Archive | June 2015

Tausiyah Ba’da Subuh Rabu 1 Juli 2015 “Tafsir Surat Al Baqarah ayat 5″ oleh Ustadz Sunardi

Allah Sub-hanahu wa Ta’ala berfirman:

.

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al Baqarah : 5)
.
Allah Ta’ala berfirman { أُولَئِكَ }, artinya mereka itulah, yaitu orang-orang yang menyandang sifat-sifat pada ayat sebelumnya, yakni beriman kepada hal-hal yang ghaib, mendirikan shalat, mengeluarkan infak dari rizki yang Allah berikan kepada mereka, berimana kepada apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan para Rasul sebelumnya, serta meyakini adanya kehidupan akhirat. Dan semua itu mengharuskan mereka bersiap diri untuk menghadapinya dengan mengerjakan amal shalih dan meninggalkan semua yang di haramkan-Nya.
.
{ عَلَى هُدًى }artinya Yang tetap mendapat petunjuk,” maksudnya mereka senantiasa mendapat pancaran cahaya, penjelasan serta petunjuk dari Allah Ta’ala.
.
Dari Ibnu Abbas, bahwa makna { أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ }, artinya mereka itulah atas petunjuk dari tuhan mereka, yaitu mereka tetap mendapatkan cahaya dari Tuhan mereka dan tetap istiqomah kepada al Qur’an yang disampaikan kepada mereka.
.
{وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }artinya “dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” yaitu orang-orang yang mendapatkan apa yang mereka inginkan dan yang selamat dari kejahatan yang mereka jauhi.
.
وَقَالَ اِبْن جَرِير وَأَمَّا مَعْنَى قَوْله تَعَالَى أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبّهمْ فَإِنَّ مَعْنَى ذَلِكَ فَإِنَّهُمْ عَلَى نُور مِنْ رَبّهمْ وَبُرْهَان وَاسْتِقَامَة وَسَدَاد بِتَسْدِيدِهِ إِيَّاهُمْ وَتَوْفِيقه لَهُمْ
.
Dan berkata Ibnu Jarir bahwa makna firman-Nya, { أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ } ialah sesungguhnya mereka tetap memperoleh cahaya dari Tuhannya, pembuktian, istiqamah dan bimbingan serta taufik Allah buat mereka.
.
Takwil firman-Nya { وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }ialah merekalah orang-orang yang beruntung dan memperoleh apa yang mereka dambakan disisi Allah melalui amal perbuatan mereka dan iman mereka kepada Allah, kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya, dambaan tersebut berupa keberuntungan memperoleh pahala, kekal di surga dan selamat dari siksaaan yang telah disediakan oleh Allah buat musuh-musuh-Nya
.
عَنْ عَبْد اللَّه بْن عَمْرو عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقِيلَ لَهُ يَا رَسُول اللَّه إِنَّا نَقْرَأ مِنْ الْقُرْآن فَنَرْجُو وَنَقْرَأ مِنْ الْقُرْآن فَنَكَاد أَنْ نَيْأَس أَوْ كَمَا قَالَ : قَالَ ” أَفَلَا أُخْبِركُمْ عَنْ أَهْل الْجَنَّة وَأَهْل النَّار ” قَالُوا بَلَى يَا رَسُول اللَّه . قَالَ الم ذَلِكَ الْكِتَاب لَا رَيْب فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ – إِلَى قَوْله تَعَالَى – الْمُفْلِحُونَ هَؤُلَاءِ أَهْل الْجَنَّة”
.
Artinya : Dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi Shalallhu ‘alahi wasallam, Rasulullah pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tetap membaca al-Qur’an hingga hamper saja kami berputus asa.” Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian aku beritakan tentang penduduk surga dan penduduk neraka?” Mereka mejawab “tentu saja kami mau, wahai Rasulullah” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan firman-Nya:
.
الم ذَلِكَ الْكِتَاب لَا رَيْب فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ – إِلَى قَوْله تَعَالَى – الْمُفْلِحُونَ
.
Artinya : “Alif Lam Mim. Kitan Al Qur’an ini tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, hingga firman Allah Ta’ala “Orang-orang yang beruntung “(QS. Al Baqarah : 1 – 5)
Rasulullah bersabda { هَؤُلَاءِ أَهْل الْجَنَّة }artinya “Mereka semua penduduk Surga”,
.
قَالُوا إِنَّا نَرْجُو أَنْ نَكُون هَؤُلَاءِ ثُمَّ قَالَ ” إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاء عَلَيْهِمْ – إِلَى قَوْله – عَظِيم ” هَؤُلَاءِ أَهْل النَّار ” قَالُوا لَسْنَا هُمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : ” أَجَلْ.”
.
Kemudian para Sahabat Rasulullah berkata “Sesungguhnya kami berharap semoga diri kami termasuk bagian dari mereka” Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam membaca firman-Nya:
.
” إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاء عَلَيْهِمْ – إِلَى قَوْله – عَظِيم “
.
Artinya : Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, hingga dengan firman Allah – (siksaan) amat berat”. Mereka (para sahabat) berkata “Wahai Rasulullah, tentunya kami bukan terbasuk bagian dari mereka.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab “YA”.
.
Sumber : Tafsir Ibnu Katsir, QS al Baqarah ayat 5
.
CATATAN:
Resume ini tidak sama persis dengan keseluruhan isi tausiyah namun diharapkan mampu mewakili apa yang disampaikan. Tulisan ini tersaji sesuai kemampuan yang ada. 

