Archive | July 2015

HASIL ZAKAT FITRI / MAL 1436 H

Dengan ini Panitia Zakat Fitri, Zakat Mal dan Buka Bersama Masjid As-Sunnah Buntok melaporkan hasil kegiatan selama ramadhan 1436 Hijriyah terhitung 18 Juni sampai 16 Juli 2015 sebagai berikut:

Zakat Fitri dalam bentuk beras 462,5 kg

Uang Rp 2.857.000,-

Zakat Mal / Sedekah Rp 1.450.000,-

Buka Puasa Bersama Rp 18.100.000,-

.

46f6a-dsc00007Seluruh hasil telah dimanfaatkan dan didistribusikan sebagai mana mestinya. Rincian penerimaan dan pemanfaatan bisa dicek dengan Panitia yakni Abdul Wahab, Maidi atau Guru Ardisen, S.Pd di masjid As-Sunnah, Jalan Pembangunan Buntok.

.

Atas nama jamaah As-Sunnah Buntok mengucapkan terima kasih atas bantuan berupa ZIS dan buka puasa bersama selama bulan ramadhan 1436 hijriyah. Somoga segala amal yang dilakukan memperoleh limpahan pahala dari Allah Sub-hanahu wa Ta’ala, amin.

.

Advertisements

UCAPAN TERIMA KASIH ATAS BANTUAN BUKA PUASA BERSAMA

Atas nama jamaah As-Sunnah Buntok kami mengucapkan terima kasih atas bantuan buka puasa bersama selama bulan ramadhan 1436 hijriyah. Somoga segala amal yang dilakukan memperoleh limpahan pahala dari Allah Sub-hanahu wa Ta’ala, amin.
.
Disamping menerima bantuan dari jamaah dan simpatisan, telah diterima pula bantuan uang dan buah kurma dari luar daerah. Bantuan uang diantaranya diterima dari Pemerintah Arab Saudi melalui mahasiswa LIPIA Jakarta bernama Zikron yang selama satu bulan ramadhan ikut berdakwah di Buntok.
.

PEMAKAMAN MERTUA GURU ARDISEN, SPd

Dalam ramadhan 1436 Hijriyah, pada ahad ba’da Magrib tanggal 12 Juli 2015, ibu mertua Haji Ardisen dibawa ke rumah sakit Jaraga Sasameh Buntok karena kondisi kesehatan beliau sangat menurun. Setelah mengalami perawatan maka sekitar pukul 23.00 WIB beliau meninggal dunia.   انا لله وانا اليه راجعون
.
Setelah shalat Dhuhur hari Senin tanggal 13 Juli 2015 / 26 Ramadhan 1436 jenazah disholatkan di masjid As-Sunnah Buntok.
.
Selanjutnya jenazah dimakamkan di Pemakaman Jamaah As-Sunnah Buntok di Jalan Simun Raya, Sababilah. 
.
Teriring doa kepada Allah kiranya segala amal ibadah beliau diterima, kesalahannya diampuni dan keluarga yang ditinggalkan memperoleh rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Belas Kasih, amin.

TAUSIYAH BA’DA SHUBUH RAMADHAN KE-18 AHAD 5 JULI 2015 “TAFSIR SURAH AL BAQARAH AYAT 14” OLEH USTADZ SUNARDI

Surat Al-Baqarah ayat 14

.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.(QS.2:14)

.

