SARI KAJIAN SELASA BA’DA MAGRIB 7 APRIL 2015 “PEMBATAL WUDHU MAZHAB SYAFI’I DAN HAMBALI” BERSAMA USTADZ SUNARDI

DSC00238Allah berfirman dalam Al- Qur’an surah Al- Maidah ayat 6 :
.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (6)

.
“Hai orang – orang yang beriman, apabila kalian hendak mendirikan sholat maka basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kedua kakimu sampai dua mata kaki. Dan apabila kamu dalam keadaan junub (hadats besar) maka mandilah. Dan jika kamu dalam keadaan sakit, atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air besar, atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak menemukan air, maka bertayammumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyusahkanmu, tetapi Ia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatnya untukmu agar kamu bersyukur.” 
.
Dari ayat diatas Allah menjelaskan secara gamblang tentang tata cara berwudhu – jika berhadats kecil – sebagai syarat sahnya sholat. Dan apabila tidak menemukan air maka digantikan dengan tayammum.
.
DSC00237PEMBATAL WUDHU
Ada beberapa hal yang menjadi kesepakatan ulama fiqih dalam menentukan sebab – sebab batalnya wudhu. Namun ada juga beberapa sebab yang menjadi perbedaan dikalangan para ulama empat madzhab.
.
Madzhab Syafi’i
Asy-Syafi’i menyebutkan ada empat hal yang termasuk kedalam sebab-sebab batalnya wudhu:
.
1. Sesuatu yang keluar melewati satu dari dua jalan
Semua yang keluar dari salah satu jalan keluarnya najis maka termasuk membatalkan wudhu. Namun Imam Syafi’I mengecualikan air mani yang keluar dari tubuhnya sendiri (bukan mani yang menempel), tidak membatalkan wudhu. Karena jika mani keluar, maka wajib baginya mandi.
2. Hilangnya akal karena gila, pingsan atau tidur, kecuali tidur dalam posisi duduk.
3. Bertemunya khitanain (dua kemaluan) antara laki- laki dan wanita baik dengan sengaja atau tidak.
4. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan
.
Madzhab Hambali
Menurut madzhab Hambali ada delapan sebab batalnya wudhu[xi], diantaranya :
.
1. Semua yang keluar dari dua jalan
Menurut Imam Ahmad, semua yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur) adalah membatalkan wudhu. Kecuali orang yang selalu berhadats, maka wudhunya tidak batal, sebagai bentuk keringanan atas kesulitan yang dihadapi.
2. Sesuatu yang keluar selain dari dua jalan
Najis yang keluar dari badan seperti nanah atau darah tidak membatalkan wudhu, kecuali dalam jumlah yang banyak.
3. Hilangnya akal
Hilangnya akal yang disebabkan karena gila, pingsan, mabuk ringan ataupun berat, tidur ringan dalam posisi ruku’, sujud, atau berbaring.
4. Menyentuh kemaluan atau dubur

Menyentuh kemaluan atau dubur secara sengaja atau tidak, dengan telapak tangan bagian dalam atau luar, dan tanpa alas, maka wudhunya menjadi batal.
5. Menyentuh kemaluan
Menyentuh kemaluan laki- laki atau perempuan dengan syahwat, kecuali anak kecil di bawah usia tujuh tahun dan tanpa syahwat.
6. Memandikan mayat
Yang dimaksud disini adalah orang yang ikut memegang mayat secara langsung, bukan orang yang menyiramkan air ke badan mayat.
.
Sebab pembatalannya adalah karena orang yang memegang mayat kebanyakan akan menyentuh kemaluan si mayat. Sebagaimana yang pernah terjadi di zaman sahabat dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ibn Umar dan Abu Hurairoh :
.

