MEMPERTANYAKAN KHUTBAH JUM’AT DI MASJID AS-SUNNAH BUNTOK 27 SEPTEMBER 2013

PRAKATA

 

Khutbah Jum’at di Masjid As-Sunnah Buntok tanggal 27 September 2013 oleh  TAUFIK RAMHAN memang sesuatu yang cukup istimewa karena didalamnya ada penyataan: “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah maka siapa yang menciumnya sama dengan mencium tangan Allah.”

.

Setelah dicari di dunia maya ternyata masalah ini merupakan TOPIK hangat yang menjadi olok-olokan dibanyak web dan blog “murtadin”. Malah statemen semacam ini dianggap sebagai pernyataan Nabi Muhammad yang membuat Islam berak di celana…?

.

 

.

DERAJAT HADITS

Derajat hadits ini memang hangat untuk diperdebatkan, apalagi sampai kepada pernyataan “HAJAR ASWAD SAMA DENGAN TANGAN KANAN ALLAH” yang apabila “MENCIUMNYA SAMA DENGAN MENCIUM TANGAN KANAN ALLAH”.

.

Agar kita berhati-hati dalam melontarkan khutbah, mengurangi SUB-HAT…, maka simaklah kutipan berikut ini:

 

1109- ( الحجر الأسود يمين الله في أرضه )

Artinya :

“Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah swt di bumi-Nya”.

.           

Diriwayatkan oleh At-Tabrani dalam kitab Mu’jam-nya dan Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma secara marfu’. Ibnu Abil Fawaris menyebutkan dalam kesembilan kesimpulannya dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma juga, bahwasanya ia mengatakan : Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah Azza Wa-Jalla di bumi. Barang siapa yang tidak sempat membai’at Rasulullah saw lalu ia menyapu Hajar Aswad maka ia telah membai’at Allah dan Rasul-Nya. Demikianlah Al-Azraqi mengeluarkannya dalam kitab Tarikh-nya. Ia juga mengeluarkannya dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia mengatakan : Rukun adalah tangan kanan Allah swt di bumi, Ia (Allah) menjabat Hamba-Nya sebagaimana seseorang diantara kalian menjabat tangan sesamanya.

.           

Pada lafaz lain dikatakan bahwa : Al-Rukun Al-Aswad ini adalah tangan kanan Allah Azza Wa-Jalla di bumi. Ia menjabat tangan hamba-Nya sebagaimana seseorang menjabat tangan sesamanya. Al-Qadha’i juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma secara mauquf pada Ibnu Abbas, tetapi shahih dengan lafaz : Al-Ruknu adalah tangan kanan Allah Azza Wa-Jalla yang dengannya Ia menjabat ciptaan-Nya. Demi jiwa Ibnu Abbas yang berada di tangan-Nya, tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a kepada Allah swt di sisinya kecuali Allah swt mengabulkannya.

.           

Demikianlah riwayat yang tidak ada peluang bagi akal untuk mengotak-atiknya. Ia memiliki beberapa syawahid dan hadits ini hasan, walaupun ia dhaif berdasarkan pada sumbernya (aslihi), sebagaimana ungkapan beberapa ulama diantara mereka. Diataranya hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami dari Anas dengan lafaz : Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah swt. Barang siapa yang menyapunya maka dengan tangan kanannya maka ia telah berbai’at kepada Allah swt. Diantaranya pula, hadits yang diriwayatkan oleh Al-Harits bin Abi Usamah dalam musnanya dari Jabir dengan lafaz : Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah swt di bumi yang mana Allah menjabat tangan hamba-Nya dengannya.

.           

Maknanya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Muhib At-Tabari, bahwa setiap raja jika didatangi maka kedua tangannya akan dicium. Nah, ketika para orang-orang yang menunaikan haji dan umrah disunnahkan untuk menciumnya maka hajar aswad layaknya tangan kanan raja berdasarkan perumpamaan. Dan Allah adalah pemilik perumpamaan yang maha tinggi. Karenaitulah, barang siapa yang menjabatnya maka ia mempunyai janji di sisi Allah swt sebagaimana seorang raja memberikan janji dengan cara menjabat tangan.

.           

Lathifah (pelajaran penting) : Al-Manawi menukil dari As-Suyuthi bahwasanya ia mengatakan pada As-Saji’ah : Terdapat dalam atsar : Tidaklah sama sekali Allah swt mengirim raja atau awan kecuali ia thawaf di ka’bah kemudian ia pergi. Selesai.

 

.

PENUTUP

Lalu bagai mana ketika keyakinan ini sudah melekat sampai beranggapan mencium hajar aswad sama dengan mencium tangan Allah, adalah sebuah kewajiban…., maka orang-orang pun rela berdesak-desakan bahkan memakai jasa bodyguard untuk menyisihkan orang lain dengan imbalan uang …., demi menciumnya..? 

.

Oleh karena itu pemaknaan hadits ini perlu dipertegas sehingga pernyataan hadits ini hasan walaupun ia dhaif  adalah bukan sesuatu yang menyesatkan. Artinya “Bisakah Sub-hat kita hilangkan…?”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s