Orang Munafik Memilih Pemimpin Kafir
Salah satu ciri orang-orang munafik adalah loyal terhadap orang kafir. Saling mencintai di antara mereka dan menjadikannya sebagai teman setia. Bahkan para taraf tertentu, mereka mengangkat orang kafir itu sebagai pemimpinnya. 
.
Ketika berbicara perilaku munafik ini, Allah ta’ala berfirman:

.

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿﴾ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّـهِ جَمِيعًا

.
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Qs. An-Nisa’: 138-139)
.
Ketika membaca ayat di atas, setidaknya kita bisa memetik makna yang jelas, yaitu:
.
Pertama: Orang munafik selalu memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir. Saling mencintai dan menolong sesama mereka. Bahkan dalam beberapa kondisi, mereka akan mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpinnya.
.
Kedua: orang munafik mengharap kemulian dari orang-orang kafir. Menurutnya, kemuliaan serta kemenangan itu lebih nyata jika bersikap loyal dengan orang-orang kafir.
.
Ridho Pemimpin Kafir Adalah Ciri Kemunafikan
Perilaku munafik semacam ini telah ada ada masa Rasulullah dan masih eksis hingga hari ini. Di tengah-tengah viralnya kasus Ahok yang menistakan al-Maidah 51, kita bisa menyaksikan barisan orang-orang munafik yang begitu giat membela penistaan tersebut. Mereka lebih suka menjadi teman orang-orang kafir meskipun harus melawan kemarahan umat Islam yang ramai-ramai menuntuk penistaan tersebut.
.
Ketika menafsirkan Surat An-Nisa ayat 138 di atas, Ibnu Katsir menjelaskan, Maksud ayat, ‘Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih’ yaitu orang-orang munafik yang menampakkan keimanannya kemudian kafir lalu hati mereka tertutup.”
.

Lalu Ibnu Katsir melanjutkan, “Kemudian Allah mensifati bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung / pemimpin dengan meninggalkan orang-orang beriman. Artinya, mereka sejatinya satu barisan dengan orang-orang kafir. Mereka memberikan loyalitas dan kasih sayangnya kepada orang-orang kafir. Lalu jika bertemu diantara mereka, orang-orang munafik itu berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian, sesungguhnya kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman dengan penampilan kami yang seolah-olah sejalan dengan mereka.’ Berikutnya Allah Ta’ala mengingkari bentuk loyalitas mereka (orang-orang munafik) kepada orang-orang kafir dengan firmannya, “Apakah mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir?” (Lihat; Tafsir al-Qur’an al-Azhim, II/436)

.

Senada dengan penjelasan di atas, Imam As-Sa’di menegaskan, “Ayat ini dengan tegas mengingatkan tentang larangan berwala’ (menjadikan teman setia, pelindung, atau pemimpin) kepada orang-orang kafir dan mengabaikan orang-orang mukmin. Sebab, sikap yang demikian itu adalah bagian dari sifat orang-orang munafik. Padahal bagian dari konsekuensi keimanan itu adalah harus menjadikan orang mukmin sebagai teman pelindung atau pemimpin serta membenci dan memusuhi orang-orang kafir.” (Taisir Al-Karimu- Ar-Rahman , 2/372)

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s