Archive | May 2015

KEUTAMAAN MEMBANGUN MASJID

Membangun masjid, memakmurkan dan menyediakan untuk orang-orang shalat termasuk amal  yang  utama. Allah akan memberikan kepadanya pahala nan agung. Ia termasuk shadaqah jariyah yang pahalanya berlanjut hingga seseorang telah meninggal dunia. Allah berfirman:
.
 إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ  (سورة التوبة: 18)
.
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah: 18)
.
Nabi  sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
.
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ  (رواه البخاري، رقم 450،  ومسلم، رقم 533، من حديث عثمان رضي الله عنه)
.
“Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari, 450 dan Muslim, 533 dari Hadits Utsman radhiallahu’anhu)
.
Diriwayatkan Ibnu Majah, 738 dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam bersabda:
.
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ ، أوْ أَصْغَرَ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
.
“Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (Dishahihkan oleh Al-Albany)

Sari Kajian Sabtu Pagi 30 Mei 2015 “Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Pelaku Dosa Besar” bersama Ustad Khairullah

DSC00449Ahlus Sunnah Tentang Pelaku Dosa Besar
Sesungguhnya orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir jika dia termasuk ahli tauhid dan ikhlas. Tetapi ia adalah mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya, dan ia berada di bawah kehendak Allah. Apabila berkehendak, Dia mengampuninya dan apabila Ia berkehendak maka Ia menyiksa di Neraka karena dosanya, kemudian Ia mengeluarkannya dan tidak menjadikannya kekal di Neraka.
.
Berbeda dengan kelompok-kelompok sesat yang ekstrim dalam hal ini. Mereka adalah:
1. Murji’ah: Golongan yang menyatakan maksiat tidak membahayakan (berpengaruh buruk) bagi orang beriman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir.
.
2. Mu’tazilah: Mereka yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar ini tidak mukmin dan tidak juga kafir, tetapi ia berada pada tingkatan yang ada diantara dua tingkatan tersebut. Namun demikian, apabila ia keluar dari dunia tanpa bertaubat maka ia kekal di Neraka.
.
3. Khawarij: Mereka mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir dan kekal di Neraka.

DSC00445Dalil-dalil Ahlus Sunnah
Ahlus Sunnah berhujjah dengan dalil-dalil yang banyak sekali dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, di antaranya:
1. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah me-nyukai orang-orang yang berbuat adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujarat: 9-10)
.
Segi istidlal (pengambilan dalil)-nya: Allah tetap mengakui ke-imanan pelaku dosa peperangan dari orang-orang mukmin dan bagi para pembangkang dari sebagian golongan atas sebagian yang lain, dan Dia menjadikan mereka menjadi bersaudara. Dan Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk mendamaikan antara saudara-saudara mereka seiman.
.
2. Abu Said Al-Khudri Radhiallaahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Allah memasukkan penduduk Surga ke Surga. Dia memasukkan orang-orang yang Ia kehendaki dengan rahmatNya. Dan Ia memasukkan penduduk Neraka. Kemudian berfirman, ‘Lihatlah, orang yang engkau dapatkan dalam hatinya iman seberat biji sawi maka keluarkanlah ia.’ Maka dikeluarkanlah mereka dari Neraka dalam keadaan hangus terbakar, lalu mereka dilemparkan ke dalam sungai kehidupan atau air hujan, maka mereka tumbuh di situ seperti biji-bijian yang tumbuh di pinggir aliran air. Tidakkah engkau melihat bagaimana ia keluar berwarna kuning melingkar?” (HR. Muslim, I/172 dan Bukhari, IV/158)
.
Segi istidlal-nya, adalah tidak kekalnya orang-orang yang berdosa besar di Neraka, bahkan orang yang dalam hatinya terdapat iman yang paling rendah pun akan dikeluarkan dari Neraka, dan iman seperti ini tidak lain hanyalah milik orang-orang yang penuh dengan kemaksiatan dengan melakukan berbagai larangan serta meninggalkan kewajiban-kewajiban.

.

