Archive | January 2017

Menanti Balasan

nifak

.بَشِّرِ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ بِأَنَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا (١٣٨) ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۚ أَيَبۡتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلۡعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعً۬ا (١٣٩) وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡڪُمۡ فِى ٱلۡكِتَـٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَـٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِہَا وَيُسۡتَہۡزَأُ بِہَا فَلَا تَقۡعُدُواْ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِى حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۤ‌ۚ إِنَّكُمۡ إِذً۬ا مِّثۡلُهُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ وَٱلۡكَـٰفِرِينَ فِى جَهَنَّمَ جَمِيعًا (١٤٠

.
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. [yaitu] orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan [oleh orang-orang kafir], maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya [kalau kamu berbuat demikian], tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS An-Nisa: 138-140)

Orang Munafik Hanya akan Memilih Pemimpin Kafir

 

Orang Munafik Memilih Pemimpin Kafir
Salah satu ciri orang-orang munafik adalah loyal terhadap orang kafir. Saling mencintai di antara mereka dan menjadikannya sebagai teman setia. Bahkan para taraf tertentu, mereka mengangkat orang kafir itu sebagai pemimpinnya. 
.
Ketika berbicara perilaku munafik ini, Allah ta’ala berfirman:
.
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿﴾ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّـهِ جَمِيعًا
.
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Qs. An-Nisa’: 138-139)
.
Ketika membaca ayat di atas, setidaknya kita bisa memetik makna yang jelas, yaitu:
.
Pertama: Orang munafik selalu memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir. Saling mencintai dan menolong sesama mereka. Bahkan dalam beberapa kondisi, mereka akan mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpinnya.
.
Kedua: orang munafik mengharap kemulian dari orang-orang kafir. Menurutnya, kemuliaan serta kemenangan itu lebih nyata jika bersikap loyal dengan orang-orang kafir.
.
Ridho Pemimpin Kafir Adalah Ciri Kemunafikan
Perilaku munafik semacam ini telah ada ada masa Rasulullah dan masih eksis hingga hari ini. Di tengah-tengah viralnya kasus Ahok yang menistakan al-Maidah 51, kita bisa menyaksikan barisan orang-orang munafik yang begitu giat membela penistaan tersebut. Mereka lebih suka menjadi teman orang-orang kafir meskipun harus melawan kemarahan umat Islam yang ramai-ramai menuntuk penistaan tersebut.
.
Ketika menafsirkan Surat An-Nisa ayat 138 di atas, Ibnu Katsir menjelaskan, Maksud ayat, ‘Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih’ yaitu orang-orang munafik yang menampakkan keimanannya kemudian kafir lalu hati mereka tertutup.”
.
Lalu Ibnu Katsir melanjutkan, “Kemudian Allah mensifati bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung / pemimpin dengan meninggalkan orang-orang beriman. Artinya, mereka sejatinya satu barisan dengan orang-orang kafir. Mereka memberikan loyalitas dan kasih sayangnya kepada orang-orang kafir. Lalu jika bertemu diantara mereka, orang-orang munafik itu berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian, sesungguhnya kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman dengan penampilan kami yang seolah-olah sejalan dengan mereka.’ Berikutnya Allah Ta’ala mengingkari bentuk loyalitas mereka (orang-orang munafik) kepada orang-orang kafir dengan firmannya, “Apakah mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir?” (Lihat; Tafsir al-Qur’an al-Azhim, II/436)
.
Senada dengan penjelasan di atas, Imam As-Sa’di menegaskan, “Ayat ini dengan tegas mengingatkan tentang larangan berwala’ (menjadikan teman setia, pelindung, atau pemimpin) kepada orang-orang kafir dan mengabaikan orang-orang mukmin. Sebab, sikap yang demikian itu adalah bagian dari sifat orang-orang munafik. Padahal bagian dari konsekuensi keimanan itu adalah harus menjadikan orang mukmin sebagai teman pelindung atau pemimpin serta membenci dan memusuhi orang-orang kafir.” (Taisir Al-Karimu- Ar-Rahman , 2/372)
.
https://www.kiblat.net/2016/10/15/awas-ridho-terhadap-pemimpin-kafir-adalah-ciri-kemunafikan/2/

