Menjajah Islam dan akhir Perang Banjar

KEBENCIAN KEPADA ISLAM (8)

Gambar

Meskipun Tuhan itu kasih namun membuat kaya dan sejahtera orang Islam adalah penyakit dan dosa Tuhan yang sulit ditebus. Karenanya…, penjajahan merupakan solisi cerdas untuk menyembuhkan penyakit dan dosa Tuhan itu. Dan menjajah, menindas dan menipu orang Islam adalah layak agar keadilan bisa tegak di muka bumi.
.
Begitulah …., sepenggal kisah masa lalu dari era penjajahan Belanda di Negara Banjar kita kisahkan: Bagi kaum penjajah, perlawanan kerajaan Banjar atas penjajahan Belanda adalah perbuatan teroris, ekstrimis dan pengacau keamanan. Lama peperangan berkobar dimana-mana. Pasukan rakyat melakukan pemberontakan atas penindasan kaum pendatang asing. Sampai akhirnya dicapailah kesempatan untuk berunding dan berdamai. Singkat cerita Pengeran Hidayat dan pasukannya setuju untuk datang ke Martapura untuk berunding. Maka berangkatlah Hidayat dan rombongan pada tanggal 22 Januari 1862 dari Muara Pahu dengan rakit dan perahu. Mereka tiba di Martapura pada tanggal 28 Januari 1862 jam 5 petang sehingga membuat heboh rakyat disana. Rakyat memberikan sambutan yang sangat meriah termasuk Regent Martapura yang menyambutnya di Tunggul Irang. Pangeran Hidayat dan keluarga diterima di rumah Regent Pangeran Jaya Pamenang. Pangeran Jaya Pamenang adalah putra Pangeran Perbata Sari dengan Nyai Banjar, sedangkan  Pangeran Perbata Sari adalah putra Sultan Sulaiman dengan istrinya Nyai Ratu Intan Sari, sehingga Pangeran Jaya Pamenang masih paman Hidayat.
.
Keesokan harinya Hidayat berikut pengiring yang besar datang ke benteng Belanda dan diterima oleh Asisten Residen Mayor Koch. Ketika itu belum diadakan perundingan sebab masih menunggu kedatangan Residen dari Banjarmasin. Belanda melukiskan Hidayat ketika itu sebagai:  “…..een klein, onaanzienlijk en ziekelijk man, die op een stok geleund. Die man was Hidayat voor wien zool angen, zoo bloedigen oorlog was gevoerd, wiens gevreesdeb naan in Indie en Nederland iendiers loppen was” (….seorang yang berbadan kecil, tidak terpandang dan sakit-sakitan yang bersandar kepada tongkat. Orang itu adalah Hidayat — terhadap siapa telah dilakukan perang begitu lama, begitu banyak menumpahkan darah dan namanya yang ditakuti itu menjadi buah bibir di Hindia dan di negeri Belanda).
.
Setelah menerima berita kedatangan Hidayat, Residen Verspyck yang baru saja mendapat kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel memutuskan untuk berangkat ke Martapura pada tanggal 29 Januari malam. Ia berangkat dengan rombongan disamping mengerahkan tambahan kekuatan tentara ke Martapura. Setiba di Martapura dia memerintahkan Asisten Residen Martapura untuk mempersiapkan pertemuan pada tanggal 30 Januari 1862 mulai pukul 10.30 pagi. Pertemuan diadakan di pendopo kediaman Asisten Residen, dihadiri Letkol Inf. G.M. Verspyck selaku Residen merangkap Komandan Tentara untuk seluruh Selatan dan Timur Kalimantan, Mayor Inf. C.F. Koch, Asisten Residen merangkap Komandan Tentara afdeling Martapura, Letnan satu J.J.W.E Verstege selaku Kontrolir afdeling Kuin,  Letnan satu H.M.A.C   Broers ajudan Verspyck, Letan satu A.H. Schadevan Westrum ajudan Koch, Regent Martapura Pangeran Jaya Pamenang, Kepala Distrik Riam Kanan Kiyai Patih Jamidin, Kepala Distrik Martapura Kiyai Jamidin, Haji Isa, Temanggung Jaya Leksana dan  A. Eman seorang Klerk.
