Archives

KAJIAN BA’DA SHUBUH SABTU 9 JULI 2016 “USHUL TSALATSAH”

DSC00084Kajian lanjutan “Syarah Ushul Tsalatsah” berlanjut Sabtu ba’da Sholat Shubuh 4 Syawwal 1437 H (9 Juli 2016) di mushalla “Al Syarikah” Buntok bersama ustadz Sunardi, SPd, MPd.I.

.

Kajian hari ini membahas ILMU tentang pengenalan Rabb yaitu Allah ta’ala, hakekat Islam dan pengenalan tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Intinya , ilmu merupakan sebab utama keselamatan dan kebahagiaan.
.
DSC00082

Ketahuilah, bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah, yaitu :
1. Ilmu, ialah mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalil.

2. Amal, ialah menerapkan ilmu ini.

3. Da’wah, ialah mengajak orang lain kepada ilmu ini.

4. Sabar, ialah tabah dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan berda’wah kepadanya.

.

Dalilnya, firman Allah Ta’ala.

وَالْعَصْرِ﴿١﴾إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴿٢﴾إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal shalih dan saling nasihat-menasihati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar”. [al-‘Ashr/103: 1-3].

.

Imam Asy-Syafi’i[1] rahimahullah Ta’ala, mengatakan :”Seandainya Allah hanya menurunkan surah ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surah ini sebagai hujjah bagi mereka”.

Dan Imam Al-Bukhari[2] rahimahullah Ta’ala, mengatakan :”Bab Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan”.

.

Dalilnya firman Allah Ta’ala.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah, sesungguhnya tiada sesembahan (yang haq) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu”. [Muhammad/47: 19]

.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan) …. ..” [3] sebelum ucapan dan perbuatan.

.
Dan ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini :

1. Bahwa Allah-lah yang menciptakan kita dan yang memberi rizki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus kepada kita seorang rasul, maka barangsiapa mentaati rasul tersebut pasti akan masuk surga dan barangsiapa menyalahinya pasti akan masuk neraka.

.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا﴿١٥﴾فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang rasul yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang rasul, tetapi Fir’aun mendurhakai rasul itu, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat”. [al-Muzammil /73: 15-16]

.

2. Bahwa Allah tidak rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepada-Nya, Dia dipersekutukan dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan seorang nabi yang diutus manjadi rasul.

.

Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang-pun di dalamnya disamping (menyembah) Allah”. [al-Jinn/72: 18]

.

3. Bahwa barangsiapa yang mentaati Rasulullah serta mentauhidkan Allah, tidak boleh bersahabat dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu keluarga dekat.

.

Allah Ta’ala berfirman :

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah mantapkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya dan mereka akan dimasukkan-Nya ke dalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung”. [al-Mujaadalah/58: 22]

.

Ketahuilah, bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh umat manusia dan hanya itu sebenarnya mereka diciptakan-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. [adz-Dzaariyaat/51 : 56]

.

Ibadah dalam ayat ini, artinya : Tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah Tauhid, yaitu : Memurnikan ibadah untuk Allah semata-mata. Sedang larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu : Menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya.

.

Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. [an-Nisaa/4: 36]

.

Kemudian, apabila anda ditanya : Apakah tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh manusia ? Maka hendaklah anda jawab : Yaitu mengenal Tuhan Allah ‘Azza wa Jalla, Mengenal agama Islam, dan Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

.

[Disalin dari buku Tiga Landasan Utama, Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Dicetak dan Disebarkan oleh Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Da’wah dan Penyuluhan Urusan Penerbitan dan Penyebaran Kerajaan Arab Saudi]

Advertisements

JANGAN HILANGKAN PAHALA AMALANMU

DSC00013Apa  sajakah  yang  bisa  menghilangkan  pahala amal  dari seorang hamba

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا لاَ تُبْطِلُوْا صَدَقتِكُمْ بِالْمَنّ وَ اْلاَذى كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَه رِئَآءَ النَّاسِ وَ لاَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ، فَمَثَلُه كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَه وَابِلٌ فَتَرَكَه صَلْدًا، لاَ يَقْدِرُوْنَ عَلى شَيْءٍ مّمَّا كَسَبُوْا، وَ اللهُ لاَ يَهْدِى اْلقَوْمَ اْلكفِرِيْنَ(264) وَ مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَ تَثْبِيْتًا مّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ، فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ، وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ(265) البقرة: 264-265

