Apakah menghadiri Muktamar termasuk Larangan Safar Selain ke Tiga Masjid?

PROLOG

Banyak manusia muslim yang bepergian dengan perencanaan bukan ke tiga masjid. Ada yang pergi ke muktamar empat tahun sekali. Ikut musyawarah nasional setahun sekali, lomba ke-islaman seperti lomba da’i-da’iyah cilik, MTQ atau Kontes Muslimah, juga lomba Qasidahan, yang semua itu sudah diprogram secara rutin pelaksanaannya.

.

Dalam pelaksanaannya, baik Muktamar atau MTQ atau yang lainnya, mengagendakan pawai ta’aruf yang mengarak wanita-wanita cantik nan haus pujian, adanya konser musik religi, kadang ada pesta kembang api, perdagangan (bazar) bebas yang memcampur-adukkan laki-laki dan wanita, belum lagi penginapan untuk pria-wanita yang rawan perbuatan dosa. Bagaimana masalah ini?

.

Dari pada pusing memikirkan sub-hat yang kian hari semakin banyak saja, marilah merenungkan apa yang diposkan oleh Abu Al-Jauzaa’ : di label: Fiqh tentang Larangan Safar Selain ke Tiga Masjid

.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:

فَلَقِيتُ بَصْرَةَ بْنَ أَبِي بَصْرَةَ الْغِفَارِيَّ، فَقَالَ: مِنْ أَيْنَ أَقْبَلْتَ؟ فَقُلْتُ: مِنْ الطُّورِ، فَقَالَ: لَوْ أَدْرَكْتُكَ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ إِلَيْهِ مَا خَرَجْتَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” لَا تُعْمَلُ الْمَطِيُّ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَإِلَى مَسْجِدِي هَذَا، وَإِلَى مَسْجِدِ إِيلِيَاءَ أَوْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ يَشُكُّ “

“….Lalu aku bertemu dengan Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifaariy. Ia berkata : “Dari mana engkau?”. Aku menjawab : “Dari bukit Thuur”. Ia berkata : “Seandainya saja aku bertemu denganmu sebelum engkau pergi ke Bukit Thuur, niscaya engkau tidak akan pergi. Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah hewan tunggangan dipersiapkan untuk perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid : Masjid Haraam, masjidku ini (Masjid Nabawiy), dan masjid Iliya’ atau Baitul-Maqdis” [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ no. 243; shahih].

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1189 dan Muslim no. 3364].

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa setelah Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu dikhabari oleh Bashrah tentang hadits tersebut, ia menyepakatinya dan kemudian meriwayatkannya.

Dari Qaza’ah, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu; ia (Qaza’ah) berkata:

سَمِعْتُ مِنْهُ حَدِيثًا فَأَعْجَبَنِي، فَقُلْتُ لَهُ: أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَأَقُولُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ أَسْمَعْ، قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى “

“Aku mendengar darinya (Abu Sa’iid) satu hadits yang membuatku kagum. Aku berkata kepadanya : “Apakah engkau mendengar hadits ini dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Ia menjawab : “Apakah aku berkata atas diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang tidak pernah aku dengar (dari beliau) ?”. Lalu aku mendengar Abu Sa’iid berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Janganlah kalian melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid : masjidku ini (yaitu Masjid Nabawiy – Abul-Jauzaa’), Masjid Haraam, dan Al-Masjidul-Aqshaa….” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 827].

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami larangan syaddur-rihaal di atas.

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa larangan tersebut kembali kepada tempat (secara umum), dan ulama lain berpendapat kembali pada masjid saja – sebagaimana sesuatu yang diperkecualikannya.

Yang raajih adalah pendapat pertama, karena dalam hadits Bashrah bin Abi Bashrah secara jelas menunjukkan bahwa larangan tersebut tidak hanya berlaku pada masjid, namun juga ke tempat lain (Thuur).

Dikuatkan lagi oleh pemahaman Ibnu ‘Umar yang semisal dengan Bashrah radliyallaahu ‘anhum sebagaimana riwayat:

حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ طَلْقٍ، عَنْ قَزَعَةَ، قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ آتِي الطُّورَ؟ قَالَ: ” دَعِ الطُّورَ وَلَا تَأْتِهَا، وَقَالَ: لَا تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ “

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Amru, dari Thalq, dari Qaza’ah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar : “Bolehkah aku pergi mendatangi bukit Thuur ?”. Ia menjawab : “Tinggalkan Thuur, janganlah engkau mendatanginya. Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihaal) kecuali pada tiga masjid” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 4/65; sanadnya hasan].