Orang Munafik Memilih Pemimpin Kafir
Salah satu ciri orang-orang munafik adalah loyal terhadap orang kafir. Saling mencintai di antara mereka dan menjadikannya sebagai teman setia. Bahkan para taraf tertentu, mereka mengangkat orang kafir itu sebagai pemimpinnya. 
.
Ketika berbicara perilaku munafik ini, Allah ta’ala berfirman:

.

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿﴾ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّـهِ جَمِيعًا

.
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Qs. An-Nisa’: 138-139)
.
Ketika membaca ayat di atas, setidaknya kita bisa memetik makna yang jelas, yaitu:
.
Pertama: Orang munafik selalu memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir. Saling mencintai dan menolong sesama mereka. Bahkan dalam beberapa kondisi, mereka akan mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpinnya.
.
Kedua: orang munafik mengharap kemulian dari orang-orang kafir. Menurutnya, kemuliaan serta kemenangan itu lebih nyata jika bersikap loyal dengan orang-orang kafir.
.
Ridho Pemimpin Kafir Adalah Ciri Kemunafikan
Perilaku munafik semacam ini telah ada ada masa Rasulullah dan masih eksis hingga hari ini. Di tengah-tengah viralnya kasus Ahok yang menistakan al-Maidah 51, kita bisa menyaksikan barisan orang-orang munafik yang begitu giat membela penistaan tersebut. Mereka lebih suka menjadi teman orang-orang kafir meskipun harus melawan kemarahan umat Islam yang ramai-ramai menuntuk penistaan tersebut.
.
Ketika menafsirkan Surat An-Nisa ayat 138 di atas, Ibnu Katsir menjelaskan, Maksud ayat, ‘Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih’ yaitu orang-orang munafik yang menampakkan keimanannya kemudian kafir lalu hati mereka tertutup.”
.

Lalu Ibnu Katsir melanjutkan, “Kemudian Allah mensifati bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung / pemimpin dengan meninggalkan orang-orang beriman. Artinya, mereka sejatinya satu barisan dengan orang-orang kafir. Mereka memberikan loyalitas dan kasih sayangnya kepada orang-orang kafir. Lalu jika bertemu diantara mereka, orang-orang munafik itu berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian, sesungguhnya kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman dengan penampilan kami yang seolah-olah sejalan dengan mereka.’ Berikutnya Allah Ta’ala mengingkari bentuk loyalitas mereka (orang-orang munafik) kepada orang-orang kafir dengan firmannya, “Apakah mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir?” (Lihat; Tafsir al-Qur’an al-Azhim, II/436)

.

Senada dengan penjelasan di atas, Imam As-Sa’di menegaskan, “Ayat ini dengan tegas mengingatkan tentang larangan berwala’ (menjadikan teman setia, pelindung, atau pemimpin) kepada orang-orang kafir dan mengabaikan orang-orang mukmin. Sebab, sikap yang demikian itu adalah bagian dari sifat orang-orang munafik. Padahal bagian dari konsekuensi keimanan itu adalah harus menjadikan orang mukmin sebagai teman pelindung atau pemimpin serta membenci dan memusuhi orang-orang kafir.” (Taisir Al-Karimu- Ar-Rahman , 2/372)

.

KAJIAN BA’DA MAGRIB 20 JANUARI 2017 “KEUTAMAAN TAUHID”  

PENGANTAR
Kajian Jumat ba’da maghrib di Masjid Polsek Dusun Selatan di Buntok tanggal 22 Rabiul Akhir 1438 H, bertepatan 20 Januari 2017 yang disampaikan ustadz Sunardi, M.Pd.I membahas “Keutamaan Tauhid”. Tulisan ini adalah catatan seorang jamaah yang menyimak dan menuliskannya kembali. Semoga upaya ini bermanfaat dan dapat dimaklumi, terima kasih.