Ayat-ayat diatas masih menyinggung masalah orang-orang Munafiq dan kondisi mereka:
(14). Bahwa mereka, lantaran kemunafikan dan kebusukan (hati) mereka; bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman di suatu tempat, mereka memberitahu mereka bahwa mereka beriman kepada Allah dan Rasul serta agama yang dibawa oleh beliau (Ays), (dan apabila mereka kembali) kepada pemimpin-pemimpin mereka yang selalu merencanakan kejahatan kedalam kekufuran; (mereka mengatakan: ‘sesungguhnya kami sependirian dengan kamu…’); konsekuen dalam kekufuran (…kami hanyalah berolok-olok) terhadap orang-orang yang beriman dalam sikap sependirian kami tersebut padahal dalam bathin kami sama sekali tidak sependirian dengan mereka, ataupun kecenderungan kepada mereka (Zub).
.
TAFSIR 
.
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا
.
Allah Ta’ala berfirman, jika orang-orang munafik itu bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Kemudian mereka menampakkan keimanan, perwalian, dan keakraban sebagai tipuan bagi orang-orang mukmin, dan sebagai kemunafikan, kepura-puraan, serta taqiyyah agar mereka mendapatkan kebaikan dan pembagian ghanimah (harta rampasan perang).
.
Î وَإِذَا خَلَوْإِلىَ شَيَاطِينِهِمْ Ï “Dan jika mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka.” Maksudnya, jika mereka kembali dan bergabung dengan syaitan-syaitan (para pemimpin) mereka.
.
Lafadz “خَلَـوْا” mengandung makna “اِنْصَـرَفُـوا” (kembali), karena ia muda’addi dengan huruf “إِلَى” untuk menunjukkan fi’il (kata kerja) yang tersembunyi (samar) dan yang jelas disebutkan.
.
As-Suddi menceritakan, dari Abu Malik, “خَلَوْ” berarti pergi, dan kata “شَـيَاطِيْـنِهِمْ” berarti orang-orang terhormat, para pembesar dan pemimpin mereka, dari para pendeta orang-orang Yahudi dan para pemuka orang-orang musyrik dan munafik.
.
Dan firman-Nya, Î قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ Ï “Mereka berkata: Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian.” Mengenai ayat ini, Muhammad bin Ishak, dari Ibnu Abbas mengatakan: “Artinya kami sejalan dengan kalian.”
.
Firman-Nya, Î إِنَّمَا نَحْـنُ مُسْتَهْزِءُونَ Ï “Sebenarnya kami hanya mengolok-olok.” Maksudnya, sesungguhnya kami (orang munafik) hanya memperolok dan mempermainkan kaum (mukminin) itu. Ad-Dhahhak berpendapat, dari Ibnu Abbas, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya memperolok-olok dan mencela sahabat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Hal yang senada juga dilontarkan oleh ar-Rabi’ bin Anas dan Qatadah.
.
Kemudian Allah Ta’ala memberikan jawaban serta menanggapi perbuatan mereka itu dengan berfirman, Î اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ Ï “Allah akan (membalas) mengolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.”
.
Ibnu Jarir mengatakan, Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia akan melakukan hal tersebut pada hari kiamat kelak melalui firman-Nya:
.
Ïيَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَآءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ Î
.
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.’ Dikatakan (kepada mereka): ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Hadiid:13)
.
Dan juga firman-Nya:
.
Î وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لأَنفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا Ï
.
“Dan jangan-lah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka.” (QS. Ali-Imran: 178)
Ibnu Jarir mengatakan, demikian itulah olok-olok, celaan, makar, dan tipu daya Allah Ta’ala terhadap orang-orang munafik dan orang-orang musyrik. Menurut orang yang menafsirkan ayat ini dengan pengertian tersebut.
.
Ibnu Jarir menceritakan, sebagian ulama yang lainnya mengatakan, olok-olok, celaan, dan hinaan dilontarkan Allah Ta’ala disebabkan berbagai kemaksiatan dan kekufuran yang mereka lakukan.
.
Masih menurut Ibnu Jarir, terdapat pendapat lain lagi bahwa, hal seperti itu dan yang semisal merupakan jawaban, sebagaimana ucapan seseorang kepada orang yang menipunya jika ia berhasil mengalahkannya, “Akulah yang menipumu.”
.
Hal itu bukan merupakan tipu daya dari-Nya, namun Dia mengatakan seperti itu jika hal itu (tipuan) ditujukan kepadanya. sebagaimana firman-Nya: Î وَ مَكَرُوا وَمَكَرَ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ Ï “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali-Imran: 54)
.
Dan juga firman-Nya, Î وَ اللهُ يَسْتَزِئُ بِهِمْÏ “Allah akan (membalas) mengolok-olok mereka.” Bahwasanya hal ini merupakan jawaban balasan, karena tidak ada makar dan olok-olok dari Allah Ta’ala. Artinya, bahwa makar dan olok-olok mereka itu justru menimpa diri mereka sendiri. Ada juga yang mengatakan, firman Allah Ta’ala berikut ini: Î إِنَّمَا نَحْنُ مُسْـتَهْزِءُونَ اللَّهُ يَسْـتَهْزِئُ بِهِمْ Ï “Sebenarnya kami hanya mengolok-olok. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka.”
Juga firman-Nya: Î يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ Ï “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka itu.” (QS. An-Nisa’: 142)
.
Demikian halnya firman-Nya: Î فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللهُ مِنْهُمْ Ï “Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu.” (QS. At-Taubah: 79)
.
Serta firman-Nya: Î نَسُوا اللهَ فَنَسِيَهُمْ Ï “Mereka melupakan Allah, maka Allah juga melupakan mereka.” (QS. At-Taubah: 67)
.
Juga firman-firman-Nya yang semisal itu merupakan bentuk pemberitahuan dari Allah bahwa Dia akan memberikan balasan atas perolokan yang mereka lakukan serta menyiksa mereka akibat tipu daya mereka. Dia menyampaikan pemberitahuan mengenai pembalasan-Nya serta pemberian siksaan kepada mereka, bersamaan dengan pemberitahuan mengenai perbuatan mereka yang memang berhak mendapatkan balasan dan siksaan. Sebagaimana firman-Nya: Î وَجَزَاؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ Ï “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema’afkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
.
Demikian juga firman-Nya: Î فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْـهِ Ï “Oleh sebab itu, barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah ia.” (QS. Al-Baqarah: 194)
.
Perlakuan pertama merupakan kezhaliman, sedangkan yang kedua (balasan) merupakan keadilan. Meskipun kedua kata itu sama, namun makna-nya berbeda. Banyak pengertian dalam al-Qur’an semacam itu.
.
Masih menurut Ibnu Jarir, ulama yang lainnya mengatakan, arti semua-nya itu adalah bahwa Allah Ta’ala memberitahukan mengenai orang-orang munafik itu, jika mereka kembali kepada para pemimpin mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami bersama kalian dalam mendustakan Muhammad dan apa yang dibawanya. Dan apa yang kami ucapkan kepada mereka itu sebenarnya hanyalah olok-olok belaka.” Kemudian Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia memperolok-olok mereka, lalu memperlihatkan kepada mereka hukum-hukum-Nya di dunia, berupa keterpeliharaan nyawa dan harta kekayaan mereka, berbeda dengan apa yang akan mereka terima kelak di sisi-Nya di akhirat, yaitu berupa adzab dan siksaan.
