SARI KAJIAN AHAD BA’DA SUBUH 5 APRIL 2015 “SABAR KUNCI HIJRAH MENTAL DAN FISIK” BERSAMA USTADZ SUNARDI

DSC00232Allah SWT berfirman:

 وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا۟ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ ٱلْءَاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

.

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,  (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.(QS: An-Nahl Ayat: 41-42)

.

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”

.

Kandungan yang terdapat dalam surah fatir ayat 32
1. Orang yang menganiyaya diri mereka sendiri, yaitu orang yang kesalahannya lebih banyak daripada kebaikannya.
2. Orang pertengahan, yaitu orang yang kebaikannya sebanding dengan kesalahannya.
3. Orang yang selalu cepat berbuat kebaikan, orang yang kebaikannya banyak, dan sedikit kesalahannya.
.
Perilaku yang mencerminkan surah fatir ayat 32
1. Senantiasa berusaha dengan cara mengamalkan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an.
2. Berakhlak mulia dengan ilmu dan akal yang sesuai dengan ketentuan syariat.
3. Banyak beramal saleh dan menghindari hal-hal yang tidak berguna terlebih maksiat.

.

  Maksud dari pernyataan diatas adalah agar manusia terus menerus beramal baik sehingga amal baiknya lebih besar dari amal buruknya.

.

DSC00233CATATAN TAMBAHAN TENTANG HIJRAH DAN SABAR
Setelah Rasulullah disiksa dan didera penderitaan yang dilakukan kaum Quraisy, Rasulullah hijrah ke Tha’if untuk mencari dukungan dakwah. Rasulullah menuju tempat para pemuka Bani Tsaqif, namun pembicaraan Rasulullah tentang islam dan dakwah ditolak mentah-mentah dan dijawab kasar. Kemudian Rasulullah meminta para pemuka Bani Tsaqif ini untuk merahasiakan kepada orang Quraisy tentang kedatangannya namun pemuka Bani Tsaqif menolak.

.

Mereka kemudian mengerahkan kaum jahat di daerah itu untuk melempari Rasulullah dengan batu yang menyebabkan kaki Rasulullah cedera. Sampai-sampai Zaid bin Haritsah yang melindungi Rasulullah pun ikut terluka. Hingga sampailah Rasulullah di kebun milik ‘Uqbah bin Rabi’ah setelah para penjahat tidak lagi mengejar. Rasulullah merasa aman ketika duduk dibawah pohon, tanpa disadari ada dua orang yang sedang mengamati.

.
Karena Rasulullah merasa aman, beliau pun berdoa:

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan ketidakberdayaan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah, dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Jika Engkau tidak murka padaku, maka semua itu tak ku hiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenan-Mu.

.

Kedua orang pemilik kebun yang mengamati Rasulullah, sontak tergetar hatinya dan merasa iba. Akhirnya mereka memanggil pelayannya yang bernama Addas. Addas adalah seorang Nasrani. Addas diperintahkan untuk memberikan buah anggur kepada orang — Rasulullah, yang sedang duduk dibawah pohon.

.

Kemudian diambilnya buah anggur dan diberikannya kepada Rasulullah.  Addas mempersilakan Rasulullah untuk makan, dan Rasulullah mengucap basmallah sebelum memakan buah anggur yang disuguhkannya itu. “Bismillah…” kemudian dimakan. Mendengar kalimat basmallah itu, Addas merasa heran dan mengucap, “Demi Allah, kata-kata itu tidak pernah saya dengar sebelumnya.“ Kemudian Rasulullah bertanya, “kamu dari daerah mana dan agamamu apa?” Addas menjawab, “Saya seorang Nasrani dari daerah Ninawa.”  Lalu Rasulullah bertanya lagi, “apakah kamu dari negeri seorang saleh bernama Yunus anak Mathius?” Rasul kemudian menerangkan, “Yunus bin Mathius adalah saudaraku. Ia seorang Nabi dan akupun seorang Nabi.” Mendengar cerita Rasulullah, Addas seketika berlutut dihadapan Rasulullah dan mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki beliau.

.

