Jatim berdalih fatwa tersebut sebenarnya untuk memperkuat fatwa MUI Pusat tahun 1984. Dalam fatwa itu, MUI menegaskan agar masyarakat mewaspadai aliran Syiah.
.
MUI Jatim turut berpendapat, seorang presiden pun tidak memiliki kuasa mencabut fatwa kesesatan Syiah.
.
“Bahkan Presiden pun tidak bisa mencabut fatwa kesesatan Syiah,” tegas Sekretaris MUI Jawa Timur, M Yunus, Kamis (6/9/2012).
.
Penulis : Aditya Revianur
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

YANG PALING DIKHAWATIRKAN RASULULLAH ATAS UMATNYA

Oleh : Abu Hasan Saif, S.Pd.I

.

Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi akhir zaman, tidak ada Nabi lagi setelahnya. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah subhânahu wa ta’âla dalam surat Al Ahzab (33) ayat 40 :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا .

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian (shahabat), tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Nabi Muhammad juga menegaskan hal tersebut dengan sabda beliau :

عَنْ فُرَاتٍ الْقَزَّازِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا حَازِمٍ قَالَ قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ خَمْسَ سِنِينَ فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّث عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Dari Furat Al Qazaz berkata, aku mendengar Abu Hazim berkata; “Aku hidup mendampingi Abu Hurairah radliallahu ‘anhu selama lima tahun dan aku mendengar dia bercerita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: (Kehidupan) Bani Isra’il selalu dipimpin oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi setelahku. Yang ada adalah para khalifah yang jumlahnya banyak“. Para shahabat bertanya; “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?”. Beliau menjawab: “Penuhilah bai’at kepada khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat), berikanlah hak mereka karena Allah akan bertanya kepada mereka tentang pemerintahan mereka”. (Shahih. Shahih Bukhari (3455), Shahih Muslim (1842) )

Nabi Muhammad dipuji oleh Allah dengan sifatnya yang mulia, di antaranya ialah kepekaan dan perhatian beliau kepada umatnya. Allah berfirman :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيم

Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, dia merasa  berat (ikut menderita) atas penderitaan yang menimpa kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi sayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. AtTaubah (9) : 128)

Di antara bukti perhatian beliau kepada umatnya, beliau sering menyampaikan kekhawatiran beliau atas hal-hal yang dapat menimpa umatnya. Di antara hal-hal yang paling dikhawatirkan beliau ialah :

1.  Riya’ dan syahwat yang tersembunyi

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

Dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Riya`, Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?”

(Hadits Shahih. Musnad Ahmad (23630 dan 23636))

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّهُ بَكَى فَقِيلَ لَهُ مَا يُبْكِيكَ قَالَ شَيْئًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُهُ فَذَكَرْتُهُ فَأَبْكَانِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي الشِّرْكَ وَالشَّهْوَةَ الْخَفِيَّةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُشْرِكُ أُمَّتُكَ مِنْ بَعْدِكَ قَالَ نَعَمْ أَمَا إِنَّهُمْ لَا يَعْبُدُونَ شَمْسًا وَلَا قَمَرًا وَلَا حَجَرًا وَلَا وَثَنًا وَلَكِنْ يُرَاءُونَ بِأَعْمَالِهِمْ وَالشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ أَنْ يُصْبِحَ أَحَدُهُمْ صَائِمًا فَتَعْرِضُ لَهُ شَهْوَةٌ مِنْ شَهَوَاتِهِ فَيَترُكُ صَوْمَهُ

Pernah Syaddad bin Aus menangis, lalu ada yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuat engkau menangis?”, dia menjawab, ” (yang membuat aku menangis ialah) suatu hal yang saya dengar dari  sabda Rasulullah, ingatanku pada hal itu membuatku menangis, yaitu saya mendengar Rasulullah bersabda: “Saya sangat khawatir kesyirikan dan syahwat yang tersembunyi menimpa umatku.” (Syaddad bin Aus Radliyallahu’anhu) berkata; saya bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah umatmu akan melakukan kesyirikan setelah engkau ?.” Beliau menjawab, “Ya, namun mereka bukannya menyembah matahari, bulan, batu atau berhala tapi mereka melakukan riya’ dalam amalan-amalan mereka dan (godaan) syahwat yang tersembunyi; pagi hari dalam keadaan puasa lalu muncul godaan syahwat yang hingga dia meninggalkan puasanya.” ( Hadits Shahih. Musnad Ahmad (17120))