.
Gambar
Sementara di fihak Hidayat terdiri dari Pangeran Hidayatullah, Kiyai Demang Leman, Pangeran Sasra Kasuma anak Hidayat, Pengeran Sahel anak Hidayat, Pangeran Abdul Rakhman anak Hidayat, Pangeran Kasuma Indera menantu Hidayat, Gusti Isa Ali Basah menantu Hidayat, Raden Jaya Kasuma ipar Hidayat, Gusti Mohammad Tarip, Pangeran Wira Kasuma saudara sebapak Hidayat, Pangeran Syarif Abu Bakar menantu Pangeran Wira Kasuma, Pangeran Tirta Kasuma paman Hidayat, Gusti Muhammad anak Tirta Kasuma, Gusti Mail anak Tirta Kasuma, Gusti Bakar anak Tirta Kasuma, Gusti Daud anak Tirta Kasuma, Gusti Ahmad menantu Tirta Kasuma, Gusti Unus saudara Ratu Siti, Gusti Japan saudara Ratu Siti, Gusti Bakar saudara Ratu Siti, Gusti Noh dan Gusti Kusin. Selain nama-nama diatas dari fihak Hidayat juga diikuti oleh beberapa pemimpin pertempuran lainnya, sementara disekitar benteng berkeliaran kelompok-kelompok bersenjata.
.
Dalam perundingan itu Hidayat bersepakat mendengarkan terlebih dahulu apa saja kemauan fihak Belanda. Setelah berfikir sejenak maka fihak Belanda membuat Hidayat terperajat. Verspyck berkata bahwa selaku Wakil Tertinggi Pemerintah Belanda di daerah Selatan dan Timur Kalimantan, dia bersedia memberikan amnesti dan melupakan masa lalu dengan syarat Hidayat harus berangkat ke Batavia dalam tempo 8 hari dengan membawa keluarga yang diinginkan. Sebelum berangkat dia harus membuat pengumuman tentang penghentian permusuhan. Katanya: “…hij zich voorloping naar Java soude begeven – omrust te genieten” (“…ia harus sementara pergi ke Jawa – untuk menikmati istirahat”).
.
Sungguh terkejut Hidayat dan Demang Leman, sebab sebelumnya dia telah dijanjikan untuk dapat tinggal dengan aman di Martapura. Lalu kenapa janji itu diingkari sekarang?  Alasannya, disamping istirahat di Jawa, residen menganggap perlu agar Hidayat mengadakan perundingan langsung  dengan Gubernur Jenderal di Batavia. Ketika Hidayat meminta waktu untuk berfikir, Verspyck meminta Hidayat agar bersedia sore harinya mengadakan pertemuan empat mata jam 5 sore karena dia ingin menyelesaikan urusan ini secara keseluruhan. Dan ketika pertemuan itu dilakukan ternyata Belanda menyampaikan adu domba antara dia dengan Demang Leman. Bermodal alasan waktu Maghrib sudah tiba maka Hidayat menyudahi pertemuan adu-asah  itu.
.
Ketika Demang Leman datang memprotes pengingkaran janji Belanda terhadap Hidayat, Residen mengancam Leman akan ditangkap dengan tuduhan telah berbuat kriminal dalam kasus pembunuhan Kontrolir Fuiyck di Margasari. Dan Belanda dapat saja menangkapi rombongan Hidayat sebab tidak ada kewajiban Belanda untuk memberikan waktu kembali ke markas sebab tenggang jaminan sudah kadaluarsa. Maka pada perundingan tanggal 31 Januari 1862, Hidayat yang hadir bersama Demang Leman dan Pangeran Wira Kasuma langsung disodorkan pengumuman yang dimintai tanda tangan kepada Hidayat. Pangeran Wira Kasuma yang dalam pemberontakan bertindak sebagai Mangkubumi diharuskan berangkat ke Jawa mendampingi Hidayat. 
