Archive | July 2013

Jawaban Syar’i Untuk Komen Said Aqil Tentang Sweeping yang Tak Syar’i

Selasa, 30 Jul 2013

 

 

JAKARTA (voa-islam.com) – Said Aqil Siradj kembali berkomentar dengan mendiskreditkan ormas Islam yang giat beramar ma’ruf nahi mungkar. Kali ini yang jadi sasaran Said Aqil adalah aksi monitoring Front Pembela Islam (FPI) terhadap sejumlah tempat maksiat di Sukorejo Kendal beberapa waktu lalu.

 

Menurut Ketua PBNU yang sering mengeluarkan statemen kontroversial ini, ia mengaku setuju jika ormas yang dirasa “meresahkan” masyarakat dibubarkan saja sebagaimana pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

 

“Saya dukung Pak SBY dalam mengambil langkah tegas terhadap ormas yang mengatasnamakan Islam dan menghadirkan rasa takut kepada mayarakat dibubarkan,” katanya usai acara peresmian Ponpes Luhur Al-Tsaqofah di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (28/7/2013) seperti dilansir detik.

 

“Kepada teman-teman FPI, cobalah kita merenungkan Sirah Nabawiyah, contoh Nabi Muhammad SAW itu. Tidak pernah Nabi Muhammad memerintahkan sweeping,” tambah Said.

 

…NABI TIDAK PERNAH MEMERINTAHKAN SWEEPING? Apa hadits berikut ini bukan sweeping namanya pak Kyai?…

 

Menanggapi pernyataan Said Aqil tersebut, Ketua Masyarakat Peduli Syari’at Islam (MPSI) Grabag Magelang, ustadz Fuad Al-Hazimi mengatakan bahwa sweeping memang tidak pernah ada dan dilakukan di zaman Nabi Muhammad SAW.

 

Sebab bila ada sebuah kemungkaran, apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW maupun para sahabat adalah tidak untuk mencegahnya, melainkan langsung menindak tegas para pelaku maksiat dan kemungkaran tersebut.

 

“NABI TIDAK PERNAH MEMERINTAHKAN SWEEPING? Apa hadits berikut ini bukan sweeping namanya pak Kyai?,” tanya ustadz Al-Hazimi dalam akun jejaring sosialnya.

 

Kemudian, mantan Imam Masjid Al Hijrah Sydney NSW Australia ini mengutip sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu yang meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :

 

…Kalau cuma sweeping mah cemen, namanya juga baru penyadaran, kayak anak kecil yang di jewer telinganya. Apa mau langsung yang macam ini?…

 

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh, aku pernah bertekad untuk menyuruh orang membawa kayu bakar dan menyalakannya, kemudian aku akan perintahkan orang untuk mengumandangkan adzan untuk shalat (berjama’ah) kemudian akan aku suruh salah seorang untuk mengimami orang-orang (jama’ah) yang ada lalu aku akan berangkat mencari para lelaki yang tidak ikut shalat berjama’ah itu supaya aku bisa membakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

“Kalau cuma sweeping mah cemen, namanya juga baru penyadaran, kayak anak kecil yang di jewer telinganya. Apa mau langsung yang macam ini?,” tegasnya sambil memberikan sejumlah contoh upaya penindakan terhadap pelaku kemaksiatan dan kemungkaran.

 

  1. Hudud zina ghoiru muhson = 100 kali cambuk dan diasingkan selama 1 tahun
  2. Hudud zina muhson = di rajam hingga mati
  3. Hudud mencuri (bila sudah sampai batas nishob) = potong tangan
  4. Hudud menuduh zina tanpa bukti = 80 kali cambuk dan ditolak persaksiannya
  5. Hudud minum khomr = 40 kali cambukan
  6. Hudud menghina Allah, Islam, Rasul dan Al Qur’an = eksekusi mati
  7. Hudud murtad = eksekusi mati
  8. Hudud Lesbi atau Gay = Dilempar batu atau dijatuhkan dari ketinggian 
  9. Hudud-hudud lain pun masih ada seperti qishosh, ta’zir dan sebagainya.

 

Ustadz yang juga pengurus Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia (DDII) kabupaten Magelang ini menjelaskan, istilah yang tepat untuk penegakan hukum dalam Islam adalah “HADD”.

 

…Sebenarnya istilah yang tepat bukan hudud tapi hadd. Namun yang sudah jama’ dikenal oleh umat Islam Indonesia adalah hudud. Maka saya pakai istilah ini…

 

“Sebenarnya istilah yang tepat bukan hudud tapi hadd. Namun yang sudah jama’ dikenal oleh umat Islam Indonesia adalah hudud. Maka saya pakai istilah ini,” terangnya.

 

Terakhir, ustadz Al-Hazimi berpesan, jangan sampai umat Islam dilaknat oleh Allah karena durhaka kepada Allah lantaran tidak mau mencegah perbuatan maksiat yang dia ketahui. Allah Azza wa Jalla berfirman :

 

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

 

“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat Allah dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka lakukan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al Maa-idah 5 : 78 – 79).

 

Adapun urutan amar ma’ruf nahi mungkar adalah sesuai hadits Nabi Muhammad SAW :

 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

 

“Barangsiapa yang menyaksikan kemungkaran, maka wajib baginya untuk merubah dengan tangannya (kekuatannya), jika ia tidak mampu maka ia wajib menggunakan lisannya, jika ia tidak mampu maka ia wajib menggunakan hatinya, dan itu adalah iman yang paling lemah”. (HR. Muslim). [Khalid Khalifah]

Advertisements

SBY Minta Ulama tak Berpolitik, Lalu apa Pendapat Ulama Salaf?

Kamis, 25 Jul 2013

Oleh: Ahmed Widad

 

 

VOA-ISLAM.COM – Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono beberapa hari yang lalu meminta para ulama fokus pada tugasnya, yakni menegakkan ajaran agama Islam dan tidak perlu ulama terlibat politik praktis.

 

 

 

“Memang tidak dilarang ulama berbicara politik, itu hak asasi, itu hak politik, terbuka dalam era demokrasi. Tapi, kami bersyukur kalau para ulama lebih mencurahkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk menegakkan ajaran Islam,” kata Presiden SBY saat pertemuan dengan Forum Rektor Perguruan Tinggi Islam di Istana Negara, Jakarta, Selasa (23/7/2013).[1]

 

 

 

Pernyataan SBY yang meminta para ulama untuk tidak berpolitik justru pernyataan yang membelakangi syariat alias bertentangan dengan Islam secara total. Dan pernyataan tersebut semakin membuktikan bahwa SBY adalah penganut sekulerisme.[2]

 

 

 

Politik atau yang biasa dikenal sebagai Siyasah dalam Islam adalah satu hal yang tak bisa dipisahkan dengan dien. Karena Islam telah dibuat dengan sempurna oleh Allah untuk mengatur kehidupan manusia. Allah Ta’ala berfirman:

 

 

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

 

 

 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al-Maidah: 3).

