Archive | December 2015

Tahun Baru, Dosa Baru

HARI RAYA TAHUN BARU
Sekedar menghibur hati, dikutip ttps://rumaysho.com/740-10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru.html Des 30, 2013: “Bagaimana hukum merayakan tahun baru bagi muslim”
.

Ikut Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied yang Haram

Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,
.
 
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
 
.
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”

.

Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.
.
Menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
  1. مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    .
    Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

.

Ikut Merayakan Tahun Baru Berarti Meniru-niru Orang Kafir

Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »

.

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?

.
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
.
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”

.
Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).  Beliau bersabda,

.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

.
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]
Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]
.
Acara Tahun Baru adalah Amalan Rekayasa Tanpa Tuntunan Islam

Diantara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun, katanya: “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”
.
Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,
.
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.
 
.
Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”  Ibnu Mas’ud lantas berkata,
.
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

.

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.

.

Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.

.

Terjerumus Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru

Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’). Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”
.
Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu

Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.
.
Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar. Ibnul Qoyyim –rahimahullah– mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”

.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
 
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

.

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.

.
Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
.
Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.

.
Begadang Tanpa Ada Hajat

Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
 
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]

.

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!
.

Terjerumus dalam Zina

Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.
.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.
 
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
.
Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”

.
Mengganggu Kaum Muslimin

Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

.
Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”
.

Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”. Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
.

Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan

Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
.
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)

.

Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.

.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”

.
Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga

Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
.
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
.
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”

.

Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.

.

Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.

.

Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,
.
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ

.

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). .

.

Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”

.

Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia.

.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

.
Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com


[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.
Advertisements

KIAT KETIKA TERJEBAK ACARA TAHUN BARU

902_1691505867784327_2354695722221113275_n1. JANGAN HADIRI DAN JANGAN ADA NIAT HADIR
Usahakan jangan hadiri apa pun perayaan Tahun Baru karena bukan syariat Islam. Hindarkan juga segala kesempatan untuk acara yang semacamnya walau pun dianggap BID’AH HASANAH. Jangankan hadir.., niat pun jangan.
.
2. KIAT TERPAKSA
Musibah apa yang sedang menimpa kita. Berusahalah menghindar sekuat daya upaya. Sekiranya terpaksa juga, inilah yang harus dilakukan ketika menonton perayaan tahun baru, pawai ta’aruf atau pertunjukan lainnya…:
Allah berfirman :
 
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
 
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” [QS. An-Nuur : 30-31].
.
Ibnu Katsir berkata : «Ini adalah perintah dari Allah ’azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya mukminin untuk menundukkan pandangan-pandangan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan bagi mereka. Mereka tidak memandang kecuali pada apa yang diperbolehkan bagi mereka dan untuk menundukkan pandangan dari yang diharamkan, apabila kebetulan memandang kepada yang haram tanpa disengaja maka langsung memalingkan pandangannya secepat mungkin” ».
.
3. USAHAKAN MERUBAHNYA
.
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
 
[رواه مسلم]
.
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (Riwayat Muslim)
.
Sangat disayangkan, SELEMAH-LEMAHNYA IMAN justru jadi pilihan favorit sekarang ini. Innalillahi wa inna ilaihi ro jiun
 