Tausiyah Qiyamu Ramadhan Selasa 30 Juni 2015 “Tafsir Surat Al Baqarah ayat 4″ oleh Ustadz Sunardi

PENGANTAR
Dalam kajian sebelumnya dibawakan firman Allah :

.
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
.

artinya : (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS Al Baqarah, ayat 3)
.
TAFSIR AYAT 4 AL BAQARAH
Selanjutnya Allah berfirman:
.

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)
.
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya akhirat. (QS al-Baqarah ayat 4)
.
قَالَ اِبْن عَبَّاس وَاَلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْك وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلك أَيْ يُصَدِّقُونَ بِمَا جِئْت بِهِ مِنْ اللَّه وَمَا جَاءَ بِهِ مِنْ قَبْلك مِنْ الْمُرْسَلِينَ لَا يُفَرِّقُونَ بَيْنهمْ وَلَا يَجْحَدُونَ مَا جَاءُوهُمْ بِهِ مِنْ رَبّهمْ
.
Mengenai Firman Allah “dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu,”, Ibnu ‘Abbas berkata : mereka membenarkan apa yang engkau (Muhammad) bawa dari Allah dan apa yang dibawa olehpara Rasul sebelum dirimu. Mereka sama sekali tidak membedakan antara para Rasul tersebut serta tidak ingkar terhadap apa yang mereka bawa dari Rabb mereka.
.
وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أَيْ بِالْبَعْثِ وَالْقِيَامَة وَالْجَنَّة وَالنَّار وَالْحِسَاب وَالْمِيزَان وَإِنَّمَا سَمَّيْت الْآخِرَة لِأَنَّهَا بَعْد الدُّنْيَا
.
{ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}, yaitu mereka yakin akan adanya hari kebangkitan, kiamat, surga, neraka, perhitungan dan timbangan. Dan disebut akhirat karena ia setelah kehidupan dunia.
.
Para Ulama berbeda pendapat mengenai orang-orang yang disebut dalam ayat tersebut, apakah mereka ini yang disifati Allah dalam firmannya :
.
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
.
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (al-Baqarah : 3)
.
Mengenai siapakah mereka ini, terdapat tiga pendapat yang di ungkapkan oleh Ibnu Jarir, diantaranya:
Pertama : Orang-orang yang disifati Allah dalam ayat ketiga surat al-baqarah itu adalah mereka yang Dia sifati dalam ayat setelahnya, yaitu orang-orang yang beriman dari kalangan Ahlul Kitab dan yang selainnya. Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid, Abul’ Aliyah, ar-Rabi bin Anas, dan Qatadah.
.
Kedua : Mereka itu adalah satu, yaitu orang-orang yang beriman dari kalangan Ahlul Kitab. Dengan demikian berdasarkan kedua hal tersebut diatas, maka “wau” dalam ayat rini berkedudukan sebagai wawu ‘athof (penyambung) satu sifat dengan sifat lainnya.
.
Ketiga : mereka yang disifati pertama kali (ayat ketiga) adalah orang-orang yang beriman dari bangsa Arab dan yang disifati ayat berikutnya adalah orang-orang yang beriman dari kalangan Ahlul Kitab.
.
Berkenaan dengan hal diatas, Ibnu Katsir berkata : yang benar adalah pendapat Mujahid, ia berkata : Empat ayat pertama dari surah al-Baqarah mensifati orang-orang beriman, dan dua ayat berikutnya mensifati orang-orang kafir, tiga belas ayat mensifati orang-orang munafik.
.
Keempat ayat tersebut bersifat umum bagi setiap mukmin yang menyandang sifat-sifat tersebut, baik dari kalangan Bangsa Arab maupun bukan Arab serta Ahlul Kitab, baik umat manusia maupun jin. Salah satu sifat ini tidak akan bisa sempurna tanpa adanya sifat-sifat lainnya, bahkan masing-masing sifat saling menuntut adanya sifat yang lainnya. Dengan demikian, beriman kepada yang ghaib, shalat dan zakat tidak dianggap benar kecuali dengan adanya iman kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam, juga apa yang dibaweh para Rasul sebelumnya serta keyakinan akan adanya kehidupan akhirat.
.
Dan Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memenuhi hal itu melalui Firman-Nya
.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ
.
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. (an-Nissa : 136)
.
Allah juga berfirman :
.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ
.
Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu. (an-Nissa : 4)
.
Dan Allah telah menyebutkan tentang orang mukmin secara keseluruhan yang memenuhi semua itu, yaitu :
.
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
.
Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, (al-Baqarah : 285)
.
.
CATATAN:
Resume ini tidak sama persis dengan keseluruhan isi tausiyah namun diharapkan mampu mewakili apa yang disampaikan. Tulisan ini tersaji sesuai kemampuan yang ada. 

