BAGAIMANA KALAU KITA TETAP BERBEDA PENDAPAT?

 

 
Oleh : Syamsuddin Rudiannoor

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah Qiyamu Ramadhan yang berbahagia.

Kita sudah bicarakan adab berdoa dalam surah Al A’raf ayat 55: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Namun kenyataannya, lebih banyak masjid dan jamaah yang bershalawat dan berdoa dengan nyaring, memakai pengeras suara, bahkan berteriak dari pada yang tidak. Ada apa ini? Apakah kita yang salah mengambil dalil ataukah mereka yang tidak mau tahu dengan dalil? Inilah persoalan pertama.

Kemudian, kita saksikan kebanyakan kita lebih menggiatkan sholat dengan mengeraskan suara, dengan tergesa-gesa dan tanpa mau memahami tatacara sholat yang baik, padahal sholat yang dilaksanakan seharusnya mempedomani firman Allah surah Al Isra ayat 110: “…… Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu didalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah diantara kedua itu.” Kenapa hal ini terus terjadi? Inilah pertanyaan kedua.

Selanjutnya, Allah sangatlah banyak memerintahkan kita berdzikir kepada-Nya. Konsekwensinya sangat banyak mejelis dzikir dimana-mana. Al Qur’an sekalipun adalah kitab dzikir yang sesungguhnya karena Allah berfirman: ”Inna nahnu nadzzalna dzikra wa inna lahuu lahaafidzuun”. (Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-dzikra ( al Qur’an) itu dan kami pula yang memeliharanya). Namun sayangnya pelaksanaannya dzikir belum memperhatikan adab dzikir yang diperintahkan, yakni surah Al A’raf ayat 205: “Dan berdzikirlah menyebut Tuhanmu didalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, baik di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. Inilah persoalan ketiga.

Seterusnya, Allah memberikan adab tadarus Al Qur’an dengan firman-Nya dalam surah Al A’raf 204: “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. Dari ayat ini jelas, tadarus Al Qur’an janganlah dilakukan secara beramai-ramai tetapi dibaca oleh satu orang dan didengarkan oleh jamaah yang lain. Tapi kenyataannya, ummat ini lebih banyak melaksanakan amalan yang tidak sesuai adab yang diajarkan Al Qur’an? Kenapa semua itu masih terus terjadi. Inilah persoalan keempat.

Tatkala seluruh persoalan itu dirangkum kedalam satu pertanyaan maka pertanyaannya adalah: “Kenapa semua itu masih terjadi dan akan terus terjadi?”

Jawabannya adalah:
Pertama, karena adanya tokoh panutan atau ulama yang membolehkan. Alasannya, ”apabila kebanyakan kaum muslimin menganggapnya baik, apalagi ulama, maka hukumnya sunnah”. Semua yang nyaring-nyaring tadi tujuannya baik yaitu beribadah dan menggiatkan dakwah Islam. Jadi ayat Allah yang berisi larangan hanyalah persoalan khilafiah. Begitu kata mereka.

Kedua, karena memang ada dalilnya. Misalnya zikir berjamaah, itu memang ada dalilnya. Dalil dzikir berjamaah ada di dalam surah Al Ahzab 35, 41 dan Ali Imran 191. Haditsnya juga banyak, minimal 9 yang saya ketahui. Cuma adabnya, kaifiyahnya, tata cara, waktu dan tempatnya pelaksanaannya dimana dan bagaimana, inilah yang perlu dibahas secara khusus dan mendalam. Karena apa? Karena masalahnya tidak sederhana. Misalnya, apabila merujuk kepada surah Al Baqarah ayat 198-199, maka istigfar dan dzikir dalam ayat ini berada dalam lingkup ibadah haji di Masjidil Haram dan Arafah. Artinya, kenapa dzikir keras di saat berhaji dibawa kedalam ibadah lain yang sudah memiliki tuntunan tersendiri?

Sekarang marilah kita membicarakan perbedaan perdapat itu dan bagaimana cara mencari jalan keluarnya.

Kita mulai dengan sholat berjamaah. Apakah sholat berjamaah bukan dzikir berjamaah juga? Siapa bilang dan siapa yang berani bilang! Buktinya apa?

Pertama, Allah berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 43: “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”.

