Archive | May 2013

Presiden SBY Terkejut Ustadz Ba’asyir Bisa Tulis Buku di dalam Penjara

 Kamis, 16 May 2013

JAKARTA (voa-islam.com) – Kepala BNPT, Ansyaad Mbai menyampaikan bahwa Presiden SBY terkejut ketika mengetahui ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang selama ini dipenjara bisa menulis buku.
.
Hal itu disampaikan Ansyaad di depan peserta Dialog Ormas-ormas Islam Dalam Mempertahankan NKRI di Sahid Hotel, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
.
“Bapak Presiden sendiri terkejut ketika saya paparkan; lho dia kan sudah dipenjara. Ini ditulis dipenjara pak,” kata Ansyaad Mbai sambil menunjukkan buku Tadzkiroh yang ditulis ustadz Abu Bakar Ba’asyir, pada Sabtu (11/5/2013).
.
Mungkin saja menurut Presiden yang pandai bernyanyi dan menulis lagu ini, dengan dijebloskan ke dalam penjara akan menghentikan dakwah ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Ternyata sebaliknya, semenjak menjalani vonis zalim 15 tahun penjara, ustadz Abu Bakar Ba’asyir semakin gencar berdakwah, buktinya ia pun sangat produktif menulis sejumlah buku.
.
Diantaranya buku yang ditulisnya adalah Tadzkiroh buku I dan II. Tadzkiroh pertama ditulis ustadz Abu Bakar Ba’asyir berisi peringatan dan nasehat yang ditujukan kepada Presiden RI, Wapres, Ketua MPR RI, Ketua DPR RI, Ketua MK, Ketua MA, Jaksa Agung, Menkopolhukam, MenkumHAM, Paglima TNI dan Kapolri.
.
Dalam buku tersebut memuat lampiran Surat Ulama kepada Presiden Rapublik Indonesia yang pernah disampaikannya pada tahun 2007 lalu.
.
…Bapak Presiden sendiri terkejut ketika saya paparkan; lho dia kan sudah dipenjara. Ini ditulis dipenjara pak
.
Dalam surat itu ustadz Abu Bakar Ba’asyir menceritakan begitu dihinanya ulama yang ingin menemui Presiden untuk menyampaikan Tadzkiroh (peringatan dan nasehat) karena hanya diterima di tengah jalan.
.
Ia juga menegaskan, bahwa selama ini pemerintah tak juga memperhatikan Tadzkiroh yang disampaikannya, hal itu terbukti lantaran pemerintah tidak mau mengatur negara ini dengan Syariat Islam.
.
“Bahwa setelah Presiden, Ketua MPR dan Ketua DPR diberi tadzkiroh oleh beberapa ulama melalui surat tanggal 1 Muharam 1428 H / 20 Januarii 2007 yang diantar ke Istana Negara untuk diserahkan langsung kepada Presiden, pada hari kamis 4 Safar 1428 H / 22 Februari 2007. Tetapi Presiden dan Ketua MPR tidak bersedia menemui ulama-ulama yang membawa surat tadzkiroh tersebut. Akhirnya surat tadzkiroh tersebut hanya diterima di tengah jalan di depan istana oleh dua anak muda putra dan putrid yang tidak pakai jilbab yang diutus oleh juru bicara Presiden waktu itu Andi A. Mallarangeng untuk mengambil surat tersebut.
.
Tapi kenyataannya sampai sekarang tidak ada tanggapan dari anda sekalian, ini berarti anda sekalian menolak mengikuti tadzkiroh tersebut, yang memperingatkan dan menasehati agar anda sekalian yang mengaku beragama Islam mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dalam mengatur negara / pemerintahan Indonesia yang diamanahkan oleh Allah kepada anda sekalian dengan hukum Allah secara kaffah (100%),” demikian kutipan buku Tadzkiroh I ustadz Abu Bakar Ba’asyir. [Ahmed Widad]

PENGAJIAN BULANAN PERTAMA JAMAAH FARDHU KIFAYAH “AS-SUNNAH” BUNTOK

  GambarBerdasarkan undangan Ketua Jamaah Jamaah Fardhu Kifayah “As-Sunnah” Buntok tanggal 3 Mei 2013 Miladiyah (22 Jumadi Tsaniyah 1434 H) yang ditanda-tangani oleh H Ardisen, SPd maka terlaksanalah Pengajian Rutin Bulanan untuk pertama kalinya. Pertemuan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 4 Mei 2013  Pukul 15. 00 WIB (Ba’da Sholat Ashar) dan selesai Pukul 16.00 WIB, dengan Pengantar oleh Syamsuddin Rudiannoor.
 
 Gambar
Pertemuan bulanan pertama Jamaah Fardhu Kifayah “As-Sunnah” Buntok ini dilaksanakan di masjid As-Sunnah Buntok. Setelah disampaikan pembukaan oleh pemandu acara langsung dilanjutkan dengan tausiyah oleh Ustadz Sunardi yang menitik-beratkan pembahasan kepada 12 prinsip pelaksanaan fardhu Kifayah “As-Sunnah” Buntok.
 