Tausiyah Ba’da Subuh Selasa 30 Juni 2015 “Tafsir Surat Al Baqarah ayat 3” oleh Ustadz Sunardi

a0be4-dsc00232Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

.
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
.

artinya : (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS Al Baqarah, ayat 3)
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan di awal surat Al-Baqarah ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mensifati hamba-hamba yang bertaqwa. Pertama, dengan aqidah yang ada pada diri mereka sekaligus dengan amalan-amalan bathin, kemudian perkara yang kedua adalah Allah mensifati dengan amalan-amalan yang dzahir.
.
Berkaitan dengan sifat yang Allah sifatkan kepada hamba-hambanya yang bertaqwa berupa amalan-amalan yang dzahir antara lain Allah menyatakan,
.

ويقيمون الصلوة
.

dan mereka itu menegakkan shalat.
.
Kemudian Allah nyatakan,

.
ومما رزقـنهم ينفقون

.
Dan terhadap sebagian apa yang kami karuniakan kepada mereka, mereka itu menginfakkan.
.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan bahwasanya termasuk dalam perkara ini adalah hamba-hamba Allah yang bertaqwa menginfakkan sebagian rezeki yang Allah limpahkan, termasuk nafaqoh- nafaqoh yang wajib.

Nafaqah dibagi dua :

1) Infaq Wajib
Syaikh Abdurrahman As Sa’di mencontohkan Nafaqoh yang wajib seperti zakat yakni zakat maal, dan nafaqoh yang diberikan kepada isteri-isterinya. Ini hukumnya adalah wajib berdasarkan Al-Quran dan Assunnah. Serta sanak kerabat yang menjadi tanggungannya, demikian pula budak-budak yang dia miliki dan orang-orang yang berada dibawah tanggunggjawabnya.
.
2) Infaq Sunnah /mustahab
Sedangkan nafaqoh yang mustahabah/sunnah yaitu berbagai jalan-jalan kebaikan yang berkaitan dengan penyaluran sebagian harta yang Allah limpahkan kepadanya.
.
Dari sini jelas bahwasanya ayat [ومما رزقـنهم ينفقون ] , Dan terhadap sebagian apa yang kami karuniakan kepada mereka, mereka itu menginfakkan. Infaq mencakup dua perkara. Yang pertama nafaqoh yang hukumnya wajib, yang kedua nafaqoh/infaq yang hukumnya sunnah.
Selanjutnya.