SARI KAJIAN SABTU PAGI 30 MEI 2015 “TANDA-TANDA DOSA BESAR” BERSAMA USTAD KHAIRULLAH

Kita bisa menilai dosa-dosa besar berdasarkan tanda-tandanya. Menurut Imam Ibnu Solah “Tanda-tanda dosa besar” antaranya:
1. Diwajibkan hukuman hudud ke atasnya seperti berzina, minum arak, qazaf, mencuri dan sebagainya.
.
2. Di ancam azab neraka atau sebagainya di dalam al-Quran atau as-Sunnah seperti dosa menyelewengkan harta anak yatim (surah an-Nisa’ 10), lari dari medan perang (surah al-Anfal 16), tidak mengeluarkan zakat, tidak menunaikan solat, mengumpat, mengadu domba dan sebagainya.
.
3. Disifatkan orang-orang yang melakukannya fasiq.
.
4. Dilaknat orang-orang yang melakukannya seperti dosa makan riba, dosa rasuah, dosa lelaki yang meniru gaya perempuan atau sebaliknya dan sebagainya.
.
Bagi pelaku dosa besar berkewajiban untuk segera taubat atas tindakannya ini. Penundaan terhadap taubat dikategorikan sebuah tindakan dosa pula. Untuk keabsahan taubat dibutuhkan tiga kriteria yaitu :
  • Menghentikan tindakan dosa
  • Menyesal semata-mata karena Allah akibat melakukan dosa tersebut
  • Berkomitmen untuk tidak mengulanginya kembali.
.
Rasulullah SAW mengajarkan doa:
.
اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ
.
“Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti baju putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, cucilah diriku dari segala dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun”  [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 744 dan Muslim no. 598].

INTI KAJIAN BA’DA SUBUH SABTU 30 MEI 2015 “HADITS ARBAIN IMAM NAWAWI TENTANG SEMANGAT TAUBAT” OLEH USTAD KHAIRULLAH

DSC00421JANGAN BERBUAT SYIRIK

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: «قَالَ الله تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمُ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً، لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً»، رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ غَرِيْبٌ.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah berfirman: Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu terus berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, akan Aku ampuni semua yang ada pada dirimu (dosa-dosamu), dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu mencapai setinggi langit, kemudian kamu memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dirimu. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan/dosa sepenuh dunia, lalu kamu bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik (tidak menyekutukan diri-Ku) dengan suatu apapun, niscaya Aku akan membawa ampunan (untukmu) sebanyak itu pula”. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits Hasan Gharib”. 2

.