 

 

 

Diantara dalil yang mewajibkan adanya siyasah (politik) adalah surat An-Nisa ayat 59:

 

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

 

 

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu… (Q.S. An-Nisa: 59).

 

 

 

Perintah taat terhadap ulil amri menandakan wajibnya kaum muslimin memiliki seorang ulil amri atau imam (sederhananya pemimpin, red) yang mengatur hajat kepentingan orang banyak dan di sinilah esensi siyasah (politik) tersebut. Tentu dengan catatan ulil amri yang dimaksud adalah minkum berasal dari kaum mukminin yang menegakkan syariat Islam, bukan syariat thaghut.

 

 

 

الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا ، وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ

 

 

 

Al-Imam Abu Hasan Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyyah berkata, “Imamah ditegakkan sebagai salah satu sarana untuk meneruskan Khilafatun Nubuwah dalam rangka memelihara agama dan (siyasah) mengatur urusan dunia. Menegakkannva di tengah-tengah umat adalah wajib berdasarkan ijma’ bagi yang berwenang untuk itu.”

 

 

 

Siyasah (politik) adalah salah satu warisan para Nabi, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

 

 

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ

 

 

 

Bani Isra’il, kehidupan mereka selalu dibimbing oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. (HR. Bukhari )

 

 

 

Kalimat  (mereka dibimbing) satu akar dengan (politik) yaitu dari kata – saasa (ساسَ), yang artinya mengatur, menjaga, memelihara, dan mengurus. Kalimat  – saasa al Qauma artinya mengatur mereka dan mengurus urusan mereka. Al Munjid wal I’lam hal.362.

 

 

 

Dari sini, kita fahami bahwa siyasah adalah upaya membimbing, mengurus, mengatur, memelihara, dan menjaga manusia.

 

 

 

Perkataan Ulama terhadap Sekulerisme

 

 

 

Para ulama sepakat menyatakan bahwa sekulerisme merupakan paham kekafiran. Barang siapa menganutnya, ia telah kafir keluar dari Islam. Dalam hal ini, beberapa ulama telah menulis buku khusus tentang kafirnya orang-orang sekuler, seperti syaikh Muhammad Syakir Syarif dalam bukunya Al Ilmaniyatu wa Tsimaruha Al Khabitsah, Syaikh Muhammad Abdul Hadi Al Mishri dalam bukunya Mauqifu Ahli Sunah Minal Ilmaniyah ‘Awa’iqu Inthilaqah Al Kubra, syaikh Muhammad Quth dalam bukunya Al Ilmaniyatu, Syaikh Safar Abdurahman Al Hawali dalam bukunya Al Ilmaniyatu dan banyak ulama lainnya.

 

 

 

Syaikh Muhammad Syakir Syarif menyebutkan dua bentuk sekulerisme pada hari ini, yaitu sekulerisme atheis (mengingkari adanya Allah Ta’ala) dan sekulerisme non atheis. Setelah menerangkan masing-masing bentuk, beliau mengatakan :

 

 

 

والخلاصة : أن العلمانية بصورتيها السابقتين كفر بواح لاشك فيها ولا ارتياب ، وأن من آمن بأي صورة منها وقبلها فقد خرج من دين الإسلام والعياذ بالله ، وذلك أن الإسلام دين شامل كامل ، له في كل جانب من جوانب الإنسان الروحية ، والسياسية ، والاقتصادية ، والأخلاقية ، والاجتماعية ، منهج واضح وكامل ، ولا يقبل ولا يُجيز أن يشاركه فيه منهج آخر ، قال الله تعالى مبينًا وجوب الدخول في كل مناهج الإسلام وتشريعاته : يا أيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة  . وقال تعالى مبينًا كفر من أخذ بعضًا من مناهج الإسلام ، ورفض البعض الآخر ،  أفتؤمنون ببعض الكتاب وتكفرون ببعض فما جزاء من يفعل ذلك منكم إلا خزي في الحياة الدنيا ويوم القيامة يردون إلى أشد العذاب وما الله بغافل عما تعملون

 

 

 

“Kesimpulannya: Sekulerisme dengan kedua bentuknya tadi merupakan sebuah kekafiran yang sangat nyata, tak ada keraguan sedikitpun tentang hal ini. Dan bahwasanya siapa pun yang mempercayai salah satu dari kedua bentuk ini, berarti telah keluar dari Islam  –naudzu billah-. Hal ini karena Islam merupakan sebuah dien yang syamil. Islam mempunyai manhaj yang jelas dan sempurna dalam seluruh aspek kehidupan manusia baik aspek ruhani, politik, ekonomi, moral dan sosial. Islam tidak membolehkan dan tidak pula menerima adanya saingan manhaj lain yang mengatur (aspek kehidupan manusia).

 

 

 

Allah ta’ala berfirman tentang wajibnya masuk dalam seluruh manhaj dan tasyri’ Islam:

 

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

 

 

 

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan… (Q.S. Al-Baqarah: 208).

 

 

 

Allah Ta’ala juga berfirman tentang kafirnya orang yang menerima sebagian manhaj Islam dan menolak sebagian manhaj Islam lainnya:

 

 

 

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

 

 

 

…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al Baqarah ;85).[3]

 

 

 

Hal senada juga disampaikan oleh Syaikhul Azhar, Syaikh Muhammad Khidir Husain berkata:

 

 

 

فصل الدين عن السياسة هدم لمعظم حقائق الدين ولا يقدم عليه المسلمون إلاّ بعد أن يكونوا غير مسلمين

 

 

 

“Memisahkan dien dari  politik merupakan penghancuran terhadap sebagian besar ajaran dien dan hal itu tidak mungkin dilakukan oleh kaum muslimin kecuali setelah mereka tidak beragama Islam lagi (murtad terlebih dahulu).” [4]

 

 

 

Sistem Demokrasi Sekuler

 

 

 

Jika ikut serta dalam urusan politik praktis demokrasi sekuler saja SBY sudah meminta para ulama tidak turut campur, logikanya, apa lagi dengan siyasah syar’yyah (Politik yang sesuai syariat Islam).[5]

 

 

 

Fenomena demokrasi sekuler di mana di dalamnya terdapat Pemilu guna memilih presiden muapun anggota DPR RI memang menjadi syubhat di tengah umat. Sebagian dari kalangan kaum muslimin masih saja menganggap demokrasi diperbolehkan sebagai sarana menegakkan Islam.