.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan di dalam ayat ini Alllah tidak menyebutkan siapa yang diberikan nafaqoh. Hal ini dikarenakan beberapa alasan, yang pertama karena banyak sebab seorang itu berinfaq dan yang kedua banyak golongan yang berhak untuk mendapatkan infaq. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, dalam perkara zakat mal ada delapan golongan yang berhak menerima. Nafaqoh wajib lainnya adalah istri, sanak kerabat dan yang lainnya. Dan alasan yang ketiga karena nafaqoh itu adalah bentuk pendekatan diri seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala .
.
Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan dalam ayat tersebut [ومما ] ,
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa datangnya dengan didahului dengan huruf م (mim) , [ومما] dan terhadap sebagian, ini menunjukkan bahwasanya nafakoh yang dinafaqohkan seorang hamba sesuai dengan yang diperintahkan Allah, nafaqoh itu hanya sebagian kecil dari harta yang diberikan padanya. Tujuannya yaitu untuk memperingatkan kepada mereka (hamba-hamba Allah yang bertaqwa) bahwasanya Allah tidak menghendaki melakukkan infaq kecuali sedikit dari harta yang Allah berikan, bukan seluruhnya atau sebagian besarnya.
.

PENUTUP

والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
.

Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS Al Baqarah, ayat 4)
.

Bahan diambil dari https://id-id.facebook.com/notes/infaq-bikin-kaya/tafsir-al-quran-surat-al-baqarah3/242173170611 (Kitab Taisir Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Penulis Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di. Dibahas oleh Ustadz Muhammad Ikhsan, Pimpinan Ponpes Difa’anis Sunnah, Sewon, Bantul setiap hari Kamis pukul 16.00 – 17.30 di Masjid Al Hasanah, depan Mirota Kampus Jogjakarta.)

TAUSIYAH RAMADHAN MALAM KE-13 “PENAMAAN SURAH AL BAQARAH” OLEH USTAD SUNARDI

TAUSIYAH RAMADHAN 1436 H MALAM KE-13

Kembali Ustadz Sunardi menyampaikan tausiyah malam ramadhan hari ke-12 malam ke-13 pada hari Senin tanggal 29 Juni 2015 di masjid As-Sunnah Buntok. Ringkasan dari tausiyah tersebut sebagai berikut:

.

SEKILAS SURAH AL BAQARAH

البقرة , al-Baqarah, “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Sebagian besar ayat dalam surah ini diturunkan pada permulaan hijrah, kecuali ayat 281 yang diturunkan di Mina saat peristiwa Haji Wada’. Surah ini merupakan surah terpanjang dalam Al-Qur’an. Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina karena di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74). Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Al-Qur’an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain. Dinamai juga surat Alif Lam Mim karena surah ini dimulai dengan huruf arab Alif Lam dan Mim. (https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Baqarah)


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

.

«إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا وَسَنَامُ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ» [المستدرك على الصحيحين للحاكم: حسنه الألباني]

.

“Sesungguhnya segala sesuatu punya puncak, dan puncak Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah, dan sesungguhnya setan jika mendengar surah Al-Baqarah dibaca maka ia akan keluar dari rumah yang dibaca di dalamnya surah Al Baqarah”. [Mustadrak Al-Hakim: Hasan]

.

KEUTAMAAN SURAH AL BAQARAH

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

.
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
.

“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 780)

.
Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

.
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ
.

“Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Az-Zahrawain, yakni Al-Baqarah dan surah Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah surah Al-Baqarah, karena membacanya adalah berkah dan tidak membacanya adalah penyesalan. Dan para penyihir tidak akan dapat membacanya.” (HR. Muslim no. 804)

.
Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

.
مَنْ قَرَأَ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
.

“Barangsiapa yang membaca dua ayat ini, yakni akhir surat Al-Baqarah di suatu malam, maka keduanya telah mencukupinya.” (HR. Al-Bukhari no. 5009 dan Muslim no. 1341)
.

Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

.
يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيامَةِ بِالْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ الَّذِيْنَ كانُوا يَعْمَلُوْنَ بِهِ فِي الدُّنْيا تَقَدَّمَهُ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرانَ تَحاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا
.

“Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur`an bersama mereka yang mengamalkannya di dunia. Yang terdepan adalah surah Al-Baqarah dan Ali Imran, keduanya akan membela mereka yang mengamalkannya.” (HR. Muslim no. 805)

.

