Tausiyah Ramadhan Ba’da Subuh Jum’at 3 Juli 2015 “Tafsir Surat Al Baqarah ayat 9″ oleh Ustadz Sunardi

Allah berfirman: 

.

يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ

.

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri namun mereka tidak menyadarinya. (QS. Al Baqarah: 9)

Kata-kata menipu Allah hanyalah kiasan sebab tidak mungkin Allah bisa ditipu. Yang demikian itu sesuai dengan apa yang dikatakan Ibnu Juraij bahwa orang munafik itu senantiasa tidak sejalan antara ucapan dan perbuatannya, antara yang tersembunyi dan yang nyata serta antara zhahir dan batinnya.

.

Tafsir Surat al Baqarah ayat 9

.

{ يخادعون الله والذين ءامَنُوا } بإظهار خلاف ما أبطنوه من الكفر ليدفعوا عنهم أحكامه الدنيوية { وَمَا يَخْدَعُونَ إلاَّ أَنفُسَهُمْ } لأن وبال خداعهم راجع إليهم فيفتضحون في الدنيا بإطلاع الله نبيه على ما أبطنوه ويعاقبون في الآخرة { وَمَا يَشْعُرُونَ } يعلمون أن خداعهم لأنفسهم ، والمخادعة هنا من واحد ( كعاقبت اللص ) ، وذكر الله فيها تحسين ، وفي قراءة وما يخدعون .

.

  1. (Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman) yakni dengan berpura-pura beriman dan menyembunyikan kekafiran guna melindungi diri mereka dari hukum-hukum duniawi (padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri) karena bencana tipu daya itu akan kembali menimpa diri mereka sendiri. Di dunia, rahasia mereka akan diketahui juga dengan dibuka Allah kepada Nabi-Nya, sedangkan di akhirat mereka akan menerima hukuman setimpal (tetapi mereka tidak menyadari) dan tidak menginsafi bahwa tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri. Mukhada`ah atau tipu-menipu di sini muncul dari satu pihak, jadi bukan berarti berserikat di antara dua belah pihak. Contoh yang lainnya mu`aqabatul lish yang berarti menghukum pencuri. Menyebutkan Allah di sana hanya merupakan salah satu dari gaya bahasa saja. Menurut suatu qiraat tidak tercantum ‘wamaa yasy`uruuna’ tetapi ‘wamaa yakhda`uuna’, artinya ‘tetapi mereka tidak berhasil menipu’.

.

Sesungguhnya, berbagai sifat orang-orang munafik terdapat dalam surat-surat yang diturunkan di Madinah, karena di Makkah tidak terdapat kemunafikan. Justru sebaliknya, di antara penduduk di sana ada orang yang menampakkan kekafiran karena terpaksa, padahal secara batin ia tetap beriman. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, di sana terdapat kaum Anshar yang terdiri dari kabilah Aus dan Khazraj yang pada masa jahiliyah mereka beribadah kepada berhala seperti yang dilakukan oleh kaum musyrik Arab. Di sana juga terdapat orang-orang Yahudi dari kalangan Ahlul Kitab yang menempuh jalan para pendahulu mereka

.

Mengenai firman Allah Ta’ala:
.

Ïوَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ Î

.

“Di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.’ Padahal mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Dan tidaklah mereka menipu melainkan pada dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar,” dari Qatadah, Abu Sa’id mengatakan, sifat orang munafik itu ada pada banyak hal: akhlaknya tercela, ia membenarkan dengan lisan dan mengingkari dengan hatinya serta berlawanan dengan perbuatannya. Pagi hari begini dan sore harinya telah ber-ubah. Sore harinya begini dan pada pagi harinya telah berubah pula. Ia berubah-ubah seperti goyangnya kapal karena terpaan angin, setiap kali ingin bertiup, maka ia pun ikut bergoyang.

.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. 2:10)

.

Mengenai Firman-Nya, Î فِي قُلُوبِهِم مَّـرَضٌ Ï “Di dalam hati mereka ada penyakit,” as-Suddi menceritakan, dari Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan: “Yaitu keraguan, lalu Allah menambah keraguan itu dengan keraguan lagi”.

.

Menurut Ikrimah dan Thawus, “Di dalam hati mereka ada penyakit, yaitu riya.”

Sedangkan mengenai firman-Nya, Î بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ Ï “Disebabkan mereka berdusta.” Ada yang membaca “يُكَذِّبُوْنَ”. Mereka menyandang sifat ragu dan riya’. Sungguh mereka berdusta dan bahkan mereka mendustakan hal-hal yang ghaib.

.

CATATAN:

Resume ini tidak sama persis dengan keseluruhan isi tausiyah namun diharapkan mampu mewakili apa yang disampaikan. Tulisan ini tersaji sesuai kemampuan yang ada.  

.

Penjelasan diatas diambil dari 

1.http://berawaldarihati.blogspot.com

2.http://www.tafsironline.org/2015/03/tafsir-jalalain-tafsir-surat-al-baqoroh.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s