عن ابن عمر وابن عباس «أنهما كانا يأمران غاسل الميت بالوضوء» وقال أبو هريرة: «أقل ما فيه الوضوء»

“Dari Ibn Umar dan Ibn ‘Abbas, bahwa mereka berdua memerintahkan kepada orang yang memandikan mayat untuk berwudhu. Dan Abu Hurairoh berkata : setidaknya dengan berwudhu”
.
7. Memakan daging unta
Seseorang yang selesai makan daging unta wajib baginya wudhu dalam keadaan apapun. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Al- Barro’ bin ‘Azib :
.

(وَعَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: «سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْوُضُوءِ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ، فَقَالَ: تَوَضَّئُوا مِنْهَا وَسُئِلَ عَنْ لُحُومِ الْغَنَمِ، فَقَالَ: لَا تَوَضَّئُوا مِنْهَا

.
“Dari Al- Barro’ bin ‘Azib berkata: Rasulullah Saw ditanya tentang wudhu (ketika makan) daging unta. Beliau bersabda : berwudhulah kalian (setelah selesai makan). Kemudian sahabat bertanya apakah wajib berwudhu (ketika makan) daging kambing? Beliau menjawab : tidak ada wudhu setelahnya.”
(HR. Ahmad dan Abu Daud)
.
8. Wajib wudhu dalam hal yang diwajibkan mandi
Seperti orang yang berhubungan badan, keluarnya mani, islamnya orang kafir atau orang murtad yang kembali pada islam.
.
Perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan ulama diatas merupakan ijtihad yang telah mereka lakukan masing- masing, berdasarkan atas hadits – hadits dan ayat al-qur’an. Adanya perbedaan dikarenakan tidak adanya dalil secara pasti yang menjelaskan tentang sebab- sebab batalnya wudhu.
.

TIDUR PEMBATAL WUDHU?

Dalil bahwa tidur adalah pembatal wudu, telah ada ketetapannya dalam hadits Sofwan bin Assal radhiallahu anhu dalam dalam kitab Sunan, dia berkata:

.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَنْ لا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلا مِنْ جَنَابَةٍ ، وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ  (رواه الترمذي، رقم 89، وحسنه الألباني)

.

“Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami agar tidak melepaskan khuf (kaos kaki kulit) kami selama tiga hari tiga malam jika kami dalam bepergian kecuali dari janabat. Akan tetapi (kami tidak perlu mencopot khuf) dari buang air besar, air kecil (kencing) dan tidur.” (HR. Tirmizi, no. 89, dinyatakan hasan oleh Al-Albany).

.

Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat, tentang apakah tidur membatalkan wudu atau tidak, menjadi beberapa pendapat, di antaranya;

.

Pendapat pertama, bahwa tidur membatalkan wudu secara mutlak, baik ringan maupun berat dan dalam kondisi apa saja. Ini adalah pendapat Ishaq, Al-Muzani, Hasan Al-Basri, Ibnu Munzir, berdasarkan hadits Sofwan bin Assal radhiallahu anhu yang lalu. Disana disebutkan bahwa tidur merupakan salah satu pembatal wudu tanpa ada dibatasi dengan kondisi tertentu.

.

Pendapat kedua, bahwa tidur bukan pembatal wudu secara mutlak. Berdasarkan hadits  Anas bin Malik,

.

“Sesungguhnya para shahabat radhiallahu anhu menunggu pelaksanaan shalat Isya pada masa Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam sampai kepalanya terkantuk-kantuk, kemudian mereka shalat tanpa berwudu.” (HR. Muslim, no. 376. Dalam riwayat Al-Bazzar (dikatakan bahwa) ‘mereka berbaring’)

.

Ini adalah pendapat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu dan Said bin Musayyab.

.

Kedua pendapat ini saling bertolak belakang, masing-masing mengambil dalil dari satu sisi. Maka mayoritas ulama menggabungkan di antara dalil-dalil ini. Mereka mengatakan, sesungguhnya tidur  membatalkan wudu dalam kondisi tertentu, dan tidak membatalkan dalam kondisi yang lain. Meskipun mereka berbeda pendapat tentang cara menggabungkan dalil.