عَنْ أبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ. اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَـاجَّـانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا. اقْرَءُوا سُـورَةَ الْبَقـرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.

رواه مسلم

.

Abu Umamah al-Bahili ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Bacalah al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya”. Bacalah “Dua bunga”: surah al-Baqarah dan surah Aali Imran, pada hari kiamat nanti keduanya akan datang seolah-olah dua gumpalan awan, atau seperti dua bayang-bayang, atau seperti dua gerombol burung-burung yang berbaris yang akan membela para “sahabatnya”. Bacalah surah al-Baqoroh karena jika kita mengambilnya (membaca/menghafal) merupakan suatu keberkahan dan meninggalkannya merupakan kerugian. Perkara ini tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang batil. (Hadis sahih oleh Muslim no. 1337). 

.

عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ

تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ. ثُمَّ سَكَتَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ: تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا الزَّهْرَاوَانِ، وَإِنَّهُمَا تُظِلاَّنِ صَاحِبَهُمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ غَيَايَتَانِ أَوْ فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ. فَيَقُولُ لَهُ: هَلْ تَعْرِفُنِي. فَيَقُولُ: مَا أَعْرِفُكَ. فَيَقُولُ: أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ، وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ، وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ، وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لاَ يُقَوَّمُ لَهُمَا الدُّنْيَا. فَيَقُولاَنِ: بِمَ كُسِينَا هَذَا ؟ وَيُقَالُ لَهُمَا: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ. ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجِ الْجَنَّةِ وَغُرَفِهَا، فَهُوَ فِي صُعُودٍ مَا دَامَ يَقْرَأُ هَذًّا كَانَ أَوْ تَرْتِيلاً.

رواه أحمد و الدارمي

.

Buraidah ra berkata: Aku duduk bersama Nabi saw, aku mendengar Beliau bersabda:

Belajarkan kalian surah al-Baqarah, sesungguhnya mengambilnya adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya suatu kerugian, dan tidak dapat melakukan hal itu mereka-mereka yang batil. Kemudian Nabi saw diam sejenak lalu bersabda kembali: Kalian, pelajarilah surah al-Baqarah dan surah Aali Imran, karena keduanya adalah bagaikan dua bunga, keduanya akan memayungi “sahabat-sahabat”nya pada hari kiamat nanti, seolah-olah seperti dua awan atau dua bayangan atau dua gerombol burung yang berbaris. Sesungguhnya al-Qur’an itu akan menemui “sahabat”nya ketika dibangkitkan dari kubur dalam bentuk seperti seorang yang pucat, kemudian dia berkata: Apakah kamu mengenalku ?. Dijawab: Aku tidak mengenalmu. Dia berkata lagi: Akulah temanmu, aku al-Qur’an yang telah membuat kamu haus karena kamu membaca dengan mengeluarkan suara, dan membuatmu begadang pada malam-malam harimu. Sesungguhnya setiap pedagang itu mempunyai hasil dari setiap dagangannya. Pada hari ini kamu mendapatkan hasil daganganmu itu. Kemudian orang itu diberikan kerajaan ke tangan kanannya dan kekekalan ke tangan kirinya, kemudian diletakkan di atas kepalanya mahkota kewibawaan, kedua orangtuanya juga dipakaikan dua perhiasan yang keindahan dunia tidak sebanding dengannya. Kedua orang tuanya inipun bertanya: Karena apa kami dipakaikan ini ? Dijawablah: Karena anak kalian berdua yang telah mengambil (mempelajari/menghafal dst) al-Qur’an. Kemudian diperintahkan kepada keduanya untuk terus naik di tangga surga dan kamar-kamarnya. Mereka akan terus naik selama anaknya masih tetap membaca al-Qur’an. (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (hadits no. 21872, 21897 dan 218971) dan al-Darimi (hadits no. 3257 ).

.

عَنْ نَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ :

يَأْتِي الْقُرْآنُ وَأَهْلُهُ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِهِ فِي الدُّنْيَا، تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ.

رواه مسلم و الترمذي

.

