Archive | October 2014

KEAJAIBAN TAHUN BARU ISLAM

tahun bbaru islamPEMBUKAAN

Majelis Ulama Indonesia (MUI), merayakan tahun baru 1436 Hijriah  secara “akbar”, Minggu 26 Oktober 2014 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Menurut Ketua Panitia Dr Isran Noor, perayaan ini menjadi tonggak persatuan umat dan menunjukkan jati diri. “Kegiatan itu akan menjadi syi’ar agama Islam,” jelasnya. Dikatakannya, peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah kali ini sanggup membawa kesadaran masyarakat terhadap makna sesungguhnya, yang tak lepas dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah.

.

TAHUKAN ANDA?

1. Tapi tahukan anda bahwa perayaan 1 Muharram sama sekali tidak ada hubungannya dengan hijrah Nabi Muhammad SAW? Yang ada, ummat Islam membuat-buat hari perayaan baru lalu dihubung-hubungkahlah dengan hijrah rasulullah SAW. Bagai mana mungkin Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghubungkan Idul Muharram dengan hijrah Nabi padahal Nabi SAW berangkat hijrah tanggal 1 atau 2 Rabiul Awwal dan sampai di Madinah tanggal 12 Rabiul Awwal? Kalau pun kita harus merayakan hari raya hijrah Rasul maka bukan tanggal 1 Muharram tetapi tanggal 1 Rabiul Awwal atau 12 Rabiul Awwal? Imam as Suyuthi menyatakan, “al ‘Askari berkata: “(Umar) adalah orang pertama yang dijuluki Amirul Mu’minin, dan yang pertama yang menulis penanggalan dihitung sejak hijrah”.”[1] Keputusan Umar menetapkan tahun hijrah Nabi sebagai tahun 1 kalender Islam adalah atas usul sahabat Sayidina Ali bin Abi Thalib. Ibnu Hisyam mengutip keterangan dari Ibnu Ishaq al Muthalibi, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah pada hari senin, ketika panas menyengat, dan matahari hampir berada di pertengahan, pada saat Bulan Rabi’ul awwal sudah berlangsung selama 12 malam”. Ibnu Ishaq berkata, “pada hari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berumur 53 tahun, setelah 13 tahun Allah ‘Azza wa Jalla mengutus beliau (sebagai rasul)”.”[2]

.

din2. Tahukah anda bahwa penetapan 1 Muharram sebagai hari perayaan ummat Islam sama sekali bukan ajaran Islam? Penetapan ini merupakan usaha kreatif, kecemburuan terhadap ummat lain dan perayaan ini baru ada setelah Islam beredar luas di luar negeri Arabia. Ini bukan hari raya Islam sama sekali!  Ketua PP Muhammadiyah sekarang yang juga Ketua MUI beralasan:

“MUI selama ini dapat pengaduan dari masyarakat, kok tahun baru Hijriah kurang semarak. Lebih semarak dari tahun baru lainnya, baik 1 Januari atau Imlek” kata Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin di Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

MUI saat ini telah menyiapkan panitia untuk acara yang tidak sampai satu pekan lagi. Seluruh umat muslim di sekitar Ibukota yang akan ikut dalam perayaan, juga dipersilahkan datang. Diharapkan datang dengan menggunakan pakaian serba putih. “Semuanya putih baik laki atau pun perempuan dan boleh membawa bendera kelompoknya.” pungkas Din.

Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwiyah menyebutkan bahwa tidak diragukan lagi bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah mensyariatkan dua hari raya bagi kaum muslimin, yang pada keduanya hari tersebut mereka berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha sebagai pengganti hari raya – hari raya jahiliyah. Disamping itu Allah pun mensyari’atkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah seperti hari Jum’at, hari Arafah dan hari-hari Tasyriq. Namun Allah Subhanahu Wata’ala tidak mensyariatkan perayaan hari kelahiran, tidak hari kelahiran Nabi dan tidak pula untuk perayaan lainnya.

Mengingat syari’at Islam telah menetapkan hari-hari besar tahunannya seperti 2 hari raya, dan hari raya mingguannya di hari jum’at maka tidak sepatutnya kita menetapkan sendiri bahwa tahun baru 1 Muharram sebagai dimulainya kalender hijriyah sebagai hari besar, yang kemudian di dalamnya dilakukan berbagai kegiatan ibadah serta kegiatan penyambutan yang meriah, sebagaimana kaum agama lain menyambut tahun baru mereka. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id bin Al-Khudri :
دَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
و حَدَّثَنَا عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا أَبُو غَسَّانَ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ وَذَكَرَ الْحَدِيثَ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari ‘Atha bin Yasar dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.”

