APAKAH KAMU MENGIRA BISA MASUK SYURGA HANYA DENGAN NGOMONG DOANG..?

ALLAH BERTANYA KEPADA ANDA

Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah 214:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.”(QS Al Baqarah 214)

.

Ayat ini menunjukkan bahwa syurga itu terlalu mahal sangat karena orang-orang yang masuk syurga harus ditimpa dulu berbagai fitnah, musibah, kesengsaraan, guncangan kehidupan dan malapetaka(?) Bahkan ayat ini menunjukkan adanya rintihan : “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”

.

Pada ayat lain ‘Allah menyindir’ dengan lebih menukik: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2) dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.(3)”(Qs. Al-Ankabut: 2-3).

.

Pada sepanjang sejarah Islam, kita selalu menemukan bahwa ujian adalah faktor penting dalam membuktikan keimanan seseorang. Bagaimana mungkin ia akan mendapat surga, bila tidak beriman. Bagaimana mungkin dianggap beriman, jika tidak ada pembuktian. Maka ujian dalam berbagai macam jenisnya, menjadi semacam ‘alat ukur’ untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang.

.

Ujian, “sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu”.

Suatu saat, sahabat yang bernama Khabbāb bin al-Arat (yang mendapat penyiksaan angat keji dari orang-orang kafir Qurays) mendatangi Rasulullah, seraya bertanya: “Mengapa engkau tidak memohon pertolongan (Allah) untuk kita?  Mengapa anda tidak berdoa untuk kebaikan kita?”. Rasul pun menjawab, ‘Sesungguhnya ada orang sebelum kalian yang digergaji hingga terbelah dua. Namun, itu tidak memalingkannya dari agama. Ia juga disisir dengan sisir besi sehingga membuat daging dan tulangnya terkelupas, tapi yang demikian itu tidak memalingkannya dari agama’. Kemudian belia melanjutkan, Demi Allah Allah pasti akan menyempurnakan perkara ini(agama Islam). Hingga (ada) pengendara berjalan dari Shan`a(Yaman) ke Hadhra Maaut(dengan aman) ia tidak takut, melainkan pada Allah, serta tidak khawatir kambing diterkam serigala. Tetapi kamu terburu-buru (Hr. Bukhari, Abu Daud dan Nasa`i).[Baca: Tafsīr al-Qur`ān al-`Aḍīm, Ibnu Katsir, 1/571)

.

Orang yang beriman pasti diuji sebagaimana umat-umat terdahulu. Allah berfirman: “Mereka ditimpa oleh al-ba`sā`(menurut Ibnu Mas`ud: Kefaqiran) dan al-arrā`(menurut Ibnu Abbas: sakit), serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan.). Namun, salah satu virus mematikan yang dapat menggagalkan orang dalam menjalani ujian ialah sifat terburu-buru dan tidak sabar. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah kepada Khabbāb bin al-Arat. Dalam kondisi yang sangat mencekam, di mana kaum Muslimin sudah berada pada titik puncak pengorbanan, barulah pertolongan Allah hadir. Allah berfirman: “Sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.”. Dekatnya pertolongan, atau lulusnya seorang hamba menjalani ujian, ialah ketika dia sudah berusaha secara maksimal dalam menjalani ujian. Pada perang Ahzab, kaum Muslimin sudah mengerahkan segenap jerih payahnya. Secara materil, mereka jauh dibandingkan orang-orang kafir. Namun, pada akhirnya mereka ditolong Allah ta`ala.

.

Bagi kita –umat Islam. Khususnya di Indonesia- seyognyanya bercermin pada ayat ini. Ternyata, mengaku islam dan iman saja tidak cukup untuk mendapat ‘tiket surga’. Jadi, jangan terlalu PD (percaya diri) dengan keislaman dan keimanan kita, sebelum benar-benar dibuktikan dengan perjuangan dan pengorbanan. Sebagai penutup ada baiknya kita simak firman Allah subhanahu wata`ala: “dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.”(Qs. Az-Zuhruf: 72).

.

KAMU TERLALU CINTA DUNIA, NERAKA UNTUK MU

Siapa pun yang lebih mengutamakan kehidupan dunia (pekerjaan, pangkat, jabatan, kekuasaan, kedudukan) maka pasti masuk neraka. Allah berfirman dalam surah Hud 15-16:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ

Barang siapa yang lebih menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka  balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan di dunia itu mereka tidak akan dirugikan.

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa pun di akhirat nanti kecuali neraka, lenyap apa saja hasil yang telah mereka usahakan di dunia dan tidak diterima (sia-sia) amal yang telah mereka kerjakan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s