KEAJAIBAN TAHUN BARU ISLAM

tahun bbaru islamPEMBUKAAN

Majelis Ulama Indonesia (MUI), merayakan tahun baru 1436 Hijriah  secara “akbar”, Minggu 26 Oktober 2014 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Menurut Ketua Panitia Dr Isran Noor, perayaan ini menjadi tonggak persatuan umat dan menunjukkan jati diri. “Kegiatan itu akan menjadi syi’ar agama Islam,” jelasnya. Dikatakannya, peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 Hijriah kali ini sanggup membawa kesadaran masyarakat terhadap makna sesungguhnya, yang tak lepas dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah.

.

TAHUKAN ANDA?

1. Tapi tahukan anda bahwa perayaan 1 Muharram sama sekali tidak ada hubungannya dengan hijrah Nabi Muhammad SAW? Yang ada, ummat Islam membuat-buat hari perayaan baru lalu dihubung-hubungkahlah dengan hijrah rasulullah SAW. Bagai mana mungkin Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghubungkan Idul Muharram dengan hijrah Nabi padahal Nabi SAW berangkat hijrah tanggal 1 atau 2 Rabiul Awwal dan sampai di Madinah tanggal 12 Rabiul Awwal? Kalau pun kita harus merayakan hari raya hijrah Rasul maka bukan tanggal 1 Muharram tetapi tanggal 1 Rabiul Awwal atau 12 Rabiul Awwal? Imam as Suyuthi menyatakan, “al ‘Askari berkata: “(Umar) adalah orang pertama yang dijuluki Amirul Mu’minin, dan yang pertama yang menulis penanggalan dihitung sejak hijrah”.”[1] Keputusan Umar menetapkan tahun hijrah Nabi sebagai tahun 1 kalender Islam adalah atas usul sahabat Sayidina Ali bin Abi Thalib. Ibnu Hisyam mengutip keterangan dari Ibnu Ishaq al Muthalibi, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah pada hari senin, ketika panas menyengat, dan matahari hampir berada di pertengahan, pada saat Bulan Rabi’ul awwal sudah berlangsung selama 12 malam”. Ibnu Ishaq berkata, “pada hari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berumur 53 tahun, setelah 13 tahun Allah ‘Azza wa Jalla mengutus beliau (sebagai rasul)”.”[2]

.

din2. Tahukah anda bahwa penetapan 1 Muharram sebagai hari perayaan ummat Islam sama sekali bukan ajaran Islam? Penetapan ini merupakan usaha kreatif, kecemburuan terhadap ummat lain dan perayaan ini baru ada setelah Islam beredar luas di luar negeri Arabia. Ini bukan hari raya Islam sama sekali!  Ketua PP Muhammadiyah sekarang yang juga Ketua MUI beralasan:

“MUI selama ini dapat pengaduan dari masyarakat, kok tahun baru Hijriah kurang semarak. Lebih semarak dari tahun baru lainnya, baik 1 Januari atau Imlek” kata Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin di Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat.

MUI saat ini telah menyiapkan panitia untuk acara yang tidak sampai satu pekan lagi. Seluruh umat muslim di sekitar Ibukota yang akan ikut dalam perayaan, juga dipersilahkan datang. Diharapkan datang dengan menggunakan pakaian serba putih. “Semuanya putih baik laki atau pun perempuan dan boleh membawa bendera kelompoknya.” pungkas Din.

Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwiyah menyebutkan bahwa tidak diragukan lagi bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah mensyariatkan dua hari raya bagi kaum muslimin, yang pada keduanya hari tersebut mereka berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha sebagai pengganti hari raya – hari raya jahiliyah. Disamping itu Allah pun mensyari’atkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah seperti hari Jum’at, hari Arafah dan hari-hari Tasyriq. Namun Allah Subhanahu Wata’ala tidak mensyariatkan perayaan hari kelahiran, tidak hari kelahiran Nabi dan tidak pula untuk perayaan lainnya.

Mengingat syari’at Islam telah menetapkan hari-hari besar tahunannya seperti 2 hari raya, dan hari raya mingguannya di hari jum’at maka tidak sepatutnya kita menetapkan sendiri bahwa tahun baru 1 Muharram sebagai dimulainya kalender hijriyah sebagai hari besar, yang kemudian di dalamnya dilakukan berbagai kegiatan ibadah serta kegiatan penyambutan yang meriah, sebagaimana kaum agama lain menyambut tahun baru mereka. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id bin Al-Khudri :
دَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
و حَدَّثَنَا عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا أَبُو غَسَّانَ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ وَذَكَرَ الْحَدِيثَ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari ‘Atha bin Yasar dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.”