 

 

 

Namun sebagian lainnya menyatakan bahwa demokrasi adalah sistem kufur, bahkan menjadi dien itu sendiri yang terlepas dari Islam sebagaimana ditulis oleh Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi dalam kitabnya yang begitu popular, Ad-Dimuqrathiyyah Dienun dan sudah diterjemahkan dengan judul Agama Demokrasi.[6]

 

 

 

Dr. Shalah Shawi mengungkapkan pandangannya tentang sistem sekuler demokrasi yang merampas hak Allah dengan menjadikan manusia sebagai Tuhan yang membuat hukum (fungsi legislatif) dalam DPR/MPR.

 

 

 

أن طواغيت البشر قد نازعوا الله في هذا الحق، فادعاه الأحبار والرهبان لأنفسهم؛ فأحلوا به الحرام، وحرموا به الحلال، واستطالوا به على عباد الله، وصاروا بذلك أربابًا من دون الله، ثم نازعهم الملوك في هذا الحق حتى اقتسموا السلطة مع هؤلاء الأحبار والرهبان، ثم جاء العلمانيون والثوار فنزعوا هذا الحق من هؤلاء وهؤلاء، ونقلوه إلى هيئة تمثل الأمة أو الشعب، أطلق عليها اسم البرلمان أو مجلس النواب

 

 

 

” Sesungguhnya thaghut-thaghut manusia sejak dulu dan kini telah merampas hak Allah untuk memerintah, melarang dan tasyri’ (membuat UU) tanpa izin Allah. Para pendeta dan ahli ibadah mengakuinya sebagai hak mereka maka mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, dengannya mereka  memperbudak manusia dan menjadi tuhan-tuhan selain Allah. Lalu para raja merebut hak ini dari tangan mereka sampai akhirnya para raja berbagai hak ini dengan para pendeta dan ahli ibadah itu, lalu datanglah orang-orang sekuler yang merampas hak ini dari para raja dan pendeta, mereka pindahkan hak itu kepada lembaga yang mewakili rakyat yang mereka beri nama Parlemen atau Majleis Perwakilan (MPR/DPR).” [7]

 

 

 

Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali Abdul Lathif dalam kitabnya Nawaqidhul Iman Al-Qauliyyah wal ‘Amaliyyah juga mengutip perkataan Dr. Shalah Shawi sebagai berikut:

 

 

 

إن الحالة التي تواجهها مجتمعاتنا المعاصرة هي حالة الإنكار على الإسلام أن تكون له صلة بشؤون الدولة، والحجر عليه ابتداء أن تتدخل شرائعه لتنظيم هذه الجوانب، وتقرير الحق في التشريع المطلق في هذه الأمور للبرلمانات والمجالس التشريعية.

 

 

 

إننا أمام قوم يدينون بالحق في السيادة العليا والتشريع المطلق للمجالس التشريعية، فالحلال ما أحلته، والحرام ما حرمته، والواجب ما أوجبته، والنظام ما شرعته، فلا يجرم فعل إلا بقانون منها، ولا يعاقب عليه إلا بقانون منها، ولا اعتبار إلا للنصوص الصادرة منها

 

 

 

هذه المحنة التي نواجهها اليوم، والتي لا يصلح لدفعها ترقيع جزئي بإلغاء بعض المواد، والنص على اخرى، وإنما يصلحه أن نبدأ بتقرير السيادة المطلقة والحاكمية العليا للشريعة الإسلامية، والنص على أن كل ما يتعارض معها من القوانين أو اللوائح فهو باطل

 

 

 

Sesungguhnya kondisi yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat kita saat ini adalah kondisi pengingkaran terhadap kenyataan bahwa Islam mempunyai hubungan dengan urusan kenegaraan. Dari  sejak awal, syariah Islam dicegah untuk mengatur berbagai aspek kehidupan dalam negara dan kondisi dimana hak mutlak untuk membuat Undang Undang (UU) dalam aspek-aspek kehidupan ini ditetapkan untuk parlemen dan Majelis Permusyawaratan.

 

 

 

Kita saat ini berada di hadapan suatu kaum yang meyakini kekuasaan tertinggi (kedaulatan) dan hak mutlak membuat UU berada di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Halal adalah apa yang dinyatakan halal oleh MPR, haram adalah apa yang dinyatakan haram oleh MPR, wajib adalah apa yang diwajibkan oleh MPR, UU adalah apa yang ditetapkan oleh MPR. Suatu perbuatan tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan kecuali bila melanggar  UU yang ditetapkan MPR, tidak dihukum kecuali berdasar UU ketetapan MPR, dan tidak ada dasar hukum kecuali bunyi teks-teks UU yang dikeluarkan oleh MPR.

 

 

 

Ujian yang kita alami hari ini, dimana untuk memperbaikinya tidak bisa dengan sekedar membuang sebagian pasal-pasalnya, atau sebagian teksnya saja, namun kondisi ini hanya akan menjadi baik dengan cara kita mulai dengan menetapkan kekuasaan mutlak dan hak membuat undang-undang tertinggi berada di tangan syariah Islam, dan menetapkan secara tegas bahwa setiap UU atau ketetapan yang bertentangan dengan syariah Islam dianggap batil. [8]

 

 

 

Demikianlah sekelumit fatwa para ulama salafus shalih, semoga semakin membuka mata kaum muslimin bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari politik, Islam tidak bisa dipisahkan dengan negara, Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

 

 

 

Jika berpolitik saja para ulama dilarang, maka apa namanya jika bukan sekuler? Jika sudah sistem sekuler yang diterapkan di Indonesia, masihkah ada yang menganggap negeri ini sebagai darul Islam dan pemimpinnya sebagai ulil amri yang harus ditaati? Wallahu a’lam bish shawab. [Ahmed Widad]

 

 

 

 

 


 

 

 

[1] http://nasional.kompas.com/read/2013/07/23/2233382/Presiden.SBY.Ingin.Ulama.Tak.Berpolitik

 

 

 

[2] Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. (wikipedia).

 

 

 

[3] – Al Ilmaniyatu wa Tsimaruha Al Khabitsah hal. 8, dengan pengantar syaikh Abdullah bin Abdurahman Al Jibrin. 

 

 

 

[4] – Musykilatul Ghuluw III/866 , Dr. Abdurahman bin Mu’alla Al Luwaihiq dan Tahkimu Syariah karangan Dr. Sholah Showi hal. 33.  Lihat juga Aqwaalul Aimmah wa Du’at fi Riddati Man Baddala Syari’ah Minal Hukkam Ath Thughat hal. 38.

