KAJIAN BA’DA SUBUH SABTU 22 AGUSTUS 2015 “UJIAN ALLAH UNTUK MUKMIN” OLEH USTADZ MARDHATILLAH

3a94f-dsc00572SEMUA MUKMIN PASTI DIUJI TANPA KECUALI*)

.

Allah berfirman
.

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

.

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk : 1-2)

.

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا
.

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS Huud : 7)

.

Jikalau orang kafir juga tidak selamat dari ujian kehidupan, maka apatah lagi seorang yang beriman, pasti akan menghadapi ujian. Allah berfirman :

.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-‘Ankabuut : 2)

.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqoroh : 155)

.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat” (QS Al-Baqoroh : 214)

.

UJIAN NABI YUSUF**)

.

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (23) وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ (24)

.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang (mukhlash) terpilih.

.

Pelajaran dari ayat ini:

Ujian baru untuk Yusuf menghampirinya kembali, ujian yang disebabkan hidup dalam keadaan serba berkecukupan, ujian itu adalah ujian syahwat, walau sebenarnya ujian syahwat tidak hanya menghampiri mereka yang hidup dalam kondisi mewah saja, namun kadangkala, adanya kelebihan harta itu mendorong jiwa untuk menuruti hawa nafsunya. Kehidupan raja dan penguasa, yang bergelimang harta, membuat mereka menggunakan kenikmatan itu untuk melakukan apa saja demi memenuhi syahwatnya. Yusuf yang hidup bersama raja dan tuannya di dalam istana itu, mendapatkan ujian ini. Yusuf yang terkenal dengan ketampanannya, keluhuran akhlaknya, kebaikan budi pekertinya, membuat Zulaikhah, istri raja, tak mampu menahan dirinya, dia melakukan upaya untuk menjebak yusuf kemudian menggodanya.

.

Dalam ayat 23 ini, dijelaskan bahwa Zulaikhah berupaya menggoda yusuf guna menundukkan dirinya kepadanya, pintu-pintu kamar itu dikunci satu demi satu. Dalam ayat ini, kata pintu berbentuk jama’ yaitu : abwaab, dikisahkan bahwa pintu kamar Zulaikhah ini bukan hanya satu, namun memiliki beberapa pintu yang berlapis untuk sampai ke kamarnya, Penggunaan tasydid dalam kata ghallaqot, menunjukkan bahwa pintu-pintu itu benar-benar telah dikunci oleh Zulaikhah dengan kuat dan dipastikan telah terkunci rapat. Setelah Yusuf berada di kamarnya, Zulaikhah berkata: “Haita laka” : “segeralah marilah ke sini”. Dalam kitab tafsir disebutkan bahwa kata“haita laka” berasal dari kata : hayya’tu laka, wa hayya’tu nafsi laka, wa hayya’tu nafsi li ajlika” artinya “saya sudah mempersiapkan dirimu untukmu”.

.

Sebuah ungkapan yang menggetarkan hati Yusuf dan membuatnya terkejut. Mendengar ajakan Zulaikhah itu, Yusuf segera berkata: “Ma’adzallah” Aku berlindung kepada Allah. Sebuah pelajaran penting yang dikisahkan Al-Quran melalui kisah Yusuf ini adalah di saat mendapati godaan dan mengalami kondisi seperti ini, untuk segera berlindung kepada Allah dengan melafadzkan Ta’awuzd (a’udzubillahi minasyaithonirrojim) berlindung kepada Allah dari bisikan setan yang mengoda hati manusia.

.

Setelah itu Yusuf mengingatkan Zulaikhah akan perbuatan khianat yang tidak boleh dilakukannya, berkhianat kepada Tuannya yang telah berbuat baik kepadanya selama ini. Kata Rabbii pada ayat ini maksudnya adalah Tuan dan bukan berarti Tuhan, karena pada masa itu, istilah kata Tuan masih menggunakan kata rabbi. Serta Yusuf mengingatkan Zulaikhah bahwa tidak akan pernah beruntung orang yang berbuat zholim kepada orang lain, ataupun menzholimi dirinya sendiri.

.

Dalam kondisi seperti ini, Zulaikhah terus memaksa Yusuf untuk menuruti perintahnya, dia begitu menginginkan Yusuf, seperti uangkapan pada ayat 24: “walaqod hammat bihi”sungguh dia telah berkeinginan kuat untuk melakukan perbuatan itu dengan Yusuf’, dan dia terus membujuknya. Godaan itu terlalu besar, sangat sulit menghadapainya, sehingga Yusufpun ada keinginan untuk melakukan hal itu pula sebagaimana dalam ayat ini, namun ada sebab yang membuat Yusuf tidak melakukannya, yaitu: “Roaa burhaana rabbihi” ia melihat tanda Tuhannya, ia merasakan keagungan Tuhannya di dalam dadanya, itu adalah iman yang kuat kepada Allah, sehingga godaan itu menjadi kecil. Begitulah.., tatkala iman di dada lemah maka nafsu akan kuat menguasai, jika iman kuat maka nafsu dapat dikalahkan.

.