.

Pendapat ketiga, kalau tidurnya dalam kondisi duduk menempel diatas lantai, maka tidak batal, dan kalau tidak duduk, maka hal itu membatalkan (wudu), bagaimanapun posisinya. Ini adalah mazhab Hanafi dan Syafi’i. (Al-Majmu, 2/14)

.

Pendapat keempat, tidur membatalkan wudu kecuali tidur ringan, baik duduk maupun berdiri. Ini merupakan mazhab Hambali. Silakan lihat kitab Al-Inshaf, 2/20-25. Dikecualikannya tidur ringan, baik duduk maupun berdiri, karena dalam kondisi demikian, tempat keluarnya hadats tertutup, sehingga perkiraan kuat dia tidak keluar hadats.

.

Pendapat kelima, tidur membatalkan wudu, apabila  tidurnya banyak, bukan tidur sedikit bagaimanapun posisinya. Ini adalah pendapat Malik dan riwayat dari Ahmad.

.

Perbedaan antara tidur banyak dan sedikit, bahwa tidur banyak itu adalah tidur pulas yang dimana seseorang tidak merasakan hadats apabila terjadi hadats. Sedangkan tidur sedikit adalah apabila  seseorang merasakan hadats kalau keluar hadats, seperti keluarnya angin.

.

Pendapat ini adalah pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Ini juga pilihan ulama kami sekarang ini, seperti Syekh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin dan para ulama di Al-Lajnah Ad-Daimah. Dan inilah pendapat yang benar, karena  dengan pendapat ini dapat mengkompromikan semua dalil. Karena hadits Sofwan bin Assal menunjukkan bahwa tidur dapat membatalkan wudu, sedangkan hadits Anas radhiallahu anhu menunjukkan bahwa ia tidak membatalkan (wudu). Sehingga hadits Anas dipahami dengan tidur ringan yang mana seseorang masih dapat merasa hadats atau terjadinya hadats, sedangkan hadits Sofwan dipahami sebagai tidur yang pulas, dimana seseorang tidak merasakan adanya hadats.

.

Hal ini dikuatkan oleh sabda Beliau sallallahu alaihi wa sallam:

.

العين وِكَاء السَّهِ ، فإذا نامت العينان استطلق الوكاء (رواه أحمد، 4/97،  وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 4148)

.

“Mata itu tali (penutup) dubur, kalau kedua mata tidur, maka tali itu terlepas.” (HR. Ahmad, 4/97, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 4148)

.

Wika (وكاء) adalah benang untuk mengikat qirbah (tempat minum dari kulit). As-sahi (السه) yaitu dubur. Maksudnya bahwa terjaga itu merupakan tali dubur yaitu penjaga sesuatu yang keluar darinya. Kalau dia masih terjaga akan merasakan apa yang keluar darinya. Kalau tidur maka akan terlepas talinya.

.

At-Thayyib berkata: “Kalau seseorang terjaga, dia dapat menahan apa yang ada di perutnya, namun kalau tertidur akan hilang pilihannya dan sendi-sendinya melemas.” (kitab Aunul Ma’bud) Kalau seseorang tidak dapat mengendalikan talinya yang sekiranya jika berhadats, dia tidak dapat merasakan pada dirinya, maka tidurnya itu membatalkan (wudu), dan kalau tidak, maka hal itu tidak (membatalkan).

Silakan lihat kitab Asy-Syarhul-Mumti, 1/275.

.