عَن أبي سعيد الْخُدْرِيّ قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: «أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟» فَقُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيَ فَيَزِيدَ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رجل

Dari Abu Sa’id dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar bersama kami, sementara kami saling mengingatkan tentang Al Masih Ad Dajjal, maka beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada Al Masih Ad Dajjal ?” Abu Sa’id berkata, “Kami menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda: “Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.”  (Hadits Hasan. Sunan Ibni Majah 4204, dihasankan Al Abani dalam Al Misykah (5333))

2.  Adanya orang-orang munafiq yang pandai bicara

عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

Dari Umar Bin al Khaththab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah setiap munafiq yang pandai bicara “ (Hadits shahih. Musnad Ahmad (143))

3. Adanya pemimpin/tokoh yang menyesatkan

    عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّين

Dari Tsauban berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Yang aku khawatirkan atas umatku adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.” (Hadits Shahih. Musnad Ahmad (22393, 22394), Sunan at Tirmidzi (2229), Sunan Ad Darimi (215), dan lainnya).

وَعَن زِيَاد بن حدير قَالَ: قَالَ لِي عُمَرُ: هَلْ تعْرِفُ مَا يهْدِمُ الْإِسْلَامَ؟ قَالَ: قلْتُ: لَا. قَالَ: يهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الْأَئِمَّةِ المضلين “.

Dari Ziyad bin Jadir, ia berkata : Umar berkata kepadaku : “Apakah kamu tahu hal-hal yang dapat merobohkan Islam? “, aku berkata : “tidak”, Umar berkata : “yang dapat merobohkan Islam adalah ketergelinciran ahli ilmu, kepintaran orang munafiq dalam bersilat lidah dengan Al Kitab, dan hukum yang ditetapkan oleh para pemimpin yang menyesatkan”.  (Shahih mauquf. Sunan Ad Darimi (220))

4.  Godaan yang berasal dari kesenangan dunia

عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ لَا وَاللَّهِ مَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ إِلَّا مَا يُخْرِجُ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ فَصَمَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ كَيْفَ قُلْتَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ أَوَ خَيْرٌ هُوَ إِنَّ كُلَّ مَا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ إِلَّا آكِلَةَ الْخَضِرِ أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَلَأَتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتْ الشَّمْسَ ثَلَطَتْ أَوْ بَالَتْ ثُمَّ اجْتَرَّتْ فَعَادَتْ فَأَكَلَتْ فَمَنْ يَأْخُذْ مَالًا بِحَقِّهِ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَمَنْ يَأْخُذْ مَالًا بِغَيْرِ حَقِّهِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

Dari ‘Iyadh bin Abdillah bin Sa’ad, bahwa ia mendengar Abu Sa’id Al Khudhri berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri dan menyampaikan khutbah di depan manusia. Beliau berkata: Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian selain daripada kenikmatan dunia yang Allah lapangkan untuk kalian. Seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah harta yang didapat dari jalan yang baik juga bisa mendatangkan keburukan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam sesa’at, lalu beliau berkata: Apa yang engkau tanyakan?, Dia berkata: akupun mengulangi pertanyaanku; Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah harta yang didapat dari jalan yang baik juga bisa mendatangkan keburukan? Beliau menjawab: Sesungguhnya kebaikan yang hakiki hanya akan membuahkan kebaikan, apapun kebaikan tersebut. Sesungguhnya semua tanaman yang tumbuh di musim semi hanya akan membinasakan hewan-hewan yang rakus yang melahap semua jenis tumbuhan atau minimal akan membuatnya sekarat, kecuali hewan yang hanya memakan sayur-sayuran saja. Ia makan, lalu jika kedua sisi perutnya telah penuh dengan makanan iapun menghadap matahari untuk buang air besar dan kecil, kemudian ia kembali mengunyah makanan lagi dan menelannya. Maka barangsiapa yang mengambil harta yang menjadi haknya maka akan diberikan keberkahan kepadanya, Dan barangsiapa yang mengambil harta yang bukan menjadi haknya maka ia adalah seperti hewan yang selalu makan dan tidak pernah merasa kenyang“.  (Hadits Shahih. Shahih Muslim (1052))