Terompet Benar-benar Kertas Alquran Ditemukan di Aceh

NASIONAL
.
Terompet itu bukan berbahan kertas sampul, tapi lembaran Alquran.
Kamis, 31 Desember 2015 | 09:53 WIB
Oleh : Mohammad Arief HidayatZulfikar Husein (Lhokseumawe)
Terompet Benar-benar Kertas Alquran Ditemukan di Aceh
Pengurus Majelis Permusyarawatan Ulama Lhokseumawe, Aceh, menunjukkan contoh terompet berbahan baku kertas mushaf Alquran hasil temuan polisi pada Kamis dini hari, 31 Desember  2015. (VIVA.co.id/Zulfikar Husein)
.
VIVA.co.id – Sebaran terompet berbahan kertas mushaf Alquran ditemukan juga di Aceh. Dalam razia yang digelar Polisi di Lhokseumawe, Aceh, pada Rabu malam, 30 Desember 2015, ditemukan sebanyak empat terompet terbuat dari lembaran Alquran.
.
Temuan terompet untuk perayaan tahun baru di wilayah yang disebut Serambi Mekkah itu berbeda dengan temuan serupa di sejumlah daerah. Temuan di sejumlah daerah di Jawa, ialah terompet yang berbahan baku kertas sampul mushaf Alquran. Tetapi, terompet yang ditemukan di Lhokseumawe benar-benar kertas lembaran mushaf Alquran.
.
Berdasarkan pengamatan VIVA.co.id, dalam terompet yang ditemukan polisi itu tertulis sejumlah kalimat dalam bahasa Arab pada bagian dalam. Pada salah satu terompet, bahkan tertulis beberapa surat pendek dalam Alquran, yaitu surat Al Ikhlas, An Nas, dan Al Falaq.
.
Pada terompet lain, juga tertulis beberapa doa dalam bahasa Arab. Ayat-ayat Alquran itu tertulis pada kertas berwarna merah muda dan tergulung dalam pada bagian terompet. Terompet-terompet itu, kemudian disita aparat Kepolisian.
.
Wakil Kepala Kepolisian Resor Lhokseumawe, Komisaris Polisi Isharyadi Arun, yang memimpin razia mengatakan, menyita sebanyak empat terompet dari pedagang di Lhokseumawe. Polisi akan mengusut sebaran terompet itu.
.
“Barang bukti yang kita amankan ada terompet, di mana terompet ini juga ada tulisan Arab, bungkusan yang kita duga Alquran. Ada empat terompet yang kita amankan (disita). (Kasusnya) akan kita perdalam nanti,” kata Isharyadi kepada wartawan pada Kamis dini hari, 31 Desember 2015.
.
Selain melibatkan ratusan personel Polres Lhokseumawe, razia menjelang pergantian tahun itu juga mengikutsertakan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH), Tentara Nasional Indonesia, dan unsur Majelis Permusyarawatan Ulama. (asp)
.

DPR: Intelijen “Bermain” Terompet Berbahan Qur’an

356874_terompet-dari-alquran-marak-beredar_663_382AntiLiberalNews – Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Sodik Mudjahid meminta kepolisian mengusut tuntas kasus pembuatan dan peredaran terompet berbahan sampul Al Qur’an. Sodik menduga aktor intelektual di balik kasus ini adalah intelijen.

“Peristiwa ini telah berulang kali terjadi seperti kasus celana jeans dan kaos bertuliskan ayat Qur’an, kasus sandal berlafadz Allah dan lainnya yang terjadi belakangan,” kata dia dalam keterangan persnya, dilansir Rima News, Selasa (29/12/2015).

Menurut dia, ketika kasus tersebut pertama kali muncul, umat Islam masih berpikir akibat kelalaian atau akibat keluguan para pelaku. Namun ketika peristiwa ini, kata Sodik, masyarakat ada skenario di balik rentetan pelecehan ayat suci dan pelecehan Tuhan itu.

“Di zaman Orde Baru pekerjaan seperti ini sering dilakukan oleh Badan Koordinasi Intelijen Negara dengan tujuan terus-menerus membangun konflik di masyarakat agar masyarakat lemah dan pemerintah makin superior dan juga agar masyarakat tidak sempat berpikir apalagi mengkritisi perilaku pemerintah pada saat itu,” katanya.

Dia menduga hal serupa dapat dilakukan kembali oleh aktor intelektual di masa kini. Dari itu, dia meminta aparat kepolisian untuk mengusut kasus ini, tidak hanya sebatas menangkap para produsen dan pengedar terompet Al Qur’an seperti kasus sandal berlafadz Allah.

Lebih dari itu, kata Sodik, mengusut siapa dan dari mana aktor yang secara berkala membuat pekerjaan rumah bagi bangsa dan ummat beragama ini.

Sodik mengatakan, pada masa transisi menuju alam kebebasan dan demokrasi yang sedang dibangun di Indonesia, berisiko sering munculnya konflik horizontal di masyarakat termasuk antarkelompok beragama.

