THOGUT

 

 

Khutbah Jum’at tanggal 17 September 2010 di Masjid As-Sunnah Buntok

oleh : Sahgian

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

(Ali Imran 102)

: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (an Nisa’ 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (al Ahzab 70-71)

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Segala Puja dan puji hanya milik Alloh Ta’ala. kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampun kepada-Nya, kta berlindung kepada-Nya dari keburukan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh Azza wa Jalla, maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya. Kita bersaksi tidak ada yang berhaq disembah melainkan Alloh satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Rasululloh Muhammad Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya.

 

Amma Ba’du.
 
“Sebaik-baik petunjuk ialah Kitabullah (Al-Qur’an), serta sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasulullah yakni Sunnahnya, dan seburuk-buruk perbuatan dan perkataan ialah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan ialah Bid’ah dan setiap KeBid’ahan itu sesat serta setiap kesesatan itu ialah tempatnya di dalam Naar (Neraka) “.

Sesungguhnya perkara paling pertama yang Alloh Azza Wa Jalla fardlukan kepada setiap hambaNya adalah melakukan pengingkaran terhadap Thoghut dan beriman hanya kepada Alloh Ta’ala, sebagaimana firmanNya: ”Barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”.QS. Al-Baqarah: 256). Dan firmanNya: ”Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan); sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah Thoghut itu”. (QS. An-Nahl: 36).

 

Jamaah Jum’at yang berbahagia.
 
Sesungguhnya siapakah Thoghut itu dan apa peranannya di tengah-tengah manusia pada setiap zaman, sehingga Alloh Ta’ala setiap kali mengutus seorang Rasul selalu membebani tugas untuk menjaga umatnya dari kejahatan Thoghut.

Syaikhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berpendapat bahwa Ath-Thoghut memiliki timbangan kata dari Ath-Thughyaan yang berarti melampaui batas yakni zhalim dan membelot. Dan beliau menjelaskan bahwa segala yang disembah selain Alloh –kalau dia tidak merasa benci dengan penyembahan itu – maka dia adalah Thoghut. Orang yang diikuti dalam bermaksiat, orang yang diikuti dengan tidak mencontoh petunjuk nabi dan agama yang benar, baik dalam bentuk menerima beritanya yang jelas bertentangan dengan Kitabulloh atau ditaati perintahnya yang bertolak belakang dengan perintah Alloh, maka ia adalah Thoghut. Oleh sebab itu, orang yang dijadikan rujukan hukum tanpa Kitabulloh adalah Thoghut. (Lihat Kitab Al-Fatawa 28/200).

Al-Allamah Al-Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Rahimahulloh mengelompokkan tokoh-tokoh Thoghut sebagai berikut:

1. Syaithan
Khalifah Umar bin Khathtab Radhiyallohu’ Anhu mengatakan bahwa thogut adalah syaithan. Maknanya mencakup segala kejahatan yang dilakukan oleh orang jahiliyyah, diantaranya berupa penyembahan kepada berhala, memohon bantuan dan berhukum kepadanya. Syaithan mengajak manusia agar beribadah kepada selain Alloh. Syaithan ada dua macam yaitu Syaithan dari golongan jin dan syaithan dari golongan manusia, sebagaimana firman Alloh: ”Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithan-syithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagin yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”. (QS. Al-An’am: 112).

Orang yang mengajak mempertahankan tradisi pemberian tumbal atau sesajen terhadaap suatu perkara tertentu, maka dia adalah syaithan manusia karena dia mengajak orang lain untuk melakukan ibadah (ketaatan) kepada selain Alloh Ta’ala. Orang yang mengajak meminta berkah kepada orang yang sudah mati, maka dia adalah syaithan manusia karena mengajak orang lain untuk meminta keberkahan kepada selain Alloh Ta’ala.
 

Orang yang mengajak menegakkan hukum buatan selain Alloh, maka dia adalah syaithan manusia karena dia mengajak orang lain untuk menyingkirkan hukum-hukum Alloh Ta’ala. Orang yang mengajak menghalangi tegaknya Syari’at Islam (ALLOH), maka dia adalah syaithan manusia karena dia mengajak orang lain untuk membenci Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah diridhoi Alloh Ta’ala. Dan memang demikianlah tabiat syaithan terhadap seluruh manusia, yang selalu ingin menyesatkan manusia dengan penyestan yang sejauh-jauhnya, sebagaimana firman-Nya: ”Syaithan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya ”. (QS. An-Nisaa’: 60).

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

2. Penguasa Yang Zhalim
Penguasa zhalim adalah penguasa yang gemar merubah dn menyingkirkan hukum-hukum Alloh, sehingga segala sesuatu yang asalnya haram – karena demi kepentingannya – diberlakukan sebagai sesuatu yang halal dan demikian juga sebaliknya. Al-Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh berkata: ”Orang dikala menghalalkan sesutu yang disepakati keharamannya atau mengharamkan sesuatu yang disepakati kehalalannya atau merubah syari’at yang sudh disepakati, maka dia itu kafir murtad dengan kesepakatan para fuqaha. (Lihat Kitab Al-Majmu Al-Fatawa 3/267).
 