Setelah itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pergi meninggalkan Tha’if dan kembali ke Makkah. Zaid berkata, “Bagaimana engkau hendak pulang ke Makkah, sedangkan peduduknya telah mengusir engkau dari sana?” beliau menjawab, “Hai Zaid, sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya dan membela Nabi-Nya.”

.

Dari kisah hijrah Rasulullah ini, kita bisa mengambil ‘ibrah, diantaranya:

.

Pertama, dibutuhkan kesabaran dalam ujian dan perjuangan. Rasulullah ketika hijrah ke tha’if hanyalah sebagian dari perjuangan tablighnya kepada manusia. Pun kita diajarkan bahwa Rasulullah diutus tidak hanya untuk menyampaikan agama yang benar, ibadah, dan muamalah. Tetapi juga sebagai contoh akhlak yang luar biasa dan aplikatif.

.
Rasulullah telah mencontohkan kesabaran yang sesungguhnya. Sebab, bersabar merupakan salah satu prinsip islam terpenting yang harus disampaikan dan dimiliki semua manusia. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga, dan bertawakkallah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali-Imran: 200)

.

Tak jarang kita mendengar kisah Rasulullah yang dihina dicaci bahkan hingga tersakiti ketika masa perjuangan beliau menyebarkan agama Rahmatan lil’alamin ini. Perjuangan beliau tak sia-sia bahkan hingga islam tersebar ke seluruh jagad dunia ini. Semua berkat kesabaran Rasulullah dalam menyampaikan. Kesabarannya bak samudera yang begitu luas. Tiada batas. Karena begitu mulia akhlak yang tercermin padanya, ujian-ujian yang Allah berikan kepada beliau tak pernah sedikitpun menyurutkan langkah mulianya untuk menyerukan kebaikan. Tak pernah satu kata yang keluar dari mulutnya, selain pujian dan memohon kekuatan dari Yang Maha Perkasa.

.

Rasulullah mengajarkan bahwa kesabaran adalah salah satu hal terpenting dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Kesabaran seakan menjadi gerbang antara ujian dengan kemudahan. Ujian yang Allah berikan adalah untuk menguji kesabaran dan ketakwaan kita pada-Nya, dan apabila kita lulus pada ujian tersebut Allah akan memberikan kemudahan dan kemenangan yang nyata. Tanpa adanya kesabaran, ujian seolah tiada arti.

.

Kedua, yakinlah Allah akan memberikan hasil yang manis sebagai buah dari kesabaran kita. Seperti halnya ketika Rasulullah begitu sabar mendapatkan hinaan dan perlakuan tak menyenangkan. Beliau begitu bersabar dan tak sedetik pun terbersit dalam benaknya untuk berprasangka buruk terhadap Allah. Bahkan, beliau senantiasa berdoa dan memuji kebesaran Allah ketika beliau merasa sedang berada di posisi heroik. Keyakinan Rasulullah akan pertolongan Allah pun beliau lontarkan tatkala Zaid berusaha meyakinkan beliau saat ingin kembali ke Makkah. Dengan tiada keraguan terhadap Allah, Rasulullah dengan hati yang mantap menyatakan bahwa Allah lah yang akan menolongnya.

.

Hendaknya kita belajar makna sabar yang sebenar-benarnya melalui kisah hidup perjuangan Rasulullah tersebut. Bahwa kesabaran yang sesungguhnya ialah kesabaran dengan penuh pengharapan pertolongan dari Allah dan tetap bersiap-siaga. Hidup yang begitu singkat ini tiada berarti apabila tidak dibarengi dengan kesabaran dalam ujian. Yakinlah, bahwa setiap kesabaran yang baik akan membuahkan hasil yang manis. Pun jika tidak berbuah di dunia, Allah akan membalas kebaikan itu kelak di hari akhir. Perlu disadari, betapapun tingginya jiwa manusia, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia mempunyai fitrah nya. Senang, susah, sedih, kecewa, setiap manusia pasti pernah merasakannya.  Sebagai manusia biasa, hendaklah kita mencontoh kesabaran sebagaimana yang Rasulullah contohkan. Kesabaran yang dicontohkan Rasulullah adalah demi mengharap ridha Allah, yang pada akhirnya akan berbuah syurga yang manis.

.

Sumber referensi: Sirah Nabawiyah karya Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s