Archive | December 2016

Poin Renungan ba’da Maghrib 31 Desember 2016 di Masjid Polsek Dusun Selatan di Buntok “ITTIBA NABI MENGHADAPI ZAMAN FITNAH”

dsc00009Disampaikan Ustadz Mardhatillah

.

Komitmen, konsisten dan berpegang teguh kepada al Qur`an dan as-Sunnah, serta berjalan di atas manhaj Salafush-Shalih merupakan jalan mencapai kejayaan, keselamatan dan kemenangan di dunia maupun akhirat. Imam Malik telah berkata: “Sunnah Nabi adalah perahu Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya, maka selamat. Dan barangsiapa yang meninggalkannya, maka binasa dan tenggelam”. [Al Hujjah fi Bayan al Mahajjah, Ismail bin Muhammad al Ashbahani, tahqiq Muhammad bin Rabi’ al Madkhali, Cetakan Pertama, Tahun 1411H, Dar ar-Rayah, Riyadh.]
.

Telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits al ‘Irbadh bin Sariyah, yang berbunyi:

.

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

.

“Karena sesungguhnya, barangsiapa yang hidup setelahku dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk konsisten dengan sunnahku dan Sunnah para penggantiku yang berilmu dan beramal (Khulafa’ al Mahdiyyin al Rasyidin). Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Berhati-hatilah terhadap perkara baru yang diada-adakan karena setiap yang baru diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dan selainnya]
.

Syaikh Abdurrazaq al ‘Abad berkata,”‘Keselamatan ketika terjadi perselisihan dan selamat dari fitnah hanya bisa didapatkan dengan berpegang teguh kepada Sunnah Nabi, menjauhi hawa nafsu, perbuatan bi’dah, dan berhukum dengan Sunnah pada dirinya dalam perkara yang ia lakukan dan yang ia tinggalkan, baik berupa gerakan, diam, tegak, duduk dan seluruh sisi kehidupannya. Barangsiapa yang dalam keadaaan demikian, maka insya Allah akan terlindungi dan terjaga dari seluruh kejelekan, bencana dan fitnah. Sedangkan seseorang yang membiarkan dirinya bebas dan membiarkan hawa nafsunya menjadi pengendali dirinya, maka ia telah menjerumuskan dirinya dan orang lain dari kalangan hamba Allah ke dalam kejelekan”.[Sunan Abu Dawud.]

.

Sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud berkata: “Akan muncul perkara musytabihat (samar-samar), maka kalian harus berlaku pelan-pelan. Karena, kamu menjadi pengikut dalam kebaikan, (itu) lebih baik daripada menjadi pemimpin dalam kejelekan”.[A’unul Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud.]
.

Sesungguhnya, seseorang yang mengatasi permasalahan secara tergesa-gesa dan sama sekali tidak mengambil cara perlahan, (berarti ia telah) membuka pintu kelejelekan untuk dirinya dan orang lain, dan (ia) bertanggung jawab atas dosanya dan menuai hasil buruk. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

.

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

.

“Sesungguhnya ada di antara manusia yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejelekan. Dan sesungguhnya, ada di antara manusia yang menjadi kunci pembuka kejelekan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah seseorang yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci pembuka kebaikan melalui tangannya, dan celakalah seseorang yang Allah jadikan kunci pembuka kejelekan melalui tangannya”. [HR Ibnu Majah]

.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat agar kaum Muslimin konsisten bersama jama’ah dan memperingatkannya dari perpecahan. Di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

.

وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

.

“Jama’ah itu rahmat, dan perpecahan itu adzab”. [HR Ahmad, dan Syaikh al Albani dalam Shahihul-Jaami’, no. 3109 mengatakan, hadits ini hasan].

.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

.

لَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

.

“Janganlah berselisih, karena orang-orang sebelum kalian berselisih, lalu binasa” [HR al Bukhari]

.

Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Wallahu a’lam.

.

Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Wallahu a’lam.

Advertisements

RINGKASAN KAJIAN BA’DA MAGHRIB 30 DESEMBER 2016 DI MASJID POLSEK DUSUN SELATAN DI BUNTOK “ITTIBA NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALAM”

dsc00147Penyaji : Ustadz Mardhatillah

.

FIRMAN ALLAH

.

وَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللهِ، …. النساء: 64

.

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seidzin Allah. …[QS. An-Nisaa’ : 64].

.

