SARI KHUTBAH JUM’AT 3 APRIL 2015 “WAJIB SABAR ATAS HUKUM ALLAH” OLEH USTAD SUNARDI

Hukum atau ketetapan Allah ada dua macam, yakni hukum qauni dan hukum syariat. Atas kedua hukum ini maka muslim harus bersabar karena dia adalah ujian yang pasti.

.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُوا۟ وَلَمَّا يَعْلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَا رَسُولِهِۦ وَلَا ٱلْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan saja sedangkan Allah belum mengetahui (fakta) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS: At-Taubah Ayat: 16)

.

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

.

“Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar? Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)
.
Sabar sebagaimana kata Ibnu Qayyim rahimahullah – adalah menahan diri jangan sampai panik dan sedih yang berlebihan, menahan lisan jangan sampai berkeluh-kesah, dan menahan anggota badan jangan sampai melakukan tindakan jahil seperti menampar pipi dan menyobek-nyobek baju.
.
Sabar adalah anugerah terbesar dan terbaik yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Rasulullah saw bersabda,

.

وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ )رواه البخاري ومسلم

.

“Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran”. (HR. Bukhari dan Muslim)

.

Berkat kesabaran seorang hamba akan meraih berbagai kebaikan dan kesuksesan di dunia. Karenanya Allah memerintahkan kita agar menjadikannya sebagai sarana untuk mewujudkan berbagai kebaikan seraya berfirman,

.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ(153)

.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.(Al-Baqarah:153)

.

Berkat kesabaran, seorang hamba akan mendapatkan pahala yang sempurna tanpa batas. Allah Ta’ala berfirman,

.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ(10)

.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.(Az-Zumar:10)

.
Kita harus mampu mewujudkan tiga bentuk kesabaran. Sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menjauhkan diri dari kemaksiatan. Ali bin Thalib ra. berkata,

.

الصَّبْرُ ثَلاَثَةٌ فَصَبْرٌ عَلَى المُصِيْبَةِ وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ وَصَبْرٌ عَنِ المَعْصِيَةِ

.

“Sabar ada tiga: sabar atas musibah, sabar atas ketaatan, dan sabar dari kemaksiatan”.(Uddatu shabirin/1/57)
.
Kesabaran akan menjadikan kita mampu menghadapi berbagai musibah dan ridha kepada apa yang sudah ditetapkan Allah atas diri kita. Pada saat itulah derajat kita di sisi Allah akan mengalami kenaikan yang luar biasa. Ali Ra. berkata,

.

فَمَنْ صَبَرَ عَلَى المُصِيْبَةِ حَتَّى يَرُدَّهَا بِحُسْنِ عَزَائِهَا كَتَبَ اللهُ لَهُ ثَلاَثَمِائَةِ دَرَجَةٍ

.

“Barangsiapa bersabar atas musibah hingga Allah mengembalikannya dengan kebahagiaan, Allah akan menuliskan untuknya tiga ratus derajat”.
.
Kesabaran juga akan menjadikan kita mampu melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sebaik-baiknya. Pada saat itulah derajat kita di sisi Allah akan mengalami peningkatan. Ali Ra. berkata,

.

“وَمَنْ صَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ حَتَّى يُؤَدِّيَهَا كَمَا أَمَرَ اللهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ سِتَّمِائَةِ دَرَجَةٍ

.

“Barangsiapa bersabar atas ketaatan sehingga ia menunaikannya sebagaimana diperintahkan Allah, Allah akan menuliskan untuknya enam ratus derajat”.
.
Kesabaran akan menjadikan kita mampu menghindarkan diri dari kemaksiatan dan semua yang diharamkan Allah meski nafsu syahwat kita sangat menginginkannya. Kesabaran ini juga akan meninggikan derajat kita di sisi Allah. Ali ra. berkata,

.

وَمَنْ صَبَرَ عَنِ المَعْصِيَةِ خَوْفًا مِنَ اللهِ وَرَجَاءَ مَا عِنْدَهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ

.

“Barangsiapa bersabar dari kemaksiatan karena takut kepada Allah dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, Allah akan menuliskan untuknya sembilan ratus derajat”.
.
Di samping merealisasikan kesabaran, kita juga harus mampu menghiasi diri kita dengan sikap syukur kepada Allah Ta’ala. Syukur pada hakekatnya adalah terlihatnya bekas dari nikmat Allah Ta’ala pada lisan seorang hamba yang berwujud pujian dan pengakuan, pada hatinya yang berwujud kesaksian dan kecintaan dan pada anggota badannya yang berwujud ketundukan dan ketaatan”.(madarijus salikin/2/246)
.
Jadi lisan kita hendaknya senantiasa mengucapkan puji-pujian kepada Allah dan menyampaikan testimoni bahwa semua kenikmatan pada diri kita adalah berasal dari Allah. Di samping itu hati kita hendaknya senantiasa meyakininya dan menjadi saksi atas kemurahan Allah serta semakin mencintai Allah sebagai sang pemberi nikmat. Rasa syukur kita hendaknya senantiasa kita buktikan dalam tindakan nyata, di mana kita semakin tunduk dan patuh dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
.
Teladan kita dalam hal ini adalah Rasulullah saw. Lisan beliau senantiasa basah dengan zikir dan puji-pujian kepada Allah. Hati beliau penuh dengan keimanan dan kecintaan yang besar kepada Allah, serta fisik beliau tidak pernah berhenti beribadah kepada Allah meski dalam keadaan lelah dan sakit. Aisyah ra. menuturkan,”Rasulullah saw selalu melakukan qiyamullail sehingga bengkak kedua kaki beliau, lalu aku berkata, ”Apakah engkau melakukan semua ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik di masa lalu maupun di masa datang?”  Beliau hanya menjawab,

.

أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا رواه البخاري ومسلم

.

“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur”. (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Menjadi hamba yang pandai bersyukur adalah pencapaian yang sangat sulit. Karenanya, Allah Ta’ala berfirman,

.

اعْمَلُوا ءَالَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ(13)

.

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang pandai bersyukur”. (Saba’:13)
.
Sebab syukur itu sendiri adalah nikmat dari Allah yang mengharuskan syukur kedua, dan syukur kedua adalah nikmat Allah yang membutuhkan syukur ketiga, dan begitulah seterusnya. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menyadari kekurangan dan kelemahan kita dalam bersyukur kepada Allah. Pada saat itulah Allah akan memaafkan kita dan memasukkan kita dalam golongan hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur. Diriwayatkan bahwa Musa as. berkata, ”Ya Allah bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu sedang nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku begitu melimpah?” Allah berfirman, ”Wahai Musa, sekarang kamu telah bersyukur kepada-Ku”.
.
Hendaknya kita juga senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar memberikan kepada kita kemampuan untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah saw

.

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ (رواه أبو داود وقال الشيخ الألباني : صحيح)

.

“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa berzikir menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu”. (HR. Abu Dawud)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s