5. Merajalelanya perilaku homoseksual dan lesbian

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

Dari Muhammad bin Aqil, bahwasanya ia mendengar Jabir berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terjadi di kalangan umatku adalah perilaku kaum Luth (homoseksual/lesbian)”. (Sunan At Tirmidzi (1457), At Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini hasan gharib, Sunan Ibni Majah (2563), dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih at Targhib wat-Tarhib (2417))

6. Ahli Al Quran yang menyimpang yang akhirnya memerangi saudara muslim sendiri dan mudah menuduhnya dengan tuduhan buruk

حذيفة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتّى إذا رُئيتْ بهجتُه عليه، وكان رِدْءاً للإسلام؛ انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف، ورماه بالشرك. قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك، الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي

Hudzaifah berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah seseorang yang membaca Al Quran hingga saat ia terlihat kebagusannya di dalamnya (Al Quran) dan menjadi pembela Islam, ia lalu melepaskan diri dari Al Quran dan melemparkannya ke belakang punggungnya, serta ia memerangi tetangganya dengan pedang dan menuduh tetangga tersebut berbuat syirik. Hudzaifah bertanya : “wahai Nabiyullah, antara penuduh dan yang dituduh tersebut mana yang lebih pantas dianggap berbuat syirik ? Nabi bersabda : “ (justru) penuduh itu yang lebih pantas. (Hadits Hasan. Diriwayatkan Al Bukhari dalam At Tarikh 4/7/29301, Tafsir Ibnu Katsir II/265 ( Abu Ya’la dalam al Musnad Al Kabir), dan lainnya. Ibnu Katsir menyatakan bahwa sanadnya jayyid (baik), lih. Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah lil-Al Albani (3201))

7.  Muslim yang tidak bisa menjaga lisan

عَن سُفْيَان بن عبد الله الثَّقَفِيّ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ قَالَ: فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ وَقَالَ: «هَذَا» .

Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafi berkata : “Aku berkata : ‘ wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan atas diriku ?’, beliau lalu memegang lidah beliau sendiri serta berkata : ‘(lidah) ini’. (Hadits shahih. Musnad Ahmad (15419), Sunan At Tirmidzi (2410))

8. Kepercayaan kepada ramalan (nujum), Ketidakpercayaan terhadap takdir, dan kedholiman penguasa

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، رَفعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَتَخَوَّفُهُ عَلَى أُمَّتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ ثَلَاثًا: إِيمَانًا بِالنُّجُومِ , وَتَكْذِيبًا بِالْقَدَرِ , وَحَيْفَ السُّلْطَانِ “

Dari Thalhah bin Musharrif secara marfu’ hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan atas umatku di akhir zaman adalah tiga hal : kepercayaan kepada ramalan (nujum), mendustakan takdir, dan kedholiman penguasa”. (Hadits Hasan. As Sunan al waridah fil Fitan li Utsman bin Sa’id ad Dani 282)

9.  Fitnah wanita

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا ترَكْتُ بعْدِي فتنة  أضر (اخوف) على الرجال من النساء”

Dari Usamah bin Zaid ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sepeninggalku, fitnah (kerusalan) yang paling berbahaya (mengkhawatirkan) atas lelaki adalah (godaan/syahwat) wanita”  (Hadits Shahih. Shahih Bukhari (5096), Shahih Muslim (2740),  Shahih Ibni Hibban (5970) dengan lafadh akhwaf, dan lainnya)

Enam Perkara Yang Dikhawatirkan Rasulullah Atas Umatnya

Enam Perkara Yang Dikhawatirkan Rasulullah Atas Umatnya
Enam Perkara Yang Harus Diwaspadai

أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا : إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ وَ سَفْكَ الدَّمِ وَ بَيْعَ الْحُكْمِ وَ قَطِيْعَةَ الرَّحْمِ وَ نَشْوًا يَتَّخِذُوْنَ الْقُرْآنَ مَزَامِيْرَ وَ كَثْرَةَ الشُّرَطِ