.
Kepada Demang Leman juga diberikan kesempatan untuk ikut ke Jawa dan kembali ke Martapura kalau dia mau. Sadarlah Hidayat dan Leman kalau mereka telah dijerumuskan ke dalam perangkap dengan tipuan licik. Karena merasa ditipu itulah maka pada tanggal 1 Pebruari 1862 Leman mengajak Mufti dan Penghulu mengajukan permohonan agar Hidayat tidak usah diberangkatkan ke Jawa dari Martapura. Dia mengancam akan mengamuk di dalam benteng sedangkan rakyat akan menyerbu benteng dari luar. Mufti dan Penghulu menolak karena Residen telah kembali ke Banjarmasin sedangkan pertahanan benteng Belanda sudah sangat ketat penjagaannya. Malah rumah-rumah dimana para pemimpin rakyat berada telah diawasi secara ketat dan persenjataan rakyat telah dilucuti. Kesimpulannya, Hidayat harus berangkat ke Jawa sehingga banyak rakyat yang mengantarkan tanda bakti terakhir mereka berupa beras, buah-buahan, ayam, itik, belibis, ikan dan lain-lain. 
.
 
Pada tanggal 2 Pebruari 1862, Asisten Residen berbicara dengan Hidayat perihal penentuan  jam keberangkatan keesokan harinya. Ketika Hidayat sedang berjumpa dengan Mayor Koch, Demang Leman dan Temanggung Gamar berikut puluhan kawannya yang ikut ke dalam benteng merencanakan amuk tatkala Hidayat sudah keluar benteng duluan. Tetapi amuk itu batal dilakukan karena kewaspadaan Belanda sangat kuat. Petang harinya Hidayatullah berziarah ke makam ayahnya Sultan Muda Abdul Rakhman, neneknya Sultan Adam Alwasikubillah, Panembahan Batuah dan ke makam Kuala Tambangan. Sebelum ziarah itu Hidayat beberapa kali mengirim utusan kepada Asisten Residen agar keberangkatannya ke Jawa dibatalkan saja.  Rupanya Asisten Residen tidak menghiraukan permohonan itu.
.
Pada malam harinya ba’da Maghrib dan Isya berjamaah, diadakanlah pertemuan para tokoh yang dihadiri antara lain oleh Jalil dari Banua Lima. Ketika dengan berapi-api Pangeran Ali Basah    menantu  Hidayat berpidato:
“….Mangkubumi Hidayat adalah matahari kita dan bulan kita. Tanpa beliau kita adalah didalam kegelapan. Beliau adalah payung yang melindungi kita. Orang-orang Kristen hendak membawa beliau ke Jawa  dan  kita tidak akan melihatnya lagi.”
.
Mendengar pidato itu tiba-tiba Jalil melompat ke tengah di depan Regent Pangeran Jaya Pamenang dan menyatakan tidak setuju keberangkatan Hidayat. Malam itu suasana menjadi panas, tetapi Pangeran Jaya Pamenang masih mampu menenangkan suasana. Pertemuan malam itu diakhiri shalat tahajjud setelah tengah malam. Disisi lain, Asisten Residen  mendapat laporan  dari kaki tangannya bahwa kemungkinan sekali Demang Leman bersama para pemimpin rakyat tidak akan membiarkan Hidayat diberangkatkan. Oleh karena itu maka Koch memerintahkan untuk meningkatkan pengamanan dan kesiagaan pasukan. Keluarga Hidayat kian dijaga ketat. Tidak semua orang diijinkan untuk bertemu beliau. Malam itu juga Koch mengirimkan kurir  kepada Residen  di Banjarmasin tentang suasana terakhir  di Martapura.
.
Nah, inilah sepenggal kisah penebusan dosa Tuhan dimasa lalu, para penjajah Eropa yang mulia dan penuh kasih menciptakan perdamaian dengan segala tipu dayanya.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s