PENJELASAN HADITS

  1. Hadits ini adalah akhir hadits yang dibawakan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Arba’in (empat puluh hadits). Dan jumlah sebenarnya adalah empat puluh dua hadits. Sehingga penyebutan Al-Arba’in (empat puluh) di sini adalah sebagai penggenapan jumlah saja. Hadits ini termasuk hadits qudsi yang diriwayatkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Rabb-nya subhanahu wata’ala.
  2. Ajakan pembicaraan dalam hadits ini adalah ditujukan kepada anak-anak Adam. Hadits ini menerangkan bahwa termasuk sebab diampuni dosa-dosa adalah berdoa kepada Allah, mengharapkan ampunan-Nya, memohon ampunan kepada Allah dari dosa-dosa, ikhlas (dalam melakukan semua itu), dan selamat dari berbuat syirik. Dan makna dari pengampunan dosa-dosa di sini adalah menutupinya dari makhluk Allah lainnya, memaafkannya, dan tidak membalasnya (tidak mengadzabnya).
  3. Sabdanya “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu terus berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, akan Aku ampuni semua yang ada pada dirimu (dosa-dosamu), dan Aku tidak peduli“. Seorang hamba yang berdoa kepada Allah, mengharapkan ampunan-Nya, memohon ampunan kepada Allah dari dosa-dosa tanpa putus asa, dan bertaubat dari segala kesalahan dan dosa, akan menghasilkan pengampunan dari Allah, walaupun dosanya sangat besar, banyak dan berulang-ulang. Oleh karena itu Allah berkata (dalam hadits tersebut) “akan Aku ampuni semua yang ada pada dirimu (dosa-dosamu), dan Aku tidak peduli“. Dan yang serupa dengan ini adalah firman-Nya:
    قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥٣﴾
    Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS. Az-Zumar: 53].
  4. Sabdanya “Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu mencapai setinggi langit, kemudian kamu memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dirimu”. Sebanyak apapun dosa seorang hamba, hingga mencapai langit, atau di bawahnya seperti awan, atau sepanjang pandangan ke atas, jika hamba tersebut meminta dan memohon ampunan-Nya disertai dengan taubat dari segala dosa, niscaya Allah akan mengampuni dosanya dan memaafkannya. Dan taubat dapat dilakukan dengan cara; berlepas diri dari dosa dan maksiat tersebut, menyesal terhadap apa yang telah dilakukannya, dan bertekad di masa yang akan datang untuk tidak pernah kembali kepada kemaksiatannya tersebut. Dan dari ketiga syarat ini, jika dosa yang ia lakukan berkaitan dengan hak Allah ‘Azza wa Jalla, dan padanya terdapat kaffarat, maka ia melakukan kaffarat tersebut. Dan jika dosa yang ia lakukan berkaitan dengan hak manusia, maka ia kembalikan hak tersebut atau ia minta dimaafkan.
  5. Sabdanya “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan/dosa sepenuh dunia, lalu kamu bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik (tidak menyekutukan diri-Ku) dengan suatu apapun, niscaya Aku akan membawa ampunan (untukmu) sebanyak itu pula”. Berbuat syirik (menyekutukan) Allah ‘Azza wa Jalla adalah dosa yang paling besar, yang tidak akan diampuni oleh Allah. Setiap dosa selain syirik, seluruhnya di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak untuk mengampuninya, maka Allah akan memaafkannya dan tidak mengadzabnya. Dan jika Allah berkendak (tidak mengampuninya), maka Allah pun akan mengadzabnya dan memasukannya ke dalam neraka. Namun, masuknya ia ke dalam neraka tidak kekal dan abadi seperti kekalnya orang-orang kafir di dalamnya. Ia akan keluar dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga. Sebagaimana firman-Nya:
    إِنَّ اللَّهَ لا يَغفِرُ أَن يُشرَكَ بِهِ وَيَغفِرُ ما دونَ ذٰلِكَ لِمَن يَشاءُ ۚ … ﴿٤٨﴾
    Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya… [QS. An-Nisaa’: 48 dan 116].
    Dan dalam hadits ini, terdapat penjelasan bahwa betapa pun banyaknya dosa-dosa (seseorang), niscaya Allah akan mengampuninya, dengan syarat ikhlas dalam beribadah kepada-Nya saja, dan selamat dari perbuatan syirik (menyekutukan-Nya).

PELAJARAN DAN FAIDAH HADITS:

  1. Luasnya keutamaan dan ampunan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap dosa-dosa hambanya.
  2. Salah satu sebab diampuninya dosa adalah berdoa kepada Allah dan berharap kepada-Nya tanpa putus asa.
  3. Keutamaan istighfar (memohon ampunan Allah) dari segala dosa, disertai dengan bertaubat kepada-Nya. Dan Allah akan mengapuni dosa-dosa orang yang sungguh-sungguh memohon ampunan-Nya, betapa pun banyak dosa-dosanya.
  4. Dosa syirik (menyekutukan Allah) adalah dosa yang paling besar yang tidak akan diampuni Allah. Adapun dosa (yang derajatnya) di bawahnya, maka itu semua berada di bawah kehendak Allah.
  5. Keutamaan ikhlas, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa (seseorang) jika ia beribadah kepada Allah dengan ikhlas.

FOOTNOTE:

  1. Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali dari kitab Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in wa Tatimmatul Khamsin, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr –hafizhahullah-, cetakan Daar Ibnul Qayyim & Daar Ibnu ‘Affan, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H/ 2003 M. Hadits ke-42, halaman 135 sampai 137.
  2. HR At-Tirmidzi (3540). Dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, dan dihasankan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (127), dan kitab-kitab beliau lainnya.
  3. Maksudnya; selama pelaku kesyirikan tersebut belum atau tidak bertaubat hingga ia meninggal dunia. Adapun jika ia bertaubat dari kesyirikannya sebelum ia meninggal dunia, maka Allah pun akan mengampuni dosanya.
    Lihat Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (1/426). (Pent).