.

3. Tahukah anda bahwa merayakan 1 Muharram dengan arak-arakan pawai tanglong, lomba bedug, konser musik dan lomba-lomba adalah jauh dari syiar Islam, justru bagian dari kebodohan terhadap Islam. Kalau Nabi berhijrah ke Madinah memimpin rombongan untuk mentaati perintah Allah maka rombongan pawai 1 Muharram yang berarak-arakan keliling kota setiap tahun itu dalam rangka mentaati siapa? Hebatnya, yang diarak setiap tahun itu semuanya dusta…: onta dusta, Nabi dusta bercelana jean, berkacamata hitam dan memakai topi cowboy, walau pun memakai juga selendang Arab. Perjalanan hijrah rombongan Nabi gaul itu pun diiringi pula dengan musik-musik qasidah elektrik, meninggalkan sholat wajib dan mengharapkan kejuaraan dari PHBI? Sungguh ini fakta yang sangat luar biasa diluar kebiasaan. Baca lagi hadits di atas.

.

10410125_10201598857731733_6304642584031605923_n4. Tahukah anda bahwa 1 Muharram sedang ditagih secara politik sebagai hari Santri Nasional? Kalau ini terwujud maka penetapan hari raya dilakukan berdasarkan pertimbangan politik. Maka adakah hari besar dalam Islam yang dilaksanakan berdasarkan pemenuhan kontrak politik? Dari https://www.facebook.com/DPP.PDI.Perjuangan/posts/10152230895023479 disebutkan, “Bukan tanpa alasan bila Joko Widodo (Jokowi) berjanji untuk menjadikan tanggal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Keinginan itu berdasarkan permintaan dari pengelola Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam, Banjarejo, Malang, Jawa Timur, dengan pertimbangan mendalam”.

.

Saat mengunjungi ponpes pimpinan KH Thoriq Darwis, Jumat 27 Juni 2014, calon presiden nomor urut 2 ini diminta untuk menetapkan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Jokowi pun berjanji untuk memperjuangkannya. “Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirahim, dengan ini saya mendukung 1 Muharram ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional,” janji Jokowi saat itu.  Kunjungan Jokowi itu diakhiri dengan penandatanganan surat perjanjian penyanggupan penetapan Hari Santri Nasional pada 1 Muharram yang disaksikan oleh tim kampanye Jokowi dan segenap jajaran kyai dan ulama Ponpes Babussalam.

5. Tahukah anda bahwa 10 Muharram (hari Asyura) di Indonesia telah ditetapkan sebagai Hari Raya Anak Yatim? Berdasarkan https://www.facebook.com/fimadani/posts/426788604043295: Lebaran Anak Yatim Tanggal 10 Muharram, alasanya karena ada anjuran untuk “mengusap kepada anak yatim” pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura. Mengusap kepada anak yatim adalah bahasa ungkapan untuk memberikan santunan dan bantuan kepada mereka. Anjuran ini memang sangat masyhur dikenal di sebagian masyarakat dan merupakan salah satu diantara amaliyah lainnya, sebagaimana dituliskan dalam kitab I’anatut- Thalibin tentang anjuran amaliyah pada 10 Muharram.

Namun bila dillihat dari dasar pensyariatannya, para ulama hadits umumnya berpendapat bahwa hanya puasa saja yang punya landasan yang kuat dengan hadits-hadits shahih. Yang juga punya dalil adalah meluaskan belanja. Sedangkan selebihnya hanya didukung oleh hadits-hadits dhaif bahkan sebagiannya maudhu’ dan mungkar. Sehingga tidak bisa diterima pensyariatannya oleh sebagian ulama. Demikian dijelaskan Ustadz Ahmad Sarwat Lc, MA.

.

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya: “Hari apa ini?” mereka menjawab: Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)

.

Dari dalil ini maka sangat aneh bila 10 Muharram ditetapkan sebagai hari raya yang dirayakan dengan makan bubur asyura padahal Nabi dan perintah Nabi SAW ummat Islam harus berpuasa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s