.

KEUTAMAAN TAUHID
Apa keutamaan ber-tauhid? Diantara dalil yang menunjukkan keutamaan Tauhid adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :

.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)

.
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedholiman, mereka itulah yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am : 82)
.

Dholim disini adalah lawan dari keimanan/tauhid, yaitu syirik. Ketika turun ayat ini, sebagian sahabat merasa berat dan berkata : “Siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat dholim pada diri sendiri?” Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perkara ini tidaklah sebagaimana yang kalian sangka. Sesungguhnya hanyalah yang dimaksud dengannya (dholim) adalah syirik. Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan seorang laki-laki yang sholih ketika dia berkata pada putranya :

.

يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)

.
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah (berbuat syirik). Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kedholiman yang besar”. (QS Luqman : 13) (HR Imam Al-Bukhori (3/484), dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu)
.

Para Ahli Tauhid hatinya tenang dan aman sebab mereka tidak takut kecuali kepada Allah saja. Ahli Tauhid aman ketika manusia ketakutan dan merasa tenang ketika mereka kalut. Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan imam mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82).

.
Inilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mentauhidkan Allah. Mereka tidak mencampuradukkan keimanan dengan kesyirikan. Sungguh mereka mendapatkan keamanan yang sempurna dari Allah. Keamanan ini bersumber dari dalam jiwa, bukan oleh penjagaan manusia atau pihak keamanan. Dan keamanan yang dimaksud adalah keamanan di dunia dan akhirat. Sebab ahli Tauhid mengetahui bahwa kezholiman yang terbesar adalah syirik kepada Allah sebagaimana penjelasan Rasulullah ketika para shahabat bertanya tentang maksud dari ayat di atas dalam hadits dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhuma.

KHUTBAH JUMAT 20 JANUARI 2017 DI MASJID POLSEK DUSUN SELATAN DI BUNTOK “MENYIKAPI PERINTAH DAN LARANGAN”ALLAH”

dsc00419PENGANTAR

Khutbah Jumat hari ini tanggal 21 Rabiul Akhir 1438 H, bertepatan 20 Januari 2017 disampaikan oleh ustadz Sunardi, M.Pd.I. Tulisan ini merupakan catatan seorang jamaah yang menyimak khutbah dan menuliskannya kembali sesuai kemampuan yang dimilikinya. Dan catatan ini hanyalah poin yang dianggap penting dari yang telah khatib sampaikan. Semoga semua kekurangannya dapat dimaklumi, terima kasih.

.

ISI KHUTBAH

Pada intinya Allah menciptakan manusia untuk diperintah dan dilarang. Allah menciptakan kita untuk menaati-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Apa kewajiban kita terhadap perintah-perintah Allah?

Para ulama menyatakan bahwasanya ada tujuh sikap yang wajid dimiliki muslim dalam menyikapi perintah Allah. Tujuh kewajiban terkait perintah-perintah Allah semisal mentauhidkan-Nya, shalat, puasa, haji, sedekah dll. Mari kita pahami ketujuh hal tersebut:

Pertama: Orang yang diperintah wajib mempelajari dan mengetahui isi perintah tersebut. Banyak di dalam nash-nash syariat yang memotivasi umat Islam untuk belajar. Seperti dalam sebuah hadits shahih, Nabi ﷺ bersabda,

.

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

.

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

.

Misalnya Allah memerintahkan mentauhidkan-Nya, maka wajib bagi seorang hamba mempelajari apa itu tauhid. Allah ﷻ perintahkan shalat, maka wajib bagi seorang hamba mempelajari bagaimana shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Dan demikian juga terhadap kewajiban-kewajiban lainnya.

.

Kedua: Mencintai perintah Allah tersebut.