.
Setelah itu Ibnu Jarir memperkuat dan mendukung pendapat ini, karena secara ijma’ Allah Mahasuci dari perbuatan makar, tipu daya, kebohongan yang dilakukan dengan tujuan main-main. Sedangkan yang dilakukan-Nya atas dasar hukuman pembalasan dan pemberian imbalan secara adil, maka hal itu tidak mustahil bagi-Nya.
.
Ibnu Jarir menuturkan, hal yang serupa dengan apa yang kami kata-kan adalah apa yang diriwayatkan Abu Kuraib dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah Ta’ala, Î الله يَسْـتَهْزِئُ بِهِـمْ Ï “Allah akan (membalas) mengolok-olok mereka,” ia mengatakan, Allah memperolok mereka itu dengan membalas atas perbuatan mereka sebelumnya.
.
Sedangkan mengenai firman-Nya, Î وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ Ï “Dan mem-biarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” As-Suddi meriwayat-kan, dari Abu Malik, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah al-Hamadani, dari Ibnu Mas’ud, serta dari beberapa orang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Î يَمُدُّهُمْ Ï berarti pemberian tangguh kepada mereka.
.
Mujahid mengatakan, Î يَمُدُّهُـمْ Ï berarti memberi tambahan kepada mereka. Dan sebagian lainnya mengatakan, “Setiap kali mereka melakukan per-buatan dosa, mereka diberi nikmat, yang pada hakikatnya nikmat itu adalah kesengsaraan.”
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
.
Ïفَلَمَّا نَسُوا مَاذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَآأُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ Î
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus-asa. Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 44-45)
.
Ibnu Jarir berpendapat, yang benar adalah “Kami memberikan tambahan kepada mereka dengan membiarkan mereka dalam kesesatan dan kedurhakaan mereka.” Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:
.
Î وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ Ï
.
“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.(QS. Al-An’am: 110)
.
“الـطُّغْيَـانُ” artinya sikap berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu, sebagaimana firman-Nya, Î إِنَّـا لَمَّا طَغَا الْمَآءُ حَمَلْنَاكُمْ فِـي الْجَارِيَةِ Ï “Sesungguhnya Kami, tatkala air telah meluap (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang)-mu ke dalam bahtera.” (QS. Al-Haaqqah: 11)
.
Adh-Dhahhak menceritakan dari Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan Î فِى طُغْيَانِهِمْ تَعْمَهُونَ Ï, maksudnya adalah, dalam kekufurannya, mereka terombang-ambing. Demikian pula as-Suddi (dengan sanadnya yang berasal dari sahabat) menafsirkan ayat ini.
.
Ibnu Jarir berkata “الْـعَمَهُ” adalah kesesatan. Jika dikatakan “عَمِهَ فَـلاَنٌ، يَعْمَهُ، عَمَهًا، وَعُمُوهًأ” maksudnya adalah bahwa telah tersesat. Ibnu Jarir berkata: “Makna firman-Nya, Î فِـي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُـونَ Ï, adalah dalam kesesatan mereka dan kekafiran mereka, mereka terombang-ambing, bingung dan sesat, tidak menemukan jalan keluar, karena Allah Ta’ala telah mengunci-mati hati mereka dan mengecapnya, juga membutakan pandangan mereka dari petunjuk sehingga tertutup pandangan mereka, mereka tidak dapat melihat petunjuk dan tidak dapat menemukan jalan keluar.
.
Sedangkan menurut sebagian ulama, “الْـعُزْىُ” digunakan pada mata, sedangkan “الْـعَمَهُ” (bingung) pada hati, namun “الْعَمَـى” (buta) digunakan juga pada hati. Allah Ta’ala berfirman: Î فَإِنَّهَا لاَتَعْمَى اْلأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ Ï “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46). Jika dikatakan “عَمِهَ الرَّجُلُ” (artinya lelaki itu pergi tanpa mengetahui tujuan), bentuk mudharinya: “يَعْمَهُ”, bentuk masdharnya: “عَمُوهًا”, bentuk isim fa’ilnya: “عَمِهٌ” dan “عَامِهٌ”. Jika dikatakan: “ذَهَبَتْ إِبْلُهُ الْعَمْهَاءُ”, maksudnya adalah: “Jika untanya tidak diketahui ke mana peginya.”
.
أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرُوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُواْ مُهْتَدِينَ
.
Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah ber-untung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS. 2:16)
.
Mengenai firman-Nya, Î أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوا الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى Ï “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk,” dalam tafsirnya, as-Suddi, dari Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam , mengatakan: “Mereka mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk.”
.
Ibnu Ishak mengatakan, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya ini: “Artinya membeli kekufuran dengan keimanan.”
.
Kesimpulan dari pendapat para mufassir di atas, bahwa orang-orang munafik itu menyimpang dari petunjuk dan mengambil kesesatan. Dan itulah makna firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, Î أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْـتَرَوا الضَّـلاَلَةَ بِالْهُدَى Ï “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk.” Artinya mereka menjual petunjuk untuk mendapatkan kesesatan, hal itu berlaku sama pada orang yang pernah beriman lalu kembali kepada kekufuran, sebagaimana firman-Nya: Î ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ ءَ امَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ Ï “Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati.” (QS. Al-Munafiqun: 3) Artinya, mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk, sebagaimana keadaan kelompok lain dari orang-orang munafik, di mana mereka terdiri dari beberapa macam dan bagian. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman, Î فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ Ï “Maka tidak-lah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” Maksudnya, perniagaan yang mereka lakukan itu tidak mendapatkan keuntungan dan tidak pula mereka mendapatkan petunjuk pada apa yang mereka lakukan.
.
Ibnu Jarir dari Qatadah, mengenai firman-Nya,
.
Î فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ Ï “Maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk,” mengatakan: “Demi Allah kalian telah menyaksikan mereka telah keluar dari petunjuk menuju kepada kesesatan, dari persatuan menuju kepada perpecahan, dari rasa aman menuju kepada ketakutan, dari sunnah menuju bid’ah”. Demikian pula hao yang sama di-riwayatkan Ibnu Abi Hatim, dari Yazid bin Zurai’, dari Sa’id, dari Qatadah.
.
Sumber: Diadaptasi dari Tafsir Ibnu Katsir, penyusun Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ishak Ali As-Syeikh, penterjemah Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, dkk. (Pustaka Imam As-Syafi’i)
.
CATATAN:
Resume ini tidak sama persis dengan keseluruhan isi tausiyah namun diharapkan mampu mewakili apa yang disampaikan. Tulisan ini tersaji sesuai kemampuan yang ada. 