Nawwas ibn Sam’an ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Akan datang al-Qur’an bersama para “ahli”nya yang mengamalkannya di dunia, dikepalai (didahului) oleh surah al-Baqarah dan surah Aali Imran. Hadis sahih, dirwayatkan oleh Muslim (hadis no. 1338) dan al-Tirmizi (hadis no. 2808)

SARI CERAMAH BA’DA SHUBUH 12 RAMADHAN 1436 H “MAJELIS ILMU SELAMA RAMADHAN” OLEH USTAD SUNARDI

DSC00252Majelis Ilmu dalam Ramadhan
Ibnu Rajab bekata: Dalam hadits Fathimah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau mengabarkan kepadanya:
.
أنّ جبريل عليه السلام كان يعارضه القرآن كل عام مرةً وأنّه عارضه في عام وفاته مرتين
.
Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam menyimak Al-Qur’an yang dibacakan Nabi sekali pada setiap tahunnya, dan pada tahun wafatnya Nabi, Jibril menyimaknya dua kali. (Muttafaqun ‘Alaihi)
.
Dan dalam hadits Ibnu Abbas:
.
أنّ المدارسة بينه وبين جبريل كانت ليلاً
.
Bahwasanya pengkajian terhadap Al-Qur’an antara beliau dengan Jibril terjadi pada malam bulan Ramadhan. (Muttafaqun ‘Alaihi).
.
Hadits ini menunjukkan sunnahnya mengadakan majelis ilmu untuk mengkaji Al-Quran pada malam bulan Ramadhan, sehingga malam bulan ramadhan adalah malam-malam istimewa, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
.
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءاً وَأَقْوَمُ قِيلاً
.
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (Al-Muzammil: 6)
.

Bulan Ramadhan mempunyai kekhususan dengan (diturunkannya) Al-Qur’an, sebagaimana Allah ta’ala berfirman
.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
.
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Al-Baqarah: 185)   Latha’iful Ma’arif hal. 315.
.
Oleh kerena itulah para ‘ulama salaf rahimahumullah sangat bersemangat untuk memperbanyak membaca dan tadabbur Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.
.
7f9c1-dsc00013Sifat pemurah dan dermawan ketika Ramadhan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

.
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس بالخير، وكان أجود ما يكون في شهر رمضان، إنّ جبريل عليه السلام كان يلقاه في كل سنة في رمضان حتى ينسلخ فيعرض عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم القرآن، فإذا لقيه جبريل كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة.

.
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah dalam memberikan kebaikan, dan sifat pemurah beliau yang paling besar adalah ketika Ramadhan. Sesungguhnya Jibril biasa berjumpa dengan beliau, dan Jibril ‘alaihis salam senantiasa menjumpai beliau setiap malam bulan Ramadhan sampai selesai (habis bulan Ramadhan), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan padanya Al Qur’an. Ketika berjumpa dengan Jibril’ alaihissalam, beliau sangat dermawan kepada kebaikan daripada angin yang berhembus. (Muttafaqun ‘Alaihi)
.
Al-Muhallab berkata: “Dalam hadits tersebut menunjukkan barakahnya beramal kebajikan dan sebagian amalan kebajikan itu akan membuka dan membantu untuk dikerjakannya bentuk amalan kebajikan yang lain. Tidakkah kamu tahu bahwa barakahnya puasa, perjumpaan (Nabi) dengan Jibril, dan dibacakannya Al-Qur’an kepadanya akan menambah kesungguhan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah dan bershadaqah sampai-sampai digambarkan lebih cepat daripada angin yang berhembus.”


HIDANGAN RAMADHAN DENGAN VANILI BERALKOHOL DI BUNTOK?

Selesai kajian ba’da Shubuh Senin tanggal 29 Juni 2015, sebagian jamaah masjid As-Sunnah Buntok masih berkumpul-kumpul untuk melanjutkan sharing. Selain memperjelas apa yang belum jelas dari pemahaman ilmu agama yang ada, juga dimanfaatkan untuk berbagi berbagai informasi.
.
Salah seorang jamaah melontarkan adanya bahan perasa cair yang banyak digunakan di Buntok selama bulan ramadhan 1436 H untuk membuat aneka hidangan berbuka seperti sirop, kue, es kelapa dan roti, ternyata mengandung alkohol.
.
Karena kita termasuk pedagang yang menjual dan juga memanfaatkan bahan tersebut maka kitapun mengadakan pemeriksaan. Ternyata benar, VANILI ITU MENGANDUNG ALKOHOL 63,45 %. Tulisan ini ternyata sangat jelas disetiap botolnya. Dalam setiap pak terdapat BPOM RI dengan seri berbeda untuk tujuh macam rasa yang ada didalam satu pak namun tidak ketemu label halalnya.
.
Mohon informasi atas kedudukan masalah ini mengingat diketahui sekarang dan bagai mana solusinya? Kiranya Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan atau MUI Barito Selatan bisa membuat penjelasan yang mampu menenangkan hati kami, amin. Sekian dan terima kasih