Penguasa zhalim pada masa sejarah diantaranya Fir’aun, ’Aad, dan Tsamud. Mereka berbuat sewenag-wenang dan membut banyak kerusakan di muka bumi. Mereka menolak diberlakukan syari’at agama Tauhid (Alloh) yang akan mengatur sendi-sendi kehidupan mereka kemudian diakhiri dengn cemeti azab yang sangat pedih. Adakah penguasa zhalim pada masa sekarang? Mari kita jawab sendiri pertanyaan ini dengan terlebih dahulu mencermati adanya karakter penguasa (kaum) yang menentang syari’at agama Tauhid (Alloh) di masa sejarah tersebut dengan pemerintahan penguasa saat ini.

3. Orang Yang Memutuskan Hukum Tidak Dengan Hukum Alloh
Kepala Suku, Kepala Adat, atau Kepala Pemerintahan yang memutuskan perkara manusia dengan hukum adat adalah Thoghut, karena dia mengajak manusia agar tidak mengenal hukum Alloh Ta’ala, tetapi manusia diajak hanya tunduk dan percaya terhadap dirinya saja. Hakim yang memutuskan hukum tidak dengan hukum Alloh adalah gembong kezhaliman, karena dia sengaja menyingkirkan syari’at Alloh Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang zhalim ”. (QS. Al-Maidah 45). Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata: ”Siapa yang meninggalkan syari’at yang baku, yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam penutup para nabi dan dia justeru merujuk kepada aturan-aturan yang sudah dihapus, maka dia telah kafir. Apa gerangan dengan orang yang merujuk kepada hukum buatan manusia dan lebih mendahulukannya daripada aturan Muhammad Shallallahu’ Alaihi wa Sallam, maka dia kafir dengan ijma’ kaum Muslimin”. (Lihat Kitab Al-Bidayah 13/119).

Hal ini sebagaimana firman-Nya: ”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.(QS. Al-Maidah 44). Sesungguhnya setiap hukum selain hukum Alloh adalah jahiliyyah dan setiap orang yang bernaung di dalam hukum selain hukum Alloh berarti dia menghendaki hukum jahiliyyah, sebagaimana firman-Nya: ”Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin?”. (QS. Al-Maidah 50).

4.Orang Yang Mengaku Mengetahui Hal Yang Ghaib
Semua hal yang ghaib hanya ada di tangan Alloh, sebagaimana firman-Nya: ”Dia mengetahui yang ghaib tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang ghaib itu”. (QS. Al-Jinn: 26). Dan firman-Nya: ”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Alloh Tabarakta wa Ta’ala”.(QS. Al-An’am 59). Oleh karena itu apabila seseorang mengaku dirinya mengetahui hal yang ghaib, maka dia adalah Thoghut karena dia telah menjadikan dirinya setara dengan Keangungan Alloh Ta’ala.

Para Kahin (tukang ramal, tukang sihir, dukun, paranormal, dll). Pada umumnya selalu mengaku mengetahui ilmu ghaib, padahal yang demikian itu termasuk penyelewengan hak Alloh Ta’ala, karena Rasululloh Muhammad ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: ”Barangsiapa yang mendatangi tukang rmal dan mempercayai apa yang dia katakan, berarti dia telah lepas dari agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’ Alaihi wa Sallam ”. (HR. Ahmad).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ

5. Orang Yang Ridha Disembah (Diibadati)
Orang atau sekelompok orang yang membuat aturan yang menyelisihi aturan Alloh dan
Rasul-Nya dan berharap agar aturan tersebut ketika dilaksanakan dipatuhi oleh semua manusia, maka dia itu adalah Thoghut karena dia dengan bangga mengajak semua manusia untuk tunduk (beribadah) kepadanya dengan mematuhi aturan-aturannya. Al-Allamah Syaikh Abdurrahman ibnu Hasan ibnu Muhammad ibnu Abdul Wahab At-Tamimi Rahimahulloh berkata: ”Setiap orang yang merujuk hukum kepada hukum selain Kitabulloh dan Sunnah Rasul-Nya, maka dia telah merujuk hukum kepada Thoghut, yang mana Alloh Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk mengingkarinya ”. (Lihat Kitab Fathul Majid 369).

Dengan demikian mengambil suatu keputusan hukum adalah ibadah, karena itu tidak selayaknya dialamatkan kepada selain Alloh. Jika seseorang mengambil suatu keputusan hukum dari selain Alloh berarti dia telah beribadah kepada selain Alloh. Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Alloh sebelum dia benar-benar melakukan pengingkaran terhadap Thoghut. Ketika seseorang tidak mau mengingkari Thoghut sementara dia tetap menjalankan shalat, shaum (puasa), zakat, haji dan sebagainya, maka semua amal ibadah yang dia amalkan tersebut menjadi sia-sia karena sama sekali tidak bermanfaat bagi dirinya dan dia bukan termasuk golongan orang-orang yang mendapat berita gembira dari Alloh Tabarokta wa Ta’ala. Alloh Azza wa Jalla berfirman: ”Dan orang-orang yang menjauhi Thoghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Alloh, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku”.(QS. Az-Zumar 17).

Wallohu’ Ta’ala A’lam.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغفر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

(Diambil dari Dakwah Tauhid dan Jihad, Rabu, 11 Februari 2009, Tema Bahasan: ” Thoghut ” oleh: Abu Hanifah Muhammad Faishal Al-Bantani al-Jawy).

Risalah ini sendiri diambil dari Buletin Da’wah Al-’Ishoobah Edisi ke-4 diterbitkan oleh: Yayasan Al-’Urwatul Wutsqa Alamat: Jalan. UI-Srenseng Sawah No.30 Jakarta 12640

Diposkan oleh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s