Tausiyah Ramadhan Ba’da Witir Sabtu 4 Juli 2015 “Tafsir Surat Al Baqarah ayat 12″ oleh Ustadz Sunardi

Allah berfirman: 
.
أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ المُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُوْنَ (12)
.
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”(QS. Al Baqarah: 12)
MAKNA AYAT SECARA UMUM
Allah Subhanahu Wata’ala memberitahukan tentang salah satu karakter orang-orang munafik, bahwa ketika ada orang yang beriman berkata kepada mereka : “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi, dengan melakukan kemunafikan dan bersifat loyal terhadap orang-orang Yahudi dan orang-orang Kafir.” Maka mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanya ingin melakukan dan membuat perbaikan.” Maka Allah Subhanahu Wata’ala menampik pengakuan bohong mereka itu dan menegaskan bahwasanya merekalah yang sesungguhnya membuat kerusakan, bukan orang-orang yang beriman, yang berani menentang mereka. Akan tetapi sayang sekali, orang-orang munafik tidak menyadari hal itu dikarenakan kekafiran mereka yang sudah menguasai hati sanubari mereka. Allah Subhanahu Wata’ala juga memberitahukan bahwa ketika ada orang beriman yang menasehati mereka dan mengatakan, “Teguhkanlah iman kalian, dan berimanlah sebagaimana si Fulan dan si Fulan seperti Abdullah bin Salam.” Maka mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh yang tak punya pikiran dan yang tak tahu jalan itu.?” Maka Allah Subhanahu Wata’ala menjawab kebohongan mereka itu, dan menegaskan bahwa orang-orang yang munafik itulah yang sebenarnya bodoh bahkan tak berilmu.
.
Abu Ja’far ath-Thabari meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Anas dari Abut `Aliyah tentang firman Allah: “Dan apabila dikatakan kepada merek janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Ia mengatakan. “Janganlah kalian berbuat maksiat di muka bumi ini. Dan kerusakan yang mereka perbuat itu adalah kemaksiatan kepada Allah. Karena orang yang berbuat maksiat kepada Allah atau menyuruh berbuat maksiat kepada-Nya berarti ia telah berbuat kerusakan di muka bumi Alasan lain, karena perbaikan langit dan bumi dilakukan dengan ketaatan.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim I/50)
.
Yang dimaksud pada ayat ini adalah: Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi dengan kemunafikan, berteman akrab dengan orang-orang kafir, serta menjauhkan manusia dari beriman kepada Muhammad SAW dan Al Qur’an. Karena bila kalian melakukan itu, maka akan rusaklah apa yang ada di bumi karena binasanya tubuh, hancurnya bangunan, dan rusaknya tanaman, sebagaimana yang dapat disaksikan saat berkecamuknya kekacauan dan Pertikaian. (Fathul Qadir I/169)