Disalin dari majalah AL-BAYAN edisi 6
Penulis: Ust. Abu Abdillah Arief Budiman, Lc
Artikel: http://www.snapsot.com/artikel-14

KAJIAN JUM’AT BA’DA MAGRIB 29 MEI 2015 “IBADAH PADA ZAMAN NABI SAW ADALAH IBADAH PADA HARI INI” OLEH USTAD KHAIRULLAH

Nabi shallallahu alaihi wasallam :

.

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ

.

“Islam dibangun di atas lima, yaitu : persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata dan persaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul –Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa romadhon dan pergi haji”. [ HR. Bukhari dan Muslim]
.

SYARAT DITERIMANYA IBADAH

Peribadatan seorang hamba yang muslim akan diterima dan diberi pahala oleh Allah I apabila telah memenuhi dua syarat utama berikut ini, yaitu :
.

1.    IKHLAS  ( اَلإِخْلاَصُ )

Ikhlas merupakan salah satu makna dari syahadat (  أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) ‘bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah I’ yaitu agar menjadikan ibadah itu murni hanya ditujukan kepada Allah semata. Allah berfirman :
.
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. [QS. Al Bayyinah : 5]
.
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

.

“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan (mu) untuk-Nya.” [QS. Az Zumar : 2]
.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda :

.
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

.

“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni dan hanya mengharap ridho Allah”. [HR. Abu Dawud dan Nasa’i]

.
Firman Allah Ta’ala:
.

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

.

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. [QS. Al-An’aam: 88]
2. AL-ITTIBA’ ( اَلْاِتِّبَاعُ )
Al-Ittiba’ (Mengikuti Tuntunan Nabi Muhammad SAW) merupakan salah satu dari makna syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah (أَنَّمُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ), yaitu agar di dalam beribadah harus sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW . Setiap ibadah yang diadakan secara baru yang tidak pernah diajarkan atau dilakukan oleh Nabi Muhammad maka ibadah itu tertolak, walaupun pelakunya tadi seorang muslim yang mukhlis (niatnya ikhlas karena Allah dalam beribadah). Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita semua untuk senantiasa mengikuti tuntunan Nabi Muhammad  dalam segala hal, dengan firman-Nya :
.
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

.

“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.[QS. Al Hasyr : 7]
            .
Dan Rasulullah SAW juga telah memperingatkan agar meninggalkan segala perkara ibadah yang tidak ada contoh atau tuntunannya dari beliau, sebagaimana sabda beliau:
.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

.

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada urusannya dari kami maka amal itu tertolak”. [HR. Muslim]

.

Itulah tadi dua syarat yang menjadikan ibadah seseorang diterima dan diberi pahala oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:
.
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. [QS. Al Kahfi : 110]
.
Berkata Ibnu Katsir di dalam menafsirkan ayat ini : “Inilah 2 landasan amal yang diterima (dan diberi pahala oleh Allah), yaitu harus ikhlas karena Allah dan benar / sesuai dengan syari’at Rasulullah .
.
Jadi kedua syarat ini haruslah ada pada setiap amal ibadah yang kita kerjakan dan tidak boleh terpisahkan antara yang satu dan yang lainnya. 

.
Mengenai hal ini berkata Al Fudhoil bin ‘Iyadh :

“Sesungguhnya andaikata suatu amalan itu dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ), maka amalan itu tidak diterima. Dan andaikata amalan itu dilakukan dengan benar (sesuai dengan tuntunan Nabi ) tapi tidak ikhlas, juga tidak diterima, hingga ia melakukannya dengan ikhlas dan benar. Ikhlas semata karena Allah, dan benar apabila sesuai dengan tuntunan Nabi ”.

.