.

3. Tahukah anda bahwa merayakan 1 Muharram dengan arak-arakan pawai tanglong, lomba bedug, konser musik dan lomba-lomba adalah jauh dari syiar Islam, justru bagian dari kebodohan terhadap Islam. Kalau Nabi berhijrah ke Madinah memimpin rombongan untuk mentaati perintah Allah maka rombongan pawai 1 Muharram yang berarak-arakan keliling kota setiap tahun itu dalam rangka mentaati siapa? Hebatnya, yang diarak setiap tahun itu semuanya dusta…: onta dusta, Nabi dusta bercelana jean, berkacamata hitam dan memakai topi cowboy, walau pun memakai juga selendang Arab. Perjalanan hijrah rombongan Nabi gaul itu pun diiringi pula dengan musik-musik qasidah elektrik, meninggalkan sholat wajib dan mengharapkan kejuaraan dari PHBI? Sungguh ini fakta yang sangat luar biasa diluar kebiasaan. Baca lagi hadits di atas.

.

10410125_10201598857731733_6304642584031605923_n4. Tahukah anda bahwa 1 Muharram sedang ditagih secara politik sebagai hari Santri Nasional? Kalau ini terwujud maka penetapan hari raya dilakukan berdasarkan pertimbangan politik. Maka adakah hari besar dalam Islam yang dilaksanakan berdasarkan pemenuhan kontrak politik? Dari https://www.facebook.com/DPP.PDI.Perjuangan/posts/10152230895023479 disebutkan, “Bukan tanpa alasan bila Joko Widodo (Jokowi) berjanji untuk menjadikan tanggal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Keinginan itu berdasarkan permintaan dari pengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam, Banjarejo, Malang, Jawa Timur, dengan pertimbangan mendalam”.

.

Saat mengunjungi ponpes pimpinan KH Thoriq Darwis, Jumat 27 Juni 2014, calon presiden nomor urut 2 ini diminta untuk menetapkan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Jokowi pun berjanji untuk memperjuangkannya. “Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirahim, dengan ini saya mendukung 1 Muharram ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional,” janji Jokowi saat itu.  Kunjungan Jokowi itu diakhiri dengan penandatanganan surat perjanjian penyanggupan penetapan Hari Santri Nasional pada 1 Muharram yang disaksikan oleh tim kampanye Jokowi dan segenap jajaran kyai dan ulama Ponpes Babussalam.

5. Tahukah anda bahwa 10 Muharram (hari Asyura) di Indonesia telah ditetapkan sebagai Hari Raya Anak Yatim? Berdasarkan https://www.facebook.com/fimadani/posts/426788604043295: Lebaran Anak Yatim Tanggal 10 Muharram, alasanya karena ada anjuran untuk “mengusap kepada anak yatim” pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura. Mengusap kepada anak yatim adalah bahasa ungkapan untuk memberikan santunan dan bantuan kepada mereka. Anjuran ini memang sangat masyhur dikenal di sebagian masyarakat dan merupakan salah satu diantara amaliyah lainnya, sebagaimana dituliskan dalam kitab I’anatut- Thalibin tentang anjuran amaliyah pada 10 Muharram.

Namun bila dillihat dari dasar pensyariatannya, para ulama hadits umumnya berpendapat bahwa hanya puasa saja yang punya landasan yang kuat dengan hadits-hadits shahih. Yang juga punya dalil adalah meluaskan belanja. Sedangkan selebihnya hanya didukung oleh hadits-hadits dhaif bahkan sebagiannya maudhu’ dan mungkar. Sehingga tidak bisa diterima pensyariatannya oleh sebagian ulama. Demikian dijelaskan Ustadz Ahmad Sarwat Lc, MA.

.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya: “Hari apa ini?” mereka menjawab: Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)

.

Dari dalil ini maka sangat aneh bila 10 Muharram ditetapkan sebagai hari raya yang dirayakan dengan makan bubur asyura padahal Nabi dan perintah Nabi SAW ummat Islam harus berpuasa?

KEMAJUAN PEMBANGUNAN RUANG UTAMA MASJID AS-SUNNAH BUNTOK

Proses pembangunan ruang utama masjid As-Sunnah Buntok sejak dilaksanakan bulan September sampai hari ini Sabtu tanggal 25 Oktober 2014 terus berjalan sesuai perencanaan.
Pekerjaan yang tampak pada hari ini adalah pengecatan langit-langit ruang utama, pemasangan gipsum plafon, pemasangan bata dinding dibawah jendela dan kerangka / kusen hias bagian atas.
Sementara itu instalatir PLN juga sedang memasang kelengkapan penerangan ruangan utama sekaligus memasangi dengan lampu-lampu penerangan pada semua titik-titik lampu.
Memperhatikan kemajuan pekerjaan sampai hari ini maka panitia pembangunan merasa yakin dan optimis kegiatan pembangunan bisa berjalan tepat waktu.
Semoga kegiatan pembangunan ini berjalan lancar, tepat waktu dan memperoleh kebaikan dari Allah Sub-hanahu wa Ta’ala, amin.