.

Yaitu apabila mereka (orang-orang munafiq) dilarang merusak di atas bumi yaitu perbuatan kekufuran dan kemaksiatan, dan di antara perbuatan itu adalah menyebarluaskan rahasia-rahasia kaum mukminin kepada musuh-musuh mereka dan loyalitas mereka terhadap orang-orang kafir, “Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” Ayat selanjutnya, “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan” karena tidak ada yang paling besar pengrusakannya daripada orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, menghalangi dari jalan Allah, mendustai Allah dan wali-waliNya, dan mencintai orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, (Tafsir As-Sa’di, I/74-75)

.

Mereka mengatakan seperti itu (seperti dalam ayat) karena kerusakan yang mereka timbulkan adalah kebaikan menurut mereka. Artinya: Sesungguhnya tujuan kami berteman dengan orang-orang kafir adalah untuk memperbaiki hubungan antara mereka dan orang-orang yang beriman. Ini disampaikan oleh Ibnu Abbas dan lainnya. (Tafsir Al Qurthubi I).
.
bnu Jarir berkata: “Orang-orang munafik (berdasarkan ayat di atas) adalah pembuat kerusakan di muka bumi, yaitu dengan berbuat maksiat kepada Allah, melanggar larangan-Nya, serta menyia-nyiakan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka. Juga dengan keraguan terhadap agama Allah, padahal amal seseorang tidak akan diterima kecuali dengan membenarkan dan meyakini hakikatnya.. Mereka pun menipu kaum mukminin dengan pengakuan palsu sementara mereka tetap berada dalam keraguan dan kebimbangan. Mereka mendukung orang-orang yang mendustakan Allah, Kitab- Kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya dalam mei awan kekasih-kekasih Nya, setiap kali ada jalan dan kesempatan. Itulah kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang munafik di muka bumi. Dengan per-buatan tersebut, mereka menyangka telah melakukan perbaikan di muka bumi.” (Tafsir Ath Thabari I/289)
.
Inipula yang dikatakan oleh Hasan bahwa di antara bentuk kerusakan yang dilakukan di muka bumi adalah kaum mukminin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali-wali (pemimpin atau pelindung, sebagaimana Allah & berfirman:

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindunug bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 73)

.
CATATAN:
Resume ini tidak sama persis dengan keseluruhan isi tausiyah namun diharapkan mampu mewakili apa yang disampaikan. Tulisan ini tersaji sesuai kemampuan yang ada. 


Tausiyah Ramadhan Ba’da Subuh Sabtu 4 Juli 2015 “Tafsir Surat Al Baqarah ayat 11″ oleh Ustadz Sunardi