Maka barang siapa mengerjakan suatu amal dengan didasari ikhlas karena Allah semata dan cocok dengan tuntunan Rasulullah niscaya amal itu akan diterima dan diberi pahala oleh Allah. Akan tetapi kalau hilang salah satu dari dua syarat tersebut, maka amal ibadah itu akan tertolak dan tidak diterima oleh Allah SWT. Hal inilah yang sering luput dari perhatian orang banyak karena hanya memperhatikan satu sisi saja dan tidak  memperdulikan yang lainnya. Oleh karena itu sering kita dengar mereka mengucapkan : “yang penting niatnya, kalau niatnya baik maka amalnya akan baik”.

.

Perlu diketahui bahwa sikap ittiba’ (berupaya mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW) tidak akan tercapai / terwujud kecuali apabila amal ibadah yang dikerjakan sesuai dengan syari’at dalam 6 (enam) perkara, yaitu :
.

1.    SEBAB ( اَلسَّبَبُ )

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak di syari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tertolak.
.

2.    JENIS ( اَلْجِنْسُ )

Ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Contohnya: bila seseorang menyembelih kuda atau ayam pada hari Iedul Adha untuk korban, maka hal ini tidak sah karena jenis yang boleh dijadikan untuk korban adalah unta, sapi dan kambing.
.

3.    BILANGAN ( اَلْعَدَدُ )

Kalau ada orang yang menambahkan rokaat sholat yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka sholatnya itu adalah bid’ah dan tidak diterima oleh Allah. Jadi apabila ada orang yang sholat Dhuhur 5 rokaat atau sholat Shubuh 3 rokaat dengan sengaja maka sholatnya tidak diterima oleh Allah karena tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad.
.

4.    TATA CARA ( اَلْكَيْفِيَّةُ )

Seandainya ada orang berwudhu dengan membasuh kaki terlebih dulu baru kemudian muka, maka wudhunya tidak sah karena tidak sesuai dengan tata cara yang telah disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Al-Hadits Asy-Syarif.
.

5.    WAKTU ( اَلزَّمَانُ )

Apabila ada orang yang menyembelih korban sebelum sholat hari raya Idul Adha atau mengeluarkan zakat Fitri sesudah sholat hari raya Idul Fitri, atau melaksanakan shalat fardhu sebelum masuk atau sesudah keluar waktunya, maka penyembelihan hewan korban dan zakat Fitrinya serta shalatnya tidak sah karena tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh syari’at Islam, yaitu menyembelih hewan korban dimulai sesudah shalat hari raya Idul Adha hingga sebelum matahari terbenam pada tanggal 13 Dzul Hijjah (hari Tasyriq ketiga), dan mengeluarkan zakat Fitri sebelum dilaksanakannya sholat Idul Fitri.
.

6.    TEMPAT ( اَلْمَكَانُ )

Apabila ada orang yang menunaikan ibadah haji di tempat selain Baitulah Masjidil Haram di Mekah, atau melakukan i’tikaf di tempat selain masjid (seperti di pekuburan, gua, dll), maka tidak sah haji dan i’tikafnya. Sebab tempat untuk melaksanakan ibadah haji adalah di Masjidil Haram saja, dan ibadah i’tikaf tempatnya hanya di dalam masjid.
.
Sehingga dengan memperhatikan enam perkara tersebut, maka kita dapat mencocokkan / mengoreksi apakah amal ibadah yang kita lakukan sudah sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya atau tidak?

.

Demikian pembahasan singkat tentang syarat-syarat utama diterimanya amal ibadah. Semoga bermanfaat bagi kita semua di dunia dan akhirat. Amiin
.
(Sumber: Buletin Dakwah Al-Ittiba’, Yayasan Mutiara Hikmah Klaten – Jawa Tengah, edisi 21 tahun II, 2008 M)
.
Catatan ini tidak sama persis dengan isi kajian namun mengambil garis besar dari apa yang pemateri sampaikan sesuai dengan kemampuan yang ada.