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu hilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menafqahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. [QS. Al-Baqarah  264]

Nabi SAW  bersabda:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَتَدْرُوْنَ مَا اْلمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: اْلمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَ لاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: اِنَّ اْلمُفْلِسَ مِنْ اُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَ صِيَامٍ وَ زَكَاةٍ وَ يَأْتِى قَدْ شَتَمَ هذَا وَ قَذَفَ هذَا وَ اَكَلَ مَالَ هذَا وَ سَفَكَ دَمَ هذَا وَ ضَرَبَ هذَا. فَيُعْطَى هذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَ هذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَاِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ اَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ اُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ. مسلم 4: 1997

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kamu orang yang bangkrut?” Para shahabat menjawab, “Orang yang bangkrut diantara kami ialah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya barang-barang”. Nabi SAW bersabda, “Orang yang bangkrut dari ummatku ialah orang yang datang pada hari qiyamat lengkap dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, tetapi disamping itu ia telah mencaci ini, menuduh itu, memakan hartanya ini, menumpahkan darah itu dan memukul ini. Lalu diberikanlah kepada si ini dari (pahala) kebaikan amalnya dan diberikan kepada si itu dari (pahala) kebaikan amalnya. Dan apabila telah habis (pahala) kebaikannya, padahal belum terbayar semua tuntutan orang lain kepadanya, maka diambillah dari dosa-dosa orang yang pernah dianiaya itu lalu ditanggungkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke neraka”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1997]

عَنِ الزُّبَيْرِ بن العوام رض قال: قال رَسُوْلُ اللهِ ص: دَبَّ اِلَيْكُمْ دَاءُ اْلاُمَمِ قَبْلَكُمْ. اْلحَسَدُ وَ اْلبَغْضَاءُ. وَ اْلبَغْضَاءُ هِيَ اْلحَالِقَةُ. حِالِقَةُ الدّيْنِ، لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ، وَ الَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا، اَفَلاَ اُنَبّئُكُمْ بِشَيْءٍ اِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ اَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ. ااحمد 1: 348، رقم: 1412

Dari Zubair bin ‘Awwam RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Akan menjalar kepada kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian, yaitu dengki dan kebencian yang sangat. Dan kebencian yang sangat itu adalah pencukur. Pencukur agama, bukan pencukur rambut. Demi Tuhan yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalian tidaklah beriman sehingga kalian berkasih sayang. Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya niscaya kalian saling berkasih sayang? Tebarkanlah salam diantara kalian”. [HR. Ahmad juz 1, hal. 346, no. 1412]

عَنْ صَفِيَّةَ عَنْ بَعْضِ اَزْوَاجِ النَّبِيّ ص عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنْ اَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةُ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً. مسلم 4: 1751

Dari Shafiyah, dari sebagian istri Nabi SAW, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa datang kepada dukun, lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1751]

Antara Isbal, Janggut dan Jidat Hitam

DSC00246Larangan Isbal

Dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ.

“Barangsiapa menjulurkan kain sarungnya hingga dibawah mata kaki, maka tempatnya adalah neraka.” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan dari Mughirah bin Syu’bah –radhiyallaahu ‘anhu– bahwa Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda kepada Sufyan bin Sahl:

يَا سُفْيَانَ بْنَ سَهْلٍ لَا تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِين.

“Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu memanjangkan kain sarung atau celana melebihi mata kaki, karena Allah membenci orang-orang yang memanjangkan kain sarung atau celananya melebihi mata kaki.” (HR. Ibnu Majah)

 

Diriwayatkan pula dari Abu Dzar –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah  –shallallaahu ‘alaihi wa sallam–  bersabda:

ثلاثة لايكلمهم يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم فقرأها رسول الله  ثلاث مرار, قال أبو ذر,خابوا وخسروا ,من هم يا رسول الله ؟ قال المسبيل, المنان, والمنفق سلعة بالحلف الكذب

“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak pula dilihat dan tidak disucikan serta bagi mereka siksa yang pedih (Nabi mengulanginya tiga kali). Abu Dzar berkata, ‘Kecewa sekali mereka dan sangat merugi, siapakah mereka itu wahai Rasulullah?’ Jawab Nabi, ‘Musbil, mannan, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim, an-Nasa’i dan Abu Dawud ).