TAUSIYAH 11 RAMADHAN 1436 H / AHAD 28 JUNI 2015 “MAJELIS ILMU (DIRASAH) DALAM BULAN RAMADHAN” OLEH USTADZ SUNARDI

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin.” Shahih Bukhari (صحيح البخارى), Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu). 
.
Hadits ini, di samping menjelaskan sifat murah hati Rasulullah (terlebih saat Ramadhan), juga menginformasikan bahwa Rasulullah melakukan tadarus Al-Qur’an bersama Jibril pada malam bulan Ramadhan.
.
Penjelasan
.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ
.
1. Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati
.
Kalimat (جُوْد) artinya adalah memberi sesuatu kepada yang berhak menerimanya. Ia lebih umum daripada sedekah. Sifat ini adalah sifat Allah SWT yang Ia sukai jika manusia juga memilikinya.
.
Sebaik-baik manusia yang dicintai oleh Allah adalah Rasulullah. Dan beliau manusia terbaik pemilik sifat ini. Maka banyak kita dapatkan riwayat yang menjelaskan sifat murah hati beliau. Misalnya dalam riwayat Anas bin Malik:
.
أنا أجود ولد آدم وأجودهم بعدي رجل علم علما فنشر علمه ورجل جاد بنفسه في سبيل الله
.
Saya adalah keturunan anak Adam yang paling bermurah hati dan orang yang paling bermurah hati setelahku adalah orang yang memiliki ilmu dan menyebarkan ilmunya serta orang yang menyerahkan dirinya untuk berjuang di jalan Allah.
.
Dalam riwayat yang lain Anas bin Malik menyebutkan:
.

كان النبي صلى الله عليه و سلم أشجع الناس وأجود الناس
.
Nabi SAW adalah orang yang paling berani dan paling murah hati
.
وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ
 
.
Rasulullah lebih pemurah lagi ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan
.
Sifat murah hati Rasulullah yang demikian besar, bertambah hebat lagi pada waktu bulan Ramadhan. Pada hari biasa saja kedermawanan Rasulullah sulit untuk dilakukan. Seperti dalam riwayat Ahmad: “Tidak ada sesuatu yang diminta dari beliau kecuali beliau memberikannya.” Sedangkan riwayat dari Jabir “Tidak pernah ada sesuatu yang diminta dari beliau lalu dijawab ‘tidak'”

.
وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
.
 
2. Beliau bertemu Jibril setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani artinya adalah menghafal Al-Qur’an. Pada prakteknya, Rasulullah membaca Al-Qur’an di hadapan Jibril dan Jibril yang mengeceknya. Ini untuk memastikan bahwa tidak ada satu huruf pun yang salah. Seluruh Al-Qur’an harus sama sebagaimana adanya di lauh mahfudz. Tidak boleh ada perbedaan sedikitpun. 
.
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, hadits ini juga menjadi bukti bahwa Al-Qur’an diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan. Lalu setiap Ramadhan dicek, bahkan pada Ramadhan terakhir sebelum Rasulullah wafat, pengecekan berlangsung dua kali.

.

فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

.
3. Sifat murah hati Rasulullah – di bulan Ramadhan – melebihi hembusan angin

الْمُرْسَلَةِ artinya adalah berhembus dengan cepat. Digambarkan demikian karena kedermawanan Rasulullah lebih cepat dari hembusan angin. Dan kedermawanan Rasulullah selalu ada sebagaimana hembusan angin yang selalu ada pula.
.
Angin yang membantu awan sampai menjadi hujan. Angin yang membantu penyerbukan tanaman. Angin yang membantu pernafasan manusia. Dan angin pula yang menggerakkan layar dan kincir angin. Inilah sebagian dari kemurahan angin.

.
Wallaahu a’lam bish shawab. []
.
Reff:  http://indahnyaislamindonesia.blogspot.com/p/tadarus-al-qur-an.html