Jika aktor sesungguhnya yang sengaja membangun riak-riak konflik ini tidak ditemukan dan dihentikan, masih kata dia, maka hal ini akan semakin menyuburkan dan menumbuhkembangkan konflik di masyarakat.

Edit: Adiba Hasan

Imam Masjid Istiqlal: Kumandang Azan Saat Natal Campur Haq dan Bathil, Bukan Toleransi!

 

Imam Masjid Istiqlal KH Ali Mustofa Yakub menyatakan bahwa dikumandangkannya azan mengiringi lagu rohani Kristen saat peringatan Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan campur aduk antara perkara yang haq (benar) dan bathil (salah) dalam agama.

Menurutnya tak ada toleransi dalam hal aqidah dan ibadah.

“Itu sudah jelas-jelas mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil,” kata KH Ali Mustofa Yakub, Rabu (30/12), dilansir Kiblat.net.

Seperti diketahui, acara perayaan Natal Bersama Nasional digelar di rumah Gubernur NTT, Kupang pada Senin (28/12) petang. (Baca: Musibah Akhir Zaman, Azan Iringi Lagu Gereja Di Perayaan Natal Nasional Yang Diikuti Presiden Jokowi)

Sekitar 10.000 orang mengikuti acara yang yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo beserta sejumlah menteri, termasuk Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam acara itu juga dikumandangkan azan untuk mengiringi lagu rohani Kristen berjudul Ave Maria.

Panitia beralasan bahwa hal itu dilakukan sebagai wujud toleransi. Pasalnya, NTT merupakan wilayah yang ditempati oleh masyarakat Kristen sebagai mayoritas dan umat Islam.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu dengan tegas juga menolak jika hal itu dianggap sebagai bagian dari toleransi. Menurutnya, toleransi tidak boleh dilakukan dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah akidah dan ibadah.

“Toleransi itu di luar aqidah dan ibadah,” tegasnya.

TUGAS TAUHID SETIAP NABI, NATAL DAN PRINSIP ISLAM

gus-dur-dan-natal_20151223_125507SEMUA NABI DAN RASUL ADALAH MANUSIA UTUSAN

Semua nabi dan rasul diutus Allah untuk meng-Esakan-Nya, dan tidak menyekutukannya. Tak terkecuali Nabi Isa. Beliau diutus mengajarkan tauhid kepada manusia agar semua manusia hanya beribadah kepada Allah dan bukan selainnya.

.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

.

”Sungguh Aku telah mengtus seorang rasul untuk setiap umat, agar mereka beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut” (QS. An-Nahl: 36).

.

Thaghut adalah semua makhluk yang disembah selain Allah. Allah juga berfirman,

.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

.

”Tidaklah Aku mengutus rasul sebelum engkau (Muhamad), kecuali Aku wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Aku. Karena itu beribadahlah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiya: 25)

.

NABI ISA DAN IBUNDANYA MARYAM
Muslim dan Nasrani sama-sama sepakat bahwa Isa dan ibunya Maryam, keduanya manusia? Mereka makhluk yang diciptakan Allah berfirman,

.

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

.

”Sesungguhnya Isa itu seperti Adam. Allah ciptakan dia dari tanah, kemudian Allah berfirman ’Kun’ muncullah, maka muncullah dia.” (QS. Ali Imran: 59)

.

Diantara bukti bahwa Nabi Isa dan ibunda Maryam hanya manusia, mereka mengkonsumsi makanan dan hidup layaknya manusia lainnya. Allah berfirman,

.

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ

.

Al-Masih Isa bin Maryam hanyalah utusan Allah. Sudah banyak rasul (utusan-utusan) sebelumnya. Sementara ibunya adalah wanita yang jujur. Keduanya mengkonsumsi makanan. (QS. Al-Maidah: 75).

.

ISA BUKAN TUHAN DAN TIDAK MENGAKU TUHAN

Ajaran Nabi Isa seperti yang Allah sebutkan dalam al-Quran:

.

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ

.

Allah berfirman: ”Wahai Isa bin Maryam, apakah engkau pernah mengatakan kepada umat manusia, “jadikanlah aku dan ibuku sebagai tuhan selain Allah…?!”

