SARI KAJIAN JUM’AT BA’DA SUBUH 10 APRIL 2015 “SABAR ATAS ANAK ISTRI” BERSAMA USTADZ SUNARDI

DSC00244Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ 

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya dari istri-istri kalian dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian dari mereka.” (QS. Ath Thaghabun [64]: 14)

.

SEBAB TURUNNYA AYAT

Ibnu Abbas berkata, “ayat ini diturunkan di Madinah tentang Auf bin Malik Al-Asyja’i, yang mengeluhkan sikap keras keluarga (istri) dan anaknya kepada Rasulullah saw, lalu turunlah ayat ini.” demikian yang dituturkan An-Nuhhas.[1]

Hal itu pun diriwayatkan oleh Ath-Thabari dari Atha’ bin Yasar, dimana dia berkata, “Surah Ath-Taghaabun itu diturunkan seluruhnya di Makkah, kecuali beberapa ayat tersebut, (di antaranya adalah): “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu,” yaitu diturunkan tentang Auf bin Malik Al-Asyja’i. Dia adalah orang yang mempunyai keluarga (istri) dan anak. Apabila dia hendak pergi berperang, maka mereka pun menangis dan membuatnya lemah. Mereka berkata, ‘Kepada siapa engkau akan menitipkan kami?’ Maka Auf bin Malik Al-Asyja’i pun menjadi lemah dan tidak jadi berperang. Lalu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.”[2]

Imam Ibnu Katsi mengatakan, Allah mengabarkan tentang istri dan anak-anak, bahwasanya di antara mereka ada yang menjadi musuh suami atau bapak, artinya mereka menyibukkannya dari beramal shalih, sebagaimana firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Munafiqun: 9).

Oleh karena itu di sini Allah swt berfirman: “Maka berhati-hatilah kamu kepada mereka.” Ibnu Zaid berkata, “Artinya hati-hatilah terhadap mereka, jangan sampai mengorbankan agama kalian.”[3]

.

DSC00247HIKMAH DAN PELAJARAN

Jangan sampai istri dan anak menjerumuskan seseorang hingga berbuat maksiat kepada Allah. Misalkan, karena saking cintanya kepada istri dan anak hingga ia memutuskan hubungan silaturahim, tidak mau berjihad fisabilillah ketika jihad fardhu ‘ain, hanya karena mengikuti keinginan istri dan anak semata. Bahkan ia berlaku bakhil, dan mudah membenci orang lain tanpa sebab, akibat mengikuti ajakan atau hasutan istri dan anak.

Karena keinginan istri dan anak akan harta, ia rela melakukan korupsi. Karena hendak memenuhi keinginan anaknya untuk bersekolah di luar negeri, atau di tempat yang mahal, ia rela mengambil hak orang banyak. Maka sungguh merugi apa yang dilakukannya itu.

Adapun di zaman sekarang, ketika orang hendak menyampaikan niatnya berjihad, maka ada sebagian orang yang mempertanyakan tentang nasib anak dan istri. Pertanyaan mereka sama sebagaimana sebab-sebab turunnya ayat ini yang telah kami kemukakan di atas. Ini adalah pertanyaan dari orang yang belum memahami agama. Atau pertanyaan dari orang yang hatinya cenderung kepada dunia. Atau pertanyaan syaitan yang berbicara melalui lisan manusia.

Jika kita telah mengetahui  bahwa istri dan anak memiliki sifat-sifat yang menjauhkan kita dari Allah swt, maka berilah mereka pelajaran yang baik. Pelajaran tentang hakikat kehidupan sesungguhnya, bahwa kita diciptakan untuk menyembah Allah Ta’ala semata. Patuh dan ta’at kepada apa yang diturunkan oleh-Nya. Maka berilah mereka maaf atas apa yang mereka lakukan yang menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah swt, ajaklah mereka kepada jalan yang benar, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ada di antara istri dan anak, mungkin saja memusuhi bapak atau suami secara nyata-nyata, misalkan karena harta warisan atau ambisi menguasai harta ayah atau suaminya sehingga menghalalkan segala cara, maka tiada lain bagi orang seperti ini, kecuali dirinya telah dikuasai oleh syaitan yang terkutuk. Maka merugilah dia.

Demikianlah, dan segala puji hanya kepada Allah. Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang menginginkan ilmu orang-orang terdahulu hingga yang terakhir, maka hendaklah banyak membaca Al-Quran.”[4] (*)


[1] Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi (QS. At-Taghaabun, 64: 14). Jilid, 18, hal 597.

[2] Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi (QS. At-Taghaabun, 64: 14). Jilid, 18, hal 597.

[3] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. At-Taghaabun, 64: 14. Jilid 9, hal. 143.

[4] At-Tabshirah, Ibnu Jauzi, Jilid 1. Hal, 617.

.

– See more at: http://fajar.co.id/headline/2015/03/02/waspada-di-antara-istri-dan-anak-ada-yang-menjadi-musuh-bagimu.html#sthash.XpaRuBWE.dpuf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s