PAKAIAN SIMBOL PERMUSUHAN INSAN DENGAN IBLIS


Gambar Pada hari Jum’at tanggal 7 Mei 2010 saya menyampaikan khutbah Jum’at di Masjid As-Sunnah Buntok, Provinsi Kalimantan Tengah membicarakan Ciri Penghuni Neraka, mengutip hadits shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا. (رواه مسلم).
.
“Dua golongan dari ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dengan cambuk itu mereka memukuli manusia; dan wanita-wanita yang memakai baju tetapi telanjang, berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium wanginya”.
.
Inti khutbah tersebut adalah firman Allah surah Al A’raf ayat 26, An Nur ayat 31 dan surah Al Ahzab ayat 59. Kesimpulannya, para istri Nabi, anak perempuannya dan seluruh istri dan anak-anak perempuan Islam wajib mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuhnya dan wajib melabuhkan kerudung menutupi dada-dada mereka. Dengan demikian, sungguh sangat berat menghindarkan wanita-wanita kita dari ciri-ciri penghuni neraka.

.

Sesungguhnya aurat adalah sasaran utama iblis untuk menyesatkan kaum muslimin. Sasaran ini dipilih setelah iblis diusir Allah dari syurga karena dia membanggakan juriatnya lebih baik dari Adam yang berasal dari tanah. Karena Adam dan istrinya akhirnya diusir juga dari syurga lantaran menuruti nasihat manis iblis maka jadilah kasus aurat dan pakaian merupakan simbol permusuhan abadi antara iblis dan manusia. Marilah kita simak rangkaian firman Allah dalam surah Al Ahzab ayat 11 sampai 27, artinya:”[11] Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Iblis tidak termasuk mereka yang sujud. [12] Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud diwaktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya! Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. [13] Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. [14] Iblis menjawab: “Beri tangguhlah (panjangkan umur saya) sampai waktu mereka dibangkitkan”. [15] Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” [16] Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, [17] kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. [18] Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa diantara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya”. [19] (Dan Allah berfirman): “Wahai Adam, bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim”. [20] Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu aurat dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal”. [21] Dan setan pun bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk memberi nasihat kepada kamu berdua”, [22] maka setan membujuk keduanya dengan nasihat tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” [23] Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. [24] Allah berfirman: “Turunlah kamu, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang ditentukan”. [25] Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itulah kamu akan dibangkitkan”. [26] ”Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang sedemikian itu adalah sebahagian dari ayat-ayat Allah, mudah-mudahan kamu selalu ingat”. [27] “Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagai mana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga. Setan itu menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin (aulia / para wali) bagi orang-orang yang tidak beriman”.

.

Kemudian didalam mukaddimah khutbah jum’at tersebut telah disampaikan hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

 

؛ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، َ
”Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Allah (al Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa salam”.
.
Maka saya pun tadi telah sampaikan bagi kita sebenar-benar perkataan itu yaitu Al Qur’an dan sebaik-baik petunjuk yaitu petunjuk dari hadits Rasulullah SAW. Sesudahnya saya tidak tahu kalau masih ada yang menolak kedua sumber keutamaan itu, mungkin dengan alasan hati belum terbuka, atau ayat-ayat tersebut terlalu keras, atau mungkin iman kita memang sudah hilang. Sesungguhnya Al Qur’an itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertaqwa, “dzalikal kitabu la raiba fihii, hudan lil muttaqqin”. Lalu kenapa kitab suci itu kini menjadi sumber keraguan? Kenapa kita meragukannya? Apakah ada ayat-ayat Al Qur’an yang kita anggap lemah atau palsu? Hanya anda yang mampu menjawabnya. Wallahu a’lam..

Sesungguhnya kita telah bersyahadat, telah berjanji sehidup-semati kepada Allah dan Rasul-Nya bahwa kita akan mentaati segala perintah Allah dan Rasul-nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Allah pun berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 23 dan 24, artinya: “[23] Diantara orang-orang mukmin itu ada yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya), [24] supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

.

Apakah kita sudah memenuhi janji-janji kita terkait syahadat itu? Wallahu a’lam. Kemudian didalam surah Al Ahzab ayat 36 Allah berfirman, artinya: “[36] Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”. Dengan demikian, tidak ada peluang sedikitpun bagi kita untuk ingkar janji atau ragu-ragu atau mengambil pilihan lain selain yang dipilihkan Allah dan Rasul-Nya, kecuali telah sesat dengan kesesatan yang nyata.

.

Memang kebenaran itu sangatlah berat namun mempermaklumkan kesesatan adalah adzab yang sangat luar biasa kejamnya. Sebagai orang yang menyatakan beriman, tidak mungkin kita masuk syurga tanpa ujian, sehinga kita harus mempersiapkan diri untuk menerima apapun ujian Allah. Kita harus yakin bahwa ujian adalah tanda kecintaan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam :

 

:إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. (رواه الترمذي، وقال هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه).

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya bala. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Ia akan menguji mereka. Maka barangsiapa ridha, baginyalah keridhaan Allah dan barangsiapa marah (maka) baginyalah kemarahan Allah”. HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib dari sanad ini, Sunan At-Timidzy cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz 4 hal. 519).Buntok, 9 Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s