Rukuk bersama-sama dengan orang yang rukuk, apakah ini bukan indikasi kuat dzikir berjamaah? Dengan demikian, sholat adalah dzikir kepada Allah dan caranya harus mengikuti petunjuk Rasulullah Muhammad SAW.

Kedua, Allah berfirman dalam surah Thoha ayat 14: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat sebagai dzikir kepada Aku”.

Coba renungkan baik-baik. Inilah buktinya sholat adalah dzikir kepada Allah. Cara pelaksanaannya, sholat wajib siang hari umumnya dengan sir atau tidak bersuara namun sholat fardhu di waktu malam hari dilakukan dengan suara yang dinyaringkan.

Ketiga, sholat Jum’at. Kenapa sholat jum’at yang kita hadiri tidak dianggap dzikir akbar atau dzikir berjamaah, padahal Allah berfirman dalam surah Al Jumu’ah ayat 9: “Hai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jumat maka bersegeralah kamu kepada dzikir mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Inilah bukti yang jelas bahwa sholat Jum’at adalah dzikir berjamaah dan dzikir akbar. Dzikir kita di hari Jum’at dilakukan sesuai contoh dari Rasulullah SAW.
Coba perhatikan sholat jum’at kita. Muadzinnya berteriak menyuarakan adzan Jum’at. Khotibnya berteriak-teriak menyampaikan khutbahnya. Khotib juga dengan suara keras bershalawat dan berdoa di dalam khutbahnya. Semuanya tidak ada masalah karena memang seperti itulah syariatnya. Dengan demikian, tidak ada masalah dengan berdzikir dengan suara yang dinyaringkan asalkan sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Yang jadi masalah adalah ketika amalan itu tidak sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, mempersempit makna dzikir hanya mewiridkan kalimat tertentu saja, harus dilakukan dibawah satu komando dan hanya dilakukan dalam waktu-waktu tertentu saja. Padahal Allah memerintahkan dzikir itu 24 jam, berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Harus difahami, seutama-utama dzikir selain sholat adalah Al Qur’an karena Allah berfirman dalam surah Al Hijr ayat 9: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Zikra (Al Qur’an) itu dan Kamilah yang benar-benar memeliharanya”.

Kalau begitu sekarang bagaimana? Apa pun perselisihan pendapat diantara kita maka solusinya adalah Islam. Islam itu apa? Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Inilah islam yang benar: Al Qur’an dan As-Sunnah. Artinya, Islam bukan pendapat ulama, Islam bukan milik satu suku atau bangsa tertentu dan Islam adalah agama Allah yang diturunkan untuk seluruh ummat manusia. Jadi, kalau dengan solusi ini masih saja kita berbeda pendapat maka yang tidak beres adalah kita, bukan Islam, karena Allah berfirman dalam surah al Maidah ayat 3:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu menjadi agamamu”.

Nah, apakah kesempurnaan Islam bukan solusi atas segala masalah kita dan masalah dunia? Kalau bukan berarti iman kita belum sempurna. Karenanya kita harus banyak-banyak bertaubat seraya terus berupaya berpegang teguh kepada firman-firman Allah, diantaranya surah Al An’am 115: “Telah sempurna (tamat) kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat Allah itu dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Maka dengan ini saya tegaskan, Islam adalah solusi semua masalah, bukan sumber masalah. Kalau solusi, kenapa kita harus takut menegakkan Islam? Sekali lagi, kitalah sumber masalah itu, bukan Islam. Islam adalah jalan keluar dari Allah, kenapa kita membuat-buat masalah didalamnya. Intinya, kita yang salah, bukan Islam.

Allah berfirman dalam surah An Nisa ayat 59 sebuah sebuah solusi: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Inilah solusi yang diberikan Allah kepada kita. Apabila kita berbeda pendapat dalam masalah apapun maka penyelesaiannya adalah Islam. Pertama, carilah dulu jawabannya didalam Al Qur’an. Kedua, cari lagi detailnya petunjuk pelaksanaannya di dalam Sunnah Rasul-Nya. Kalau tidak ada juga maka kitalah yang bodoh karena Islam adalah sumber pemecahan seluruh masalah. Allah berfirman dalam surah Asy-Syura ayat 10: “Tentang apa pun kamu berselisih maka keputusannya (terserah) kepada Allah. Itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali”.

Wallahu a’lam.

Buntok, 28 Agustus 2010

Diposkan oleh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s