Aku mengkhawatir atas kalian enam perkara: imarah sufaha (orang-orang yang bodoh menjadi pemimpin), menumpahkan darah, jual beli hukum, memutuskan silaturahim, anak-anak muda yang menjadikan Alquran sebagai seruling-seruling, dan banyaknya algojo (yang zalim).” (HR. Ath Thabrani)[1]

.
Dalam hadits ini Nabi mengkhawatirkan enam perkara atas umatnya yaitu:
.
1. Orang-Orang Bodoh Menjadi Pemimpin (Imarah Sufaha)

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan siapa yang dimaksud dengan imarah sufaha, beliau bersabda kepada Ka’ab bin ‘Ujrah
.

أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

Semoga Allah melindungimu dari imarah sufaha.” Ia berkata, “Siapakah imarah sufaha itu?” Beliau bersabda, “Yaitu pemimpin-pemimpin yang akan datang setelahku. Mereka tidak mau mengambil petunjukku, dan tidak mau mengambil sunnahku. Barangsiapa yang membenarkan kedustaan dan membantu kedzaliman mereka, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari mereka, dan mereka tidak akan singgah di telaga haudlku. Dan barang siapa yang tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak membantu kedzalimannya, maka merekalah golonganku dan aku dari golongan mereka, dan mereka akan singgah di telaga haudlku.” (HR. Ahmad)[2]
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya imarah sufaha, karena mereka tidak mau mengambil petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peraturan, sehingga hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dikesampingkan. Akibatnya, rusaklah kehidupan, padahal hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kehidupan untuk manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
.

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 179)
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الْأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

Menegakkan sebuah hadd Allah lebih baik bagi penduduk bumi dari hujan selama empat puluh malam.” (HR Ibnu Majah)[3]
.
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru orang-orang yang berakal agar berpikir, bahwa hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kehidupan untuk manusia. Dalam kasus pembunuhan misalnya, bila ditegakkan qishash, maka orang akan berpikir dua belas kali sebelum melakukannya, karena balasannya adalah dibunuh kembali. Pencuri akan jera, dan orang pun akan meninggalkan zina, dan manusia tidak akan berani menzalimi orang lain, karena akan diberi hukuman yang setimpal. Berbeda bila hanya dipenjara, mereka tak akan pernah jera, bahkan akan semakin merajalela.
.
Dalam pemilihan pemimpin, Islam memerintahkan untuk menyerahkan kepada ahlul hilli wal ‘aqdi yang berisi para alim ulama dan orang-orang yang berpengalaman, agar memilih pemimpin yang sesuai dengan syarat-syarat yang telah disebutkan oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqih. Salah satu kualifikasi di antaranya harus seorang mujtahid, luas pengetahuannya, sehat jasmani dan rohaninya, adil, menguasai taktik perang, dan lain-lain. Berbeda bila diserahkan kepada rakyat, maka yang dapat menjadi pemimpin adalah yang paling banyak suara dan uangnya, walaupun ia berhati setan dan berbadan manusia, sehingga tidak akan mungkin lepas dari korupsi dan manipulasi, karena besarnya uang yang dibutuhkan untuk pencalonan. Bila uang itu digunakan untuk pembangunan negara, tentu akan lebih bermanfaat dari pada dihambur-hamburkan untuk mencari masa.
.
Islam amat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan menghilangkan kemudharatan dari mereka, menghancurkan kezaliman dan melarang tindakan semena-mena, cobalah dengarkan khutbah Abu Bakar radhiallahu’anhu, ketika beliau diangkat menjadi khalifah,
.
Wahai hadirin, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pemimpinmu. Namun aku bukan orang yang terbaik di antara kamu. Apabila aku berbuat baik, bantulah aku, dan bila aku berbuat kesalahan, luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat di sisiku, sampai aku kembalikan haknya insya Allah. Sedangkan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di sisiku, sampai aku ambil hak (zakat) darinya insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, kecuali Allah akan kuasakan kepada mereka kehinaan, dan tidaklah tersebar zina pada suatu kaum, kecuali Allah akan meratakan adzab-Nya kepada mereka. Taatilah aku selama aku mentaati Allah dan Rasul-Nya, dan apabila aku memaksiati Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada ketaatan atas kamu kepadaku.”[4]
.
2. Menumpahkan Darah

Menumpahkan darah adalah dosa yang amat besar di sisi Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala telah melarang menumpahkan darah dalam beberapa ayat-Nya, di antaranya Allah berfirman,
.

وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلاَيُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنصُورًا

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al Israa : 33).
.
Allah Ta’ala menyebutkan bahwa membunuh seorang manusia dengan tanpa alasan yang benar, sama dengan membunuh semua manusia, Allah Ta’ala berfirman,
.

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِى إِسْرَاءِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي اْلأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Oleh karena itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya..” (QS. Al Maidah: 32)
.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya barangsiapa yang membunuh jiwa dengan tanpa alasan seperti qishas, atau berbuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia semuanya, karena tidak ada bedanya bagi dia suatu jiwa dengan jiwa lainnya..”
.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa membunuh jiwa tanpa alasan yang benar adalah salah satu perkara yang membinasakan, beliau bersabda,
.

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan!” Mereka berkata: “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita mukminah yang baik-baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).
.
Karena jiwa seorang muslim lebih berharga dari dunia dan seisinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
.

قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا

Membunuh mukmin lebih agung di sisi Allah dari hancurnya dunia“[5]
.
3. Jual Beli Hukum

Yang dimaksud dengan jual beli hukum adalah suap-menyuap agar seorang hakim tidak menghukumi dengan hukum yang adil, dan ini adalah dosa yang besar dan mendatangkan laknat Allah Ta’ala. Karena kewajiban hakim adalah menghukumi manusia dengan ‘adil sesuai dengan Alquran dan sunah, maka jika hukum dapat dibeli dengan uang, akan hancurlah negeri dan binasalah manusia, kebatilan akan merajalela dan berakhir dengan datangnya adzab Allah ‘Azza wa Jalla.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat orang yang memberi uang suap dan yang menerimanya, beliau bersabda,
.

لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ

Semoga Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima uang suap dalam hukum.” (HR Ahmad dan lainnya)[6]
.
Hadis ini tegas melarang risywah (suap menyuap) dan pelakunya berhak mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala, karena keduanya saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata[7], “Oleh karena itu, para ulama berkata, ‘Siapa saja yang memberikan hadiah untuk pejabat negara dengan tujuan agar ia melakukan sesuatu yang tidak boleh, maka ia adalah haram bagi orang yang memberikan hadiah dan yang diberi hadiah dan ini termasuk risywah (suap menyuap) yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
.

لَعَنَ اللهُ الرَّاشِى وَالْمُرْتَشِى

Allah melaknat yang menyuap dan yang disuap.” (HR Ahmad)[8]
.
Adapun jika ia memberi hadiah untuk menghindari kezalimannya atau memberikan kepadanya haknya yang wajib, maka hadiah tersebut haram bagi orang yang menerimanya saja, dan boleh bagi orang yang memberinya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
.

إِنِّيْ لَأُعْطِى أَحَدَهُمْ الْعَطِيَّةَ فَيَخْرُجُ بِهَا يَتَأَبَّطُهَا نَارًا. قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلِمَ تُعْطِيْهِمْ؟ قَالَ : يَأْبُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَسْأَلُوْنِيْ وَيَأْبَى اللهُ لِيَ الْبُخْلَ

Sesungguhnya Aku memberikan kepada salah seorang dari mereka pemberian, maka ia keluar sambil membawa Neraka di ketiaknya”. Dikatakan,”Wahai Rosulullah, mengapa engkau memberinya? Beliau bersabda: “Mereka terus menerus minta kepadaku dan Allah tidak menyukai aku bakhil.” (HR Ahmad)[9]
.
Dan yang masuk dalam masalah ini adalah yang disebut dengan hadaya al ‘Ummaal (hadiah untuk pejabat/ uang pelicin) dalam hadis berikut ini:

اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ بَنِي أَسْدٍ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتَبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سُفْيَانُ أَيْضًا فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِي فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْتِي بِشَيْءٍ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا

Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam menugaskan seseorang dari Bani Asad yang bernama Ibnul Lutbiyyah untuk mengambil sedekah, ketika ia telah kembali ia berkata, “Ini untuk kamu dan ini hadiah untukku.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas mimbar, lalu memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda, “Ada apa dengan seorang pegawai yang kami utus?” Lalu ia datang dan berkata, “Ini untukmu dan ini untukku.” “Mengapa ia tidak duduk sajadi rumah ayah dan ibunya untuk melihat apakah akan diberikan hadiah untuknya atau tidak?! Demi Dzat yang diriku berada di Tangan-Nya, tidaklah ia datang membawa sesuatu kecuali ia akan datang pada hari kiamat sambil membawanya di atas lehernya, berupa sesuatu yang bersuara (rugha), sapi yang berkoar dan kambing yang mengembik. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putihnya ketiak beliau seraya bersabda, “Bukankah aku telah menyampaikannya?” 3x. (HR Bukhari dan Muslim).
.
4. Memutuskan silaturahim.

Islam memerintahkan untuk menyambung silaturrahim kepada orang-orang yang mempunyai kekerabatan dengan kita, dan memberikan pahala yang besar bagi yang mengamalkannya, bahkan ia termasuk perintah Allah yang paling agung, dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang urgen, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
.

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتْ الرَّحِمُ فَقَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى قَالَ فَذَاكِ لَكِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمْ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk sehingga apabila telah selesai, rahim berdiri dan berkata, ‘Ini adalah tempat orang yang berlindung dari qathi’ah (memutus tali silaturahim)’. Allah berfirman, ‘Ya, tidakkah engkau ridha bila aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan orang yang memutuskanmu?’ rahim berkata, ‘Ya, aku ridha’. Allah berfirman, ‘Itu adalah untukmu’.”
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah jika kamu mau,
.
‘Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telinga mereka, dan dibutakan penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 22-24)
.
Allah telah menjanjikan pahala besar bagi orang yang menyambung silaturahim di akhirat kelak, dan menganugerahkan karunia yang besar di dalam kehidupan dunia. Di antara keutamaan silaturrahim adalah sebagai kesempurnaan iman seorang hamba. Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda,
.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia menyambung rahimnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)[10]
.
Di antaranya juga bahwa silaturahim dapat meluaskan rizki dan memanjangkan umur, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa yang suka diluaskan rizkinya, dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)[11]
.
Dan hendaknya, kita memperhatikan adab-adab yang harus dijaga dalam silaturahim, diantara adab-adab itu adalah:
.
Adab pertama: Niat yang iklash, dan tidak mengharapkan keuntungan duniawi belaka.
.
Karena Allah tidak akan menerima amalan yang tidak ikhlas, bahkan meleburkan pahala orang yang hanya berharap keuntungan duniawi, Allah Ta’ala berfirman,
.

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ {15} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {16}

Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan balasan atas pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali Neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)
.
Adab kedua: Mendahulukan yang paling dekat kekerabatannya.

Semakin dekat kekerabatan, maka menyambungnya semakin wajib, maka bila seseorang misalnya menyambung silaturahim dengan anak pamannya, namun malah memutuskan silaturahim dengan kakak atau adiknya, orang seperti ini tentunya tidak dianggap bijak. Abu Hurairah berkata,

.
قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ

Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling layak aku berbuat baik kepadanya?” Beliau menjawab, “Ibumu kemudian ibumu kemudian ibumu, kemudian ayahmu kemudian yang paling dekat dan paling dekat.” (HR. Muslim)
.
Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa orang yang paling berhak mendapatkan perbuatan baik adalah kerabat kita yang paling dekat, maka seorang muslim yang faqih tentunya akan mencari yang paling besar pahalanya.
.
Adab ketiga: Jangan ber-silaturahim hanya karena untuk membalas kebaikan saja.
.
Karena hakikat silaturahim adalah untuk mengharapkan keridhaan Allah dengan berbagai bentuk usaha yang mungkin dilakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.

Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu orang yang membalas, akan tetapi orang yang menyambung adalah yang apabila diputuskan tali silaturahimnya, ia berusaha menyambungnya.” (HR. Bukhari).
.
Dan berusaha menyambung silaturahim yang diputuskan adalah amalan yang amat agung pahalanya, karena kebanyakan manusia bila diputuskan silaturahim-nya, akan segera membalas dengan perbuatan yang serupa. Disebutkan di dalam hadis bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat yang aku berusaha menyambung rahimnya namun mereka malah memutuskannya, dan aku berusaha berbuat baik kepadanya, namun mereka malah berbuat buruk kepadaku, dan aku berusaha berlemah lembut terhadap mereka, namun mereka berbuat jahil kepadaku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

.
لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ.

Jika keadaanmu seperti yang yang kamu katakan tadi, maka seakan-akan kamu memberi mereka makan pasir yang panas, dan Allah akan senantiasa menolongmu atas mereka, selama kamu berbuat seperti itu.” (HR. Muslim)
.
Adab keempat: Mendahulukan bersedekah kepada kerabat yang paling dekat jika mereka membutuhkan.
.
Anas radhiallahu’anhu berkata, “Abu Thalhah adalah kaum anshar yang paling banyak hartanya, dan hartanya yang paling ia sukai adalah Bairaha yang berada di depan masjid. Rasulullah suka memasukinya dan minum dari airnya yang segar, ketika turun ayat,

.
لَن تّنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Kamu tidak akan mencapai kebaikan sampai menginfakkan apa yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92).
.
Abu Thalhah bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kamu tidak akan mencapai kebaikan sampai menginfakkan apa yang kamu cintai’. Dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairaha, dan sesungguhnya aku sedekahkan ia untuk Allah Ta’ala. Aku berharap kebaikan dan pahalanya di sisi Allah, maka letakkanlah ia sesuai keinginanmu wahai Rasulullah.”
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


بَخْ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ قَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ فِيهَا وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ.

Bagus sekali, itu adalah harta yang menguntungkan (di akhirat kelak).. itu adalah harta yang menguntungkan.. aku telah mendengar apa yang kamu katakan tadi, dan aku memandang untuk dibagi-bagikan kepada karib kerabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada seseorang:

.
ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا

Mulailah pada dirimu, bersedekahlah untuknya, jika berlebih maka berikanlah untuk keluargamu, dan jika berlebih maka bersedekahlah untuk kerabatmu, dan jika berlebih maka untuk ini dan itu.” (HR. Muslim).
.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap sedekah kepada kerabat yang menyimpan kebencian dan permusuhan sebagai sedekah yang paling utama, beliau bersabda:
.

إِنَّ أَفْضَلَ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ

Sesungguhnya sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kerabat yang membenci dan memusuhi kita.” (HR. Ahmad dan lainnya)[12]
.
5. Anak-anak Muda yang Menjadikan Alquran Sebagai Seruling-seruling

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya pemuda-pemuda yang menjadikan Alquran sebagai seruling-seruling, namun dalam hadis lain beliau menganjurkan untuk membaguskan suara ketika membaca Alquran, sabdanya:
.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

Bukan dari golongan kami orang yang tidak taghanni (membaguskan suara) ketika membaca Alquran.” (HR. Al Bukhari)
.
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna “taghanni“, sebagian mereka mengatakan bahwa maknanya adalah mencukupkan diri dengan Alquran, sebagian lagi mengatakan bahwa maknanya adalah membacanya dengan nada sedih, sebagian lagi mengatakan bahwa maknanya adalah membaguskan suara ketika baca Alquran dan pendapat-pendapat lainnya. Namun Al Hafidz berpendapat bahwa makna-makna itu masuk kedalam hadis tersebut, beliau berkata,

.
والحاصل أنه يمكن الجمع بين أكثر التأويلات المذكورة وهو أنه يحسن به صوته جاهرا به مترنما على طريق التحزن مستغنيا به عن غيره من الأخبار طالبا به غنى النفس..