Dalam hal ini, tidak diketahui adanya penyelisihan di kalangan shahabat terhadap mereka (Bashrah, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhum), dan pemahaman shahabat atas suatu hadits lebih dikedepankan dibandingkan yang lainnya.

Keumuman larangan ini meliputi perjalanan jauh (safar) dalam rangka ibadah ke semua tempat selain tiga masjid, misalnya ziarah ke kubur orang shaalih serta shalat dan bertabarruk di tempat tertentu.

Ibnu Hajar rahimahullah menukil beberapa ulama yang menguatkan pendapat ini:

فَقَالَ اَلشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّد اَلْجُوَيْنِيّ : يَحْرُمُ شَدّ اَلرِّحَال إِلَى غَيْرِهَا عَمَلًا بِظَاهِرِ هَذَا اَلْحَدِيثِ ، وَأَشَارَ اَلْقَاضِي حُسَيْن إِلَى اِخْتِيَارِهِ وَبِهِ قَالَ عِيَاض وَطَائِفَة ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رَوَاهُ أَصْحَابُ اَلسُّنَنِ مِنْ إِنْكَار بَصْرَة اَلْغِفَارِيّ عَلَى أَبِي هُرَيْرَة خُرُوجه إِلَى اَلطُّورِ وَقَالَ لَهُ ” لَوْ أَدْرَكْتُك قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مَا خَرَجْت ” وَاسْتَدَلَّ بِهَذَا اَلْحَدِيثِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ يَرَى حَمْلَ اَلْحَدِيثِ عَلَى عُمُومِهِ ، وَوَافَقَهُ أَبُو هُرَيْرَة

“Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Juwainiy berkata : ‘Diharamkan melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihaal) selain dari tiga masjid tersebut berdasarkan dhahir hadits ini. Al-Qaadliy Husain mengisyaratkan pilihannya (terhadap pendapat ini). Dan pendapat inilah yang dipegang oleh ‘Iyaadl dan sekelompok ulama lain. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh ashhaabus-sunan dari pengingkaran Bashrah Al-Ghifaariy terhadap Abu Hurairah karena perjalanannya ke bukit Thuur. Ia (Bashrah) berkata kepadanya : ‘Seandainya saja aku bertemu denganmu sebelum engkau pergi ke Bukit Thuur, niscaya engkau tidak akan pergi’. Ia berdalil dengan hadits ini sehingga menunjukkan bahwa ia berpandangan kandungan hadits ini ada pada keumumannya, dan hal itu disepakati oleh Abu Hurairah” [Fathul-Baariy, 3/65].

Al-Qasthalaaniy rahimahullah berkata:

اُخْتُلِفَ فِي شَدّ الرِّحَال إِلَى غَيْرهَا كَالذَّهَابِ إِلَى زِيَارَة الصَّالِحِينَ أَحْيَاء وَأَمْوَاتًا وَالْمَوَاضِع الْفَاضِلَة فِيهَا وَالتَّبَرُّك بِهَا ، فَقَالَ أَبُو مُحَمَّد الْجُوَيْنِيُّ يَحْرُم عَمَلًا بِظَاهِرِ الْحَدِيث ، وَاخْتَارَهُ الْقَاضِي الْحُسَيْن ، وَقَالَ بِهِ الْقَاضِي عِيَاض وَطَائِفَة وَالصَّحِيح عِنْد إِمَام الْحَرَمَيْنِ وَغَيْره مِنْ الشَّافِعِيَّة الْجَوَاز وَخَصَّ بَعْضهمْ النَّهْي فِيمَا حَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ بِالِاعْتِكَافِ فِي غَيْر الثَّلَاثَة لَكِنْ لَمْ أَرَ عَلَيْهِ دَلِيلًا