GOTONG ROYONG JAMAAH AS-SUNNAH BUNTOK TANGGAL 25 OKTOBER 2014

Jamaah As-Sunnah Buntok mengadakan gotong royong pembongkaran papan dan kayu penyangga cor-coran pada Sabtu pagi tanggal 25 Oktober 2014 antara pukul 07.30 sampai 10.30 WIB.
Kegiatan swadaya jamaah ini diperlukan agar pembangunan ruang utama dan penyelesaian bagian depan masjid bisa terus dilaksanakan lebih cepat sehingga jadual pekerjaan yang tersusun bisa tercapai tepat waktu.
Kegiatan kerja bersama ini direncanakan dua hari yakni Sabtu dan Ahad (25-26/10/2014).
Panitia pembangunan masjid As-Sunnah Buntok mengucapkan terima kasih atas partisipasi teman-teman didalam kerja bakti ini dengan harapan kiranya pekerjaan yang dilakukan menjadi amal ibadah yang diterima Allah Sub-hanahu wa Ta’ala, amin.

KHUTBAH JUM’AT : TIDAK WAJIBNYA BERMAZHAB

cover khutbah jum'atKhutbah Jum’at di Masjid As-Sunnah Buntok Tanggal 24 Oktober 2014

.

Oleh Taufik Rahman

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.:

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

         أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

.

DSC00057KHUTBAH PERTAMA 

  1. HUKUM BERMAZHAB

Pada beberapa tahun yang silam di Jepang tepatnya di Tokyo diadakan koferensi Islam. Dalam acara itu ada seseorang yang menanyakan bagaimana hukumnya bermazhab, apakah wajib bagi seseorang untuk mengikuti salah satu mazhab yang empat. Pada kesempatan itu tampil Syaikh Muhammad Sulthan Alma’sumi Al Khajandi, seseorang pengajar di Masjidil Haram Makkah. Beliau menyerukan kaum muslimin untuk kembali kepada yang pernah dilakukan oleh umat yang terbaik para sahabat. Beliau menyeru untuk tidak bertaqlid buta (fanatik) pada salah satu mazhab tertentu. Akan tetapi dipersilakan mengambil dari tiap mujtahid atau ahli ijtihad dengan berdasarkan pada Al Quran dan Sunnah sebagai rujukan. Sebab sebenarnya mazhab-mazhab adalah pendapat dan pemahaman orang-orang berilmu dalam beberapa masalah. Pendapat, ijtihad dan pemahaman ini tidak diwajibkan oleh Allah dan rasul-Nya untuk mengikutinya. Karena di dalamnya terdapat kemungkinan betul dan salah. Karena tidak ada pendapat yang seratus persen benar kecuali yang berasal dari Rasulullah SAW.

.
Sementara itu mengikuti salah satu mazhab yang empat atau lainnya bukanlah persoalan wajib atau sunnah.seseorang muslim tidak diharuskan mengikuti salah satunya. Dan bahkan orang yang mengharuskan untuk mengikuti salah satunya sebenarnya ia seseorang fanatik. Begitulah menurut syekh Sulthan.

.

  1. Penjelasan Tentang Mazhab

Mengingat seringnya dipertanyakan masalah mazhab dan dengan adanya sekolompok umat Islam yang beranggapan bahwa memahami hukum Islam langsung bersumber kepada Al Quran dan Al Hadits bagi orang Islam sekarang itu sesat menyesatkan, ditambah lagi adanya anggapan bahwa umat Islam jika mengikuti/taklid kepada salah satu mazhab empat atau mazhab tertentu maka perlu ada penjelasan mengenai hal-hal tersebut diatas.

.

Mazhab berasal dari akar kata zahaba artinya jalan atau tempat pergi, sinonim (persamaa kataya) maslikon atau torikum atau sabilon. Menurut istilah mazhab adalah paham atau aliran yang merupakan hasil pemikiran seorang Ulama mengenai hukum-hukum Islam melalui ijtihad (nasihat). Orang yang bermazhab adalah orang yang dalam menjalankan ibadah kepada pemikiran/pendapatnya itu sesuai dengan Al Quran dan Al Hadits atau menyalahi/bertentangan dengan Al Quran dan Al Hadits.

.