 

 

 

[5] Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengutip perkataan Abdurrahman Ibnu ‘Uqail berkata tentang definisi As-Siyasah Asy-Syar’iyyah dalam kitabnya Ath-Thuruqul Hukmiyyah, hal. 16:

 

 

 

السِّيَاسَةُ مَا كَانَ فِعْلاً يَكُونُ مَعَهُ النَّاسُ أَقْرَبَ إلَى الصَّلَاحِ، وَأَبْعَدَ عَنْ الْفَسَادِ، وَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نَزَلَ بِهِ وَحْيٌ

 

 

 

Siyasah adalah tindakan yang dengan tindakan itu manusia dapat lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan meskipun tindakan itu tidak ada ketetapannya dari rasul dan tidak ada tuntunan wahyu yang diturunkan

 

 

 

[6] Ketahuilah sesungguhnya kata demokrasi yang busuk ini di ambil dari bahasa Yunani bukan dari bahasa Arab. Kata ini merupakan ringkasan dari gabungan dua kata: (Demos) yang berarti rakyat dan (kratos) yang berarti hukum atau kekuasaan atau wewenang membuat aturan (tasyrii’). Jadi terjemahan harfiyyah dari kata demokrasi adalah: Hukum rakyat, atau kekuasaan rakyat atau tasyri’ rakyat.. Dan makna itu merupakan makna demokrasi yang paling esensial menurut para penghusungnya. Karena makna inilah mereka selalu bangga dengan memujinya, padahal makna ini (hukum, tasyri’ dan kekuasaan rakyat) wahai saudaraku Muwahhid pada waktu yang bersamaan merupakan salah satu dari sekian ciri khusus kekafiran, kemusyrikan serta kebatilan yang sangat bertentangan dan berseberangan dengan Dienul Islam dan Millah Tauhid. (Agama Demokrasi, Hal. 28, Penerjemah Ustadz Aman Abdurrahman).

 

 

 

[7] . Nazhariatus Siyadah Wa Atsaruha  ‘Ala Syar’iyatil Anzhimah Al Wadh’iyah hal. 30.

 

 

 

[8] . Nawaqidhul Iman Al Qauliyah wal ‘Amaliyah  Juz 2, hal. 63

Salah! Meyakini Tidak Boleh Shalat Sunnah Sesudah Witir

Kamis, 25 Jul 2013

 

Oleh: Badrul Tamam

 

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

 

Meyakini bahwa tidak boleh shalat sunnah di malam hari sesudah shalat witir berjamaah di masjid adalah keyakinan yang salah. Sehingga seseorang meninggalkan shalat bersama imamnya saat imam masuk shalat Witir karena ingin menghidupkan malamnya dengan shalat-shalat sunnah. Ia merasa bahwa setelah shalat witir tidak boleh lagi shalat sunnah.

 

Ada kasus nyata, seorang imam shalat Tarawih sesudah mengimami sampai 8 rakaat ia meminta agar digantikan oleh yang lainnya untuk mengimami witir. Ia pulang (tidak shalat witir bersama jamaah) dengan alasan witirnya nanti malam. Karena ia ingin menambah bilangan shalat malamnya. Ia meyakini, setelah shalat witir tidak boleh lagi melaksanakan qiyamullail (shalat sunnah) sesudahnya.

 

Keyakinan ini tidak benar. Dalilnya adalah hadits yang dikeluarkan Imam Muslim dari Abu Salamah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau menjawab, “beliau shalat 13 rakaat; beliau shalat delapan rakaat lalu witir. Kemudian shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Apabila beliau hendak ruku’ maka beliau berdiri lalu ruku’. Kemudian beliau shalat dua rakaat antara Adzan dan Iqamah untuk shalat Shubuh.”

 

Dalam Musnad Ahmad, dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam shalat dua rakaat sesudah witir dengan cara duduk. Beliau membaca di dalamnya إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ (surat Al-Zalzalah) dan  قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (Surat Al-Kafirun).

 

Dalil penguat yang lainnya adalah pesan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada sejumlah sahabat agar mengerjakan witir sebelum tidur karena dikhawatirkan tidak bangun di waktu malam.

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

 

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَلَاةِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ

 

“Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dari setiap bulan, shalat witir sebelum tidur, dan dari shalat Dhuha, maka sungguh itu adalah shalatnya awwabin (shalatnya orang-orang yang banyak taat kepada Allah).” (HR. Ahmad dan Ibnu Huzaimah. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib)

 

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

 

مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ثُمَّ لِيَرْقُدْ وَمَنْ طَمِعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

 

“Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bangun di akhir malam hendaknya ia witir di awal malam, lalu ia tidur. Dan siapa  di antara kalian yang yakin benar bisa bangun di akhir malam maka hendaknya ia berwitir di akhir malam. Sebab, bacaan di akhir malam dihadiri Malaikat dan lebih utama.” (HR. Muslim, Al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

 

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

 

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

 

“Jadikan witir sebagai akhir shalat malammu,” (Muttafaq ‘Alaih dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma). Makna hadits ini dibawa kepada anjuran. Siapa yang ingin shalat lagi sesudah witir tersebut itu dibolehkan dengan syarat tidak witir lagi di malam itu. Ia shalat dua rakaat, dua rakaat saja. Karena tidak ada dua witir dalam satu malam, (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Nasai dan lainnya). Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Penguasa Boneka Saudi Inginkan Imam Masjid Standar Amerika!

 Jumat, 26 Juli 2013 02:03

imam-masjidil-haram_430_250
Syabab.Com – Sebuah laporan pemerintah AS menegaskan bahwa Kementerian Urusan Islam dan Wakaf Kerajaan Arab Saudi telah memberhentikan sekitar 3.500 imam masjid dari pekerjaannya karena pemikiran mereka yang dinilainya “radikal”. Di bawah ancaman pemecatan dari pekerjaan, para penguasa berusaha untuk memanfaatkan para imam masjid supaya mereka menempelkan legitimasi “syariah” atas pemerintahan thaghutnya dan loyalitasnya pada kaum kafir. Sehingga di bawah slogan “moderasi” dan memerangi “ekstremisme”, maka munkar menjadi makruf, dan sebaliknya makruf menjadi munkar.

Dengan demikian, pendudukan Amerika di Teluk menjadi sebuah kebutuhan! Sementara seruan untuk melawannya adalah sikap ekstrimisme! Menyerukan negara demokrasi merupakan tindakan moderat! Sementara menyerukan negara Khilafah merupakan tindakan ekstrimis!