Masih banyak hadits yang menjelaskan tentang larangan dan ancaman mengenakan kain melebihi mata kaki. .

 

979a5-indexKumis dan Janggut

Disebutkan Shahih Bukhari, dari Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma– bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Cukurlah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian!” (HR. al-Bukhari)

 

Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisihilah orang-orang musyrik, panjangkanlah jenggot dan cukurlah kumis kalian.” (HR. al-Bukhari)

 

Disebutkan juga dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Cukurlah kumis dan panjangkanlah jenggot. Selisihilah kaum Majusi.” (HR. Muslim)

 

Juga dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu– bahwasanya Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

أَعْفُوا اللِّحَى وَخُذُوا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوا شَيْبَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

“Panjangkanlah jenggot, cukurlah kumis, dan warnailah uban kalian serta janganlah kalian serupai orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Ahmad)

 

Allah –ta’ala- berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab : 21)

Ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- diutus oleh Allah ta’ala agar menjadi suri tauladan (contoh) yang baik bagi umatnya dalam segala hal, baik dari segi aqidah, ibadah, fisik, akhlaq, muamalah, maupun kebiasaan sehari-harinya. Sebagai umat beliau yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka kita harus menjadikannya sebagai suri tauladan. Dan diantara tauladan yang baik dari beliau yang patut untuk kita perhatikan dan praktekkan dalam kehidupan kita adalah memelihara jenggot.

Diriwayatkan dari ‘Ammar bin Yasir, bahwa ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (ketika berwudhu) menyelah-nyelah jenggotnya.” (HR. Ibnu Majah)

 

Diriwayatkan dari Abu Ma’mar, ia berkata:

قُلْنَا لِخَبَّابٍ بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

“Kami bertanya kepada Khabbab, ‘Dari mana kalian mengetahui bacaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat Dhuhur dan Ashar?” Ia menjawab, “Dari gerakan jenggot beliau.” (HR. Ibnu Majah)

 

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata,

كُنْتُ أُطَيِّبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَطْيَبِ مَا كُنْتُ أَجِدُ مِنْ الطِّيبِ حَتَّى أَرَى وَبِيصَ الطِّيبِ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ

“Saya pernah memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minyak wangi dengan minyak terbaik yang saya dapatkan hingga saya melihat kilauan minyak wangi pada kepala serta jenggot beliau sebelum berihram.” (HR. an-Nasa’i)

عَنْ أَبِي رِمْثَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَأَيْتُهُ قَدْ لَطَخَ لِحْيَتَهُ بِالصُّفْرَةِ

Dari Abu Rimtsah, dia berkata, “Saya datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melihat beliau telah melumuri jenggot beliau menggunakan warna kuning.” (HR. an-Nasa’i)

Tentang jenggot Rasul, maka lebih lengkap disebutkan dalam Shahih al-Bukhari yang menjelaskan tentang ciri-ciri fisik Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.  Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, bahwa ia menceritakan sifat-sifat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, katanya: “Beliau adalah seorang laki-laki dari suatu kaum yang tidak tinggi dan juga tidak pendek. Kulitnya terang tidak terlalu putih dan tidak pula terlalu kecoklatan. Rambut beliau tidak terlalu keriting dan tidak lurus. Kepada beliau diturunkan wahyu saat usia beliau empat puluh tahun lalu menetap di Makkah selama sepuluh tahun kemudian diberikan wahyu lagi dan menetap di Madinah selama sepuluh tahun lalu beliau meninggal dunia, dan ada rambut yang beruban pada kepala dan jenggot beliau dengan tidak lebih dari dua puluh helai.” (HR. al-Bukhari)

 

Jidat hitam

Allah –ta’ala– menyebutkan dalam firman-Nya:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. al-Fath : 29)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– dan para pengikutnya sampai saat ini memiliki ciri yang nampak dari muka-muka mereka yaitu atsar sujud (bekas sujud).