ITTIBA’

Ittiba secara syariat adalah meneladani dan mencontoh Nabi Shallallahu alaihi wa salam di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan dalam perkara-perkara yang ditinggalkan. Beramal seperti amalan beliau sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan, apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Dan disertai dengan niat dan kehendak padanya.

.

Ittiba’ kepada Nabi dalam keyakinan akan terwujud dengan meyakini apa yang diyakini oleh Nabi sesuai dengan bagaimana beliau meyakininya – apakah merupakan kewajiban, kebid’ahan ataukah merupakan pondasi dasar agama atau yang membatalkannya atau yang merusak kesempurnaannya… dst – dengan alasan karena beliau meyakininya.

.

Ittiba’ kepada Nabi di dalam perkataan akan terwujud dengan melaksanakan kandungan dan makna-makna yang ada padanya. Bukan dengan mengulang-ulang lafadz dan nashnya saja. Sebagai contoh sabda beliau:

.

(( صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي ))

.

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

.

Ittiba’ kepadanya adalah dengan melaksanakan shalat seperti shalat beliau.

.

Sabda beliau :

.

(( لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا ))

.

.

“Janganlah kalian saling hasad dan janganlah kalian berbuat najasy.”

.

Ittiba’ kepadanya adalah dengan meninggalkan hasad dan najasy.

.

Sabda Nabi :

.

(( مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ ))

.

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui kemudian dia menyembunyikannya maka pada hari kiamat dia dikekang dengan tali kekang dari api.”

.

Ittiba’ kepadanya adalah dengan menyebarkan ilmu yang shahih dan bermanfaat serta tidak menyembunyikannya.

 

.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَ الْيَوْمَ اْلا?خِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا. الاحزاب: 21

.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiyamat dan dia banyak menyebut Allah. [QS. Al-Ahzaab : 21]

.

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ تَوَلّ?ى فَمَآ اَرْسَلْن?كَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا. النساء: 80

.

Barangsiapa menta’ati Rasul, sesungguhnya ia telah mentha’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketha’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. [QS. An-Nisaa’ : 80]

.

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَ اللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ(31) قُلْ اَطِيْعُوا اللهَ وَ  الرَّسُوْلَ، فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْك?فِرِيْنَ(32). ال عمران: 31-32

.

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (31)  Katakanlah, “Tha’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (32). [QS. Ali ‘Imraan : 31-32]

.

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ تَوَلّ?ى فَمَآ اَرْسَلْن?كَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا. النساء: 80

.

Barangsiapa yang mentha’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentha’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketha’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. [QS. An-Nisaa’ : 80]

.

SARI KHUTBAH JUM’AT 30 DESEMBER 2016 DI MASJID POLSEK DUSUN SELATAN DI BUNTOK “BAHAYA SOMBONG”

 

dsc00009Oleh Ustadz Mardhatillah

.

Sungguh bahaya sombong itu sangat besar. Banyak orang binasa karenanya. Diantara bahaya sombong adalah dosa pertama yang dilakukan makhluk. Allah Ta’ala berfirman:

.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!,” Maka sujudlah mereka semua kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah/2: 34)

.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

.

Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.  (HR. Muslim).

.

 

Bahaya kesombongan adalah neraka menjadi tempat kembalinya, sebagaimana Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalam firman-Nya:

.

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

.

“Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat kembali bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (Az-Zumar/39:72)

.

Maka sombong hukumnya haram dan dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

.

وَلاَتُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS.  Luqman: 18)

.

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ

.

Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka  akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan). (Hadits Hasan. Riwayat al-Bukhari, Tirmidzi, Ahmad, dan Nu’aim bin Hammad).

.

 

Firman Allah:

.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِىْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ (المؤمن : 60)

.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina. (QS. Lukman :60)

.

MUI Kota Solo Keluarkan Edaran: Haram bagi Muslim Hadiri Open House Natal Walikota


http://www.postmetro.co
Telah menjadi viral di sosmed sebelumnya surat edaran dari Pemerintah Kota Surakarta/Solo yang isinya untuk menghadiri Open House Perayaan Natal di Rumah Dinas Walikota.
.
screenshot-4-bp-blogspot-com-2016-12-21-22-58-34
Menanggapi hal ini, MUI Kota Surakarta cepat bertindak dengan mengeluarkan maklumat yang isinya Haram bagi Muslim untuk menghadiri acara tersebut. Berikut ini isi surat lengkapnya :

KEWAJIBAN SHALAT KEPADA NABI

 

 

100x100-1KHUTBAH PERTAMA

.