Taklid ialah menerima ucapan orang yang berkata (masalah agama) dengan tidak ada hujjah (dalil dari Al Quran dan Al Hadits). Ulama yang ditokohkan sebagai Imam mazhab atau pendiri mazhab adalah:

.

  1. Imam Abu Hanafiah  yang lahir di kota Kuffah pada tahun 80 H dan wafat pada tahun 150 H. Nama penuh beliau ialah Al Imam ArghDhomu Abu Hanifah Al Nu’man bin Tsabit Bin Zhauthabnimah.
  1. Imam Malik lahir di Madinah pada tahun 95H dan wafat pada tahun 179H. Nama penuh beliau ialah Abu Abdullah Malikubun Ansobni Malikin Al Asjayi.
  1. Imam Syafi’i lahir di Ghozah Palestine pada tahun 150H dibesarkan di Makkah dan wafat di Qarafiah pada tahun 204H. Nama penuh beliau ialah Abu Abdullah Muhammad Bin Idris Bin Abbas Bin Uthman Bin Syai’ibi Khurasyiyul Mutalibbiyu.
  1. Imam Ahmad Bin Hanbal lahir di Baghdad pada tahun 164H dan wafat pada tahun 241H nama penuh beliau ialah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Bin Hilal  Bin Asyadin  Syaibani.

.
Selain dari empat orang tersebut diatas masih ada lagi di sebut-sebut sebagai Imam mazhab seperti Imam Hasan Basri, Sufyan Atshauri, Ibnu Uyainah, dan Ibnu Abi Laila, Alhuza’i dan Allaetsi.

.
Apakah betul Ulama sebagaimana tersebut diatas itu sebagai pendiri-pendiri mazhab? Mereka semua bukan pendiri mazhab, jadi salah! Orang yang mengatakan bahwa mereka sebagai pendiri atau Imam mazhab karena mereka semua sepakat melarang atau taklid kepada mereka atau orang lain. Mereka tidak pernah mengajak umat islam supaya mengikuti pendapat mereka, lagi pula timbulnya mazhab itu sesudah beliau wafat yaitu setelah abad ketiga Hijriah.

.
Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal adalah tokoh-tokoh Ulama ahli hadits/ahli Sunnah yang sangat terkenal, mustahil mereka mengajak umat Islam taqlid dan mengambil fatwa dari mereka selama belum mengerti dalil-dalil yang dijadikan dasar fatwa mereka.

“Dan sungguh-sungguh telah tetap dari Imam Abi Hanafiah dan Malik dan Syafi’i dan Ahmad dan selain mereka, mudah-mudahan Allah  yang Maha Luhur memberi rahmat kepada mereka, bahwa mereka berkata; tidak halal bagi seseorang member fatwa dengan perkataan-perkataan kami atau mengambil ucapan kami selama belum mengerti dari mana kami mengambil dan telah menjelaskan tiap-tiap satu dari mereka, sesungguhnya apabila telah shahih suatu hadits maka dia itu mazhabku dan mereka juga: apabila aku mengatakan suatu perkataan maka ujilah dia dengan kitabullah dan sunnah Rasulnya, maka jika perkataan itu cocok/bertepatan kedua-duanya maka terimalah dia dan ucapan  yang menyalahi keduanya maka tolaklah dia dan buanglah ucapanku diluar pagar”

.

  1. Timbulnya mazhab

Setelah Imam Hanfi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal wafat muncullah generasi sesudah mereka, menyusun/mengarang kitab-kitab dan di nisbatkan sebagai kitab-kitab mazhab ini atau itu walaupun isinya banyak yang tidak sesuai dengan pendapat Imam mazhab.

.

Kemudian kitab-kitab tersebut diberikan syarah-syarah (keterangan-keterangan) sehingga kitab-kitab itu menjadi semakin tebal lantas kitab-kitab syarah itu diberi hasyiyah-hasyiyah (keterangan pinggir) sehingga menjadi tebal lagi dan hasyiyah-hasyiyah itu diberi lagi taqrirot-taqrirot, pendapat-pendapat yang ada dalam kitab masing-masing, kadang-kadang saling bertentangan sehingga suatu benda/barang mempunyai dua hukum dalam saat yang bersamaan, barangnya sama tetapi menurut mazhab syafi’i itu haram dan menurut mazhab Maliki halal: contoh seperti binatang buas yang bertaring haram menurut mazhab Syafi’i dan halal menurut mazhab Maliki.

.

Mereka berpegang teguh dengan pendapat yang ada dalam kitab masing-masing sehingga mereka tenggelam dalam perbantahan, berfirqoh-firqoh dalam mazhab dan mereka fanatik dalam mazhab masing-masing, mereka membuat syarat-syarat qoyid-qoyid (ikatan-ikatan) dan rumusan-rumusan untuk mengamalkan kitab-kitab mereka dibagi-bagi menjadi bebrapa bagian, ada yang menjadi mujtahid mutlaq, mujtahid mazhab, mufti mazhab, murrojjihu mazhab dan maqolid.