.

قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

.

Isa berkata: ”Maha Suci Engkau. Aku tidak pernah mengucapkan sesuatu yang tidak berhak kuucapkan. Jika aku pernah mengucapkannya, sungguh Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam jiwaku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui masalah ghaib.” (QS. Al-Maidah: 116).

.

05220-222MENGATAKAN ISA TUHAN HAMPIR MEMECAH-BELAH LANGIT DAN BUMI

Allah sangat mengingkari orang yang menganggap Isa sebagai anak tuhan dan bagian dari trinitas ketuhanan.

.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا . لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا . أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا . وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

.

Mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil anak”.  Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,  Hampir-hampir langit pecah karena Ucapanmu itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mengatakan bahwa Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.  Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (QS. Maryam: 88 – 92).

.

Allah juga mencela orang yang menjadikan makhluk-Nya sebagai bagian trinitas ketuhanan,
.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ

.

”Sungguh telah kafir mereka yang mengatakan, Allah itu salah satu dari 3 trinitas. Padahal tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Tuhan yang Esa.” (QS. Al-Maidah: 73).

.

TAK MUNGKIN MUSLIM MENGUCAPKAN KATA-KATA MUSYRIK
.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

.

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, sekali-kali tidaklah akan diterima dari padanya, dan Dia di akhirat  termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85).

.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

.

  1. Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa   2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu  3. Dia tiada beranak dan tidak diperanakkan  4. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia (QS Al Ikhlash 1-4)

Kalau Begini Sejarahnya, Masihkah Mau Merayakan Tahun Baru?

1919603_1095162210496511_5504456479626970804_nKIBLAT.NET – Setelah beberapa hari yang lalu umat Islam disibukkan dengan polemik ucapan selamat Natal, kini kaum muslimin dihadapkan dengan masalah yang serupa, yaitu perayaan tahun baru 2016. Ya, Natal memang datang sepaket dengan tahun baru dimana keduanya bukanlah hari raya umat Islam.

Untuk masalah ucapan Natal sudah dibahas dalam artikel lain mengutip dari perkataan dari Dr Zakir Naik. Lantas, bagaimana sikap kita dengan datangnya tahun baru 2016? Dalam pengambilan sikap kita sebagai umat Islam, kita perlu menelisik lebih jauh sejarah perayaan tahun baru ini. Apakah pernah ada contoh dari para salaf atau itu hanyalah budaya dari luar Islam yang semestinya kita tidak ambil bagian di dalamnya.

Sejarah Perayaan Tahun Baru

Dalam sebuah artikel di http://www.history.com yang berjudul “5 Ancient New Years Celebrations” disebutkan lima peradaban kuno yang sejak dulu telah merayakan tahun baru. Lima peradaban itu adalah Babilonia, Romawi, Mesir, China dan Persia. Dari kelima peradaban yang disebutkan tidak ada peradaban yang bernafaskan Islam di dalamnya. Semuanya adalah peradaban di luar Islam.

  1. Babilonia

Salah satu peradaban tertua yang tercatat merayakan tahun baru adalah peradaban Babilonia sekitar 2000 SM. Perayaan itu diselenggarakan pada akhir Maret selepas ekuinoks vernal (titik musim semi matahari menandai dimulainya musim semi astronomis). Sekaligus untuk menghormati kelahiran dunia baru dengan festival keagamaan yang dikenal dengan nama Akitu. Ritual itu di selenggarakan selama 11 hari. Selain untuk perayaan tahun baru, Akitu juga digunakan untuk perayaan mitos kemenangan dewa langit Babilon Marduk atas Dewi Laut jahat Tiamat.

Peradaban Babilonia

  1. Romawi

Cikal bakal tahun baru yang diselenggarakan pada 1 Januari bersumber pada perayaan pada peradaban Romawi. Awalnya, saat itu kalender Roma terdiri dari 10 bulan atau 304 hari dimana setiap awal tahun tahu baru jatuh saat ekuinoks vernal. Penanggalan ini diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma.