ALLAH MEWAJIBKAN

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
.

ا {56}إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً

.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya shalat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalat-lah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS 33 Al Ahzab 56)

.

Dari surah al Ahzab ayat 56 ini dapat diambil pelajaran penting:

  1. Allah azza wa jalla, Rabb yang Maha Tinggi, Maha Perkasa lagi Maha Kuasa mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Nabi Muhammad menempati kedudukan sangat tinggi lagi paling mulia disisi-NYA sehingga Allah shalat kepadanya.
  2. Allah azza wa jalla memerintah kepada para Malaikat untuk juga shalat kepada Nabi-Nya.
  3. Lalu Allah juga mewajibkan kepada semua orang-orang beriman untuk shalat kepada Nabi dan mengucapkan salam penghormatan yang sungguh-sungguh kepadanya.

.

PETUNJUK RASULULLAH

Lalu bagai mana para sahabat menafsirkan atau menyikapi ayat ini? Adakah masing-masing sahabat membuat shalat sesuai kepintaran masing-masing?

.

[1]. Dalil terkuat masalah ini “Dari Ka’ab bin Ujrah radhiallahu ‘anhu, bahwa para sahabat pernah bertanya: ‘Wahai Rasulullah, kami telah tahu cara salam kepadamu, lalu bagaimana kami shalat kepada mu?’  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ucapkanlah:

.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ’”

.

 “Ya Allah berilah shalat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah shalat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia” (riwayat Bukhari no. 3370). [SHAHIH, HR. Bukhari 4/118, 6/27, dan 7/156, Muslim 2/16, Abu Dawud no. 976, 977, 978, At Tirmidzi 1/301-302, An Nasa-i dalam “Sunan” 3/47-58 dan “Amalul Yaum wal Lailah” no 54, Ibnu Majah no. 904, Ahmad 4/243-244, Ibnu Hibban dalam “Shahih” nya no. 900, 1948, 1955, Al Baihaqi dalam “Sunanul Kubra” 2/148 dan yang lainnya]

.

Hadits ini diriwayatkan oleh sekitar 19 ulama hadits. Dari dalil ini dan yang lainnya dapat disimpulkan bahwa shalat kepada Nabi yang diajarkan kepada para sahabat adalah ucapan sholawat.

.

Di antara shalawat lain yang dianjurkan adalah:

[2]. Dari Zaid bin Abdullah berkata bahwa sesungguhnya mereka dianjurkan mengucapkan,

.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ

.

[Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi]” (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 60. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa hadits ini shohih)

.

[3] Dari Ka’ab bin ‘Ujroh, beliau mengatakan,

“Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahui bagaimana kami mengucapkan salam padamu. Lalu bagaimana kami shalat padamu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah,

.

اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

.

[Ya Allah, berilah shalat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia] (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 56. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa sanad hadits ini shohih)

.

[4] Terdapat lafadz shalawat sebagai berikut,

.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

.

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabat Muhammad seperti engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan kerabat Ibrahim.]

.

Dari dalil-dalil ini jelas bahwa shalawat adalah perintah Allah dan para shahabat tidak ada yang menafsir sendiri perintah ini namun meminta / bertanya kepada Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa salam. Teks-teks dari Nabi inilah yang mereka amalkan, bukan bikin sendiri. Buktinya.., tidak ada satu pun dari sahabat Nabi yang menjadi pengarang shalawat.

.

SHALAWAT BUATAN INDONESIA

Walau pun tidak ditemukan teks shalawat karangan para shahabat, tabiin dan tabiut tabiin, sebab mereka tidak berani kecuali atas petunjuk Allah dan Rasul-Nya, namun di Indonesia cukup banyak shalawat buatan sendiri. Misalnya SHALAWAT BADAR yang dikarang oleh KH Ali Mansur dari Banyuwangi (Jawa Timur). Shalawat Badar ditulis tahun 1960, dan mulai terkenal ketika KH Ali Mansur dan pamannya KH Ahmad Qusyairi datang ke Habib Ali bin Abdurrahman al Habsyi, Kwitang, di Jakarta.  Dari sinilah shalawat Badar mulai dikenal luas dan terkenal sampai sekarang.

.