Atsar sujud itu telah nampak oleh manusia di dunia ini, namun ternyata bekas-bekas sujud itu akan semakin nampak oleh manusia ketika di akherat. Sebagaimana disebutkan dari ‘Abdullah bin Busr dari Nabi –shalallaahu ‘alaihi wa salam-, beliau bersabda:

أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرٌّ مِنْ السُّجُودِ مُحَجَّلُونَ مِنْ الْوُضُوءِ

“Ummatku akan datang pada hari kiamat kelak, sedangkan wajah mereka putih bersinar dari bekas sujud dan putih bersinar dari bekas wudhu’.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad dengan lafadz berbeda)

 

Bahkan malaikat pun mengenalinya sehingga dengannya mereka akan diselamatkan dari kekekalan adzab neraka. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

أَمَرَ اللَّهُ الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَيُخْرِجُونَهُمْ وَيَعْرِفُونَهُمْ بِآثَارِ السُّجُودِ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ

“Maka para Malaikat mengeluarkan mereka, yang mereka dikenal berdasarkan tanda bekas-bekas sujud (atsar sujud). Dan Allah telah mengharamkan kepada neraka untuk memakan (membakar) atsarus sujud, lalu keluarlah mereka dari neraka. Setiap anak keturunan Adam akan dibakar oleh neraka kecuali mereka yang memiliki atsar sujud. (HR. al-Bukhari, dan Muslim dengan lafadz berbeda)

 

Zaman Kesabaran

Dari Anas bin Malik –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانُ الصَّابِرِ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi)

 

Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-pun memberikan kabar gembira lewat sabdanya:

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, MAKA BERUNTUNGLAH ORANG-ORANG YANG ASING.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dll)

 

Siapakah orang-orang asing yang hidup pada zaman Keterasingan tersebut? Dijelaskan dalam riwayat lain

الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

“orang-orang yang memperbaiki salah satu dari sunnahku yang telah dirusak oleh orang-orang setelahku” (HR. at-Tirmidzi)

 

Allah SWT berfirman, artinya: “Maka barangsiapa yang beriman (kepada Allah) dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. al-An’am : 48)

Wallaahu ta’ala a’lam.