Selang berabad-abad lamanya, ternyata kalender Roma mulai tidak sesuai dengan sinkronisasi matahari. Akhirnya,pada tahun 46 SM Julius Caisar memutuskan untuk memecahkan masalah ini dengan para astronom dan matematikawan. Dia memperkenalkan kalender Julian yang menyerupai kelender Gregorian yang digunakan sebagian besar hari ini di seluruh dunia.

Janus pada mata uang Romawi

Reformasi lain yang dibawa Julius adalah menetapkan 1 Januari sebagai hari pertama di setiap tahunnya. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada dewa Janus, dewa berwajah dua yang melambangkan bisa melihat kembali masa lalu dan masa depan. Perayaan tahun baru itu dimeriahkan dengan pemberian persembahan kepada Janus, saling bertukar hadiah dan menghiasi rumah mereka serta mengadakan pesta pora. Budaya ini ternyata masih ada hingga saat ini saat perayaan tahun baru pada 1 Januari.

  1. Mesir

Budaya Mesir Kuno sangat berkaitan erat dengan sungai Nil. Tahun baru mereka didasarkan pada banjir tahunan yang terjadi. Menurut penulis Roman Censorinus, tahun baru Mesir diduga ketika Sirius pertama (bintang tercerah di malam hari) muncul setelah absen 70 hari. Fenomena ini terjadi pada pertengahan Juli sebelum banjir tahunan sungai Nil. Perayaan dilakukan dengan sebuah festival yang dikenal dengan nama “Wepet Renpet” yang berarti pembukaan tahun.

Sungai Nil

Perayaan ini juga dijadikan ajang untuk bermabuk-mabukan. Pesta besar-besaran ini dikaitkan dengan mitos Sekhmet dimana Dewi Perang yang merencanakan membunuh semua umat manusia hingga dewa Ra menipunya dengan minum-minuman keras sampai tidak sadarkan diri. Orang-orang Mesir kuno saat itu selain dengan mabuk-mabukan juga merayakannya dengan alunan musik, seks dan pesta pora.

  1. Cina

Tahun baru Cina diyakini mulai dikenal sejak 3000 tahun silam sejak dinasti Shang. Awalnya perayaaan dilakukan pada permulaan musim semi atau musim tanam. Namun, lama kelamaan mulai terkontaminasi dengan mitos dan legenda. Menurut satu cerita yang paling populer saat itu ada makhluk haus darah bernama “Nian” yang berburu setiap tahunnya. Untuk menakut-nakuti makhluk itu maka para penduduk menghiasi rumah dengan hiasan bernuansa merah, pembakaran bambu dan membuat suara yang keras. Akhirnya, hal itu berintegrasi pada perayaan tahun baru Cina hingga saat ini.

  1. Persia

Perayaan ini masih dirayakan di Iran,beberapa wilayah Timur Tengah dan Asia. Sering disebut dengan nama Nowruz atau tahun baru Persia. Perayaan ini dilakukan selama 13 hari pada musim semi atau ketika ekuinoks vernal pada bulan Maret. Diyakini budaya ini sebagai bagian dari agama Zoroaster. Catatan resmi Nowruz belum muncul sampai abad ke-2, namun para sejarawan percaya bahwa perayann ini mulanya terjadi sekitar abad 6 SM pada saat pemerintahan kekaisaran Akhemeniyah.

Persia Kuno

Peringatan kuno ini terfokus pada kembalinya musim semi.Perayaan yang dilakukan adalah dengan bertukar hadiah, pencahayaan api unggun, mewarnai telur dan percikan air yang melambangkan penciptaan.

Dari lima peradaban yang merayakan tahun baru di atas ternyata perayaan tahun baru 1 Januari menginduk pada budaya Romawi kuno. Dimana budaya itu diciptakan oleh Julius Caisar untuk mengagungkan dewa bermuka dua, Janus. Hal ini juga ditulis dalam The World Book Encyclopedia Vol.14 hal.237 yang berbunyi

The Roman ruler Julius Caesar established January 1 as New Year’s day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus, the god of gates, doors and beginning.The month of January was named after Janus, who had two faces-one looking forward and other looking backward.”