 Gambar
Selesai tausiyah dilaksanakan dilanjutkan tanya jawab dengan menyita waktu yang cukup panjang. Selanjutnya dilakukan penarikan iuran anggota berupa sumbangan wajib sebesar Rp. 20.000,- per bulan dan sumbangan sukarela.  
 
 
 Gambar
Dalam pertemuan rutin bulanan kali ini hadir 26 orang yaitu Haji Dedi Apandi (Amir), Sudirman Masdar, H Sukartai, M Romli, H Rahmadi, H Rusma, Ferdiansyah, H Nurcholis Majid, H Sanusi (Hasan), Risman Asmadi (sekretaris),  Haji Rismato (ketua), H Arliansyah, H Ardisen (ketua), Dr. H Birhasani, Dedet, Zainal Abidin, Bambang Basuki, Asma Pujiansyah, H Jon Kenedy, Jayus, Usup, Rijal, Taufik Rahman, Syamsuddin Rudiannoor dan Ustadz Sunardi.  
 
 

Gambar

Sedangkan yang berhalangan hadir dengan pemberitahuan adalah Abd Wahab ke Alabio menemani Bapak Ir Rahmin Hanan ta’ziah keluarga meninggal. 

PBNU tuduh Cikal Bakal Teroris itu Rajin Shalat Malam, Puasa dan Hafal Quran

Ahad, 12 May 2013

JAKARTA (voa-islam.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA mengungkapkan bahwa cikal bakal pemahaman radikalisme dan terorisme sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Ia pun menceritakan sosok Dzulkhuwaisir yang begitu sombong menyuruh Rasulullah berbuat adil.

“Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya, artinya tidak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. Saya tidak termasuk mereka, mereka tidak termasuk kami,” kata Said Aqil Siradj saat menjadi narasumber Dialog Ormas-ormas Islam Dalam Mempertahankan NKRI, di Sahid Hotel, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/5/2013).

…Yang membunuh Sayyidina Ali ini tiap hari puasa, tiap malam tahajjud, hafal Qur’an…

Prediksi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun terjadi, orang-orang yang berpaham Khawarij membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib.

“Prediksi Rasulullah ini terbukti tahun 40 H, Sayyidina Ali keluar dari rumahnya mengimami shalat Shubuh dibunuh, bukan oleh orang Kristen, bukan oleh orang Katholik, bukan orang Hindu, bukan orang non muslim. Yang membunuh Abdurrahman bin Muljam; Qaimul Lail, Shaimun Nahar, Hafizhul Qur’an. Yang membunuh Sayyidina Ali ini tiap hari puasa, tiap malam tahajjud, dan hafal Qur’an,” paparnya.

Alasan pembunuhan Ali bin Abi Thalib kata Said Aqil karena Khawarij menuduhnya telah menggunakan hukum manusia hasil musyawarah Daumatul Jandal atas perselisihan antara pihak Ali dan Muawiyah.

Wal hasil, inilah cikal bakal radikalisme, terorisme dalam Islam. Korbannya bukan siapa-siapa, korbannya adalah awwalu man aslama minal sibyan, remaja pertama yang memeluk Islam,” imbuhnya.

…Apakah khawarij itu karena rajin shalat malam dan lain sebagainya? padahal ada perkara mendasar di sana soal Khawarij…

 

Menanggapi hal itu, Amir JAT Wilayah Jakarta, ustadz Nanang Ainur Rofiq meluruskan penjelasan Ketua PBNU Said Aqil Siradj tentang Khawarij. Menurutnya ciri Khawarij yang disampaikan Said Aqil Siradj justru tendensius bagi kaum muslimin sendiri.

Said Aqil begitu sering mengulang-ulang ciri Khawarij adalah Qaimul Lail, Shaimun Nahar, Hafizhul Qur’an (sering mendirikan shalat malam, berpuasa di siang hari dan hafal Al-Qur’an) padahal ciri itu sebenarnya gambaran seorang muslim yang taat.

“Apakah khawarij itu karena rajin shalat malam dan lain sebagainya, padahal ada perkara mendasar di sana soal Khawarij,” ujarnya di hadapan ratusan hadirin yang hadir.

Persoalan Khawarij itu adalah karena mereka mengkafirkan pelaku dzanbun kabair (pelaku dosa besar) ini yang tidak dijelaskan…

Padahal substansi dari kisah Dzilkhuwaisir adalah paham mengkafirkan yang serampangan terhadap Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah dan menerapkan syariat Islam. Jauh berbeda dengan pemerintah sekarang yang tidak menerapkan hukum Islam.

Kemudian, ciri yang paling mencolok dari paham Khawarij juga mengkafirkan para pelaku dosa besar inilah yang tidak dijelaskan oleh Said Aqil Siradj.

“Persoalan Khawarij itu adalah karena mereka mengkafirkan pelaku dzanbun kabair (pelaku dosa besar) ini yang tidak dijelaskan. Padahal semua ulama itu paham apa itu dzanbun mukaffirah, dzanbun kabair, dzanbun ma’ashi,” jelasnya.

Pemahaman itulah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. “Ahlus sunnah melarang mengkafirkan orang yang melakukan dzanbun kaba’ir,”  tandasnya. [Ahmed Widad]