Allah berfirman: 
.
 وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَآ تُفْسِدُوْا فِى اْلْأَرْضِ قَالُوْا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ (11)
.
Dan bila dikatakan kepada mereka, ’Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami  adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al Baqarah: 11)
PENJELASAN KATA
-Al-Fasaad fil Ardhi : Kerusakan di muka bumi adalah kekafiran dan kemaksiatan yang dilakukan di atas bumi.
.
-Al-Ishlaah fil Ardhi : Maksud membuat perbaikan di bumi adalah dengan beriman secara benar, beramal shaleh dan meninggalkan perbuatan syirik dan maksiat.
.
MAKNA AYAT SECARA UMUM
Allah Subhanahu Wata’ala memberitahukan tentang salah satu karakter orang-orang munafik, bahwa ketika ada orang yang beriman berkata kepada mereka : “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi, dengan melakukan kemunafikan dan bersifat loyal terhadap orang-orang Yahudi dan orang-orang Kafir.” Maka mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanya ingin melakukan dan membuat perbaikan.” Maka Allah Subhanahu Wata’ala menampik pengakuan bohong mereka itu dan menegaskan bahwasanya merekalah yang sesungguhnya membuat kerusakan, bukan orang-orang yang beriman yang menentang mereka. Akan tetapi sayang sekali, orang-orang munafik tidak menyadari hal itu dikarenakan kekafiran mereka yang sudah menguasai hati sanubari mereka.
.
Allah Subhanahu Wata’ala juga memberitahukan bahwa ketika ada orang beriman yang menasehati mereka dan mengatakan, “Teguhkanlah iman kalian, dan berimanlah sebagaimana si Fulan dan si Fulan seperti Abdullah bin Salam.” Maka mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh yang tak punya pikiran dan yang tak tahu jalan itu.?” Maka Allah Subhanahu Wata’ala menjawab kebohongan mereka itu, dan menegaskan bahwa orang-orang yang munafik itulah yang sebenarnya bodoh bahkan tak berilmu.
.
PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL
  1. Mencela pengakuan yang dusta, yang biasanya merupakan karakter orang-orang Munafik.
  2. Membuat perbaikan di bumi adalah dengan beramal, berupa ta’at kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya. Sedangkan membuat kerusakan di bumi yaitu dengan durhaka kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
  3. Orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, biasanya melegitimasi perbuatannya itu dengan alasan bahwa mereka hanyalah membangun (memperbaiki), bukan merusak.[]

TAFSIR
Dalam tafsirnya, as-Suddi menceritakan, dari Abu Malik dan dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dari Murrah ath-Thabib al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud, dari beberapa sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mengenai firman Allah Ta’ala:

.
Î وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ Ï  

.
“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” ia mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang munafik. Sedangkan kerusakan yang dimaksud adalah kekufuran dan kemaksiatan.”
.
Mengenai firman-Nya, Î وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِÏ Dan jika dikata-kan kepada mereka: “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi,” Abu Ja’far menceritakan, dari ar-Rabi’ bin Anas, dari Abu al-’Aliyah, ia mengatakan: “Artinya, janganlah kalian berbuat maksiat di muka bumi ini. Kerusakan yang mereka buat itu berupa kemaksiatan kepada Allah, karena barangsiapa yang berbuat maksiat kepada Allah atau memerintahkan orang lain untuk bermaksiat kepada-Nya, maka ia telah berbuat kerusakan di bumi, karena kemaslahatan langit dan bumi ini terletak pada ketaatan.”
.
Hal senada juga dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan Ibnu Juraij, dari Mujahid, mengenai firman-Nya, Î وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ Ï Dan jika dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi,” ia mengatakan: Mereka sedang berbuat maksiat kepada Allah, lalu dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan ini dan itu.” Maka mereka pun menjawab, “Sesungguhnya kami berada pada jalan hidayah dan kami pun sebagai orang yang mengadakan perbaikan.”
.
Ibnu Jarir mengatakan, dengan demikian, orang-orang munafik itu me-mang pelaku kerusakan di muka bumi ini, dengan bermaksiat kepada Allah melanggar larangan-Nya serta mengabaikan kewajiban yang dilimpahkan kepadanya. Mereka ragu terhadap agama Allah di mana seseorang tidak diterima amalnya kecuali dengan membenarkannya dan meyakini hakikatnya. Mereka juga mendustai orang-orang mukmin melalui pengakuan kosong mereka, padahal keyakinan mereka dipenuhi oleh kebimbangan dan keraguan. Serta dukungan dan bantuan mereka terhadap orang-orang yang mendustakan Allah, kitab-kitab, dan rasul-rasul-Nya atas para wali Allah jika mereka mendapatkan jalan untuk itu.
.
Demikian itulah kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang munafik di muka bumi ini, sementara mereka mengira telah mengadakan perbaikan di muka bumi. Al-Hasan Bashri mengatakan, di antara bentuk kerusakan yang dilakukan di muka bumi ini adalah mengangkat orang kafir sebagai wali-wali (pemimpin atau pelindung), sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala:

.
Î وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ Ï

.
“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain. Jika kalian (wahai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73)
.
Dengan demikian, Allah telah memutuskan perwalian di antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya:
.