.

Setelah itu umat Islam diwajibkan taqlid kepada salah satu mazhab empat dan orang-orang yang sudah masuk dalam salah satu mazhab haram mengambil dan mengamalkan ucapan-ucapan orang yang bukan mazhabnya dan mereka dilarang berpindah-pindah mazhab.

.

Andaikata ada pendapat mazhabnya menyalahi sunah Rasul kemudian ditunjukkan kepada mereka hadits yang shahih yang bertentangan dengan pendapat mazhab, mereka menolak hadits dari Nabi itu dan mereka merasa puas dengan pendapat-pendapat mazhabnya, jika ada ayat Al-Quran atau Hadits dari Rasulullah SAW, harus diuji dulu, kalau cocok sesuai dengan pendapat mazhab akan diterima dan kalau tidak cocok/sesuai dengan pendapat mazhabnya akan ditolak.

.

Imam Bughowi salah seorang penghidup Sunnah Rasul berkata: “Aku membacakan kepada mereka (orang yang bertaklid) beberapa ayat Al-quran dalam beberapa masalah sedangkan mazhab mereka bertentangan dengan ayat tersebut, maka mereka tidak menerima Al-quran dan tidak menoleh kepadanya seperti orang yang keheranan.”

.

 Bagaimana mungkin boleh/mengamalkan zahir ayat ini padahal riwayat orang-orang dulu bertentangan dengan ayat ini. Sebetulnya keadaan orang yang taklid sebagaimana tersebut di atas bertentangan dengan peraturan Allah, Rasul dan Imam mereka sendiri.

.

“Berkata Imam Syafi’i, mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadanya: telah ijmak umat Islam bahwa orang yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah SAW, tidak halal baginya meninggalkan Sunnah Rasul karena ucapan seseorang” (Halil Muslim halaman 18)

. 

KHUTBAH KEDUA 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ؛

3.   Hukum Bermazhab Dengan Mazhab Tertentu

1  Umat Islam pada abad pertama dan abad kedua Hijriah tidak mengenal taklid kepada mazhab dan tidak ada mazhab yang empat pada waktu itu, mereka hanya mengjkuti Sunnah Rasulullah SAW dan mengikuti sunnah Khulafaurrasyidin, mereka melaksanakan ibadah kepada Allah langsung berdasarkan Al Quran dan Hadits, jika mereka tidak mengerti tentang sesuatu hukum mereka akan bertanya pada Ulama, bagaimana hukum ini dan itu menurut Al Quran dan Al Hadits. Mereka tidak menanyakan bagaimana hukumnya ini dan itu menurut pendapat anda.

.
Bermazhab atau mengenepikan mazhab tertentu itu tidak wajib dan tidak sunnah karena yang dikatakan wajib dan sunnah itu apa-apa yang diwajibkan atau disunnahkan oleh Allah dan Rasulnya. Allah dan Rasul tidak mewajibkan seseorang untuk bermazhab dengan mazhab seseorang lantas dia bertaklid kepadanya dalam  urusan agamanya, kalau bermazhab tertentu itu wajib bagaimana umat Islam yang hidup pada abad pertama dan abad kedua Hijriah, waktu itu belum ada mazhab yang empat. Apakah mereka tidak sah Islamnya karena tidak mengikuti mazhab yang empat? Padahal mereka adalah para sahabat Nabi, Tabi’in, Wa’aman Tabi’ahum, apakah justru mereka yang beribadah kepada Allah langsung berdasarkan Al-Quran dan Al Hadits itu yang sesat dan orang yang mengikuti mazhab tertentu walaupun yang menyalahi Sunnah Rasul itu benar dan dapat hidayah? Fikirkanlah!

.

2. Orang yang bertaklid kepada mazhab tidak bertanya bagaimana hukum Allah dan Rasulnya tetapi mereka menanyakan bagaimana pendapat Imam mazhab mengenai ini dan itu. Jika pendapat Imamnya bertentangan dengan kitab Allah dan Rasulnya mereka tidak mau kembali kepada Al-Quran dan Sunnah Rasul melainkan mereka tetap memegangi pendapat Imam mereka dan meninggalkan Al-Quran dan Sunnah.

.

Perbuatan mereka yang demikian itu sangat tidak benar karena seolah-olah pendapat Ulama kedudukannya melebihi Al-Quran dan Sunnah. Ini dapat dibayangkan betapa besar dosa dan kesalahan orang yang menganggap lebih mulia pendapat manusia daripada Allah dan Rasul.