Wukuf di Arafah Jadi Acuan Idul Adha

 Written By Fokus Institut on Thursday, October 2, 2014 | 17:31

Mufti Agung Al-Quds, Palestina, Syaikh Mohammed Hussein mengingatkan kaum Muslimin di seluruh dunia bahwa Arab Saudi melalui kesaksian hilal, hendaknya diikuti negeri-negeri lainnya sebab kiblat dan pusat jamaah haji ada di tanah suci Makkah al-Mukarramah.
.
“Sebab ini berkaitan dengan ibadah lainnya. Jumat (3/10) adalah Hari Arafah, di mana jutaan jamaah haji berkumpul di padang Arafah, maka umat Muslim lainnya yang tidak haji disunahkan puasa Arafah,” ujar Mufti Hussein. Demikian pula Sabtu di Mekkah dan tempat-tempat lainnya di seluruh dunia maka sama-sama melaksanakan Hari Raya Idul Adha 1435.
.
Mahkamah Agung Saudi Arabia meminta kaum Muslimin di seluruh dunia agar mengacu pada putusan Saudi Arabia sebagai kiblat yang memimpin jutaan umat Islam di seluruh dunia yang berhaji ke Tanah Suci. “Berbeda dengan Idul Fitri yang memungkinkan perbedaan, tetapi Idul Adha acuannya adalah jamaah haji di tanah suci Makkah al-Mukarramah. Maka umat Islam seluruh dunia merayakan Idul Adha pada saat yang sama dengan Arab Saudi,” demikian bunyi pernyataannya.
.
Di samping berkaitan dengan penampakan bulan (rukyatul hilal) tersebut, tentunya, yang paling pokok adalah saat jamaah haji seluruhnya melaksanakan wuquf di Arafah pada Jumat (3/10/2014) sebagai puncak ibadah haji. Ini bisa disaksikan dari seluruh dunia.
.
Dalam rangka penyatuan penanggalan Kalender Dunia Islam, Organisasi Konferensi Islam (OKI) sebenarnya pernah membuat kesepakatan yang dikenal dengan Konvensi Istambul 1978. Konvensi Istambul adalah pertemuan Musyawarah Ahli Hisab dan Ru’yat di Istanbul, Turki tahun 1978 yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 19 Negara Islam (termasuk Indonesia), ditambah dengan tiga Lembaga Kegiatan Masyarakat Islam di Timur Tengah dan Eropa. Ada tiga kesepakatan terpenting Konvensi Istambul, yaitu pertama, sepakat satunya penanggalan bagi dunia Islam. Kedua, ru’yatul hilal (penglihatan bulan) suatu negara berlaku untuk semua negara. Ketiga, Mekkah Al-Mukarramah dijadikan sentral ru’yatul hilal dan pusat informasi ke seluruh negeri-negeri Islam.
.
Di tengah situasi global yang semakin mendewasakan umat Islam, semoga ukhuwah Islamiyah, persatuan dan kesatuan umat Islam dapat terwujud di tengah perbedaan penetapan yang ada, khususnya dalam penetapan 1 Ramadhan, 1 Dzulhijjah, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Terlepas dari perbedaan itu semua, kami hanya mengingatkan kepada Pihak Pemerintah RI, terutama Kementerian Agama, hendaknya memperhatikan acuan pelaksanaan ibadah haji adalah di tanah suci Makkah al-Mukarramah, sebab ini berkaitan dengan ibadah-ibadah lainnya. Seperti saat wuquf di Arafah, Jumat nanti 9 Dzulhijjah (3/10), sehingga disebut Haji Akbar. Maka umat Islam di seluruh dunia lainnya dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah hari Jum’at. Esok harinya, Sabtu 10 Dzulhijjah berarti Hari Raya Idul Adha 1435 (4/10) bagi umat Islam di seluruh dunia.
.
Jika kemudian Pemerintah RI melalui Kementerian Agama, yang dibacakan oleh Wamenag Nasaruddin Umar, menetapkan Idul Adha adalah Ahad (5/10), lalu mereka puasa Arafah berarti Sabtu (4/10). Yang menjadi tanda tanya sangat besar adalah puasa Arafah mengikuti Arafah yang mana? Padahal pula, Sabtu (4/10) itu kaum Muslimin di Makkah al-Mukarramah dan di seluruh dunia sedang melaksanakan shalat Idul Adha. Ini berarti, keputusan pemerintah tentang hari puasa Arafah yang jatuh pada Hari Raya adalah haram hukumnya. Kalau ini diikuti pula oleh jutaan umat Islam maka berdosalah pemerintah dan umat Islam bila melaksanakan putusan itu. Lalu, apakah keputusan sepenting itu dan menyangkut umat Islam mayoritas Indonesia tersebut, ditetapkan oleh Wakil Menag. Padahal Menteri Agama sebagai Amirul Haj Indonesia sedang berada di tanah suci Mekkah, mendengar sendiri dan menyaksikan sendiri ibadah haji di sana ?
.
Kami juga hanya mengingatkan kepada seluruh kaum Muslimin di manapun berada, hendaknya mengikuti haji di tanah suci sebagai acuan pelaksanaaan ibadah terkait, termasuk puasa Arafah dan penentuan Hari Raya Idul Adha 1435 tahun ini. Bagi Pemerintah RI melalui Kemenag, masih terbuka perubahan keputusan buatan manusia, demi tanggung jawab di hadapan Allah dan tanggung jawab di hadapan jutaan umat Muslim Indonesia khususnya. Dan kisruh seperti ini tidak akan ada ketika institusi pemersatu kaum muslimin, Khilafah Islamiyah ‘alaa Minhaajin Nubuwwah telah tegak di tengah-tengah umat.

GHIBAH DAN FITNAH DALAM POLITIK

10410125_10201598857731733_6304642584031605923_n-1PILITIK KOTOR KITA

Kita telah saksikan bagaimana akrobat politik Indonesia pada dan pasca Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014. Bahkan baru saja kita pun menyaksikan pula bagaimana riuh-rendahnya proses pemilihan Ketua DPD, DPR RI dan Ketua MPR RI. Namun yang tidak kalah hebohnya adalah pemberitaan media yang luar biasa bebas dan sangat provikatif. Sesungguhnya semua ini hanya permainan dunia yang sangat menipu. Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)

.