Ïيَاأَيُّهَا الَّذِيـنَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْكَافِرِيـنَ أَوْلِيَـآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِيـنَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُـوا للهِ عَلَيْكُمْ سُـلْطَانًا مُّبِيـنًا Î

.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali/pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian).” (QS. An-Nisa’: 144)
.
Kemudian Dia berfirman:

.
Î إِنَّ الْمُنَافِقِيـنَ فِـي الدَّرْكِ اْلأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا Ï 
.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada di tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kalian sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 145)
.
Dengan keadaannya (orang-orang munafik) yang secara lahiriyah adalah beriman, sehingga keadaannya sangat membingungkan orang-orang mukmin. Seolah-olah kerusakan itu adanya dari arah orang munafik itu berada, karena ialah yang menipu orang-orang mukmin melalui ucapannya yang sama sekali tidak benar serta menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin bagi orang-orang mukmin. Kalau saja perbuatan mereka merupakan sebatas yang pertama (yaitu sebagai orang kafir) masih lebih ringan kejahatannya. Andai saja ia ikhlas beramal karena Allah Ta’ala serta menyesuaikan ucapannya dengan perbuatannya, niscaya ia akan benar-benar beruntung. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: Î وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ Ï Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Artinya, kami ingin mendekati kedua belah pihak baik kaum beriman maupun kaum kafir dan kami berdamai dengan keduanya.
.
Kemudian Dia berfirman, Î أَلاَ إِنَّهُم هُمُ الْمُفِسِدُونَ وَلَكِن لاَّ يَشْعُرُونَ Ï “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” Melalui ayat tersebut Allah Ta’ala memberitahukan, “Ketahuilah bahwa yang mereka akui sebagai perbaikan itu adalah kerusakan itu sendiri, namun karena kebodohan mereka, mereka tidak menyadari bahwa hal itu sebagai kerusakan.”
.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُواْ أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاء أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاء وَلَـكِن لاَّ يَعْلَمُونَ

.
Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami se-bagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman”. Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. 2:13)
.
Allah Ta’ala berfirman, apabila dikatakan kepada orang-orang munafik, Î ءَامِنُوا كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ Ï “Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang beriman,” yakni seperti keimanan manusia kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, adanya kebangkitan setelah kematian, surga, neraka, dan lain-lainnya yang telah diberitahukan kepada orang-orang yang beriman. Dan juga dikatakan, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.” Maka mereka pun mengatakan, Î أَنُؤْمِنُ كَمَاءَامَنَ السُّفَهَاءُ Ï “Apakah kami harus beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh telah beriman.” Yang mereka maksudkan di sini adalah para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian menurut pendapat Abu al-’Aliyah, as-Suddi dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud serta beberapa orang sahabat. Hal yang sama juga dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Anas, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan lain-lainnya.
.
Orang-orang munafik itu mengatakan, “Apakah kami dan mereka harus berada dalam satu kedudukan, sementara mereka adalah orang-orang bodoh?” kata “السَّفَهَاءُ” adalah jamak dari “سَـفِيْهُ”, seperti kata “الْحُكَمَـاءُ” adalah jamak dari “حَكِيـمُ”. Makna sufaha adalah bodoh dan karena kurang (lemah) pemikirannya dan sedikit pengetahuannya tentang hal-hal yang bermaslahat dan bermudharat.
.
Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memberikan jawaban mengenai semua hal yang berkenaan dengan itu kepada mereka melalui firman-Nya, Î أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ Ï “Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh.” Dan Dia menegaskan kebodohan mereka itu dengan firman-Nya, Î وَلَكِن لاَيَعْلَمُونَ Ï “Tetapi mereka tidak mengetahui.” Artinya, di antara kelengkapan dari kebodohan mereka itu adalah mereka tidak mengetahui bahwa mereka berada dalam kesesatan dan kebodohan. Dan yang demikian itu lebih menghinakan bagi mereka dan lebih menunjukan mereka berada dalam kebutaan dan jauh dari petunjuk.
.

..:: WALLAHU A’LAM ::..
.
CATATAN:
Resume ini tidak sama persis dengan keseluruhan isi tausiyah namun diharapkan mampu mewakili apa yang disampaikan. Tulisan ini tersaji sesuai kemampuan yang ada. 
.
Penjelasan diatas diambil dari  

Tausiyah Qiyamu Ramadhan Jum’at Malam 3 Juli 2015 “Tafsir Surat Al Baqarah ayat 10″ oleh Ustadz Sunardi

Allah Sub-hanahu wa Taala berfirman:

.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

.
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al Baqarah ayat 10)
.
Tafsir
Mengenai Firman-Nya,  فِي قُلُوبِهِم مَّـرَضٌ “Di dalam hati mereka ada penyakit,” as-Suddi menceritakan, dari Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan: “Yaitu keraguan, lalu Allah menambah keraguan itu dengan keraguan lagi”.
.

Menurut Ikrimah dan Thawus, “Di dalam hati mereka ada penyakit, yaitu riya.”
.
Sedangkan mengenai firman-Nya,  بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ  “Disebabkan mereka berdusta.” Ada yang membaca “يُكَذِّبُوْنَ”. Mereka menyandang sifat ragu dan riya’. Sungguh mereka berdusta dan bahkan mereka mendustakan hal-hal yang ghaib.
.