Itulah model para imam yang diinginkan oleh para penguasa otoriter, boneka kaum kafir. Sementara sikap lantang dalam menyuarakan kebenaran Islam adalah jalan Allah yang lurus. Lalu yang mana dari keduanya yang akan dipilih oleh orang yang berada di atas mimbar Rasulullah SAW yang mulia? [pal-tahrir.info/htipress/syabab.com]

VIDEO SISWI PERMAINKAN SHALAT

 

 


HUKUM ISLAM BAGI MEREKA YANG MEMPERMAINKAN AKIDAH

 
Bismillah,
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

 
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66].

Diriwayatkan dari lbnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah secara ringkas. Ketika dalam peristiwa perang Tabuk ada orang-orang yang berkata “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al Qur`an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan”. Maksudnya menunjuk kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang ahli baca Al Qur`an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “Omong kosong yang kamu katakan. Bahkan kamu adalah munafik. Niscaya akan aku beritahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Lalu pergilah Auf kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan hal tersebut kepada Beliau. 

Tetapi sebelum ia sampai telah turun wahyu Allah kepada Beliau. Ketika orang itu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka berkatalah dia kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah! Sebenarnya kami hanya bersenda-garau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk pengisi waktu saja dalam perjalanan kami”. Ibnu Umar berkata: Sepertinya aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”


 

Hubungan Pembahasan Ini Dengan Tauhid

Hakikat tauhid adalah penyerahan diri, taat, menerima dan mengagungkan Allah Azza wa Jalla. Sedangkan bersenda gurau dan mengolok-olok Allah, Al Qur`an dan Rasul-Nya merupakan penentangan, karena tidak menunujukkan pengagungan.

Tauhid berarti kesepakatan, sedangkan mengolok-olok bermakna sebaliknya. Oleh karena itu, sebagian ahli ilmu berkata, bahwa orang kafir terbagi menjadi dua.


Pertama : Mu’ridhun (yang berpaling), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ ۖ فَهُم مُّعْرِضُونَ

Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling. [Al Anbiya : 24].

Kedua : Mu’aaridhun (yang menentang atau membantah). Yaitu mereka yang selalu melakukan penentangan dengan berbagai cara untuk memadamkan cahaya Allah. Salah satu bentuk penentangan itu ialah dengan mengolok-olok atau hal-hal serupa lainnya. Mengolok-olok Allah, Rasul atau Al Qur`an, tidak mungkin keluar dari hati orang yang bertauhid, tetapi keluar menjadi kebiasaan orang-orang munafik atau orang kafir musyrik.

Menurut pendapat yang benar, sebagaimana dikatakan Syaikh Shalih Abdul Aziz Bin Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh dalam kitab At Tamhid Li Syarh Kitab At Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal Ibad, beliau mengatakan, yang dimaksud oleh surat At Taubah di atas ialah orang munafik. Karena ahli tauhid tidak mungkin melakukan senda gurau dengan berolok-olok. Jika dia melakukan olok-olok, maka dapat diketahui, sesungguhnya dia tidak mengagungkan Allah, dan tidak bertauhid, karena mengolok-olok meniadakan pengagungan.

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, Allah telah memberi kabar, bahwa mereka telah kafir setelah beriman padahal mereka berkata “sesungguhnya kami berbicara kekafiran tanpa ada keyakinan, kami hanya bersenda gurau dan bermain~main saja”. Allah telah menerangkan, menghina ayat-ayatNya adalah kufur. Perkataan ini, tidak akan terucap kecuali dengan hati lapang mengucapkannya. Karena, kalau di dalam hatinya ada keimanan, tentu seseorang tidak akan mengucapkan perkataan yang mengandung olok-olok tersebut.
 


Hukum Mengolok-Olok Allah, Al Qur`an Dan Rasul

Barangsiapa yang mencela Allah Azza wa Jalla atau bersenda gurau ketika menyebut nama-Nya dan tidak menampakkan penghormatan, atau bersendagurau dengan mengolok-olok Al Qur`an atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia menjadi kafir, kufur besar, yang berarti keluar dari agama Islam. Dia menjadi kafir jika mengolok-olok tiga hal tersebut, atau olok-olokannya tertuju kepada tiga hal tersebut. Inilah yang dimaksud dalam bab ini.

Berbeda halnya jika mengolok-olok agama. Mengolok-olok agama terdapat perincian. Jika bersenda gurau dengan agama, maka perlu dilihat yang dimaksudkannya asal agamanya ataukah amaliah agama orang yang diolok-oloknya.

Contoh, jika ada seseorang yang mengolok-olok penampilan seorang muslim, padahal penampilan muslim itu berarti mengamalkan Sunnah, apakah dalam hal ini ia telah melakukan olok-olok yang mengeluarkannya dari agama Islam? Jawabnya, tidak. Karena, olok-oloknya ditujukan kepada praktek keagamaan, bukan kepada asal agama.

Dalam hal ini, maka perlu dijelaskan kepadanya, bahwa yang dia olok-olok adalah Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ia telah mengetahui tentang hal itu, kemudian masih juga mengolok-olok, mencela orang yang mengamalkan Sunnah, padahal ia sudah mengetahui dan meyakinina, maka perbuatannya tersebut tergolong mengolok-olok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentunya mengeluarkannya dari agama.

Demikian pula jika mengolok-olok dengan kalimat yang kembalinya kepada Al Qur`an atau selain Al Qur`an, juga terdapat perincian. Singkat kata, jika mengolok-olok Allah, sifat-sifatNya atau nama-namaNya atau mengolok-olok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Al Qur`an, maka hal itu merupakan kekufuran. Jika olok-oloknya bukan kepada tiga hal tersebut, maka dilihat, jika kembali kepada salah satu dari tiga hal itu, maka hal itu adalah kufur besar. Jika tidak, berarti dia telah melakukan perbuatan yang haram, tidak termasuk kufur besar. [1]


 

Taubat Orang Yang Mengolok-Olok

Ayat 65-66 Surat At Taubah di atas merupakan nash, bahwa mengolok-olok Allah, Rasul dan ayat-ayatNya -maksudnya syariat Allah- adalah kafir; tidak diterima udzurnya; meski berkilah hanya bergurau dan bermain-main. Karena mengagungkan Allah dan mentauhidkanNya, mengharuskan seseorang untuk tidak mempermainkan dan mengolok-olokNya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menyebutkan faidah dari dua ayat surat At Taubah tersebut. Di antaranya, taubat orang yang mengolok-olok Allah diterima, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.


إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ

Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat),… [At Taubah : 66]

Dan ini terjadi. Di antara orang-orang yang dimaksudkan oleh ayat itu ada yang dimaafkan oleh Allah dan diberi hidayah kepada Islam. Bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Ini merupakan dalil yang kuat, bahwa orang yang mengolok-olok Allah diterima taubatnya. Akan tetapi harus disertai dengan bukti yang nyata atas ketulusan taubatnya, karena kufur akibat mengolok-olok adalah kekufuran yang sangat berat, tidak sebagaimana kufurnya orang yang berpaling (dari Allah) atau menolak (apa yang datang dari Allah). [2]

Dalam menafsirkan ayat di atas, Ikrimah berkata: “Ada orang yang termasuk -insya Allah- diampuni berkata, ‘Ya Allah sesungguhnya aku mendengar suatu ayat yang dimaksud dalam ayat itu adalah aku. Sebuah ayat yang membuat kulit merinding dan hati menjadi takut. Ya Allah, jadikanlah kematianku terbunuh di jalanMu, sehingga tidak ada seseorang yang berkata bahwa aku telah memandikannya, aku mengafaninya, atau aku menguburkannya’. Maka ia terbunuh pada perang Yamamah, dan tidak seorangpun dari kaum Muslimin menemukan jasadnya”.

Demikian halnya taubat dari mencela rasul. Diterima taubatnya, tetapi wajib dieksekusi (hukum bunuh) setelahnya. Berbeda dengan mencela Allah yang diterima taubatnya tanpa eksekusi. Hal ini bukan karena hak Allah lebih rendah dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi karena Allah mengabarkan berkenaan dengan hakNya, bahwa Dia mengampuni semua dosa. Sedangkan mencela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan dua hal.

 
Pertama : Merupakan perkara syar’i. Kaitannya Muhammad sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sisi ini jika bertaubat, ia diterima taubatnya.

 
Kedua : Perkara pribadi. Ini berkaitan, bahwa Muhammad sebagai utusan. Dari sisi ini, wajib mengeksekusinya karena berkenaan dengan hak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah bertaubat, dilaksanakanlah hukuman mati, dan orang mengolok-olok tersebut tetap seorang sebagai muslim; dia dimandikan, dikafankan dan dishalatkan. Jasadnya ditanam di pekuburan muslimin.

Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau telah menulis tentang hal ini dalam bukunya Sharim Al Maslul Fi Hukmi Qotli Sabbi Rasul atau Ash Sharim Al Maslul ‘Ala Syatmi Ar Rasul.

Al Qur`an telah menerangkan, iman di dalam hati mengharuskan adanya perbuatan zhahir yang sesuai dengannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala


وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم مُّعْرِضُونَ وَإِن يَكُن لَّهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ ۚ بَلْ أُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kamipun taat”. Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul mengadili di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, (maka) mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit; atau (karena) mereka ragu-ragu, atau (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [An Nur : 47-51].

Di sini iman dinafikan dari orang yang berpaling dari ketaatan kepada Rasul, dan Allah memberi kabar bahwa orang-orang mukmin jika diseru kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka mendengar dan menaatinya. Dengan demikian. Allah menerangkan bahwa ini termasuk kewajiban iman.

Maka dari itu, hendaklah kita menjaga lisan. Sesungguhnya ia merupakan salah satu anggota tubuh yang paling berbahaya dan kebanyakan orang meremehkanya. Hindari perkataan tidak bermanfaat bagi diri, khususnya berkaitan dengan agama, ilmu, wali Allah, para ulama, sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tabi’in. Karena bisa jadi akan membesarkan fitnah yang terjadi. Hendaklah kita senantiasa merasa khawatir tehadap diri kita, seperti halnya para salaf yang senantiasa khawatir terhadap diri mereka, sebagaimana yang dikhabarkan oleh Ibnu Abi Mulaikah, katanya: “Aku telah menemui tiga puluh orang sahabat Rasulullah n , semuanya takut kalau kemunafikan menimpa diri mereka”. Allahu musta’an.


 

Kesimpulan :
1. Orang yang dengan sengaja bersenda-gurau dengan memperolok-olok nama Allah, ayat-ayatNya atau Rasulullah, adalah kafir.

2. Sama saja apakah yang mengolok-olok itu orang munafik atau bukan, dia menajadi kafir karena perbuatan itu.

3. Terdapat perbedaan antara perbuatan menghasut dan setia kepada Allah dan RasulNya dalam masalah ini. Bahwa melaporkan perbuatan orang-orang fasik kepada waliyul amr untuk mencegah mereka, tidak termasuk perbuatan menghasut, tetapi termasuk kesetiaan kepada Allah, RasulNya, pemimpin umat Islam dam kaum Muslimin seluruhnya.

4. Perbedaan antara sikap memaafkan yang dicintai Allah dengan sikap keras terhadap musuh-musuh Allah.

5. Tidak semua permintaan maaf mesti diterima, ada juga permintaan maaf yang harus ditolak.

 

Maraji`:
1. Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, Syaikh Abdurrahman Bin Hasan Alu Syaikh.
2. Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid, syarah Muhammad Bin Shalih Al ‘Utsaimin.
3. At Tamhid Li Syarh Kitab At Tauhid Aladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Ibad, Shalih Abdul Aziz Bin Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo

_______
Footnote
[1]. At Tamhid Li Syarh Kitab At Tauhid Aladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Ibad, Shalih Abdul Aziz Bin Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh, hlm. 482-483.
[2]. Lihat Qaulul Mufid Syarhu Kitabu At Tauhid, hlm. 852 dalam kumpulan Majmu Fatawa Wa Ar Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, jilid X.
[3]. Hukuman ini dilakukan dalam Khilafah Islamiah oleh penguasa.
[4]. Lihat Qaulul Mufid Syarhu Kitabu At Tauhid, hlm. 852-853 dalam kumpulan Majmu Fatawa Wa Ar Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, jilid X.

Salam santun dan keep istiqomah …

— Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini … Itu hanyalah dari kami … dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan … —-

Semoga bermanfaat dan Penuh Kebarokahan dari Allah …
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ….

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
————————————————
…. Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa’atuubu Ilaik ….

SAHABAT ISLAM Bersatu Muallaf Berseru INGAT KEWAJIBANMU UNTUK MENYAMPAIKAN

Qs.42:48 KEWAJIBANMU tidak lain hanyalah menyampaikan (Juga Qs.16:82 dan Qs.3:20)
Qs.3 Ali Imran:20 Maukah kamu masuk Islam? (kewajiban menyampaikan pada kafir sekalipun)
Qs.16:125 SERULAH pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah & pelajaran baik…

Wassalamualaikum Warahmatulloh Wabarakatuh

PKS MERIAHKAN RAMADHAN DI MASJID AS-SUNNAH BUNTOK UNTUK PAHALA 2014

 

 
 
Pada pagi Jum’at tanggal 12 Juli 2013 atau 3 Ramadhan 1434 Hijriyah telah terpasang papan nama Pimpinan Cabang Muhammadiyah Dusun Selatan di halaman Masjid As-Sunnah Buntok padahal para pencetus dan pendirinya belum pernah rapat mengeluarkan keputusan pemasangan itu. Inilah tindakan ilegal yang sewenang-wenang. 
 