GHIBAH DAN FITNAH MERAJALELA

Ternyata Politik Indonesia adalah sarang dan sumber malapetaka. Ghibah dan fitnah adalah dua ikon besar yang bermain di areal ini. Tapi tahukan kita kalau kedua ikon ini adalah dosa besar yang membuat kita masuk neraka?

Ghibah adalah dosa besar sesuai firman Allah dalam Al Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujurat 12). .

Dari ayat Allah diatas dengan tegas dinyatakan bahwa membicarakan perihal orang lain dimana yang dibicarakan itu “benar” maka itulah yang dinamakan menggunjing atau ghibah.

Nabi Muhammad SAW kemudian mendefinisi ghibah itu dalam hadits riwayat Muslim :

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Kemudian beliau bersabda: “Ghibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci”. Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau yang kami katakan itu betul-betul ada pada dirinya?” Beliau menjawab: “Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnahnya!”

.
Kemudian Imam Nawawi mendefinisikan ghibah sebagai mana dikutip Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarah Bukhari halaman 10/391:

وقال النووي في الاذكار تبعا للغزالي ذكر المرء بما يكرهه سواء كان ذلك في بدن الشخص أو دينه أو دنياه أو نفسه أو خلقه أو خلقه أو ماله أو والده أو ولده أو زوجه أو خادمه أو ثوبه أو حركته أو طلاقته أو عبوسته أو غير ذلك مما يتعلق به سواء ذكرته باللفظ أو بالإشارة والرمز

Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar mengikuti pandangan Al-Ghazali bahwa ghibah adalah menceritakan tentang seseorang dengan sesuatu yang dibencinya baik badannya, agamanya, dirinya (fisik), perilakunya, hartanya, orang tuanya, anaknya, istrinya, pembantunya, raut mukanya yang berseri atau masam, atau hal lain yang berkaitan dengan penyebutan seseorang baik dengan lafadz (ucapan), tanda ataupun isyarat.
. Ibnu Abbas dalam menafsiri ayat di atas (QS Al Hujurat 12) menyatakan: (إنما ضرب الله هذا المثل للغيبه لأن أكل لحم الميت حرام مستقذر و كذا الغيبه حرام فى الدين و قبيح فى النفوس) “Allah membuat perumpamaan ini untuk ghibah karena memakan daging bangkai itu haram dan menjijikkan. Begitu juga ghibah itu haram dalam agama dan buruk di dalam jiwa”. (Tafsir Al-Qurtubi hlm 16/346).
.
Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan tentang Isra Mi’raj Nabi SAW:

لما عٌرج بى مررت بقوم لهم اظفار من نحاس يخمشون وجوههم و صدورهم فقلت :من هؤلاء يا جبريل؟ قال: هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس و يقعون فى أعراضهم.

“Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Maka aku bertanya: ”Siapakah mereka ya Jibril?” Jibril berkata: ”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”.
.
Kemudian dalam hadits riwayat Ahmad dari Jabir bin Abdullah dikatakan :

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَارْتَفَعَتْ رِيحُ جِيفَةٍ مُنْتِنَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَتَدْرُونَ مَا هَذِهِ الرِّيحُ هَذِهِ رِيحُ الَّذِينَ يَغْتَابُونَ الْمُؤْمِنِينَ

Kami pernah bersama Nabi SAW tiba-tiba tercium bau busuk yang tidak mengenakan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kamu, bau apakah ini? Ini adalah bau orang-orang yang mengghibah (menggosip) kaum mukminin!”.

SURAH YUNUS AYAT 57

12315-exquisite-cursive-style-allah-pendant-in-silverيَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang) di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS 10 / Yunus : 57)

 

Dari ayat ini  Allah swt telah berseru kepada manusia bahwa kepada mereka telah didatangkan al kitab Alquran melalui Rasul-Nya. Kitab ini padanya tersimpul pedoman hidup yang sangat berguna bagi kehidupan. Pedoman hidup itu sebagai jawaban atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan ancaman-ancaman-Nya. Ayat ini menyimpulkan tujuan-tujuan Alquranul karim dalam memperbaiki jiwa manusia pada 4 pokok :

1. Al Qur’an sebagai Mauizah, yaitu pelajaran dari Allah kepada seluruh manusia agar terbimbing mencintai yang hak dan benar, serta menjauhi perbuatan yang batil dan jahat, sehingga pelajaran ini betul-betul dapat tergambar dalam perbuatan mereka.