Tahun 2015 MH Ainin Nadjib dan jamaahnya (lihat youtube) membawakan Shalawat Badar dalam lagu Malam Kudus. Ada juga yang membawakannya dengan lagu Iwak Peyek dan lagu Jablay. Maka tidak aneh kalau bulan desember yang sekaligus bulan Maulid (Rabiul Awwal) dirayakan bersama Maulid Nabi dan Natal oleh ummat Islam dan Nashrani dalam satu perayaan.

.

Shalawat terbaru tahun 2016 yang beredar dari Jawa Timur dan asli buatan Indonesia adalah SHALAWAT FULUS dari Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, di Probolinggo. Dengan mengamalkan shalawat ini maka uang kecil bisa dilipat-gandakan menjadi miliaran rupiah.

.

KHUTBAH KEDUA

.

PEMBUKTI IMAN SETIAP MUKMIN

Wajib kita mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada anak-anak kita, istri-istri, kerabat, harta kekayaan dan seluruh manusia. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

.

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya dari kedua orang tuanya, anak-anaknya dan segenap umat manusia.” (HR. Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.70, An-Nasai VIII/114 no.5013, Ibnu Majah I/26 no.67, dan Ahmad III/177 no.12837)

.

Allah juga mengancam siapa saja yang mencintai seseorang, baik itu orang tuanya, anak-anaknya, istrinya, kerabatnya, harta benda atau tempat tinggalnya melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya. Allah ta’ala berfirman:

.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

.

Katakanlah: “Jika ayah kamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, bisnis yang kamu khawatir kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).

.

Jelas bahwa shalawat adalah satu bukti iman setiap mukmin. Kecintaan ini adalah perintah Allah.

.

FITNAH KUBUR

Sosok Nabi Muhammad adalah persoalan semua manusia di alam kubur. Semua insan akan dipersoalkan di alam kuburnya tentang Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.

.

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض اَنَّهُ حَدَّثَهُمْ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّ اْلعَبْدَ اِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَ تَوَلَّى عَنْهُ اَصْحَابُهُ وَ اِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ اَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هذَا الرَّجُلِ لِمُحَمَّدٍ ص؟ فَاَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. فَيُقَالُ لَهُ: اُنْظُرْ اِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ اَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ اْلجَنَّةِ.فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا.قَالَ وَاَمَّا اْلمُنَافِقُ وَاْلكَافِرُ فَيُقَالُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ اَدْرِى، كُنْتُ اَقُوْلُ مَا يَقُوْلُ النَّاسُ. فَيُقَالُ: لاَ دَرَيْتَ وَ لاَ تَلَيْتَ؟ وَ يُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيْدٍ ضَرْبَةً فَيَصِيْحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيْهِ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ. البخارى 2: 102

.

Dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya apabila manusia diletakkan dalam quburnya, setelah teman-temannya berpaling dan pergi hingga ia mendengar suara sandal mereka, lalu datanglah kedua malaikat, mendudukkannya dan bertanya kepadanya, “Apa yang dahulu kamu katakan (ketika di dunia) tentang laki-laki ini, yaitu Muhammad SAW ?”. Adapun orang mukmin, maka ia menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga”. Maka ia melihat keduanya. Adapun orang munafiq dan kafir ketika ditanya, “Apa yang dahulu kamu katakan tentang laki-laki ini ?”. Ia akan menjawab, “Saya tidak tahu, saya dulu mengatakan apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang”. Maka dikatakan kepadanya, “Kamu tidak tahu dan tidak membaca”. Kemudian ia dipukul dengan pemukul dari besi diantara kedua telinganya, lalu ia berteriak sekeras-kerasnya yang didengar oleh apa yang didekatnya selain jin dan manusia”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 102]

.

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: اِنَّ اْلعَبْدَ اِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَ تَوَلَّى عَنْهُ اَصْحَابُهُ، اِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ. قَالَ: يَأْتِيْهِ مَلَكَاِن فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ لَهُ. مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هذَا الرَّجُلِ؟ قَالَ: فَاَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. قَالَ: فَيُقَالُ لَهُ: اُنْظُرْ اِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ اَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ اْلجَنَّةِ. قَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا. قَالَ قَتَادَةُ: وَ ذُكِرَ لَنَا اَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا وَ يُمْـَلأُ عَلَيْهِ خَضِرًا اِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ. مسلم 4: 2200

.

Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabiyullah SAW bersabda, Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan di dalam quburnya dan teman-temannya sudah meninggalkannya, ia mendengar suara sandal mereka. Kemudian ia didatangi dua malaikat, lalu mendudukkannya dan bertanya, Apa pendapatmu tentang laki-laki ini (Muhammad SAW) ?. Adapun orang mukmin akan menjawab, Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusan-Nya. Maka dikatakan kepadanya, Lihatlah tempatmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan tempat di surga. Maka ia dapat melihat keduanya. Qatadah berkata, Dan disebutkan kepada kami bahwasanya mayyit itu diluaskan quburnya seluas 70 hasta, dan dipenuhi quburnya dengan kenikmatan hingga hari mereka dibangkitkan. [HR. Muslim juz 4, hal. 2200, juga Bukhari]

.

Buntok, 25 November 2016

.

Sumber :

  1. Abdul Hakim bin Amir Abdat, Sifat Shalawat dan Salam kepada Nabi Shallalahu alaihi wa Salam, Penerbit Pustakan Ilmu dan Pustaka Muawiyah, Jakarta, 2006
  2. https://rumaysho.com/203-perbanyaklah-shalawat-di-hari-jumat.html, 2.
  3. https://rumaysho.com/116-ingatlah-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-lebih-harus-kita-cintai-dari-selainnya.html
  4. https://abufawaz.wordpress.com/2012/05/26/beginilah-mencintai-rasulullah-dengan-benar/
  5. https://salampathokan.blogspot.co.id/2014/04/hadits-tentang-alam-barzah-atau-kubur.html
  6. http://ahmadsudardi.blogspot.co.id/-alam-qubur
  7. Buku Antologi NU, Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswat, Penerbit Kalista-LPK NU Jawa Timur, 2007, hal 140-143.

 

 

 

 

MENGAPA FATWA GUS MUS DAN SAS TERKAIT LARANGAN SHOLAT JUM’AT DI JALAN TAK DITAATI UMAT ISLAM?

Gambar: Istimewa
Gambar: Istimewa
Mengapa Fatwa Gus Mus dan SAS Terkait Larangan Sholat Jum’at Dijalan Tak Ditaati Umat Islam? Ini Jawabannya
Posted on December 3, 2016

.

Argumentasi sederhana ini cukup telak mematahkan fatwa Gus Mus dan Said Aqil Siradj (SAS) terkait larangan sholat Jum’at di jalan. Gus Mus sebut sholat Jum’at di jalan adalah bid’ah besar, sedangkan Said Aqil Siradj sebut tidak sah.

.

Faktanya, bukan cuma jutaan umat Islam yang tidak mau melaksanakan fatwa Gus Mus dan Said itu, Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta jajarannya pun mengabaikan fatwa petinggi organisasi PBNU itu.

.

Kenapa bisa demikian? Ulasan sederhana dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Ahmad Musta’in Syafi’ie yang berjudul: “DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51” ini coba menjawabnya.

DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51

Oleh : KH Ahmad Musta’in Syafi’ie
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur

.

Sekian lama kiai toleransi sengaja “menyembunyikan-mu”, wahai al-Maidah:51. Ternyata Pemilikmu tersinggung. Lalu, dengan cara-Nya sendiri Dia bertindak. Cukup lidah Ahok diplesetkan dan NKRI tersentak menggelegar, menggelepar. Kita petik hikmahnya :

.

1. Aksi 411 and 212 adlh bukti bhw Allah SWT itu ada dan kehendakNya tdk bisa dibendung oleh siapapun. Pemerintah trpaksa harus mengalah, pdhal sblumnya Jokowi sdh pamer militer. Kini aksi diarahkan menjadi doa. Ternyata malah punya daya tarik yg luar biasa. Sluruh negeri menyambut dg nama berbeda, aksi Nusantara Bersatu, istighatsah militer dll.

.

Negara jg trpaksa mengeluarkan dana sangt besar utk menfasilitasi aksi 212. Aparat di jalanan trpaksa harus menyesuaikan diri dg menggunakan simbol-simbol islam. Polisi pakai surban putih, membuat tim khusus bernama ASMAUL HUSNA, polwan serentak berjilbab, Habib papan atas memimpin istighatsah pakai ikat merah-putih melilit kepala. Lucu (?). Mungkin Tuhan sdng menjewer telinga kita, agar slalu “putih” dlm mengemban amanat.

.

2. Mestinya penguasa dan para cukong sadar, bhw negeri ini lebih didirikan oleh teriak “Allah Akbar” ketimbang “Haliluya”. Umat islam yg selama ini diam, kini sbgian kecil berani menunjukkan jati dirinya scra alamiah dan sangat militan. Inilah yg disebut “silent majority”. Maka jangan coba-coba mengusik “air tenang” jika tidak ingin hanyut.