Kita jadikan hati kita mencintai apa yang Allah perintahkan. Karena Allah tidak akan memerintahkan kita, kecuali kepada apa yang berdampak baik bagi kita. Dan Dia tidak melarang kita dari sesuatu, kecuali hal itu buruk untuk kita. Oleh karena itu, wajib bagi kita mencintai apa yang Allah perintahkan.

.

Dalam sebuah doa, Nabi ﷺ memohon kepada Allah dengan:

.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ أَحَبَّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ

.

“Ya Allah, sungguh aku memohon agar aku mencintai-Mu, mencitai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amalan yang bisa mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.”

.

Waspadahal, jangan sampai di hati terdapat setitik kebencian dan kemarahan terhadap apa yang Allah perintahkan atau apa yang Rasulullah ﷺ perintahkan. Allah ﷻ berfirman,

.

﴿ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

.

“Yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS:Muhammad  9).

.

Ketiga: Bertekad kuat untuk melaksanakan perintah Allah ﷻ.

Tekad adalah amalan hati. Tekad untuk mengarahkan hati kepada kebaikan dan bersemangat untuk mengamalkannya. Dalam sebuah doa, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita agar memohon:

.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kekokohan dalam agama ini, dan agar bertekad untuk selalu terbimbing.”

.

Apabila mengetahui suatu amalan yang benar, amalan kebaikan, amalan yang dapat menghantarkan kebaikan di dunia dan akhirat maka bertekad kuatlah untuk mengamalkannya. Gerakkan hati  untuk mengamalkannya.

.

Keempat: Mengamalkan apa yang Allah perintahkan dengan penuh rasa cinta dan ketundukan.

Seorang hamba wajib menaati tuannya. Dalam sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad ﷺ, beliau mengajarkan:

.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

.

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.”

Doa ini dibaca oleh Nabi ﷺ setiap hari selesai shalat subuh.

.

Kelima: Ikhlas beramal dan sesuai tuntunan syariat ketika beramal.

Amal shaleh harus ikhlas karena Allah semata. Dan ia benar sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ tidak menerima suatu amalan kecuali dengan dua hal ini.

.

Keenam: Mewaspadai hal-hal yang dapat merusak amal.

Hal yang dapat merusak amalan shaleh sangat banyak. Telah dijelaskan oleh Alquran dan sunnah Rasulullah ﷺ. Seperti ingin dilihat atau riya’. Kemunafikan. Menginginkan dunia dengan amalan tersebut. Ingin tenar dan popular. Dan selainnya.

Wajib bagi setiap muslim bersikap dengan hal-hal ini terkait dengan perintah-perintah Allah. Seorang muslim harus mengilmui, mencintai, mengamalkan, ikhlas dan benar, dan menjauhi hal-hal yang dapat merusak amal.

.

Ketujuh: teguh dan istiqomah melakukannya.

Seorang mukmin harus memiliki semangat dan motivasi untuk teguh dalam kebaikan. Ia berjuang melawan hawa nafsunya agar istiqomah. Kemudian tidak lupa memohon agar Allah meneguhkannya di atas agamanya.

.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

.

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (QS Ali Imran 8).

.

KHATIMAH

Inilah tujuh hal yang agung yang seorang muslim wajib memilikinya. Seorang muslim harus memahami perintah-perintah Allah tersebut. Mencitainya. Berkeinginan kuat untuk mengamalkannya dan benar-benar mewujudkannya. Wajib ikhlas dan benar. Mewaspadai dari hal-hal yang dapat merusak amalan. Dan istiqomah dalam kesemuanya hingga akhir hayat.

.

https://khotbahjumat.com/3432-sikap-seorang-muslim-terhadap-perintah-allah.html

KAJIAN HADITS BA’DA SUBUH DI MASJID POLSEK DUSUN SELATAN “HAK ALLAH ATAS HAMBA-NYA”, OLEH USTADZ SUNARDI, M.Pd.I

Hadits

dsc00005Resum kajian ini disajikan berdasarkan daya ingat, nalar dan kemampuan penulis sehingga relatif sifat bahasa pengungkapannya. Semoga bisa diambil manfaatnya, amin.