Merasakan keagungan dan pengawasan Allah selalu terhadap tingkah laku perbuatan kita adalah cara selanjutnya untuk terhindar dari godaan seperti ini.

.

Demikianlah, Allah memalingkan Yusuf dari perbuatan mungkar dan keji, perbuatan zina diungkapkan oleh Al-Quran dalam ayat ini sebagai perbuatan yang keji dan buruk, sebagaimana juga dalam ayat yang lain Allah berfirman:

.

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا (الإسراء:32)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk“.

.

Untuk berpaling dari perbuatan yang keji dan buruk ini, ada 4 cara yang dapat kita ambil dari pelajaran ayat 23 dan 24 surat Yusuf ini:

.

Pertama: Jika ada godaan dari setan yang menggoda kita melalui bisikan ataupun pandangan atau sarana lainnya, segeralah berlindung kepada Allah dengan melafadzkan ta’awudz dan dzikir kepada Allah, bacalah berulang-ulang agar Allah jauhkan kita dari godaan setan tersebut.

.

Kedua: Ingat! Bahwa perbuatan zholim tidak akan pernah mendapatkan keuntungan apapun, baik di dunia ataupun diakherat. Dari perbuatan zholim yang dilakukan, menzholimi orang lain, mengkhianati orang adalah perbuatan yang hanya akan mendatangkan kerugian dan penderitaan.

.

Ketiga: Merasakan selalu keagungan Allah dan pengawasan-Nya, merasakan kebesaran Allah di dalam hati, memenuhi jiwa dengan iman, sehingga tidak ada celah bagi kemaksiatan untuk mengisinya, bahwa sesungguhnya ketika hati kosong dari iman, maka setan akan mengisinya dangan bisikan kemaksiatan.

.

Keempat: Ada hubungan erat antara melawan godaan setan dengan keikhlasan, bahwa sesungguhnya setan tidak akan mampu menggoda mereka yang senantiasa mengikhlashkan diri dan amalnya untuk Allah semata. Hal ini diungkapkan setan ketika dia diusir dari surga sebagaimana firman Allah:

.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)

.

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka.

Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hambanya yang mukhlas, sebagaimana Allah telah memilih Yusuf menjadi hamba-Nya yang mukhlashin. Amiin.

Wallahu a’lam bisshowab.

.

Mushollah KBRI Tripoli, 1 Oktober 2010

Zulhamdi M. Saad, Lc

.

SABDA RASULULLAH MUHAMMAD SAW TENTANG UJIAN BERAT**): 

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

.

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

.

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

.

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

.

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.[1]

.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

.

وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ

.

“Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.”[2]

.

Syaikhul Islam juga mengatakan,

.

واللهُ تَعَالَى قَدْ جَعَلَ أَكْمَلَ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَعْظَمُهُمْ بَلاَءً

.

“Allah akan memberikan cobaan terberat bagi setiap orang mukmin yang sempurna imannya.”[3]

.

Al Munawi mengatakan, “Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya.”[4]

.

Al Munawi mengatakan pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.[5]

.

Semakin kuat iman, semakin berat cobaan, namun semakin Allah cinta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

.

Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah.”[6]

.

Kewajiban kita adalah bersabar dan bersabar. Ganjaran bersabar sangat luar biasa. Ingatlah janji Allah,

.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

.

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa  ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar pahala bagi mereka tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.[7]

.

Makna asal dari sabar adalah “menahan”. Secara syar’i, pengertian sabar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim,

.

فَالصَّبْرُ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الجَزْعِ وَاللَِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي، وَالجَوَارِحِ عَنْ لَطْمِ الخُدُوْد وَشَقِّ الثِيَابِ وَنَحْوِهِمَا

.

Sabar adalah menahan diri dari menggerutu, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan anggota badan dari menampar pipi, merobek-robek baju dan perbuatan tidak sabar selain keduanya.[8] Jadi, sabar meliputi menahan hati, lisan dan anggota badan.

.

Semoga Allah memberi taufik dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi setiap ujian.

.

Faedah Ilmu, Pangukan-Sleman, 6 Dzulqo’dah 1430 H

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

[1] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] Al Istiqomah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/260, Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud, cetakan pertama, 1403 H.

[3] Qo’idah fil Mahabbah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 150, Maktabah At Turots Al Islamiy.

[4] Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, ‘Abdur Ro-uf Al Munawi, 1/73, Al Maktabah At Tijariyah Al Kubro, cetakan pertama, tahun 1356 H.

[5] Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, ‘Abdur Ro-uf Al Munawi, 1/158, Asy Syamilah

[6] HR. Tirmidzi no. 2396, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

[7] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.

[8] ‘Iddatush Shobirin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 7, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

————

Catatan:

*)  almanhaj.or.id/…/0/setiap-muslim-akan-menghadapi-ujian-dan-cobaan/

**) http://www.jabal-uhud.com/index.php?option=com_content&view=article&id=164:tadabur-surat-yusuf-ayat-23-24&catid=31:tadabur-quran&Itemid=27

***) Artikel http://rumaysho.com

Diposkan oleh Jamaah As-Sunnah Buntok di Sabtu, Agustus 22, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s