.

3. Aksi ini sungguh peringatan, bahwa : tasamuh, tawazun, tawassut yg dislogankan NU itu perlu ditinjau kembali. Bukan pada konsepnya, tapi praktiknya. Di samping ada batasan, wajib apa pengawalan yg tegas dan bijak. Sadarlah, betapa kaum Nahdliyin diam-diam mengapresiasi aksi ini secara suka rela. Artinya, mereka sdh mulai tdk sudi dan meninggalkan gaya PBNU yg tk jelas. Sok toleransi, tapi tak ada aksi. Berdalih” RAHMATAN LIL ‘ALAMIN” tapi sejatinya “ADL’AFUL IMAN”.

.

Dialah Rasulullah SAW, saat pribadinya disakiti, memaaf. Jika agama dinista, beliau marah besar. Bbrpa suku dan pribadi dikutuk dan dilaknat. Mukmin beneran itu tegas-keras kepada kafir, berkasih sayang sesama mukmin, ” asyidda’ ‘ala al-kuffar, ruhama’ bainahum” (Al-Fath:29). Tapi sebagian oknum PBNU, kiai toleransi, kiai seni sekarang cenderung sebaliknya, “asyidda’ ‘ala al-mukminin, ruhama’ bain al-kuffar”. (?)

.

4. Gus Mus yg membid’ahkan shalat jum’ah di jalan raya dan kiai Sa’id yg menghukumi tdk sah skrang diam soal shalat jum’ah di Silang Monas. Wonten punopo kiai?. Begitulah bila fatwa beraroma dan tendensius, hanya melihat illat hukum secara pendek dan sesaat. Terlalu naif menggunakan ikhtifah fiqih utk kepentingan politik.

.

Benar, jika itu mengganggu lalu lintas. Tapi hanya sebentar dan hanya pengguna jalan yg ketepatan lewat. Stelahnya, ada maslahah sangat besar bagi umat islam pd umumnya. Maslahah inilah yg tdk beliau lihat. Lagian, tradisi kita sdh biasa menutup jalan utk majlis dzikir, istighatsah, trmasuk haul Gus Dur di pesantren Tebuireng.

.

Gus Mus pernah mencak-mencak saat amaliah kaum Nahdliyin dibid’ahkan, tapi sekarang ganti membid’ahkan sesama muslim, “bid’ah besar”. Ternyata, amunisi bid’ah yg ditembakkan Gus Mus ini lbh besar dibanding bid’ah yg ditembakkan nonnahdliyin.

.

Skedar mmbaca sejarah, bhw zaman Umar ibn al-Khattab, tentara islam shalat jum’ah di jalan sblum menaklukkan negeri futuhat. Sultan Muhammad al-Fatih shalat jum’ah di sepanjang pantai Marmara sebelum menjebol benteng Konstatinopel. Inilah awal khilafah Utsmniyah berdiri. Sekali lagi, orang ‘alim mesti melihat sisi maslahah jauh ke depan ketimbang illat “bid’ah” sesaat.

.

Mengagumkan, fatwa dan puisi Gus Mus begitu manusiawi, tawadlu’, filosufis dan sufistik sehingga mengesankan derajat beliau telah mencapai hakekat keagamaan. Tiba-tiba tega merendahkan ilmu kiai-kiai MUI dengan mengatakan ilmu Syafi’i Ma’arif lebih tinggi. Sungguh membuat penulis tercengang. Ya. karena pernah kuliah di Jogya dan sedikit tahu.

.

Merendahkan ilmu kiai-kiai MUI sama saja dg merendahkan ilmu ketua Syuriah NU, KH. Ma’ruf Amin. Begitu cerdiknya Gus Mus, “sekali dayung dua kepala kena pentung”. Penulis membatin, ” kok bisa, sekelas ketua Syuriah NU tega merendahkan sesama ketua Syuriah. Ini fenomena apa?”. Hadana Allah. Terpujilah kiai Makruf tdk meladeni. Meski demikian, akan lebih elegan bila kiai Ma’ruf Amin tdk merangkap jabatan. Mohon maaf kiai.

.

http://pekanews.com/2016/12/mengapa-fatwa-gus-mus-dan-sas-terkait-larangan-sholat-jumat-dijalan-tak-ditaati-umat-islam-ini-jawabannya/