.

Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim rahimahumallahu ta’ala dalam kedua kitab shahihnya, dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ, , أ تدرى ما حقهم عليه ؟) قال : الله و رسوله أعلم, قال : (أن لا يعذبهم) و فى لفظ لمسلم : ( و حق العباد على الله عز و خل أن لا يعذب من لا يشرك به شيأ )

.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : (yaitu)“hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, (dan) tahukah engkau hak hamba terhadap Allah ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : “Dia tidak akan mengadzab mereka1,

.

Dan dalam lafadz Imam Muslim : “bahwasanya Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak menyekutukan-Nya2

.

Hadits yang mulia ini secara umum mengandung tiga hal yaitu :

.

Tauhid Adalah Hak Allah Yang Paling Besar

Tauhid adalah hak Allah Ta’ala yang paling besar dan kewajiban yang paling wajib untuk ditunaikan seorang hamba, bahkan tauhid adalah sebab penciptaan jin dan manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman :

.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

.

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (QS. Adz Dzariyat : 56).

.

Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata: “makna liya’buduni (untuk beribadahKu) dalam ayat tersebut adalah yuwahhiduni (mentauhidkan-Ku). Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin berkata: “tauhid adalah perintah Allah yang paling agung, karena dia merupakan pondasi pokok yang seluruh perkara agama ini dibangun diatasnya, oleh sebab itu Nabi Shallallahuطalaihi wasallam memulai dakwah Beliau dengan tauhid dan memerintahkan para dai yang beliau utus untuk memulai dakwah mereka dengannya.”

.

Cukuplah sebagai bukti bagi kita akan urgensi masalah ini adalah Alla Ta’ala menjadikan dakwah tauhid sebagai dakwah pertama dan utama seluruh para Rasul tidak terkecuali Nabi kita Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman :

.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

.

“dan sungguh kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) “sembahlah Allah dan jauhilah Thagut” (An Nahl :36)

.

Syaikh Abdurahman As Sa’di ketika menafsirkan ayat ini berkata : “Allah Ta’ala mengabarkan bahwahsahnya hujjah (keterangan) telah ditegakan pada seluruh umat, dan tidak ada satu umatpun baik yang telah lalu maupun yang datang kemudian melainkan Allah telah mengutus kepada mereka seorang rasul, yang mana seluruh para rasul itu satu dalam agama dan dakwah mereka, yaitu (menyeru) untuk beribadah Kepada Allah semata tidak ada sekutu bagiNya”.

.

Demikian juga Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengutus para sahabat untuk mendakwahkan agama Allah, Beliau mewasiatkan agar memulai dakwah dengan tauhid sebagaimana dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dia berkata : ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke Yaman beliau bersabda : “sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum ahlul kitab, maka jadikanlah yang pertamakali engkau dakwahkan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala, jika mereka telah mangetahuinya maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sholat lima kali sehari semalam….

.

Perhatikanlah wahai saudaraku Allah dan Rasul-Nya mendahulukan masalah tauhid diatas yang lainnya, bahkan lebih didahulukan daripada sholat,zakat,puasa, dan lain sebagainya, cukuplah ibrah bagi kita bahwa sesuatu yang didahulukan oleh Allah dan RasulNya pastilah merupakan susatu yang sangat penting.

.

Makna Tauhid

Tauhid secara etimologi (bahasa) adalah mashdar dari fi’il (kata kerja) “wahhada- yuwahhidu” yang artinya menjadikan sesuatu satu. Adapun secara terminologi (istilah) syariyyah adalah mengesakan Allah pada hal-hal yang menjadi kekhususan bagi-Nya berupa rubbubiyyah, uluhiyyah serta asma dan shifat-Nya.