 
Kemudian pada Jum’at tanggal 19 Juli 2013 telah terpasang lagi satu papan nama lain disamping papan sebelumnya yang menegaskan bahwa masjid As-Sunnah Buntok merupakan masjid Muhammadiyah padahal bukti sah untuk itu tidak ada. Kenapa ada khianat berbalut dusta dalam urusan akhirat, ada apa ini?
 
 
Ternyata pada malamnya yakni Kamis tanggal 18 Juli 2013 atau 9 Ramadhan 1434 Hijriyah di masjid As-Sunnah Buntok sudah berdiri Ketua Dewan Syura PKS Kalimantan Tengah, Amanto Surya Langka, Lc memberikan kultum politik ramadhan sekaligus memberikan tawaran sekiranya jamaah As-Sunnah Buntok bersedia mengadakan kajian rutin dari ustadz PKS.
 
 
Dari runutan tragedi singkat ini jelas bahwa As-Sunnah Buntok telah di-Muhammadiyahkan tanpa musyawarah lalu masjid ini pun di-PKS-kan pula secara otomatis. Kenapa begitu? Karena bulan Ramadhan 2013 adalah bulan dakwah untuk meraih PAHALA 2014. Inilah skenario yang memang sudah dirancang sejak lama oleh para dedengkot Muhammadiyah yang telah menjadi orang berkat PKS.
 
Sungguh aneh aneh dan ajaib kejadian ini! Bagai mana tidak, mereka yang membagi-bagi Larangan PP Muhammadiyah Nomor 61/KEP/I.O/B/2008, membagi Keputusan PP Aisyiyah tentang Pilkada, justru mereka Petinggi Muhammadiyah Barito Selatan itu pula yang giat melanggarnya. Pelanggaran nyata terjadi terhadap Masjid At Taqwa Buntok semasa dipimpin Heri Purwanto dan Alimin. Dan kali ini kembali dilakukan terhadap Masjid As-Sunnah Buntok padahal masjid As-Sunnah merupakan masjid yang ditentang mati-matian oleh Muhammadiyah Barito Selatan. Yang lebih aneh lagi, oknum yang mem-PKS-kan masjid As-Sunnah Buntok tahun 2013 ini adalah orang yang sama yang pada tanggal 31 Agustus 2009 lalu menulis surat kepada PP Muhammadiyah di Yogyakarta guna melaporkan penyalah-gunaan jabatan dan aset persyarikatan oleh Pengurus Muhammadiyah untuk kepentingan PKS. Hayya….,
 
 
Lalu kenapa semua ini bisa terjadi? Karena jelas tahun 2013 adalah lahan dakwah yang harus digarap demi PAHALA 2014 di LEGISLATIF. Astaghfirullahal adzim. Kasus ini mirip dengan surah Al A’raf ayat 19-20: Dan Allah berfirman: “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim”. Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal”. Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua”.
 
Inilah fakta yang terjadi di lingkungan Muhammadiyah di Kabupaten Barito Selatan. Nasihat “sahabat” ternyata mampu merubah segalanya apatah lagi nasehat ini berisi angin syurga keabadian dan tahta yang menggiurkan. Malah dalam teks lain dari Al Qur’an yang lebih lugas dikatakan bahwa janji iblis itu adalah kekuasaan yang tidak pernah habis. Singkat kata, PAHALA 2014 adalah kemilau yang dijanjikan…., kalau terpilih…!
 
 
Khusus kepada para ustadz dan da’i, terutama yang berpolitik di tahun 2013 ini, dikutipkan surat Al Muddatsir  ayat 6: “….dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. Ikhlas Le…, IKHLAS…!
 

SK PP Muhammadiyah tentang Larangan Berpartai terutama PKS

Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Nomor: 149/Kep/I.0/B/2006

Tentang

Kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mengenai Konsolidasi Organisasi Dan Amal Usaha Muhammadiyah

MENIMBANG :

  1. Bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam sejak kelahirannya hingga saat ini tetap istiqamah dan terus bergerak tidak mengenal lelah dalam melaksanakan dakwah dan tajdid melalui berbagai usaha (amal usaha, program dan kegiatan) yang dilakukannya dengan maksud dan tujuan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya;
  2. Bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi (persyarikatan) Islam yang memiliki prinsip-prinsip, sistem, dan kedaulatan yang mengikat bagi segenap anggotanya dan harus dihormati siapapun sebagaimana hak-hak organisasi yang bersifat independen dan memiliki hak hidup di negeri ini;
  3. Bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi dalam menjalankan misi dan usahanya harus bergerak dalam satu barisan yang kokoh sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur‘an surat Ash-Shaff (61) ayat 4, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”;
  4. Bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang cukup tua dan besar, Muhammadiyah sangat menghargai ukhuwah, kerjasama, toleransi, dan sikap saling menghormati dengan seluruh kekuatan/kelompok lain dalam masyarakat, lebih-lebih dengan sesama komponen umat Islam. Karena itu Muhammadiyah pun berhak untuk dihormati oleh siapapun serta memiliki hak serta keabsahan untuk bebas dari segala campur-tangan, pengaruh, dan kepentingan pihak manapun yang dapat mengganggu keutuhan serta kelangsungan gerakannya.

MENGINGAT :

  1. Al-Qur‘an dan As-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam;
  2. AD/ART Muhammadiyah serta aturan-aturan lainnya yang berlaku dalam Persyarikatan sebagai landasan konstitusional;
  3. Keputusan Tarjih, Muqaddimah AD Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, dan prinsip-prinsip ideal lainnya dalam Muhammadiyah;
  4. Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-45 tahun 2005;

MEMPERHATIKAN:

Keputusan Rapat Pleno Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 22 Syawal 1427 H / 13 November 2006 M.