Akhirnya Menteri Agama Minta Maaf dan ‘Taubat’ Soal Qiraah Langgam Jawa

Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin akhirnya meminta maaf soal qiraah langgam Jawa di istana negara beberapa waktu lalu. Permintaan maaf disampaikan saat berdialog dengan sejumlah pimpinan ormas Islam, Kamis (27/5/2015).
.
Dalam dialog bersama pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) dan sejumlah ormas Islam itu, Lukman mengakui ide membaca Al Qur’an dengan langgam Jawa berasal dari idenya. Namun dalam dialog di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jakarta itu, Lukman juga menjelaskan bahwa tidak ada maksud dirinya melecehkan Islam atau melecehkan Al Qur’an.
.
Lukman yang didampingi Sekretaris Jenderal Nur Syam serta Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Muchtar Ali juga menjelaskan tidak ada motif politik soal pembacaan Al Qur’an dengan langgam Jawa tersebut.
.
Dilansir Pos Kota, selain menuntut meminta maaf, dalam dialog tersebut para pemimpin Ormas Islam juga meminta Lukman bertaubat. Namun soal taubat, Lukman menyatakan bahwa dirinya selalu membaca istighfar dan itu merupakan bagian dari taubat.
.
Seperti diketahui, dalam acara peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara Jakarta pertengahan bulan ini, qari membaca Al Qur’an dengan langgam Jawa. Qiraah yang aneh itu segera memicu kontroversi karena dinilai tidak sesuai dengan keagungan Al Qur’an. Namun menanggapi kritik saat itu, Menag pasang badan bahwa hal tersebut adalah idenya. [Ibnu K/Tarbiyah]

.
Keterangan foto: Menag bersama sejumlah pimpinan ormas Islam (Postkotanews.com)

SARI KHUTBAH JUM’AT 29 MEI 2015: WAJIB BERIBADAH KEPADA ALLAH BERDASAR SYARIAT ALLAH DAN SUNNAH RASUL SAW OLEH USTAD KHAIRULLAH

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan atas kamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah : 3)
.
Firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 1:
.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya.”
.
Ibnu Abbas berkata. “Hampir-hampir saja diturunkan atas kalian batu dari langit. Aku mengatakan kepada kalian,” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, tetapi kalian mengatakan, Abu Bakar berkata, Umar berkata.” Firman Allah dalam surat Al-A’raf/7 ayat 3:
.
{ اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ } [الأعراف: 3]
.
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padaNya).”
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberitakan di dalam Alquran, bahwa barang siapa menaati Rasul-Nya akan memperoleh hidayah-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya,
وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

.

Dan jika kalian menaatinya, niscaya kalian akan mendapat hidayah/ petunjuk.” (An-Nur: 54)
.
Begitupula Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan, bahwa taat kepada Rasul adalah sebab yang akan mengantarkan kita untuk mendapatkan rahmat-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya,
.
وَأَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

.
Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat.” (Ali ‘Imran: 132)
.

Oleh karena itu, seorang muslim akan mengikuti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan meninggalkan seluruh ajaran yang menyimpang dari ajarannya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

.

Barang siapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari kami, maka amalan tersebut ditolak.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,
.

لَقَدْ أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى أَنَّ مَنْ تَبَيَّنَ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

.

Para ulama telah sepakat, bahwasanya barang siapa yang telah jelas baginya jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena ucapan siapapun.”
.
Sabdanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

.

Hati-hatilah kalian dari terjatuh kepada amalan-amalan ibadah baru yang diada-adakan, karena setiap amalan tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (H.R. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah)
.
Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa perbuatan mengada-adakan amalan ibadah baru yang tidak ada syariatnya adalah sejelek-jelek amalan. Sebagai mana tersebut dalam haditsnya,
.
وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا

.

Dan sejelek-jelek amalan adalah amalan ibadah yang diada-adakan (yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin).” (H.R. Muslim)
.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

.
مَا بَقِيَ شَيْئٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمَ.

.

“Tiada satupun perkara yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan bagi kalian”.Hadits Shohih, riwayat Ath-Thobrany dalam Al-Kabir (1647). Dishohihkan oleh Al-Haitsamy dalam Majma’uz Zawa`id (8/264). (Akan tetapi menurut keterangan Ad-Daruqthny dalam ‘Ilal-nya 6/290 bahwa yang benar dalam hadits ini adalah riwayat mursal,-red.)
.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr : 7)
.
Dari Jabir Ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata : Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dalam khutbah beliau :
.
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

.

“Amma ba’du. Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Hadits Shohih. Riwayat Muslim (6/242).