LIDAH SUMBER BENCANA

 
DEMO DAN PENGHARAMAN ISIS
Akhir-akhir ini kebanyakan rakyat Indonesia direpotkan oleh hujat-menghujat dan gugat-menggugat. Hasil pemilihan Presiden digugat sambil dihujat. Para pendemo ribut menggugat sambil menghujat. Mahkamah Konstitusi ramai didemo dengan riuh rendah teriakan gugatan dan hujatan.
.
Lalu datang pula kasus ISIS. Pemerintah Indonesia, ormas, MUI dan banyak kalangan resah karena ISIS. Akhirnya ISIS dinyatakan HARAM. 
.
Baik gugatan, hujatan dan fatwa yang keluar adalah perkataan-perkataan. Apatah lagi semua itu telah disampaikan melaui jumpa pers di depan media elektronik. Mulut-mulut manusia pemerintah, polisi, tentara, ulama dan pimpinan ormas yang mengucapkannya. 
.
BAHAYA LIDAH
Sangat dikhawatirkan mereka yang berdemo itu, yang menggugat dan menghujat itu, apalagi yang mengeluarkan fatwa dengan lisannya itu, terkena adzab Allah karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada hamba yang berbicara dengan satu kalimat dari keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; namun dengan sebab kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada hamba yang berbicara dengan satu kalimat dari kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; namun karena satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhâri, no. 6478].
.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan makna “dia tidak menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu. [Lihat Fat-hul-Bâri, penjelasan hadits no. 6478]

.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; namun dengan sebab kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka”. HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970. Ahmad, 2/355, 533. Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh al-Albâni menyatakan: “Hasan shahîh”.
.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ
أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud  kalimat itu, namun dengan sebab kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka yang kedalamnya lebih jauh dari antara jarak timur dan barat”. [HR Muslim, no. 2988].

.
Syaqiq berkata: Abdullah bin Mas’ud bertalbiyah di atas bukit Shafa, kemudian berseru: “Wahai lidah, katakanlah kebaikan, niscaya engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah, niscaya engkau selamat, sebelum engkau menyesal”.
Orang-orang bertanya: “Wahai Abu ‘Abdurrahman, apakah ini suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar?”
Dia menjawab, “Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ

“Kebanyakan kesalahan anak Adam ialah pada lidahnya”. HR Thabrani, Ibnu ‘Asakir dan lainnya. Lihat Silsilah ash-Shahîhah, no. 534. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s