.
“Imam Syafi’i berkata: umat Islam tidak ijma’, bahwa orang yang telah jelas baginya Sunnah Rasul, maka tidak halal baginya meninggalkan Sunnah Rasul karena memegangi ucapan seseorang”. (Halil Muslim, hal. 20)

.
Orang yang meninggalkan ucapan Rasul karena ucapan seseorang berarti menganggap ucapan seseorang itu yang menjadi pokok agamanya, adapun Sunnah Rasul kalau cocok / sesuai dengan ucapan seseorang dari Ulama mazhabnya diterima, kalau tidak cocok / sesuai tidak diterima. Ini berarti pula bahwa orang itu beranggapan seorang Ulama nilainya lebih tinggi daripada Nabi Muhammad SAW.

.

Kita membayangkan betapa besar dosanya orang yang berpendapat begitu. Perbuatan yang demikian itu sama halnya dengan perbuatan Yahudi Nasrani yang telah menjadikan Ulama mereka (Pendeta) menjadi Tuhan selain Allah bukan karena mereka menganggap Ulama sebagai Tuhan tetapi karena mereka bertaklid kepada Ulama mereka, menerima dan mengikuti ucapan Ulama tentang hukum agama walaupun bertentangan dengan kitab suci mereka.

.
Pada suatu hari Ady Ibnu Hatim seorang pemimpin kaum Tho’yi datang ke Madinah menghadap Rasulullah SAW dan dileher Ady terdapat salib yang terbuat dari perak, waktu itu Nabi sedang membaca Surat At-Taubah ayat 30 “Orang Yahudi berkata:”Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Berkata Ady innahum lam yak buduhum yang artinya: sesungguhnya Yahudi dan Nasrani itu tidak menyembah kepada mereka (Ulama) atau Pendeta, maka Rasulullah menjawab:

.
“Bahkan mereka menyembah Ahbar dan Ruhban, sesungguhnya mereka mengharamkan atas mereka barang yang halal dan menghalalkan untuk mereka barang yang haram, maka orang Yahudi dan Nasrani mengikuti mereka, maka yang demikian itu ibadah mereka kepada Ahbar dan Ruhban” (Hadits Riwayat Ahmad)

.
Jadi taklid kepada Ulama/mazhab tertentu itu hukumnya sama dengan menjadikan Ulama-Ulama menjadi Tuhan selain Allah. Sebagaimana penjelasan tersebut diatas, bahkan Imam Syafi’i juga berkata: “Barang siapa taklid kepada orang tertentu didalam mengharamkan sesuatu atau menghalalkannya sedangkan telah tetap Hadits Shahih menyalahinya dan perbuatan taklid itu mencegah dia dari mengamalkan Sunnah, maka sesungguhnya dia telah menjadikan orang yang ditaklid itu menjadi Tuhan selain Allah Ta’ala, dia telah mengharamkan atasnya apa-apa yang telah dihalalkan oleh Allah.”

.

  1. DASAR HUKUM HARAMNYA TAKLID KEPADA MAZHAB – MAZHAB TERTENTU / ORANG-RANG TERTENTU

Firman Allah dalam Al-Quran:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa’:36)

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al-An’am:153)
.

Dan lagi:

  • “Jauhilah perkara baru dalam agama karena tiap-tiap perkara baru dalam agama itu bid’ah dan tiap-tiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud)

.

  • “Telah tetap dari Imam Abi Hanfiah, Malik, Syafi’i dan Ahmad serta lain-lain Rahimahumullah, sesungguhnya mereka berkata: tidak halal bagi seseorang berfatwa dengan ucapan kami atau mengambil ucapan kami selagi belum mengerti dari (dalil) mana kami mengambilnya”

.

  • “Dikatakan kepada Abi Hanafiah, mudah-mudahan Allah Ta’ala memberi rahmat kepadanya, jika engkau berkata suatu perkataan dan Kitabullah itu menyalahinya. Dia berkata: tinggalkanlah perkataanku karena Kitabullah, maka dikatakan: jika khabar dari Rasulullah itu menyalahinya. Dia berkata: tinggalkanlah perkataanku karena khabar dari Rasulullah, maka dikatakan kepadanya, jika ada perkataan Sahabat Radiallahu anhum itu menyalahinya dia berkata: tinggalkanlah perkataanku karena perkataan Sahabat Radiallahu anhum. (Halil Muslim. Hal.21)

.