2. Al Qur’an sebagai Syifa’, yaitu penyembuh bagi penyakit yang bersarang di dalam dada manusia, seperti penyakit syirik, kufur dan munafik termasuk pula semua penyakit jiwa yang mengganggu ketenteraman jiwa manusia, seperti putus harapan, lemah pendirian, memperturutkan hawa nafsu, menyembunyikan rasa hasad dan dengki terhadap manusia, menyembunyikan permusuhan, mencintai kebatilan dan kejahatan serta membenci kebenaran dan keadilan.

3. Sebagai Hudan, yaitu petunjuk kepada jalan yang lurus yang menyelamatkan manusia dari iktikad yang sesat dengan jalan membimbing akal dan perasaannya agar beriktikad yang benar dengan memperhatikan bukti-bukti ke jalan Allah, serta membimbing mereka agar giat beramal dengan jalan mengutamakan kemaslahatan yang akan mereka dapati dari amal yang ikhlas itu serta menjalankan aturan hukum yang berlaku, mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana perbuatan yang harus dijauhkan.

4. Al Qur’an adalah Rahmat, yaitu karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang mukmin yang dapat mereka petik dari petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam Alquran. Orang-orang mukmin yang meyakini dan melaksanakan petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam Alquran itu akan merasakan buahnya. Mereka akan hidup tolong-menolong, sayang menyayangi, bekerja sama dengan menegakkan keadilan, menumpas kejahatan dan kekejaman, serta saling bantu-membantu untuk memperoleh kesejahteraan.

DSC00001
Allah swt. berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. (Q.S. Al-Fath: 29)

Dan firman-Nya:
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (Q.S. Al-Balad: 17)

Sifat-sifat yang empat yang terkandung dalam ayat ini diciptakan Allah sesuai dengan fitrah kejadian manusia, artinya menurut asal kejadian manusia itu mempunyai kecenderungan untuk menerima nasihat-nasihat yang baik, menerima petuah-petuah yang dapat mengobati kegoncangan jiwanya, menerima petunjuk-petunjuk yang dapat dipedomani untuk kebahagiaan hidupnya dan suka hidup damai, kasih-mengasihi dan sayang-menyayangi di antara mereka.

Sifat rahmah dikhususkan buat orang mukmin di dalam ayat ini, sebab merekalah yang suka mempedomani Alquran dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sedang orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tidak mau mempercayai apalagi akan mengerjakan kandungan isinya.

SYURGA HANYALAH TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA SAJA

12315-exquisite-cursive-style-allah-pendant-in-silverHanyalah kitab Allah Al Qur’an yang menunjukkan kepada jalan yang lurus. Firman Allah SWT :

وَ هذَا كِـتبٌ اَنـــْزَلْـنهُ مُـبرَكٌ فَاتَّـبِعُوْهُ وَ اتَّـقُوْا لَـعَلَّكُمْ تُـرْحَمُوْنَ. الانعام:155
Dan Al-Qur’an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat. [Al-An’aam : 155]

Allah berfirman pula :

اِنَّ هذَا اْلقُـرْانَ يَـهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْـوَمُ وَ يُـبَشِّـرُ اْلمُـؤْمـِنِـيْنَ الَّذِيـْنَ يَـعْمَلُـوْنَ الصّلِحتِ اَنَّ لَـهُمْ اَجْرًا كَـبِـيْرًا. الاسراء:9
Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. [Al-Israa’ : 9]

وَ اَنــْزَلْـنَا اِلَـيْكَ الذِّكْـرَ لـِـتُـبَـيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُـزِّلَ اِلَـيْهِمْ وَ لَـعَلَّـهُمْ يَـتَـفَكَّـرُوْنَ. النحل:44
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. [An-Nahl : 44]