“Diperselisihkan tentang perjalanan jauh (syaddur-rihaal) selain ke tempat tersebut (yaitu tiga masjid yang disebutkan dalam hadits – Abul-Jauzaa’) seperti pergi berziarah ke orang-orang shaalih baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal (yaitu di kuburan) serta tempat-tempat yang mempunyai keutamaan untuk bertabarruk (mencari berkah) dengannya. Abu Muhammad Al-Juwainiy berkata : ‘Diharamkan berdasarkan dhahir hadits’. Al-Qaadliy Al-Husain memilih pendapat tersebut. Pendapat tersebut dipegang oleh Al-Qaadliy ‘Iyaadl dan sekelompok ulama lain. Dan yang benar menurut Imam Al-Haramain dan yang lainnya dari kalangan ulama Syaafi’iyyah adalah diperbolehkan. Sebagian di antara mereka mengkhususkan larangan tersebut – sebagaimana dihikayatkan oleh Al-Khaththaabiy – dalam hal i’tikaaf yang dilakukan di selain tiga masjid tersebut. Akan tetapi aku tidak melihat adanya dalil yang melandasainya” [‘Aunul-Ma’buud, 4/417].

Maalik bin Anas rahimahullah berkata:

مَنْ قَالَ لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ آتِيَ الْمَدِينَةَ أَوْ بَيْتَ الْمَقْدِسِ أَوْ الْمَشْيُ إلَى الْمَدِينَةِ أَوْ إلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ ، فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ إلَّا أَنْ يَكُونَ نَوَى بِقَوْلِهِ ذَلِكَ أَنْ يُصَلِّيَ فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَإِنْ كَانَتْ تِلْكَ نِيَّتَهُ وَجَبَ عَلَيْهِ الذَّهَابُ إلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ أَوْ إلَى الْمَدِينَةِ رَاكِبًا وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْمَشْيُ

“Barangsiapa yang berkata : ‘Wajib bagiku untuk mendatangi Madiinah atau Baitul-Maqdis, atau berjalan menuju Madiinah atau menuju Baitul-Maqdis karena Allah’; maka tidak ada kewajiban apapun baginya (untuk ditunaikan) kecuali jika ia berniat dengan perkataannya itu untuk shalat di Masjid Madiinah (Masjid Nabawiy) atau masjid Baitul-Maqdis. Jika memang itu niatnya, wajib baginya untuk pergi ke Baitul-Maqdis atau Madiinah dengan naik kendaraan, namun tidak wajib baginya berjalan kaki” [Al-Mudawwanah, 3/255 – via Syaamilah].

Dapat dipahami dari perkataan Maalik bahwa semata-mata bernadzar pergi ke Madiinah dengan niat untuk berziarah ke kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau kubur para shahabat, maka tidak wajib ditunaikan. Padahal, asal pelaksanaan nadzar adalah wajib. Nadzar tidak wajib dilaksanakan apabila nadzar tersebut bukan amalan ketaatan, diharamkan, atau tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

‘Abdil-Barr, fuqahaa’ madzhab Maalikiyyah, menjelaskan senada:

ولم يختلف العلماء فيمن قال: علي المشي إلى بيت المقدس، أو إلى مسجد المدينة، ولم ينو الصلاة في واحد من المسجدين، وإنما أراد قصدهما لغير الصلاة، أنه لا يلزمه الذهاب إليهما

“Dan tidak diperselisihkan para ulama atas orang yang berkata : ‘Wajib bagiku berjalan menuju Baitul-Maqdis atau menuju Masjid Madiinah’, tanpa berniat shalat pada salah satu di antara dua masjid tersebut dimana niatnya ke sana hanyalah selain shalat; maka tidak wajib baginya pergi ke dua masjid tersebut” [Al-Istidzkaar, 5/342].

Ibnu ‘Abdil-Haadiy rahimahullah berkata:

ولو نذر السفر إلى غير المساجد أو السفر إلى مجرد قبر نبي ، أو صالح لم يلزمه الوفاء بنذر باتفاقهم ، فإن هذا السفر لم يأمر به النبي – صلى الله عليه وسلم – ، بل قد قال : (( لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد )) وإنما يجب بالنذر ما كان طاعة ، وقد صرح مالك وغيره بأن من نذر السفر إلى المدينة النبوية إن كان مقصوده الصلاة في مسجد النبي – صلى الله عليه وسلم – وفى بنذره ، وإن كان مقصوده مجرد زيارة القبر من غير صلاة في المسجد لم يف بنذره ، قال : لأن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : (( لا تعمل المطي إلا إلى ثلاثة مساجد )).