Walhasil, semua pendapat-pendapat tersebut dapat dikumpulkan, yaitu membaguskan dan mengeraskan suaranya dengan nada sedih, mencukupkan diri dengannya dan tidak membutuhkan yang lainnya, mencari kekayaan jiwa dengannya..[13]
.
Dan membaguskan suara dalam membaca Alquran bukanlah dengan nada-nada yang diada-adakan sebagaimana yang kita lihat di zaman ini. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

المطلوب شرعا إنما هو التحسين بالصوت الباعث على تدبر القرآن وتفهمه والخشوع والخضوع والإنقياد للطاعة فأما الأصوات بالنغمات المحدثة المركبة على الأوزان والأوضاع الملهية والقانون الموسيقائى فالقرآن ينزه عن هذا ويجل ويعظم أن يسلك فى أدائه هذا المذهب

Yang diminta oleh syariat adalah membaguskan suara yang membangkitkan keinginan untuk mentadabburi Alquran, memahami, khusyu, tunduk, dan taat. Adapun membaca Alquran dengan nada-nada yang diada-adakan dengan wazan-wazan (pola kalimat) yang melalaikan dan aturan musik, maka Alquran harus disucikan darinya, dan dibersihkan dari cara-cara seperti itu.”[14]
.
Terlebih bila nada-nada tersebut menyerupai nyanyian, maka ini diharamkan karena mengandung nilai tasyabbuh (menyerupai) orang-orang fasiq, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Seorang mukmin tidak boleh membaca Alquran dengan nada menyanyi dan cara-cara para penyanyi. Kewajiban ia adalah membacanya sebagaimana salafushalih dari para shahabat dahulu membacanya, yaitu dengan secara tartil, nada sedih dan khusyu sehingga berpengaruh kepada hati orang yang mendengarnya.”[15]
.
Dan inilah yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis yang telah berlalu, yaitu adanya para pemuda yang menjadikan Alquran sebagai seruling-seruling. Karena membaca Alquran dengan nada-nada yang diindah-indahkan bagaikan nyanyian, amat mudah menjerumuskan pelakunya kepada riya’ dan keinginan untuk populer.
.
6. Banyaknya Algojo (yang zalim)

Para algojo yang zalim yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis lain:
.

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dua kelompok dari ahli Neraka yang belum pernah aku melihatnya: suatu kaum yang membawa cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, ia memukuli manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya, dan bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR Muslim)
.
Syaikh Abdur Rauf Al Munawi berkata, “(Mereka adalah) suatu kaum yang membawa cambuk yang tidak diperbolehkan untuk memukulnya dalam menegakkan hadd, namun ia sengaja melakukannya untuk menyiksa manusia, mereka adalah para algojo yang dikenal dengan nama Al Jallaadiin (yang suka mencambuk). Apabila mereka diperintahkan untuk memukul, mereka melakukannya melebihi batasan yang disyariatkan, bahkan seringkali menyebabkan orang yang dipukulnya binasa..”[16]
.
Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
Artikel www.cintasunnah.com dari enam artikel
.

[1] Dalam Al Mu’jamul Kabiir 18/57 no 105, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Jami’ Ash Shagier no 216.

[2] Hadits shahih, Lihat shahih Targhib wattarhib no 2242.

[3]Hadits hasan, Lihat silsilah shahihah no 231.

[4] Al Bidayah wan Nihayah 5/269, ibnu Katsir berkata: “Sanadnya shahih”.

[5] Dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Shahih Targhib no 2440, dari hadits Buraidah.

[6] Dikeluarkan oleh Ahmad no 9019, At Tirmidzi (no 1337) dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam silsilah dla’ifah (3/382).

[7] Majmu’ fatawa 31/286.

[8] Ahmad dalam musnadnya 2/387 no 9011. Dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani di dalam shahih Jami’ shogier no 5093..

[9] Ahmad dalam musnadnya 3 / 4 no 11017, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih targhib wattarhib no 815.

[10] Bukhari no 6138, dan Muslim no 47.

[11] Bukhari no 5986 dan Muslim no 2557.

[12] Ahmad dalam musnadnya no 23577 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam irwaul ghalil no 892.

[13]Ibnu Hajar, Fathul Baari 9/72.

[14] Ibnu Katsir, Fadla-il Al Qur’an 1/114.

[15] Ibnu Baz, Majmu’ fatawa 9/290.

[16] Faidlul Qadiir 4/275.