  •   “Telah berkata Imam Syafi’i Rahimahumullah Ta’ala, ketika aku mengatakan suatu perkataan dan ada dari Rasulullah SAW itu menyalahi perkataanku, maka apa-apa yang shahih dari Haditsnya Rasulullah itu lebih utama, maka janganlah kamu bertaklid kepadaku. (Halil Muslim. Hal.21)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Repro http://aul-al-ghifary.blogspot.com/2013/10/hukum-bermazhab.html

Jokowi adalah Khilafah yang Wajib Ditaati?

Sehari setelah dilantik oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, pengamat politik dan komunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Ade Armando, MSc. menyatakan bahwa bagi umat Islam Indonesia, Jokowi adalah khalifah yang wajib ditaati.
.
“Bagi umat Islam Indonesia, Jokowi adalah khalifah yang harus didengar dan ditaati. Ingat ya, Jokowi itu khalifah!” tulisnya dalam laman sosial medianya, 21 Oktober 2014.
.
Pernyataan itu menyulut komentar kritis dari berbagai follower-nya. Terutama karena ketidak-tepatannya dalam menempatkan presiden Indonesia setara dengan khalifah yang memimpin umat Islam sedunia.
.
Tidak terima dengan berbagi kritik tersebut, ia mengata-ngatai para pengkritiknya sebagai orang bodoh.
.
“Di wall saya banyak yg marah-marah karena saya meyebut Jokowi itu khalifah yang harus didengarkan dan ditaati. Pada bahlul ah!”
.
Tahun lalu, pengamat politik partisan ini mengatakan bahwa dirinya yakin jika Jokowi maju sebagai calon presiden, kader PDIP itu sudah dapat dipastikan akan memenangi pemilihan presiden (Pilpres) 2014. Bahkan ia berani bertaruh.

“Potong leher saya jika Jokowi kalah! Jika dia maju saat ini,” cetus pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) saat itu. Bahkan, meskipun ia dikenal sebagai dosen komunikasi, ia sering menggunakan kata-kata kasar seperti pelacur, babi, dan dan najis dalam konteks negatif.

(fimadani)

Jokowi jadi Presiden, Wali Kota Solo Tirakat di Gunung Lawu, Syukur atau Fitnah

Joko Widodo (tengah) bersama ibundanya Sudjiatmi Notomihardjo (kedua kiri) berfoto bersama warga saat open house di kediamannya, Sumber, Solo, Jateng, Selasa (29/7/2014). ANT/Aloysius Jarot NugrohoMetrotvnews.com, Solo: Aneka kalangan masyarakat bersuka cita menyambut pelantikan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, 20 Oktober 2014. Suasana kegembiraan juga dirasakan warga Solo, Jawa Tengah, kota tempat Sang Presiden Terpilih dibesarkan dan pernah menjadi pemimpin.

.
Suka cita dirasakan benar oleh FX Hadi Rudyatmo, Wali Kota Solo yang sebelumnya menjadi pasangan Jokowi. Ketua DPC PDIP itu mengkhususkan diri untuk naik ke puncak Gunung Lawu bersama teman-temannya guna melakukan tirakat dan berdoa, lima hari silam. “Kami mengkhususkan diri berterikat dan berdoa di atas Gunung Lawu, untuk memohon keselamatan bagi Presiden terpilih Jokowi, sekaligus menghindarkannya dari segala marabahaya saat dilantik sebagai Presiden ke-7, hingga perjalanannya selama lima tahun memimpin Indonesia,” kata Rudy, kepada Media Indonesia, Jumat (17/10/2014).
.
Tirakat itu pun akan dilanjutkan Rudy, pada 19 Oktober atau sehari menjelang pelantikan Jokowi. Tirakat dan doa sesi kedua itu akan dilakukan Rudy di Rumah Dinas Loji Gandrung, tepatnya di Kamar Bung Karno. Di kamar semasa perjuangan sering digunakan Bung Karno itu, Rudy bersama pengurus partai akan melakukan tirakat puasa dan mesu diri (berdiam diri). “Kenapa saya menggunakan kamar Bung Karno ini? Karena di tempat inilah saya mengadakan pertemuan dengan Jokowi saat akan mengikuti Pilpres 2014,” kata Rudy.  ( Widjajadi – 17 Oktober 2014 19:37 wib. JCO)
.
Inilah sekelumit fakta bahwa menjadi orang besar apalagi pejabat negara adalah anugerah yang harus disyukuri? Tapi apakah memang benar demikian adanya?
.
Dalam sebuah hadits dinyatakan: عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
Dari Abu Dzar dia berkata, saya berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikanku sebagai pejabat?” Abu Dzar berkata lagi, “Kemudian beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat nanti jabatan adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugasnya dengan benar.” (HR. Muslim – no. 3404).
.
Siapa yang tidak kenal Abu Dzar al Ghifari, shahabat yang membela Islam disaat umat Islam masih tertindas? Dia sahabat yang berani mengumumkan keislamannya di depan kafir Quraisy sehingga mereka memukulinya sampai pingsan dan beliau tidak jera untuk mengulanginya. Sahabat ini yang mengajak satu kampung masuk Islam, sahabat yang zuhud dan wara’, namun Rasulullah menilai Abu Dzar tidak punya kapabilitas untuk memegang jabatan.
.
Muhammad ibn Wasi’ al-Azdiy (tabi’in) diminta untuk menduduki jabatan Qadla (pengadilan) lebih dari sekali. Ia menolaknya dengan keras dan lebih memilih dicambuk dari pada menjadi hakim. Muhammad ibn al-Mundzir pejabat keamanan Bashroh telah mengundangnya, dan ia berkata, “Sesungguhnya penguasa Irak meminta dariku untuk memanggilmu agar menduduki jabatan Qadla.” Ia menjawab, “Maafkan aku dari hal tersebut, semoga Allah memaafkan mu.” Ia (Muhammad ibn al-Mundzir) memintanya kembali untuk yang kedua dan ketiga kalinya, namun ia terus menolaknya. Ia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kamu harus menduduki jabatan Qadla, atau aku akan mencambukmu sebanyak tiga ratus cambukan, dan sungguh-sungguh aku akan mempermalukanmu.” Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy menjawab: “Kalau engkau mau melakukannya, sesungguhnya engkau adalah orang yang bebas dan sesungguhnya diadzab di dunia lebih baik dari pada diadzab di akhirat” . Muhammad ibn al-Mundzir merasa malu (mendengar jawaban) darinya dan ia pun melepaskannya dan memperlakukannya dengan baik.