“Dan seandainya seseorang bernadzar untuk safar menuju selain dari masjid-masjid atau safar menuju kubur Nabi saja atau orang shaalih, maka tidak wajib baginya untuk menepati nadzar tersebut berdasarkan kesepakatan mereka, karena safar ini tidaklah diperintahkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid’. Yang diwajibkan dalam nadzar hanyalah sepanjang merupakan ketaatan (kepada Allah). Maalik dan yang lainnya telah menjelaskan bahwa siapa saja yang bernadzar untuk safar menuju Madiinah Nabawiyyah jika maksudnya adalah melaksanakan shalat di Masjid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia harus melaksanakan nadzarnya. Jika maksudnya hanyalah murni berziarah kubur (Nabi) tanpa shalat di dalam masjid, nadzarnya tidak boleh ditunaikan. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Tidaklah hewan tunggangan dipersiapkan untuk perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid’ [Ash-Shariimul-Munkiy, hal. 33].

Adapun Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata:

وَلَوْ نَذَرَ فَقَالَ: عَلَيَّ الْمَشْيُ إلَى إفْرِيقِيَّةَ، أَوِ الْعِرَاقِ، أَوْ غَيْرِهِمَا مِنَ الْبُلْدَانِ، لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ شَيْءٌ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ لِلَّهِ طَاعَةٌ فِي الْمَشْيِ إلَى شَيْءٍ مِنَ الْبُلْدَانِ، وَإِنَّمَا يَكُونُ الْمَشْيُ إلَى الْمَوَاضِعِ الَّتِي يُرْتَجَى فِيهَا الْبِرُّ، وَذَلِكَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، وَأَحَبُّ إلَيَّ لَوْ نَذَرَ أَنْ يَمْشِيَ إلَى مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ أَنْ يَمْشِيَ، وَإِلَى مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ أَنْ يَمْشِيَ ؛ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إلَّا إلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ ؛ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَمَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ “

“Seandainya seseorang bernadzar, lalu ia berkata : ‘Wajib bagiku berjalan menuju Afrika atau ‘Iraaq, atau negeri-negeri yang lain’, maka tidak ada kewajiban apapun baginya (untuk ditunaikan), karena tidak ada ketaatan kepada Allah dalam perjalanan menuju negeri-negeri tersebut. Satu perjalanan itu hanyalah dilakukan menuju tempat-tempat yang diharapkan padanya kebaikan. Dan itu adalah Masjid Haraam. Dan aku suka seandainya ia bernadzar berjalan menuju Masjid Madiinah dan Masjid Baitul-Maqdis, lalu ia pun melakukannya dengan berjalan. Hal itu dikarenakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : ‘Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, masjidku ini (Masjid Nabawiy), dan Masjid Baitul-Maqdis’…….” [Al-Umm, 2/280].

Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah berkata:

وَمِنَ الْبِدَعِ : البناءُ على القبورِ، وَتَجْصِيصُهَا، وَشَدُّ الرِّحَالِ إِلَى زِيَارَتِهَا

“Dan termasuk diantara bid’ah adalah : membangun bangunan di atas kubur dan mengkapurnya, serta melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihaal) dalam rangka menziarahinya” [Asy-Syarh wal-Ibaanah, hal. 274].

Muhyiddiin Al-Barqawiy Al-Hanafiy rahimahullah berkata:

فإن جمهور العلماء قالوا: السفر إلى زيارة قبور الأنبياء والصالحين بدعة، لم يفعلها أحد من الصحابة والتابعين، ولا أمر بها رسول رب العالمين، ولا استحبها أحد من أئمة المسلمين. فمن اعتقد ذلك قربة وطاعة، فقد خالف الإجماع. ولو سافر إليها بذلك الاعتقاد، يحرم بإجماع المسلمين

“Sesungguhnya jumhur ulama berkata : ‘Safar dalam rangka berziarah ke kubur para Nabi dan orang-orang shaalih adalah bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan shahabat dan taabi’iin; tidak diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; serta tidak pula dianggap mustahab oleh seorang pun dari imam kaum muslimin. Barangsiapa meyakini hal itu adalah amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, sungguh ia telah menyelisihi ijmaa’. Seandainya ia melakukan safar ke tempat tersebut tanpa adanya satu keyakinan, maka tetap diharamkan berdasarkan iijmaa’ kaum muslimin” [Ziyaaratul-Qubuur, hal. 18].

Semoga artikel ini ada manfaatnya.

Wallaahu a’lam.

[abul-jauzaa’ – 09042014 : 15:50].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s