Tafsir Jalalain

.

{ فِى قُلُوبِهِمْ مَّرَضٌ } شك ونفاق فهو يُمْرِضُ قلوبهم أي يضعفها { فَزَادَهُمُ الله مَرَضًا } بما أنزله من القرآن لكفرهم به { وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ } مؤلم { بِمَا كَانُواْ يَكْذِّبُونَ } بالتشديد أي نبي الله وبالتخفيف أي في قولهم آمنا .

.

  1. (Dalam hati mereka ada penyakit) berupa keragu-raguan dan kemunafikan yang menyebabkan sakit atau lemahnya hati mereka. (Lalu ditambah Allah penyakit mereka) dengan menurunkan Alquran yang mereka ingkari itu. (Dan bagi mereka siksa yang pedih) yang menyakitkan (disebabkan kedustaan mereka.) Yukadzdzibuuna dibaca pakai tasydid, artinya amat mendustakan, yakni terhadap Nabi Allah dan tanpa tasydid ‘yakdzibuuna’ yang berarti berdusta, yakni dengan mengakui beriman padahal tidak.

.

Tafsir Lain

Ayat 10 : فىِ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ : dalam hati mereka ada penyakit.المرض maksudnya kerusakan yang terjadi pada ‘aqidah mereka baik disebabkan oleh keraguan dan kenifakan, ataupun oleh keingkaran dan pembangkangan dan pendustaan.(Ays)

.
فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا : lalu di tambah Allah penyakitnya; hal itu selalu terjadi begitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan nikmat-nikmat dan anugerah-anugerah dari Allah baik yang bersifat duniawi maupun agamawi. Lantaran itulah mereka selalu diuji dengan keraguan yang selalu bertambah, penyesalan yang selalu menyertai, dan kenifakan yang selalu berlebih-lebihan.(Ays).

وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ dan bagi mereka siksa yang pedih berupa siksaan yang sangat menyakitkan. (Ays).

بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ : di sebabkan mereka berdusta; maksudnya dalam pengakuan keimanan mereka padahal mereka bukan termasuk orang-orang beriman (Ays).

.

Petunjuk Ayat
Ini peringatan terhadap perbuatan dusta, nifaq dan menipu, bahwa perbuatan menipu akan menjadi bumerang bagi pelakunya sendiri sebagaimana halnya kejahatan hanya akan melahirkan kejahatan yang sepertinya pula.

.
Terdapat Qira’at dalam ayat وما يخدعون di mana Imam Nafi’ dan Jumhur membacanya dengan وما يخادعون dengan tambahan alif setelah huruf kha’ sedangkan Imam Hafsh membacanya dengan يخْدعون dengan men-sukunkan (mematikan harakat) huruf kha’.

.

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺃﺳﻠﻢ : ) ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻣﺮﺽ ( ﻗﺎﻝ : ﻫﺬﺍ ﻣﺮﺽ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻣﺮﺿﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺟﺴﺎﺩ ، ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻘﻮﻥ . ﻭﺍﻟﻤﺮﺽ : ﺍﻟﺸﻚ ﺍﻟﺬﻱ ﺩﺧﻠﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ) ﻓﺰﺍﺩﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺮﺿﺎ ( ﻗﺎﻝ : ﺯﺍﺩﻫﻢ ﺭﺟﺴﺎ ، ﻭﻗﺮﺃ : ) ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻓﺰﺍﺩﺗﻬﻢ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭﻫﻢ ﻳﺴﺘﺒﺸﺮﻭﻥ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻣﺮﺽ ﻓﺰﺍﺩﺗﻬﻢ ﺭﺟﺴﺎ ﺇﻟﻰ ﺭﺟﺴﻬﻢ

.

Kata ‘Abdurrahman bin Zaid, yang dimaksud penyakit dalam hati ini, yaitu ini penyakit dalam agama, bukan dalam badan. Mereka itu orang-orang munafiq.” “fazaadahumu-llohu marodhon” yaitu Alloh tambah kenajisan terhadap hati mereka.. Artinya keburukan mereka ditambah dengan keburukan lagi, kesesatan ditambah dengan kesesatan lagi. Lalu beliau membacakan surat at Taubah ayat 124-125. ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﻌﻤﻞ ، dan balasan itu sesuai dengan jenis amal.

.

CATATAN:

Resume ini tidak sama persis dengan keseluruhan isi tausiyah namun diharapkan mampu mewakili apa yang disampaikan. Tulisan ini tersaji sesuai kemampuan yang ada.  

.

Penjelasan diatas diambil dari

  1. http://darussalam-online.com/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-8-12/
  2. http://ow.ly/KNICZ
  3. ttp://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=8
  4. http://memburu-syurga.blogspot.com/2010/09/tafsir-surah-al-baqarah-ayat-8-10.html