Penguasa Romawi, Julius Caesar menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari tahun baru di 46 SM. Orang Roma mendedikasikan hari ini untuk Janus, dewa segala gerbang, pintu dan permulaan waktu. Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah, Satu wajah menghadap ke (masa) depan dan satu wajah lagi menghadap ke (masa) lalu”.

The World Book Encyclopedia Vol.14 hal.237

Secara umum kita mendapati bahwa peringatan tahun baru dilakukan oleh peradaban-peradaban kafir yang tidak bersesuaian dengan Islam. Mereka menjadikan tahun baru sebagai ajang untuk penghormatan kepada dewa tertentu atau wujud “terima kasih” mereka kepada alam. Mereka menjadikan tahun baru sebagai ajang pesta dan pemujaan yang mereka menganggapnya sebagai sebuah hari raya. Sebagai umat Islam kita sudah memiliki hari raya tersendiri yang disebutkan dalam hadits berikut ini.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Berdasarkan hadits ini maka segala bentuk hari raya selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha maka tidak dianggap oleh syariat Islam, walaupun hari raya itu sebuah tradisi sebagaimana yang terjadi pada penduduk Madinah pasca kedatangan Nabi Muhammad saw di Madinah.

Dari sisi sejarah kita bisa mengetahui bahwa perayaan tahun baru adalah hari raya yang diperingati oleh peradaban-peradaban kafir. Sementara dari sisi kekinian kita bisa melihat perayaan tahun baru tak ubahnya menjadi ajang bercampur berbagai macam maksiat. Mulai dari khomer, zina dan hura-hura yang semuanya terlarang di dalam Islam. Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis : Dhani El_Ashim

Editor   : Miftahul Ihsan

Adzan Dikumandangkan Iringi Lagu Rohani Kristen di Natal Nasional 2015

.

KIBLAT.NET, Kupang – Adzan berkumandang di rumah jabatan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang, pada Senin petang (28/12). Namun, seruan itu dikumandangkan bukan dalam rangka panggilan shalat, tetapi untuk mengiringi lagu rohani Ave Maria yang dinyanyikan dalam peringatan Natal Bersama Nasional 2015.

Sekitar 10.000 umat Kristiani dan lintas agama dilaporkan mengikuti perayaan Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, NTT. Acara itu juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, sejumlah menteri, panglima TNI dan Kapolri.

Selain menampilkan kesenian lokal NTT, saat puncak acara diperdengarkan lagu rohani Ave Maria. Namun, secara kontroversial lagu Natal itu dinyanykan dengan iringan kumandang adzan.

Penampilan beriringan panggilan shalat dengan lagu rohani Kristen itu dilakukan dikatakan sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di wilayah itu. Aksi teatrikal juga menyertai dilantunkannya lagu Ave Maria yang diiringi adzan itu.

“Bagus sekali tadi lagu Ave Maria dan Adzan disajikan bersama. Padahal biasa hanya kita dengarkan di masjid, atau di televisi saat adzan Maghrib,” kata Ruma Laurensius, seorang hadirin dalam acara itu, sebagaimana dilansir JPNN.

Lagu Ave Maria karya Schubert dinyanyikan Reny Gadja dari Gereja Musafir Indonesia. Sementara adzan yang menyertai nyanyian itu dikumandangkan oleh Umarba, imam masjid Oepura yang berdiri di samping Reny.

“Ini sangat berkesan, karena sesuatu yang berbeda ternyata bisa dipadukan menjadi satu paket yang lebih indah,” kata Reny, seperti dilaporkan Kompas.com.

Mirisnya, Natal Bersama Nasional 2015 di Kupang, NTT itu tak hanya menampilkan kolaborasi adzan dan lagu rohani Kristen. Acara itu juga menampilkan lagu qasidah dari komunitas pengajian ibu-ibu di Kupang. Mereka membawakan lagu yang dipopulerkan oleh grup legendaris Nasida Ria.

Sumber: JPNN/Kompas
Penulis: Imam S.