MEMUTUSKAN:
MENETAPKAN:

KEPUTUSAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH TENTANG KEBIJAKAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH MENGENAI KONSOLIDASI ORGANISASI DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH sebagai berikut:

  1. Muhammadiyah dengan seluruh anggota, pimpinan, amal usaha, organisasi otonom, majelis dan lembaga, sekretariat/kantor, dan berbagai lini/struktur organisasi serta segala usaha yang berada di dalamnya harus bebas dari berbagai paham, misi, dan kepentingan pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung, terbuka maupun terselubung, dapat merugikan dan merusak Persyarikatan Muhammadiyah.
  2. Secara khusus seluruh anggota dan lini organisasi Persyarikatan termasuk di lingkungan amal usaha Muhammadiyah harus bebas dari pengaruh, misi, infiltrasi, dan kepentingan partai politik yang selama ini mengusung misi dakwah atau partai politik bersayap dakwah, di samping bebas dari misi/kepentingan partai politik dan organisasi lainnya sebagaimana kebijakan khittah Muhammadiyah. Hal tersebut karena selain telah menjadikan kegiatan dakwah dengan institusi/pranata umat Islam seperti masjid dan lain-lain sebagai alat/sarana politik, juga secara nyata-nyata telah menimbulkan sikap mendua di sebagian kalangan Muhammadiyah, termasuk dalam melaksanakan Hari Raya Idul Fitri/Idul Adha, serta menjadikan Muhammadiyah sebagai sarana politik partai yang bersangkutan dan lebih jauh lagi dapat menimbulkan pengeroposan dan mengganggu keutuhan organisasi.
  3. Segenap anggota Muhammadiyah perlu menyadari, memahami, dan bersikap kritis bahwa seluruh partai politik di negeri ini, termasuk partai politik yang mengklaim diri atau mengembangkan sayap/kegiatan dakwah seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah benar-benar partai politik. Setiap partai politik berorientasi meraih kekuasaan politik. Karena itu, dalam menghadapi partai politik manapun kita harus tetap berpijak pada Khittah Muhammadiyah dan harus membebaskan diri dari, serta tidak menghimpitkan diri dengan misi, kepentingan, kegiatan, dan tujuan partai politik tersebut.
  4. Seluruh anggota Muhammadiyah di seluruh lini Persyarikatan, termasuk yang berada di amal usaha, dituntut komitmen, integritas, loyalitas, pengkhidmatan, dan kiprah yang penuh dan optimal dalam menjalankan usaha-usaha, menjaga dan berpedoman pada prinsip-prinsip, membela kepentingan, serta memajukan dan memperjuangkan Muhammadiyah menuju pada pencapaian tujuannya. Jika memiliki kelebihan materi/harta, pikiran, tenaga, relasi/hubungan, jaringan, dan rizki Allah lainnya maka kerahkan/ jariyahkan secara maksimal untuk membesarkan, mengembangkan, dan menyempurnakan gerakan Muhammadiyah serta seluruh amal usaha, program, dan kegiatannya sehingga mendekati pencapaian tujuan Muhammadiyah.
  5. Seluruh institusi dalam Muhammadiyah termasuk amal usaha, masjid/mushalla, fasilitas milik Persyarikatan, dan kegiatan-kegiatan yang berada di dalamnya tidak boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan partai politik manapun. Larangan tersebut berlaku untuk kegiatan-kegiatan yang diindikasikan dan memiliki kaitan dengan kegiatan/kepentingan partai politik, termasuk kegiatan-kegiatan yang mengatasnamakan atau memakai simbol-simbol keagamaan/dakwah seperti pengajian dan pembinaan keumatan, yang terkait dan memiliki hubungan dengan partai politik manapun. Maksimalkan/optimalkan seluruh institusi milik Muhammadiyah tersebut untuk sebesar-besarnya dan sebenar-benarnya bagi kepentingan Muhammadiyah.
  6. Seluruh anggota Muhammadiyah diminta untuk menghormati dan menaati Keputusan Muktamar ke-45 tahun 2005 di Malang, yang menyatakan “Menolak upaya-upaya untuk mendirikan parpol yang memakai atau menggunakan nama atau simbol-simbol Persyarikatan Muhammadiyah.” (Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang: Keputusan Muktamar ke-45 tentang Laporan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2000-2005, VI. Bidang Politik poin 1).
  7. Seluruh media massa yang berada di lingkungan Persyarikatan diminta untuk benar-benar menyuarakan paham, misi, dan kepentingan Muhammadiyah serta menjadi wahana untuk sosialisasi paham, pandangan, keputusan, kebijakan, kegiatan, dan syiar Muhammadiyah serta menjauhkan diri dari paham, misi, dan kepentingan organisasi/gerakan lain.
  8. Sebagai langkah konsolidasi sekaligus pencegahan dan penguatan gerakan, seluruh jajaran Pimpinan Persyarikatan, Majelis/Lembaga, Organisasi Otonom, dan Amal Usaha diinstruksikan untuk melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan keagamaan, kemuhammadiyahan, dan hal-hal yang menyangkut organisasi secara luas. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain sosialisasi putusan-putusan Tarjih, Darul Arqam, Baitul Arqam, Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah, Up-Grading, Refreshing, pengajian-pengajian umum dan khusus, pembinaan jamaah, pengelolaan kegiatan-kegiatan masjid dan mushalla, sosialisasi dan pengamalan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, peningkatan silaturrahim, dan kegiatan-kegiatan pembinaan lainnya yang dilakukan secara sistematik, intensif, berkesinambungan, dan terorganisasi dengan sebaik-baiknya. Secara khusus ditugaskan kepada Majelis Tarjih dan Tajdid, Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus, dan Majelis Pendidikan Kader dengan melibatkan Majelis/Lembaga, Organisasi Otonom, dan Amal Usaha terkait untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut secara terpadu di bawah koordinasi Pimpinan Persyarikatan di masing-masing tingkatan.
  9. Segenap Pimpinan Persyarikatan, Majelis dan Lembaga, Organisasi Otonom, dan Amal Usaha Muhammadiyah diinstruksikan untuk menegakkan disiplin organisasi, merapatkan barisan/langkah, dan mengokohkan ideologi serta misi Muhammadiyah sebagaimana diatur dalam AD/ART dan peraturan-peraturan organisasi serta telah menjadi prinsip-prinsip Muhammadiyah seperti keputusan Tarjih, Muqaddimah Anggaran Dasar, Kepribadian, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup, Khittah Perjuangan, dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah serta keputusan-keputusan Muktamar Muhammadiyah.
  10. Pimpinan Persyarikatan, Majelis dan Lembaga, Organisasi Otonom, dan Amal Usaha Muhammadiyah diinstruksikan untuk mengambil kebijakan dan tindakan-tindakan yang tegas dalam menegakkan misi, aturan, dan prinsip-prinsip Muhammadiyah serta dalam mencegah dan menyelamatkan Muhammadiyah dari berbagai tindakan yang merugikan Persyarikatan sebagaimana disebutkan di atas.

Yogyakarta, 10 Dzulqa’idah 1427 H
1 Desember 2006 M.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah,

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, MA.(Ketua Umum)

Drs. H. A. Rosyad Sholeh (Sekretaris Umum)