.

reff hadits dari https://muslim.or.id/27662-hak-allah-taala-yang-wajib-dipenuhi-seluruh-hamba.html

KHUTBAH JUM’AT 13 JANUARI 2016 DI MASJID POLSEK DUSUN SELATAN DI BUNTOK “MENGINFAKKAN HARTA YANG PALING DICINTAI”

dsc00005PENDAHULUAN

Khutbah Jum’at hari ini 14 Rabiul Akhir 1438 H atau 13 Januari 2017 yang disampaikan oleh Ustadz Sunardi, M.Pd.I, mengambil manfaat dari Firman Allah Surah Ali Imran ayat 92.

Selaku pribadi yang menyimak, mencoba mengkaji, mengingat dan menuliskan kembali apa yang telah beliau sampaikan di mimbar, sehingga terekamlah resumenya sebagai berikut:  

.

FIRMAN ALLAH SURAH ALI IMRAN AYAT 92

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (٩٢)

.

92. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

.

PARA SAHABAT MEMPRAKTEKKANNYA

عن أَنَس بْن مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا وَكَانَ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ فَلَمَّا نَزَلَتْ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ }قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ{ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ }وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ شِئْتَ فَقَالَ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ قَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ فِيهَا وَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ قَالَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّه

Dari Anas bin Malik menerangkan: Abu Thalhah adalah orang Anshar kaya yang paling banyak memiliki kebun kurma di Madinah. Dia sangat mencintai Bairuha (nama kebun) yang berhadapan dengan Masjid. Rasul juga suka  masuk ke sana dan minum air segar dari mata airnya. Tatkala turun ayat ِ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ Abu Thalhah berkata: Wahai Rasul, Allah telah menegaskan bahwa tidak akan mendapatkan kebaikan kecuali menginfakkan apa yang dicintai. Harta yang amat saya cintai adalah kebun Bayruha, maka dengan ini saya sedekahkan karena Allah. Saya mengharapkan kebaikannya di sisi Allah SWT. Gunakanlah wahai Rasul sesuai kehendakmu. Rasul SAW bersabda: Bakh (kata-kata kagum), ini adalah harta yang sangat baik yang sangat bernilai! Saya mendengar apa yang kamu ucapkan! Saya berpendapat alangkah baiknya engkau berikan ke kerabatmu. Dia mengatakan aku lakukan wahai Rasul! Kemudian Abu Thalhah membagikannya ke kaum kerabat dan anak pamannya. (Hr. al-Bukhari dan Muslim).[Shahih al-Bukhari, V h.3043]

.

Demikian pula diriwayatkan bahwa Zaid bin Haritsah RA menginfakkan harta yang paling disukainya berupa seekor kuda yang diberi nama Sabal.

.
Abdullah bin Umar RA memerdekakan budak yang disukainya, yaitu Nafi’, yang dahulu dia beli dari Abdullah bin Ja’far seharga seribu dinar. Shafiyyah bintu Ubaid berkata, “Aku menyangka bahwa dia mengamalkan firman Allah…..لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
.
MENCARI SEDEKAH YANG LEBIH AFDHAL
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan ayat ini, “Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang paling disenanginya, itu lebih utama daripada yang lainnya, meskipun sama nilainya. Sesungguhnya, memberi hadiah dan berkurban yang merupakan jenis ibadah jasmani dan materi, tidaklah sama seperti sedekah biasa. Bahkan, ketika dia menyembelih hewan yang paling berharga dari hartanya, hal itu lebih dicintai Allah. Sebagian salaf berkata, ‘Janganlah salah seorang kalian menghadiahkan sesuatu untuk Allah yang dia malu jika dia menghadiahkannya kepada seseorang yang dia muliakan.’
.

Allah  berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

‘Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’ (surah al-Baqarah ayat 267)

.
Ada dua orang anak Adam yang mempersembahkan harta untuk Allah. Disebutkan bahwa salah satu dari keduanya bersedekah dengan hartanya yang bernilai, sedangkan yang lain bersedekah dengan hartanya yang tidak bernilai. ” (Majmu’ Fatawa, 31/251)

Wallahu a’lam.