.

Fitnah terberat bagi seorang pejabat adalah wajibnya terikat dengan hukum syari’at baik secara pribadi maupun dalam mengatur apa yang ada dalam wewenang jabatannya. Sementara itu sistem sekarang tidak memberikan jalan untuk itu. Hal terberat kedua, kalau dia sebagai penguasa adalah tanggung jawab dia bukan hanya di dunia saja namun juga tanggung jawab di akhirat. Bayangkan saja apa yang terjadi jika penguasa membiarkan rakyatnya syukuran dengan maksiat, mabok, membiarkan rakyatnya melacur, berzina, membiarkan aqidah umat di obrak-abrik virus sepilis (sekularisme, pluralisme, liberalisme), membiarkan rakyatnya menjadi generasi yang mengabaikan shalat dan menghamba pada syahwat? Lebih parah lagi kalau ia justru memfasilitasi rakyatnya untuk menyalurkan hasrat maksiat dengan dalih pesta rakyat dan seterusnya. Sungguh sangat parah adzabnya di akhirat nanti.

MUNAFIK, LOYAL KEPADA ORANG KAFIR

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139) tuhan membusukوَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا  [النساء : 138 – 140]

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,

139. (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

140. Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam neraka Jahannam. (QS An-Nisaa’: 138, 139, 140).

iain sunan ampelIbnu Katsir mengatakan bahwa makna dari firman Allah swt بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” yaitu bahwa orang-orang munafik yang memiliki sifat : beriman kemudian kafir maka hati mereka tertutup kemudian Allah mensifatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dengan meninggalkan orang-orang beriman artinya bahwa mereka (orang-orang munafik) pada hakekatnya bersama mereka (orang-orang kafir), memberikan loyalitas dan kasih sayangnya kepada mereka lalu jika bertemu dengan mereka maka orang-orang munafik itu mengatakan,”Sesungguhnya kami bersama kalian, sesungguhnya kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman dengan penampilan kami yang seolah-olah sejalan dengan mereka.”

Lalu Allah swt mengingkari pemberian loyalitas mereka (orang-orang munafik) kepada orang-orang kafir dengan أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ “Apakah mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir?” kemudian Allah swt memberitahukan bahwa izzah (kekuatan) seluruhnya adalah milik Allah saja dan tak satu pun yang menyertainya dan juga milik orang-orang yang diberikan oleh-Nya, sebagaimana firman-Nya di ayat lain :

Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathir : 10)

iain sunan ampel-1Sedangkan makna firman-Nya إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا “Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” yaitu sebagaimana orang-orang munafik telah menyertai orang-orang kafir didalam kekufuran demikian pula Allah akan menjadikan mereka bersama-sama kekal di neraka jahanam selama-lamanya dan menggabungkan mereka semua di tempat penyiksaan dengan belenggu, rantai-rantai, minuman dari air panas yang mendidih serta air nanah. (Tafsir al Qur’an al Azhim juz II hal 435)