Maka dari keterangan Al Qur’an inilah kita faham bahwa setiap mukmin itu harus taat secara mutlak kepada kepada Allah dan Rasul-Nya dan memiliki ketaatan bersyarat kepada pemimpinnya. Allah berfirman :

يـاَ يُّـهَا الَّذِيـْنَ امَنُوْآ اَطِيْعُوا اللهَ وَ اَطِيْعُوا الـرَّسُوْلَ وَ اُوليِ اْلاَمْرِ مِنْكُمْ، فَاِنْ تَـنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلىَ اللهِ وَ الـرَّسُوْلِ اِنْ كُـنْتُمْ تُـؤْمـِنُـْونَ بِاللهِ وَ اْلـيَوْمِ الاخِرِ، ذلِكَ خَيْرٌ وَّ اَحْسَنُ تَـأْوِيـْلاً. النساء:59
Hai orang-orang yang beriman, tha’atilah Allah dan tha’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa’ : 59]

وَ مَآ اَرْسَلْـنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلاَّ لِـيُطَاعَ بِـاِذْنِ اللهِ. النساء:64
Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditha’ati dengan seidzin Allah. [An-Nisa’ : 64]

DSC00003Atas beberapa ayat keterangan kitabullah tersebut maka Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

عَنْ جُبَـيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَبـْشِرُوْا فَاِنَّ هذَا اْلقُرْآنَ طَرَفُهُ بِيَدِ اللهِ وَ طَرَفُهُ بِـاَيـْدِيْكُمْ. فَـتَـمَسَّكُـوْا بِهِ، فَاِنَّـكُمْ لَنْ تَـهْـلَـكُـوْا وَ لَنْ تَضِلُّـوْا بَـعْدَهُ اَبـَدًا. البزار و الطبرانى

Dari Jubair bin Muth’im RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Hendaklah kamu sekalian bergembira, karena sesungguhnya Al-Qur’an ini ujungnya berada ditangan Allah sedang ujungnya yang lain ditangan kamu sekalian. Oleh sebab itu hendaklah kalian berpegang teguh kepadanya, maka  sungguh kamu sekalian tidak akan binasa dan tidak pula akan sesat sesudah itu selama-lamanya”. [HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabarani]

عَنْ حُذَيـْفَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: دُوْرُوْا مَعَ كِـتَابِ اللهِ حَـيْـثُمَا دَارَ. الحاكم

Dari Hudzaifah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda : “Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah kemana saja ia beredar”. [HR. Al-Hakim]

عَنْ اَبِى هُرَيـْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: دَعُوْنــِى مَا تَـرَكْـتُكُمْ، اِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَـبْلَكُمْ بِـسُؤَالـِهِمْ وَ اخْتِلاَفِـهِمْ عَلَى اَنـــْبِـيَائِـهِمْ. فَاِذَا نَـهـَيْـتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَـنِـبُوْهُ، وَ اِذَا اَمَرْتُكُمْ بِـاَمْرٍ فَـأْتُـوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَـعْتُمْ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW beliau bersabda : “Biarkanlah saya memberikan apa-apa yang kutinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian disebabkan tuntutan mereka dan penentangannya kepada Nabi-nabi mereka. Karena itu apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah dia, dan apabila aku memerintahkan sesuatu perkara kepada kalian, maka laksanakanlah perintah itu dengan semaksimal mungkin. [HR. Bukhari]

عَنْ اَبِى هُرَيـْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: كُلُّ اُمـَّتِى يَدْخُلُـوْنَ اْلجَـنَّةَ اِلاَّ مَنْ اَبـَى. قَالُـوْا يـَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَنْ يَـأْبـَى؟ قَالَ: مَنْ اَطَاعَنِى دَخَلَ اْلجَـنَّةَ وَ مَنْ عَصَانِى فَـقَدْ اَبـَى. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Semua ummatku akan masuk surga, kecuali orang yang tidak mau”. Para shahabat bertanya : “Ya Rasulullah siapa orang yang tidak mau (masuk surga) itu ?”. Beliau SAW bersabda : “Barangsiapa yang tha’at kepadaku, niscaya ia masuk surga dan barangsiapa yang bermakshiyat kepadaku, sungguh ia telah menolak untuk masuk surga”. [HR. Bukhari]