Ash-Shan’ani berkata dalam kitabnya Subulus Salam, 1/97, “Yang lebih dekat pada kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa tidur merupakan pembatal wudu berdasarkan hadits Sofwan. Akan tetapi perkataaan ‘tidur’, dalam hadits tersebut masih bersifat umum. Sedangkan hadits Anas menjelaskan tentang tidurnya para shahabat; Bahwa mereka tidak berwudu meskipun mendengkur, bahwa mereka berbaring, bahwa mereka sadar  dan bahwa mereka bergerak. Pada prinsipnya mereka (para shahabat) adalah orang-orang mulia  dan mereka tidak bodoh tentang perkara yang membatalkan wudu. Apalagi Anas menyebutkan para shahabat secara mutlak, sebagaiman telah diketahui bahwa di antara mereka ada para ulama yang mengetahui masalah-masalah agama, apalagi masalah shalat merupakan perkara paling agung di antara rukun Islam. Apalagi mereka yang sedang menunggu shalat bersama Nabi sallallahu’alaihi wa sallam adalah tokoh para shahabat.

.

Jika demikian halnya maka keumuman hadits Sofwan dikhususkan dengan tidur pulas yang tidak dapat merasakan apa-apa. Adapun perkara mendengkur, berbaring dan bergerak-gerak yang disebutkan dalam hadits Anas, dipahami bahwa hal itu selagi mereka belum pulas, sebab kadang ada orang yang mendengkur dipermulaan tidurnya sebelum pulas, begitu pula, berbaring tidak mesti pulas.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Majmu Fatawa, ketika beliau menyebutkan perkara yang membatalkan wudu, (di antaranya) tidur yang banyak, sekiranya seseorang yang tidur tidak merasakan seandainya keluar hadats. Adapun kalau tidurnya sebentar, dimana orang yang tidur masih dapat merasakan kalau keluar hadats, maka hal itu tidak membatalkan wudu. Tidak berbeda, apakah tidurnya dalam posisi berbaring, duduk bersandar atau duduk tanpa bersandar.

.

Yang penting adalah kondisi hadirnya hati, dimana kalau keluar hadats dirinya dapat merasakannya, maka jika demikian halnya, wudunya tidak batal.  Adapun kalau kondisinya ketika keluar hadats tidak dapat dia rasakan, maka dia harus berwudu.

.

Hal tersebut, karena tidur itu sendiri bukan sebagai pembatal (secara langsung) akan tetapi sebagai kondisi yang memungkinkan (terjadinya) hadats. Maka jika (kemungkinan) hadats itu tidak ada pada seseorang karena kalau terjadi dia  dapat merasakannya, maka berarti hal itu (tidur) tidak membatalkan wudu. Dalilnya adalah bahwa tidur itu sendiri bukan pembatal adalah bahwa tidur yang ringan tidak membatalkan wudu. Kalau sekiranya (tidur) membatalkan, maka wudu akan batal (dengan tidur), sedikit maupun banyak, sebagaimana batalnya wudu dengan keluarnya air seni, sedikit maupun banyak.

.

Hal serupa juga dinyatakan dalam kitab Fatawa Ibnu Baz, 10/144, dikatakan: “Tidur membatalkan wudu kalau pulas dan telah menghilangkan perasaan. Sebagaimana diriwayatkan oleh shahabat yang mulia Sofwan bin Assal Al-Muradi radhiallahu anhu “Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami agar tidak melepaskan khuf (kaos kaki kulit) kami selama tiga hari tiga malam jika kami dalam bepergian kecuali dari janabat. Akan tetapi (kami tidak perlu mencopot khuf) dari buang air besar, air kecil (kencing) dan tidur.” (HR. Nasai dan Tirmizi, redaksi berasal darinya. Dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah).

.

Dan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah radhiallahu’anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda:

“Mata itu tali (penutup) dubur, kalau kedua mata tidur, maka tali itu terlepas.”(HR. Ahmad dan Thabrani, dan dalam sanadnya ada kelemahan) Akan tetapi ada beberapa (hadits) yang menguatkannya seperti hadits Sofwan tadi sehingga hadits ini menjadi hasan. Sementara mengantuk tidak membatalkan wudu karena hal itu tidak menghilangkan perasaan. Dengan demikian hadits-hadtis yang ada dalam bab ini dapat dikompromikan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s